Anak Yang Di Abaikan

Anak Yang Di Abaikan
kabar baik


__ADS_3

Sesampainya di peternakan aku mulai membantu pekerja yang lainnya membersihkan kandang.


Selesai semua pekerjaan, aku bersiap untuk berangkat ke restoran karena jam sudah menunjukkan pukul 4 lebih.


Bekerja sebagai pramusaji di restoran ini sudah aku jalani satu tahun yang lalu. Dan uangnya aku simpan untuk biaya pendaftaran kuliah nanti, karena aku bukan orang yang pandai, jadi aku tak mungkin bisa mengharap mendapat beasiswa. Aku berencana akan mendaftar kuliah tahun depan saja. Walau tahun ajaran baru nanti uangnya sudah ada, namun untuk biaya lain-lain aku harus meminta pada siapa? aku kan bukan siapa-siapa sekarang, tak ada pak Danu yang membantuku mengenyam bangku pendidikan.


Malam hari pukul 11, aku merebahkan tubuhku. Namun mata ini rasanya enggan terpejam, aku malah kepikiran dengan ucapan mbak Niken siang tadi, nasihatnya terngiang-ngiang dalam benakku. Sepertinya apa yang dikatakan mbak Niken memang benar.


Sekeras apapun aku menolak dan berusaha menjauh, kalau memang takdirku bertemu dan dekat dengan dia, aku tak akan bisa melawan takdir. Pikiranku kini mulai terbuka,, sudah saatnya aku mulai berfikir bagaimana cara menghadapi.


Kucoba pejamkan mata, berharap pikiranku bisa tenang, kuhirup nafas dalam-dalam. Aku pun memutuskan ingin memulai dari awal.


Walau masih sulit nantinya untuk bisa menerima, apalagi melihatnya hidup berkecukupan, hatiku merasa panas. Namun aku harus bisa. Hidupku tak akan tenang bila aku seperti ini terus.


Lebih baik bila aku cuek, tak menghindar dari nya, kalaupun dia mengenaliku ya aku abaikan saja, toh juga kan aku buka siapa-siapa dia lagi, kalau dia mau anggap aku anaknya, itu terserah dia, namun bagiku dia bukan orang tuaku.


Setelah bergulat dengar pikiranku, entah pukul berapa aku tertidur. Yang jelas sekarang aku terbangun karena mendengar suara adzan subuh yang di kumandangkan di musholla dekat tempatku tinggal.


Masih enggan untuk bangun, namun mataku sudah tak mau lagi dipejamkan. Akhirnya aku melangkahkan kaki ke kamar mandi guna mengambil wudhu dan menunaikan tugas wajibku sebagai seorang muslim.


Matahari tak begitu tampak lantaran terhalang oleh awan. Mungkin hari ini akan turun hujan, karena cuacanya begitu adem sekali. Aku berdoa semoga hujannya turun saat aku sudah selesai mengantarkan daging ayam ke beberapa restoran langganan peternakan pak Danu.


Ternyata doaku terkabulkan. Hujan turun sesaat setelah aku tiba di rumah. Aku beruntung karena saat mengantar semua hasil peternakan tadi aku tak kehujanan. Hanya saja sekarang ini aku mesti ke rumah mbak Niken membantunya membagikan makanan dan sedikit rejeki untuk para janda, duda, dan anak yatim di kampung tempat kami tinggal. Semoga saja hujannya cepat reda.


Tak mau membuat mbak Niken khawatir, aku memilih berjalan menerobos hujan dengan sebuah payung yang tersedia di rumah gubuk tempatku tinggal.


Sampainya aku di rumah mbak Niken, ternyata disana ada satu mobil box dan satu mobil Fortuner. Siapa kah tamu yang kini berada dirumah mbak Niken? kalau untuk mobil box aku jelas tau kalau mobil itu datang mengantarkan pesanan dua ratus box nasi pesanan kami. Namun mobil Fortuner, siapa dia?


Kuucap salam dan setelah mendapat jawaban dari dalam aku melangkah masuk, disana ada lima orang yang duduk di kursi tamu, dan mbak Niken dia terlihat duduk bersama dengan seorang wanita paruhbaya.


Sekilas aku merasa tak asing dengan wajah-wajah mereka. Tapi siapa? aku lupa.


Mbak Niken bangun dari duduknya dan memperkenalkan aku pada semua tamunya.

__ADS_1


" Mas Riko, sini mas " akupun mendekat saja.


" Pak, Bu, Mas Sahrul, perkenalkan ini Mas Riko, dia yang selama ini membantuku mengelola peternakan peninggalan almarhum bapak " aku pun tersenyum sambil mengangguk pada semua orang.


" Saya Laila, calon mertuanya Niken, dan ini suami saya namanya Yanto, dan anak saya ini namanya Sahrul. Dia calon suami Niken. " ujar wanita tersebut mengenalkan keluarganya padaku.


" saya Riko, maaf kalau saya sudah mengganggu, silahkan bisa dilanjutkan saja dulu urusannya " jawabku karena merasa tak enak sudah hadir ditengah-tengah perbincangan mereka.


" Riko, nggakpapa, sini duduk. Kebetulan sekali ada kamu, mbak disini juga sekalian mau ada yang dibicarakan sama kamu kok "


Mbak Niken mempersilahkanku untuk duduk, aku tak ada pilihan lain. Dan aku memilih duduk bergabung bersama mereka.


Ternyata mereka tadi membicarakan mengenai cateringan untuk acara resepsi pernikahan nanti, dan dua orang yang duduk disisiku ini ternyata orang-orang dari restoran tempat mbak Niken memesan makanan untuk hari ini, dan akan memesan kembali untuk pernikahannya nanti.


Kini pertanyaanku sudah terjawab tanpa aku harus bertanya ini itu.


Setelah semua beres, orang-orang dari restoran tadi pamit kembali. Dan kini aku dan mbak Niken serta di bantu oleh Sahrul calon suaminya mulai membagikan makanan dari rumah ke rumah.


Alhamdulillah walaupun masih hujan, sama sekali tak menyurutkan niat kami untuk berbagi. Di tengah derasnya hujan kami mendatangi rumah satu persatu dengan menggunakan payung.


Tak bisa ku bantah perkataannya. Aku duduk menunggunya di kursi ruang tamu. Tak lama kemudian mbak Niken datang bersama calon suaminya.


" Riko, kenalkan ini mas Sahrul, calon suami saya. Dulu saya sudah di khotbah mas Sahrul sekitar dua tahun lalu. Dan kami berencana menikah setelah saya lulus. Almarhum bapak dan ibu juga sudah mengenal mas Sahrul, mereka merestui hubungan kami. Namun mereka tak dapat menyaksikan pernikahan kami. Kamu Riko sudah saya anggap seperti adik saya sendiri. Karena nanti saat saya dan mas Sahrul menikah akan tinggal bersamanya di Bandung, maka peternakan saya limpahkan semua ke kamu. Tolong kelola peternakan peninggalan bapak dengan baik, saya percaya sama kamu. Dan saya minta kamu coba lah cari tambahan karyawan untuk antar dan kirim pesanan. Karena mas Sahrul akan mendaftarkan kamu kuliah. "


" karyawan baru? kuliah? "


" iya, kamu cukup mengawasi dan memberikan perintah saja. Dan kamu akan kuliah, sesuai keinginan kamu "


" baik mbak saya akan cari karyawan baru, hanya saja, untuk kuliah saya belum bisa mbak "


" kenapa? " kali ini bukan mbak Niken yang bertanya, melainkan mas Sahrul calon suaminya.


" Saya berencana akan kuliah tahun depan saja. "

__ADS_1


" kalau bisa sekarang kenapa harus tahun depan Ko? " tanya mbak Niken menimpali.


" uang saya belum cukup mbak, mas "


" Riko, kamu kuliah nggak perlu memikirkan soal biaya. Semua saya yang tanggung, kamu cukup belajar dengan baik disana nanti. " ujar mas Sahrul


" tapi.."


" jangan menolak rejeki Riko, nggak baik loh " sela mbak Niken


" baik, terimakasih. Saya bersedia untuk kuliah. "


" gitu dong, mbak kan seneng dengernya. Besok tolong bawa kesini ya berkas-berkas kamu, biar bisa didaftarkan langsung. "


" besok mbak? kan belum tahun ajaran baru? "


" ya nggak apa-apa dong, niat baik jangan ditunda-tunda, lebih cepat lebih baik. "


" baik besok akan saya antar. Kalau begitu saya pamit mau bersih-bersih di peternakan "


" iya, hati-hati ya "


" mari mas, mbak, assalamualaikum "


" wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak. Belum sampai aku keluar dari melewati pintu, aku sudah di panggil lagi oleh mbak Niken.


" Riko, tunggu Rik "


" iya mbak, ada apa? ", kulihat Mbak Niken berlari kecil mengejarku, dan dibelakangnya ada mas Sahrul calon suaminya yang tampak membawa beberapa kotak makanan.


" ini kamu bawa buat kamu dan pekerja disana "


" terima kasih mbak, mas " ucapku sambil menerima makanan dari mas Sahrul.

__ADS_1


Aku menenteng makanan yang sudah dimasukkan kedalam keresek berwarna merah besar. Setibanya di peternakan aku membagikannya kepada lima orang pekerja disini.


Pekerjaan di peternakan selesai dan aku mulai melanjutkan kegiatan soreku. Bersiap pergi bekerja di restoran Jepang. Biarpun kuliahku nanti di bayar mas Sahrul, aku harus tetap bekerja agar aku kelak bisa membangun usahaku sendiri.


__ADS_2