
Setiap malam selalu ada doa bersama guna mendoakan kedua almarhum dan almarhumah.
Aku pun tak pernah absen, selepas shalat Maghrib aku langsung kesana terlebih dahulu, membantu menyiapkan tempat duduk dan jamuan buat para warga yang ikut mendoakan.
Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga pada ke tujuh hari kematian pak Danu dan Bu Nana. Mbak Niken membagikan makanan untuk para anak yatim dan janda maupun duda di desa setempat. Tak lupa juga selembar uang berwarna hijau.
Selama masa berduka tersebut, peternakan tak ada yang mengurus. Dengan tanpa perintah aku pun merasa kalau aku berkewajiban membantu mengurus peternakan pak Danu, karena melalui peternakan inilah aku bisa membalas kebaikan pak Danu dan Bu Nana. Aku bertekad akan menjaga peternakan dan juga mbak Niken sekuat dan semampuku sampai mbak Niken bisa menemukan pendamping hidup yang baik dan yang mau membantu mengembangkan usaha pak Danu yang saat ini masih berjalan.
Tujuh hari setelah kematian pak Danu dan Bu Nana aku datang menemui mbak Niken guna menyerahkan uang hasil dari peternakan selama seminggu. Dan menjelaskan tentang keuangan yang aku kelola selama seminggu ini.
__ADS_1
Mbak Niken tidak begitu menanggapi ucapanku, bahkan hanya melihat sekilas laporan yang aku tulis dalam buku tulis biasa. Mbak Niken menutup buku tersebut lantasmengucapkan terimakasih dan memintaku untuk terus membantu mengelola peternakan almarhum pak Danu.
Bagiku amanah ini adalah sebuah kewajiban yang harus aku jalankan. Dengan dan tanpa upah sekalipun.
Pagi harinya kulihat mbak Niken datang ke peternakan membawa rantang, ku kira mbak Niken akan ikut terjun ke peternakan mengecek langsung kinerja kami, namun salah. Mbak Niken datang ke peternakan ternyata menemui ku, dan memberikan rantang yang berisi sarapan pagi untukku. Selain itu, mbak Niken membicarakan banyak hal mengenai peternakan, dan meminta bantuan ku untuk mengurus peternakan, baik dalam pengelolaan uang, gaji karyawan, dan segala yang dibutuhkan di dalam peternakan, mbak Niken hanya meminta uang setoran dari hasil peternakan setiap minggunya, itupun kalau masih ada sisa, kalau tidak ya tidak apa-apa, yang penting bisa buat bayar pekerja, katanya.
Hari ini saat aku tengah mengantarkan daging ayam di sebuah restoran yang cukup terkenal, bahkan ketiga cabang restoran ini, juga aku yang memasok daging ayamnya.Kebetukan staf yang biasa mengurus pembelian bahan-bahan masakan di restoran saat ini tengah tidak ada ditempat, kabarnya sedang ijin karena istrinya akan melahirkan, aku diarahkan untuk menemui langsung pemilik restoran. Karena aku pun penasaran seperti apa wajah pemilik dari restoran yang cukup terkenal ini, aku pun menyetujuinya. Sebab selama aku mengantarkan daging ayam segar disini, belum pernah sekalipun aku bertemu dengannya.
Ini akan menjadi yang pertama bagiku, menemui langsung pemilik restoran yang terbilang sukses.
__ADS_1
Aku diantarkan oleh salah seorang pramusaji di restoran tersebut. Ia mengantarku sampai ke depan pintu ruangan pemilik restoran ini. Segera ku ketuk pintu, dan mendengar ada jawaban yang mengizinkanku masuk, aku bergegas masuk kedalam.
Tak pernah ku duga sama sekali, sosok yang ku puja dalam anganku, ternyata sosok yang tak pernah ingin aku temui. Aku bertemu sosok yang selama ini sudah aku lupakan. Sosok yang dulunya pernah menelantarkan dan membuangku. Orang yang kejam menurutku. Ternyata dia bapakku. Bapak kandungku. Dia hidup dalam kemewahan bersama keluarga barunya, sementara aku, harus hidup dari belas kasih orang lain.
Awalnya aku kaget saat melihat sosoknya. Namun segera ku netralkan kembali raut wajahku. Aku mencoba profesional, aku berusaha sekuat tenaga tak menganggap kenal dengannya. Dan aku pun berharap dia tak kan mengenaliku.
Perbincangan kami hanya seputar kualitas dan harga daging. Kemudian dia memberiku uang sesuai dengan jumlah yang harus dibayar. Semua urusan selesai dan aku kembali melajukan kendaraan ke beberapa restoran yang masih menunggu daging segar dari peternakan almarhum pak Danu.
Ternyata bapakku sudah tak mengenaliku, syukurlah kalau dia tak mengenalku, Karena aku tak sudi kalau harus memanggilnya bapak, dan menjadikannya bapakku. Bagiku bapakku sudah mati saat ia menolak ku dan memintaku pergi dari hidupnya. Hanya pak Danu dan Bu Nana lah orang tuaku. Ibu kandungku? entahlah, aku tak ingin menemuinya, tak ingin aku mengalami penolakan lagi. Aku sudah merasakan bagaimana rasanya dicampakkan oleh bapak kandungku. Bagiku sudah cukup, dan tak ingin mengulang rasa yang sama. Biarlah selama hidupku aku tak akan pernah bertemu ibu kandungku, dari pada nanti aku kembali terluka. Begini saja lebih baik. Toh juga hidupku sudah layak dan tak terlunta-lunta di jalanan.
__ADS_1