
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Acaran sunatan yang begitu sakral dilakukan dengan sangat sederhana. Tak ada undangan yang disebar luaskan, hanya ada para tetangga sekitar yang datang untuk ikut membantu persiapan.
Waktu menjelang sore, Riko diarak teman-temannya untuk mandi di tujuh sumur yang berbeda. Tentu saja itu hal yang menyenangkan, Sambil bersenda gurau pergi bersama kawan-kawan yang menemaninya.
Tepat setelah adzan maghrib, Riko diantar menggunakan mobil pick up untuk pergi ke klinik. Riko duduk di kursi depan, sedangkan teman-teman yang mengaraknya duduk dibak belakang. Benar-benar menyenangkan.
Suasana dramatis kini dimulai setelah Riko turun dari pick up hendak masuk kedalam rumah, neneknya menyambutnya dengan satu gelas air asam jawa. Entah apa gunanya, semua hanya menurut tradisi. Diusapnya sayang pucuk kepala cucunya. Sebagian yang menyaksikan menangis haru, mengingat siapa jati diri Riko sebenarnya. Bocah yang sebenarnya punya orang tua, namun sama sekali tak digubris, tak ada yang peduli dengan keadaannya. Riko hidup tanpa kasih sayang ibu bapak, juga tanpa materi.
Nek Halimah membimbing Riko untuk segera duduk dikursi yang telah disediakan, lalu disuguhkan sate kambing, itupun juga menurut kebiasaan penduduk disana. Setelah makan dan meminum obat, teman-teman dan tetangga yang sudah berkumpul bergantian berjabat tangan mengucapkan selamat dan memanjatkan doa, adapula yang menyisipkan amplop, juga memberikan bingkisan. Senyum merekah selalu menghiasi bibir Riko, tak henti-hentinya dia mengucapkan terimakasih kepada para tetangga yang mau datang.
Malam mulai larut, orang-orang yang tadinya bercengkrama sudah pulang kerumah masing-masing, hanya masih ada beberapa tetangga yang memang rumahnya sangat dekat, mereka membantu membereskan perabotan rumah dan menjadikannya kembali seperti sedia kala.
Keesokan harinya setelah bangun tidur, Riko melihat banyak sekali tumpukan bingkisan yang berbalut kertas kado, dengan langkah perlahan, Riko berjalan mendekati meja tempat kado-kado itu berada. Diraihnya satu kado dan dibukanya bungkusnya dengan hati-hati. Betapa tercengangnya dia melihat bajo koko, sarung, sajadah juga peci yang masih baru. Riko berteriak memanggil neneknya karena begitu senang mendapatkan baju baru yang benar-benar baru.
__ADS_1
"Nek, Nenek sini nek"
nek Halimah yang saat itu tengah membuat sarapan bergegas berlari karena takut cucunya kenapa-kenapa.
" Ada ap le, kamu kenapa? ada yang sakit"
Riko menggeleng dan menunjukkan barang-barang yang dipegangnya, nek Halimah yang melihatnya merasa haru, cucunya bisa punya baju koko yang baru, mengingat baju kokonya hanya ada dua dan itupun sudah terlihat lusuh. Ditatapnya lekat sang cucu dan berkata
"ini semua rejeki dari Allah untukmu le, rajin-rajinlah beribadah, kamu pantas mendapatkannya le"
"iya nek"
Tampak semua kado telah dibuka, dan Riko menyukai semua yang ia dapat, nek Halimah yang melihat juga merasa senang.
__ADS_1
Hari berlalu begitu cepat, Riko sudah kembali pada tutinitasnya, bersekolah dan menggembala kambing. Namun bocah itu benar-benar kuat, tak pernah sekalipun mengeluh merasa kelelahan. Beban hidupnya ia tanggung sendiri, mengingat sang nenek yang kian renta dan sesak nafasnya sering kambuh akhir-akhir ini.
Hari, minggu, bulan dan tahun telah berganti. Kini tiba saatnya dihari kelulusan kelas VI, Riko berjalan lesu seorang diri menuju sekolah. Setibanya di sekolah matanya berkaca-kaca menatap sekeliling, semua temannya datang bersama orang tuanya, dan hanya Riko yang datang seorang diri. Harusnya Riko kuat karena setiap pembagian raport hal itu selalu terjadi, namun entah mengapa kali ini raut wajahnya berubah sendu.
Tampak seorang guru walikelas Riko datang menghampiri Riko yang duduk sendirian dipojokan sekolah.
"Riko, kamu kenapa nak?" tanya bu Lis
"Riko nggakpapa bu" jawabnya sambil memandang ke ara bu Lis dengan tatapan kosong.
"Riko setelah ini mau lanjut kemana nak?" tanya bu Lis dengan lembut.
Riko menggeleng "Riko nggak lanjut sekolah bu, nenek nggak punya uang untuk Riko sekolah" ucapnya dengan sendu dan langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Riko menangis. Bu Lis dengan sigap berdiri dan direngkuhnya muridnya itu kedalam pelukannya, airmatanya mengucur membayangkan kepedihan yang harus dialami bocah malang tersebut. Bu Lis iba, dia sebenarnya ingin membantu menyekolahkan Riko, apalagi Riko juga termasuk anak yang pintar, dia selalu mendapat peringkat 2 juga 3. Namun apalah daya, Bu Lis hanya guru honorer dengan gaji yang tak seberapa. Hingga ia hanya bisa menangis karena tak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
bantu, like n vote, komen juga ya kalau ada yang mungkin nggak pas, biarpun komennya pedes melebihi boncabe gapapalah, aku terima apapun kritik dan sarannya, terimakasih🤗