
Niken sebenarnya setelah menikah sudah berpindah tinggal bersama suami dan mertuanya. Hanya saja saat kehamilannya, dia merengek ingin kembali tinggal dirumah peninggalan kedua orang tuanya.
Sahrul dan keluarga akhirnya mengizinkan Niken untuk tinggal disana, dan Sahrul menemaninya. Sahrul harus rela bolak-balik dari Jakarta ke Bandung setiap dua hari sekali. Apalagi Niken tak ada yang menemani. Dan Niken juga tak mau kalau ada asisten rumah tangga yang membantunya.
Karena mungkin bawaan bayi, Sahrul pun tak menolak keinginan istrinya asalkan tidak berpengaruh buruk terhadap kehamilannya
Sampai kemudian Sahrul mendapatkan tugas menggantikan salah satu dosen di universitas tempat Riko menimba ilmu. Sahrul diminta untuk menggantikan temannya karena istrinya akan melahirkan.
Sahrul menyetujui permintaan temannya dan disana dia tak menyangka kalau Riko akan menjadi mahasiswa yang mengikuti kelasnya.
Bukan hanya Sahrul yang kaget, Riko pun nampak terkejut pula. Namun Sahrul yang memang sudah terbiasa menenui hal semacam ini, bisa menyikapinya dengan baik, sedangkan Riko, dia masih tampak banyak sekali bengong selama mengikuti pelajaran yang dibawakan oleh Sahrul.
Saat di parkiran, Sahrul melihat Riko berjalan dengan temannya, yang Sahrul tau anak itu bernama Andi. Karena Andi tadi begitu cekatan dalam menjabarkan kembali materi yang di sampaikan olehnya.
Sahrul hanya melihatnya sekilas dan memilih untuk segera pulang menemui istrinya.
Dirumah Sahrul mendapati istrinya tengah memasak untuk makan siang. Setelah adzan Dzuhur berkumandang, mereka menunaikan ibadah shalat Dzuhur berjamaah. Baru setelahnya mereka makan siang bersama.
Tiga puluh setelah Sahrul dan Niken selesai makan siang, datanglah Riko dengan mengajak Andi teman kuliahnya.
Karena ada tamu, Sahrul dan Niken mengurungkan niat mereka untuk istirahat siang, dan menemui tamu mereka.
"assalamualaikum.." ucap Riko
"wa'alaikumsalam" jawab Niken dan Sahrul serempak. Sahrul bergegas berdiri membuka pintu, sedang Niken mengikuti di belakang suaminya.
Setelah Sahrul membuka pintu, Sahrul melihat Riko yang tersenyum ke arahnya dan Andi yang ikut tersenyum pula.
"Riko, ada apa Rik?" tanya Sahrul
"begini mas, eh pak. Mbak Niken ada?" tanya Riko
"udah, kamu panggil aja saya kayak biasanya, nggak usah bingung gitu, inikan bukan di kampus. Lagian saya hanya menggantikan teman saya saja tadi kok."
"hehe iya deh mas"
"kamu tadi cari Niken ya?" tanya Sahrul kembali
"iya mas, ada hal yang mau saya bicarakan sama mbak Niken"
"Ada apa Rik?"tanya Niken dari balik tubuh Sahrul
"eh mbak Niken, ini mbak. Saya mau ada yang diomongin sama mbak" jawab Riko
"yaudah masuk dulu" ajak Sahrul mempersilahkan Riko dan temannya masuk.
__ADS_1
Riko dan Andi duduk bersebelahan, sedang Sahrul duduk sendiri. Niken tengah pergi ke dapur untuk membuatkan minuman buat tamunya.
"kalau mas boleh tau mau ada perlu apa ya?" tanya Sahrul memecah keheningan di ruang tamu.
"sebelumnya kenalkan dulu, ini Andi teman kuliah Riko, mas pasti udah kenal ka?"
"ya kan tadi mas ngajar di kelas kamu, dan Andi ini yang maju ke depan kelas kan?"
"betul mas" jawab Riko, sementara Andi tersenyum sambil menganggukkan kepala
"terus?"
"gini mas, Riko mau minta ijin buat Andi sama orang tuanya tinggal di rumah peternakan bersama dengan saya" tutur Riko.
"siapa Rik yang akan tinggal sama kamu?" tanya Niken yang sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa camilan dan juga minuman.
"eh mbak Niken. Gini loh mbak, tadi kan Riko anterin Andi pulang, nah sampainya di rumah, barang-barang semua udah ada diluar dan kedua orang tua Andi tadi juga udah duduk di teras. Mereka diusir dari kontrakan karena belum bisa bayar kontrakan. Kalau mbak mengizinkan, apakah Andi dan keluarganya boleh tinggal bersama Riko di rumah perernakan?"
"masyaallah....kasihan sekali ya, yaudah kamu bawa saja ya mereka ikut tinggal sama kamu, biar kamu ada temannya" jawab Niken
"beneran mbak?" tanya Riko memastikan
"iya Rik, sekarang mereka dimana? kok nggak ikut masuk?"
"astaghfirullah Riko, kenapa tadi nggak diajak sekalian sih?"
"hehe kan Riko mau minta ijin dulu sama mbak dan mas Sahrul"
"udah diijinin Riko, sekarang kamu pergi jemput mereka" titah Sahrul kepada Riko
"siap mas, Riko bakal segera jemput mereka. Makasih ya mbak, mas" jawab Riko
"makasih pak, bu. Maaf sebelumnya, kalau boleh tau berapa kami harus membayar biaya tiap bulannya?" tanya Andi
"Andi, nggak perlu bayar apapun. Kamu cukup tinggal disana dan rawat dengan baik rumah rersebut" jawab Niken
"gratis mbak?" tanya Andi sekali lagi untuk memastikan
" iya" mbak Niken menjawabnya sambil tersenyum dan mengangguk.
"oh ya mbak, apa boleh kalau orang tua Andi juga ikut bekerja di perernakan?" tanya Riko kemudian
"memangnya mereka sebelumnya bekerja apa?" tanya Sahrul
"bapak ibu saya pemulung pak" jawab Andi
__ADS_1
"emmm, gini aja. Ibu kamu biar kerja disini saja di rumah mbak, bantu beres-beres rumah, kalau mau sih" jawab Niken
"mau mbak, mungkin ibu saya pasti mau. Nanti akan saya sampaikan" jawab Andi antusias.
"iya, mbak senang kalau ibu kamu mau bekerja disini, dan untuk bapak kamu nanti biar bekerja di peternakan saja, membantu membersihkan kandang dan kasih makan ternak"
"makasih pak, Bu, Saya sangat berterima kasih sekali"
"sama-sama, kalau ada apa-apa, jangan takut untuk bilang " pesan mbak Niken kepada Andi
"Riko, gih cepat di jemput itu ibu bapaknya Andi, kasihan mereka kalau kelamaan nunggu" perintah Sahrul kembali kepada Riko
"iya mas, Riko berangkat." jawab Riko
"bawa mobil pick up Rik" teriak mbak Niken kepada Riko yang kini tengah berjalan ke halaman dan akan menaiki motornya. Riko membalas teriakan mbak Niken dengan mengangkat jari jempolnya.
Sepuluh menit, sampailah Riko di kontrakan yang dulu ditinggali Andi dan keluarga. Disana pak Umar dan Bu Isti masih menunggu mereka di depan kontrakan yang sudah terkunci rapat itu.
Riko dan Andi gegas memasukkan barang ke bak belakang mobil dan meminta Pak Umar dan Bu Isti untuk segera masuk kedalam mobil.
Setelahnya Riko melajukan mobilnya perlahan meninggalkan rumah kontrakan yang sudah usang dan melaju menuju tempat tinggal baru untuk kehidupan yang lebih baik.
Sampailah Riko di depan rumah kecil yang ada di samping kiri peternakan. Rumah dengan ukuran 6x7 itu disekat-sekat dan ada tiga kamar didalamnya. Juga satu kamar mandi dan dapur. Hanya saja rumah tersebut tidak mempunyai ruang tamu, biasanya kalau ada yang berkunjung ya cukup hanya duduk di emperan saja.
Pak Umar, Bu Isti, dan Andi senang. Karena tempat yang akan mereka tinggali saat ini lebih baik dari sebelumnya, namun mereka masih enggan untuk masuk begitu ingat berapa mereka harus membayar biaya sewa setiap bulannya. Mengingat dikontrakkan sebelumnya mereka terusir karena tak mampu bayar uang sewa.
"nak Riko, berapa kami harus membayar uang sewanya tiap bulan?" tanya Pak Umar
"bapak nggak perlu bayar, kata mbak Niken pemilik rumah dan peternakan disebelah, rumah ini bisa ditempati dengan gratis asalkan dirawat dengan baik"
"gratis? serius nak?" tanya Bi Isti
"iya bu" Andi membantu menjawab.
"Alhamdulillah, " ucap Pak Umar dan Bu Asti bersamaan.
Setelahnya Riko membantu memasukkan barang-barang milik Andi dan Pak Umar juga Bu Isti. Kemudian mengajak Pak Umar untuk melihat-lihat peternakan dan memperkenalkan pada pekerja yang lain bahwa besok akan ada karyawan baru yang bergabung bersama mereka di peternakan.
Pekerja yang lain menyambut baik kedatangan Pak Umar, dan Pak Umar sendiri kaget atas apa yang dibicarakan Riko. Senang sekaligus haru membuatnya tak mampu untuk sekedar berkata-kata.
Usai memperkenalkan Pak Umar, Riko mengatakan pada bu Isti kalau mulai besok bisa bekerja di rumah Bu Niken membantunya membersihkan rumah.
Riko merasa senang melihat raut kebahagian diwajah keluarga temannya. Ingin Riko berlama-lama menghabiskan waktu bersama mereka, namun Riko harus segera mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.
Riko pun mengakhiri kebersamaannya bersama keluarga baru yang tinggal bersamanya, dan berpamitan untuk pergi mencari rupiah.
__ADS_1