
Sore hari, Riko diantar pak Danu ke peternakan miliknya yang berada di area perkebunan. Pak Danu memang mendirikan peternakan ayam diarea yang jauh dari pemukiman, karena takut mengganggu ketentraman warga sekitar.
Didekat peternakan tersebut, Pak Danu membuat rumah kecil yang dihuni oleh tiga orang pekerjanya.
Pak Danu mempunyai 5 pekerja, hanya saja 2 diantaranya warga sekitar, jadilah mereka akan pulang kalau sudah sore hari, sementara ketiga pekerjanya yang tinggal di rumah kecil tersebut merupakan orang rantau.
Riko diterima baik disana. Karena Riko yang masih kecil dan masih harus bersekolah, dia hanya mendapat tugas untuk membersihkan kandang-kandang ayam setiap pagi dan sore.
#7 tahun kemudian#
Karena kesungguhan dan kegigihan serta dukungan dari orang-orang didekatnya, kini Riko sudah lulus SMA. Pak Danu menawarkan Riko untuk kuliah, hanya saja Riko merasa tak enak hati bila harus selalu merepotkan Pak Danu. Dia bukan siapa-siapa Riko, namun begitu peduli dan sayang padanya.
Pak Danu memang orang yang ramah dan dermawan, beliau baik tidak hanya pada Riko saja, namun pada semua pekerjanya. Pak Danu memperlakukan mereka semua dengan adil. Sehingga tidak ada rasa kecemburuan sosial. Dan usaha peternakannya selama ini bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Riko sadar, tidak seharusnya dia terus merepotkan Pak Danu, dia sudah lulus SMA, dia sudah beranjak dewasa. Riko merasa sudah saatnya kini ia membalas semua kebaikan yang diberikan Pak Danu.
Bermodalkan ijazah SMA, Riko bekerja disebuah cafe. Dia sengaja mengambil shif malam, karena siang hari dia akan menyibukkan dirinya di peternakan.
Sebenarnya Pak Danu membebaskan Riko, kalau pun ingin berhenti bekerja diperernakan, Pak Danu tak akan melarang, karena Riko berhak menentukan pilihannya.
Begitupun untuk kuliah, Pak Danu bahkan bersedia membiayai kuliahnya. Kalaupun tak ingin dengan gratis, maka bisa dibayar mencicil saat sudah lulus dan mendapatkan pekerjaan.
#
__ADS_1
Entah benar entah salah, ada pepatah mengatakan Orang baik akan cepat dipanggil Allah. Seperti halnya Pak Danu dan Istrinya, beliau mengalami kecelakaan saat akan menghadiri wisuda Niken, putri tunggal mereka yang selama ini tinggal dipesantren dan menghafal 30 juz Al-Qur'an.
Kehilangan, Riko merasa Dejavu. Ia teringat akan neneknya yang meninggal. Bahkan setelah pergi dari kampung halaman neneknya, belum sekalipun Riko datang mengunjungi tempat peristirahatan neneknya.
Niken yang saat ini harusnya sedang berdiri dengan bangga dan mendapatkan penghargaan, harus pulang dengan cucuran air mata yang terus membasahi wajah ayunya.
Melihat Niken yang menangis begitu pilu, Riko berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Niken seperti saudaranya sendiri. Riko ingin membalas semua kebaikan Pak Danu dan istrinya melalui anak gadisnya.
Tujuh hari setelah masa berkabung, Riko memberanikan diri untuk berbicara kepada Niken.
" Assalamualaikum mbak Niken"
" Wa'alaikumsalam" jawab Niken dengan raut bingung.
" Boleh saya bicara sebentar sama mbak Niken?" tanya Riko dengan hati-hati.
" sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Riko"
" o iya mas Riko mari silahkan duduk, tapi maaf hanya bisa diteras saja"
" iya mbak Niken, terimakasih "
" kalau boleh tau mas Riko ini yang kerja di peternakannya Abi bukan? "
__ADS_1
" betul mbak, saya bekerja dipeternakan Pak Danu sudah dari tujuh tahun lalu"
" sudah lumayan lama ya mas?"
" iya mbak, dan maksud kedatangan saya kesini ingin menyerahkan uang hasil dari peternakan selama seminggu ini, ini mbak uangnya. Maaf kalau saya sudah lancang mengurus peternakan Pak Danu, soalnya saya lihat mbaknya masih suasana berduka, jadinya saya urus saja semua urusan peternakan"
" sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas inisiatif mas Riko dalam membantu mengembangkan usaha abi. Dan saya mohon maaf karena saya terlalu larut dalam kesedihan malah jadi merepotkan mas Riko"
" nggak kok mbak, tidak merepotkan sama sekali. Pak Danu memang sering meminta saya mengurus peternakan kalau beliau sedang sibuk atau ada acara "
" iya, Abi juga kadang cerita kok sama saya, kalau mas Riko ini orangnya ulet dan rajin. Dan kedepannya saya mohon bantuannya lagi sama mas Riko untuk membantu saya mengembangkan usaha abi. Karena saya tidak tau apa-apa mengenai usaha abi ini"
" Tentu. Dengan senang hati saya akan membantu mbak Niken mempelajari dan mengembangkan usaha Pak Danu. Saya justru merasa sangat senang kalau saya bisa berguna disini. Karena kalau boleh jujur, saya banyak berhutang budi pada keluarga mbak"
" Tak ada hutang budi mas, kita memang sudah diharuskan saling tolong menolong kepada siapa pun yang membutuhkan."
" iya mbak, saya bersyukur dulu bisa dipertemukan dengan Alhamarhum Pak Danu, tanpa beliau mungkin saya tak akan bisa bersekolah dan hidup layak seperti sekarang"
" semua sudah digariskan sama Yang Maha Kuasa, dan bertemunya mas Riko dengan Abi itu memang sudah takdir dariNya"
" iya mbak, Saya sangat bersyukur"
" Alhamdulillah. Oh iya mas, maaf sebelumnya, ini sudah mau adzan maghrib"
__ADS_1
" iya mbak, maaf mengganggu waktunya, kalau begitu saya permisi, assalamualaikum "
" wa'alaikumsalam "