Anak Yang Di Abaikan

Anak Yang Di Abaikan
Bersama mbak Niken


__ADS_3

Selama satu bulan semua berjalan dengan lancar. Peternakan tak mengalami kendala yang berarti. Alhamdulillah aku bersyukur karena merasa bisa mengemban tanggung jawab ini.


Meskipun tanggung jawabku cukup besar di peternakan ini, aku masih tetap bekerja sebagai pramusaji di salah satu restoran Jepang. Aku bekerja disana karena aku ingin menabung dan berkuliah, agar aku bisa sukses dan berdiri dengan kakiku kokoh dengan kakiku sendiri.


Lusa akan ada acara empat puluh hari kematian almarhum Pak Danu dan juga Bu Nana. Dan hari ini mbak Niken memintaku untuk mengantarkan ke sebuah restoran guna memesan makanan untuk dibagikan kepada para janda, duda, dan bocah-bocah yatim.


Dengan senang hati aku mengantarkannya. Bagiku mbak Niken sudah seperti saudaraku sendiri, walaupun bukan saudara kandung, namun mbak Niken tak pernah sekalipun berucap kasar atau menyakitiku. Bahkan setiap aku menjelaskan perihal keuangan dan keadaan di peternakan, mbak Niken hanya menanggapi dengan tersenyum dan berterima kasih. Tak pernah sekalipun menanyakan adanya perbedaan jumlah uang yang aku berikan. Katanya semua sudah jelas ada di buku catatan keuangan yang aku berikan.


Kini sampailah aku dan mbak Niken di tempat tujuan. Yakni di restoran yang cukup terkenal dan punya tiga cabang.


Mbak Niken mengajakku masuk dan duduk disalah satu meja yang masih kosong, ternyata mbak Niken sudah membuat janji dan akan bertemu langsung dengan pemiliknya.


Ingin aku menolak dan undur diri, karena aku tak ingin bertemu lagi dengannya. Namun mbak Niken menolak dan memintaku tetap berada disini menemaninya.


Antara tak ingin mengecewakan dan tak ingin bertemu. Aku bingung harus bagaimana mengatakannya pada mbak Niken, akhirnya kuputuskan saja untuk pamit ke toilet saat aku melihat sosok pria parubaya dengan jas yang sedang melangkah ke meja kami.


Mbak Niken mengizinkan, aku bergegas pergi untuk menghindari bertemu lagi dengannya. Biarlah takdir ingin mempertemukan aku dengannya lagi, namun aku akan berusaha untuk menghindar dan tak ingin bertemu dengannya.


Cukup lama aku di toilet, sampai aku merasa kalau keadaan sudah aman, aku baru kembali ke mejaku tadi.


Ternyata orang itu sudah pergi. Syukurlah aku tak bertemu dengannya, lega rasanya.


Di restoran mbak Niken tak banyak mengajakku bicara, kami hanya makan dan setelah itu kembali ke rumah.


Saat aku sudah mengantarkan mbak Niken di depan rumahnya, mbak Niken memintaku untuk mampir. Katanya ada yang ingin dibicarakan denganku.

__ADS_1


Aku menurut saja, dan duduk dikursi yang ada di teras rumah. Dan mbak Niken duduk di kursi yang ada di sampingku, ditengah-tengah kami ada meja yang menjadi pembatas kami.


" Riko, maaf sebelumnya, apa boleh mbak bertanya sesuatu padamu? "


" boleh mbak, mbak mau tanya apa? "


" emm, sepertinya mbak perhatikan sikamu pas di restoran tadi kok ada yang beda ya? "


" maksudnya mbak? "


" emm,,, begini. Apa kamu nggak nyaman kalau harus menemani mbak? "


" bukan mbak, saya justru senang bisa membantu dan menemani mbak kemanapun mbak mau "


" sebenarnya bukan restoran nya mbak yang bikin saya nggak nyaman, saya hanya takut akan mengganggu pembicaraan mbak dengan pemilik restoran tadi "


" Riko, apakah itu jawaban jujur? " Mbak Niken masih bertanya dan berusaha menggali kejujuran ku. Aku bingung harus jawab apa, ku pikir tak ada salahnya kalau aku harus jujur padanya.


" Riko, mbak tahu ada yang kamu sembunyikan, satu bulan ini mbak cukup mengenal baik dirimu, hanya saja mbak yakin kalau kamu memang ada yang kurang nyaman, maaf bukan maksud mbak mendikte kamu. Namun mbak sudah menganggap Riko seperti adik mbak sendiri, dan mbak minta maaf karena sudah membuat Riko menjadi tidak nyaman "


Mendengar perkataan mbak Niken barusan, tak terasa pelupuk mataku basah, aku terharu. Aku senang karena mbak Niken menganggapku seperti adiknya. Aku senang aku punya saudara. Mungkin aku memang harus menceritakan saja apa yang aku rasakan saat ini.


" mbak Niken, maaf kalau sikapku tadi kurang mengenakkan buat mbak Niken. Sebenarnya bukan karena mbak Niken atau restorannya. Hanya saja aku memang tak ingin bertemu dengan pemilik restoran tadi "


" kenapa? apakah ada maslah? "

__ADS_1


" bukan mbak, di peternakan semua baik-baik saja. Tapi lebih ke ranah pribadi "


" maksudnya? "


" lelaki yang mbak temui tadi, itu bapak kandungku mbak "


" apa Rik? apa mbak nggak salah dengar? "


" iya mbak. Dia orang yang sudah membuang ku ". Kulihat Mbak Niken bingung dengan maksud dari ucapanku. Segera kuceritakan sedikit kisahku padanya, mbak Niken mendengarkan dengan baik, dan setelah mendengarkan semua ceritaku, dia kembali bersuara


" Riko,, mungkin memang mbak nggak tau bagaimana rasanya jadi kamu, tak tau apa rasanya ditelantarkan. Yang mbak tau hanya rasanya ditinggalkan, itu sungguh sakit. Namun mendengar ceritamu, ternyata dibuang dan tak diinginkan itu jauh lebih menyakitkan. Mbak berdoa semoga kamu tetap menjadi pribadi yang baik, walaupun kamu benci dengan orang tersebut, namun mbak harap jangan sampai kamu menyakitinya. Walaupun luka yang ditorehkan begitu dalam. Jangan membalas keburukan dengan keburukan, karena itu artinya kamu sama seperti dia. Kalaupun kamu tak ingin bertemu dengannya, mbak paham. Sulit memang memaafkan orang yang begitu jahat pada kita. Namun kalau boleh mbak memberi saran, berusahalah untuk menerima takdir, kamu tak bisa untuk terus menghindari takdir. Kamu harus siapkan dirimu, kamu harus bisa bertemu dengannya dan menyelesaikan permasalahan yang ada "


" terima kasih banyak atas saran mbak Niken, saya akan memikirkan itu kedepannya, namun untuk saat ini saya tidak ingin bertemu dan berurusan dengannya. Rasanya sulit sekali untuk mengendalikan diriku. Aku bingung, aku tak tau harus bagaimana, aku benci, tapi aku juga ingin dia mengakui ku sebagai anak. Tapi penolakannya waktu itu, membuat lukaku begitu dalam. Beruntung ada pak Danu dan Bu Nana yang Sudi menerimaku kala itu."


" mbak yakin kamu bisa, ini hanya masalah waktu ". Aku hanya menanggapi ucapan mbak Niken dengan senyuman.


" terima kasih mbak, kalau gitu saya pamit undur diri, mau mengecek keadaan di peternakan. " pamitku pada mbak Niken.


" iya, hati-hati ya, kamu semangat. Jangan takut untuk memulai, dan pasrahkan semua pada Allah, insyaallah akan ada jalan untukmu bahagia nanti "


" iya, terimakasih mbak. Assalamualaikum "


" wa'alaikumsalam "


Segera kulajukan kembali kendaran roda empat yang biasa digunakan mengangkut daging-daging segar ini ke peternakan dan mulai membersihkan kandang sebelum aku berangkat bekerja di restoran Jepang.

__ADS_1


__ADS_2