Anak Yang Di Abaikan

Anak Yang Di Abaikan
eps.6


__ADS_3

Semenjak kepergian sang kakek, tak pernah ada yang berubah dari Riko, Riko tetap harus menjalani hari dan melupakan sedihnya kehilangan. Sungguh dalam hati yang begitu dalam dia tak ingin kehilangan sang kakek yang selama ini telah menjelma menjadi sosok pelindung yang juga mengajarkan banyak hal.


Hidup pas-pasan yang dialaminya menuntutnya jangan bersedih terlalu lama. Riko kerja keras dan sungguh miris anak 7tahun sudah harus memikirkan beban hidup.


Nek Halimah mulai sering sakit-sakitan beberapa minggu setelah kepergian suaminya. Ya Riko harus berjuang sendirian untuk hidupnya, juga untuk sang nenek. Riko tak ingin kehilangan neneknya. Baginya dia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Seseorang yang telah melahirkannya didunia tak menginginkannya, begitupun sang pemilik benih yang meninggalkannya begitu saja.


Riko kini tak seceria dulu. Dulu ia berlari penuh kegirangan dengan segala rutinitas yang melelahkan. Menggiring kambing-kambing ke lembah dan memnggiringnya kembali pulang, semua dilakukan dengan riang tanpa beban, dan benar-benar menikmati perannya sebagai penggembala kambing.


Upah yang didapat dari menggembala kambing hanya cukup untuk biaya hidup bersama sang nenek. Bahkan untuk berhari raya, tak pernah ada baju baru untuk Riko. Beberapa tetangga yang iba ada yang memberikan baju bekas yang masih bagus, terkadang juga ada yang memberikan sedikit uang. Nek Halimah hanya menggunakan sebagian uang pemberian itu untuk membelikan baju baru untuj Riko, bukan baju baru yang benar-benar baru, nek Halimah membeli baju baru ditoko barang bekas, itu artinya baju baru yang dibelikannya baju setengah pakai, dan Riko tak pernah mempermasalahkan itu, dan sebagian sisa uangnya disimpan disebuah toples, berniat agar uang itu bisa ia gunakan untuk biaya sekolah Riko kedepannya.


***


Hari begitu cepat berlalu, Riko kini sudah beranjak menjadi remaja. Usianya sekarang sudah 10tahun. Setiap pulang sekolah mukanya selalu saja murung. Bagaimana tidak, disekolah dia selalu diremehkan dan dikucilkan temannya-temannya. Bukan karena kemiskinan yang membuat teman-temannya meledekinya. Hanya karena satu hal, ya karena semua teman laki-lakinya sudah di sunat, dan hanya Riko sendiri yang belum disunat, itulah sebabnya mukanya selali murung ketika pulang sekolah.


Tak pernah sekalipun Riko menceritakan permasalahannya paa sang nenek, karena takut akan menjadikan beban pikiran sang nenek. Riko tak ingin melihat kesedihan diwajah sang nenek.


Namun berbeda halnya dengan nek Halimah yang merasakan aura kesedihan pada diri Riko semenjak dua bulan lalu, tepatnya setelah usianya genap 10 tahun.


Diperhatikannya raut wajah Riko yang nampak sering bersedih. Ingin sekali nek Halimah menanyakan perihal kesedihan sang cucu, namun selalh saja ia urungkan. Karena setiap berhadapan denga sang nenek Riko selalu menampakkan senyuman juga tawa yang riang.

__ADS_1


Suatu hari, Riko pulang dengan lesu. Tak dihiraukannya makan siang yang sudah tersaji dimeja. Dia langsung menidurkan dirinya dikasur tanpa melepas seragam juga sepatunya.


Menjelang sore sang nenek mencoba untuk membangunkan cucunya, karena sudah saatnya membawa kambing-kambing untuk merumput.


'kakek..Riko kangen sama kakek huhuhu...kek, teman-teman Riko semua sudah disunat, Riko selalu saja diejek karena hanya Riko sendiri yang belum disunat huhuhu'


Riko mengigau dalam tidurnya. Nek Halimah yang menyaksikannya hanya bisa menangis. Diurungkan niatnya membangunkan sang cucu, dan bergegas pergi untuk menggembala kambing menggantikan sang cucu.


Matahari kian condong ke barat, Riko mengerjap dan bangun dari tidur siangnya. Melihat hari sudah sore dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 15.26 membuatnya panik seketika. Dia tertidur begitu lelap hingga melewatkan waktu untuk menggembala kambing.


Dicarinya sang nenek, namun tak ditemukannya. Akhirnya Riko memutuskan untuk pergi kerumah kakek Budi berniat untuk membersihkan kandang juga mencarikan makan untuk kambing-kambingnya.


Bukan panik, tapi ia yakin bahwa sang neneklah yang menggantikannya menggembala kambing, mengingat tak ditemukannya sang nenek dirumah.


Dengan setengah berlari Riko pergi ke lembah tempat biasa dia menggembala kambing. Riko khawator neneknya akan kelelahan dan sesak nafasnya kambuh lagi.


Baru setengah perjalanan dia sudah melihat neneknya menggiiring kambing-kambing untuk kembali ke kandang. Riko yang melihat itu langsung mencari ranting kecil untuk membantu menggiring kambing-kambing pulang ke kandang.


Malam hari setelah makan berdua bersama nenek, Riko hendak pergi ke kamar untuk mengambil buku pelajaran, berniat mengerjakan PR.

__ADS_1


"le, duduk dulu, nenek mau bicara"


Riko menurut dan kembali mendudukkan diri dikursi.


"Riko, kamu sudah besar sekarang. Nenek mau bertanya sesuatu boleh?"


Riko mengangguk "memangnya mau tanya apa nek?"


"nenek sering melihat Riko bersedih dan melamun ketika sedang sendiri, apa yang kamu pikirkan le?"


Riko diam menunduk tak menjawab, beberapa detik kemudian mengangkat wajahnya melihat sang nenek dan berkata "Riko tidak apa-apa kok nek"


"Riko, jujur sama nenek" ucapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Riko ingin disunat" ucapnya sambil menunduk


Nek Halimah tampak tersenyum "jadi kamu sudah berani dan mau disunat? baiklah, minggu depan kamu akan disunat"


Mendengar jawaban sang nenek Riko mendongakkan kepala menatap neneknya yang mengembangkan senyum sambil mengangguk. Hatinya kini sungguh gembira, karena sebentar lagi dia akan disunat.

__ADS_1


__ADS_2