
Mas Sahrul dan mbak Niken juga Pak Umar dan Bu Isti sudah pergi meninggalkan Riko bersama dengan Andi. Andi menghampiri Riko yang masih terlelap dalam tidurnya, dipandanginya wajah Riko, rasa iba menyeruak dalam dirinya. Andi hanya tau sepenggal kisah Riko yang merupakan anak yang tak diinginkan oleh orang tuanya, kemudian diangkat menjadi anak Pak Danu yang merupakan pemilik peternakan tempat bapaknya bekerja. Dan itu artinya Riko merupakan adik tiri Mbak Niken.
" Riko, aku nggak tau seberapa berat beban yang kamu rasakan, aku berharap kamu mau berbagi cerita denganku, walau tidak bisa membantu, setidaknya aku tau apa yang tengah kamu alami. Kamu sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Jujur aku benar-benar khawatir melihatmu seperti ini, aku, ibu, bapak, mbak Niken, juga mas Sahrul peduli padamu. Kamu pasti kuat, aku yakin kamu bisa melewati ini semua ". Setelah berkata demikian, Andi segera membaringkan tubuhnya di sofa dan mulai untuk memejamkan matanya. Tak lupa Andi juga memasang alarm agar bangun 30menit setelahnya untuk bisa melihat kondisi Riko yang masih tertidur akibat obat yang diberikan oleh dokter tadi.
Tiga puluh menit berlalu dan terdengar suara alarm dari hp Andi, ia pun segera bangun dan melihat keadaan Riko yang ternyata masih tertidur. Andi berniat hendak kembali merebahkan dirinya, namun ia melihat ada pergerakan pada diri Riko, Andi pun kembali menghampiri Riko yang tengah mengerjapkan matanya.
" Riko,, Rik,, kamu dengar aku? " tanya Andi yang sudah tak sabar melihat temannya itu untuk membuka matanya. Terlihat Riko nampak mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Dan perlahan-lahan mata itu akhirnya terbuka.
" Andi? ada apa An? " tanya Riko dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
" Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga " ucap Andi menghela nafas lega.
" Sadar? memangnya aku kenapa? " tanya Riko yang penasaran dengan perkataan Andi barusan.
" Kamu tadi sempat nggak sadarkan diri, dan aku meminta tolong sama Mas Sahrul buat bawa kamu ke rumah sakit, sekarang kamu diam dulu biar aku panggilkan dokter " Andi pun segera beranjak pergi untuk memanggil dokter yang bertugas menangani Riko.
Sedangkan Riko masih merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Andi, ia melihat sekeliling dan memang benar bahwa ia saat ini tengah berada dalam ruang perawatan di rumah sakit "apa yang terjadi denganku? mengapa aku bisa ada disini?"
Tak berselang lama datang Andi bersama seorang dokter dan juga perawat. Mereka berjalan kearah bangsal Riko, dokter tersebut mulai mengeluarkan stetoskopnya dan mengecek keadaan Riko. Menanyakan keluhan-keluhan yang dialami Riko.
"bagaimana keadaannya mas Riko? apakah sudah lebih baik?" tanya dokter tersebut
" saya merasa baik-baik saja. Memangnya saya kenapa sampai harus dirawat disini?" tanya Riko yang merasa bingung dengan keadaannya saat ini
" tidak apa-apa, mas Riko tadi hanya mengalami syok sedikit, apakah ada yang membuat mas Riko terkejut tadi?" tanya dokter itu kembali.
" saya tidak merasakan apa-apa kok dok, justru saya bingung, kenapa saya bisa sampai ada dirumah sakit, padahal seingat saya, saya itu sedang tidur dirumah setelah pulang kerja" tutur Riko menjelaskan.
__ADS_1
" apakah kepala mas Riko terasa pusing?"
" tidak dok, saya ini baik-baik saja. Saya sehat walafiat "
" emmm, apakah tadi mas Riko bekerja seperti biasanya? " tanya dokter itu lagi yang membuat Riko benar-benar bingung.
" dokter ini kenapa sih, saya malah jadi pusing mendengar pertanyaan dokter yang membingungkan buat saya, lalu kenapa pula saya dirawat disini dan ada selang infus juga yang terpasang? saya kan tidur dirumah, kenapa bisa malah tiba-tiba jadi pasien begini?" kata Riko mengutaran kebingungan yang luar biasa.
" baik kalau begitu, saya permisi dulu dan selamat malam, selamat beristirahat"
Kemudian dokter tersebut pergi meninggalkan Riko tanpa menjawab pertanyaan yang sudah dilontarkan. Kini hanya ada Riko dan Andi dalam ruangan.
" loh itu dokter gimana sih, kok nggak dicabut ini selang infusnya? " tak ada yang menyahuti ucapannya, kemudian Riko menoleh kearah Andi yang berdiri dengan wajah bingungnya pula melihat Riko yang sepertinya sangat baik-baik saja dan tidak sedang tertekan.
" Andi, jelaskan apa yang terjadi sama aku, kenapa aku bisa sampai disini? "
"huuff " Andi menghembuskan nafas kasar mencoba berfikir menjawab pertanyaan Riko.
" kamu beneran nggak ingat apa-apa sama sekali?" bukannya menjawab Andi malah balik bertanya.
" memangnya aku kenapa, bukankah aku tadi tidur di kamar "
" iya, kamu tidur dikamar, tapi kamu tidak sadarkan diri "
" hey, ada-ada saja kamu ini, mungkin karena aku terlalu lelah makanya aku tidurnya pules banget dan nggak denger ada ribut-ribut "
" iya in aja deh. Yaudah gih istirahat lagi "
__ADS_1
" nggak, sebelum kamu minta sama suster buat buka ini infus. ngapain coba orang tidur dibawa kerumah sakit, mana pake diinfus segala, lebay kamu Ndi ah "
" udah cepetan tidur jangan bawel "
" minta perawat buat buka ini infus aku Ndi "
" udah besok aja itu, sekarang ayo istirahat, aku juga udah ngantuk ini "
" yaudah kamu istirahat aja duluan, aku mau minta tolong sama suster jaga buat buka ini infusan "
" Riko aku mohon kamu nurut deh, ini buat kebaikanmu "
" hey, mana ada orang tidur diinfus demi kebaikan, yang benar saja kamu itu "
Andi sudah tak tau lagi harus bagaimana menghadapi Riko yang kekeh minta infusnya dibuka. Akhirnya Andi memutuskan untuk keluar ruangan saja daripada harus berdebat dengan Riko.
" Yaudah iya, aku panggilan suster dulu. Kamu diam disini jangan kemana-mana"
"Gitu kek dari tadi, cepetan gih sana"
"hmm" dan Andi langsung keluar ruangan, namun bukan untuk menemui suster melainkan memilih beristirahat di kursi tunggu yang ada di depan ruangan.
Riko menunggu di dalam ruangan dengan perasaan tak tenang, karena sudah hampir sepuluh menit tapi Andi belum juga kembali, padahal saat ini ia ingin ke kamar mandi. Akhirnya Riko memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu dan setelahnya ia akan menyusul Andi yang katanya pergi memanggil suster namun tak kunjung datang juga.
Dengan susah payah Riko menuntaskan hajatnya buang air kecil karena masih ada selang infus yang ada di tangannya. Setelah selesai Riko langsung berjalan ke arah pintu masih dengan membawa infusnya.
Setelah membuka pintu, Riko menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat keadaan sekitar, tapi hal mengejutkan yang ia lihat. Bagaimana tidak, ia melihat Andi yang tengah tertidur di kursi tunggu yang ada di depan ruang perawatannya. Padahal Andi tadi pamitnya hendak memanggil suster, Riko yang merasa geram pun langsung membangunkan Andi.
__ADS_1