Anak Yang Di Abaikan

Anak Yang Di Abaikan
menemui mbak Niken


__ADS_3

Tak berselang lama Niken yang kini tengah hamil besar dan akan segera melahirkan hanya tinggal menunggu hitungan Minggu saja, kini datang menemui suami Bu Isti yang sudah menunggunya di teras rumah.


Namun mbak Niken malah mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu dan meminta tolong kepada Bu Isti untuk membawa masuk Pak Umar.


Kini Pak Umar sudah duduk berhadapan dengan mbak Niken, sedang Bu Isti berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman.


" Assalamualaikum mbak Niken "


^^^" Waalaikumsalam wa Rahmatullah "^^^


" mohon maaf nih mbak Niken kalau saya mengganggu waktu istirahat mbak Niken "


" oh tidak kok Pak, saya tidak merasa terganggu sama sekali, karena saya sendiri juga memang tak ada kegiatan apapun, hehe "


" Alhamdulillah kalau begitu, saya kesini karena ada yang ingin saya sampaikan langsung sama mbak Niken "


" apa itu Pak? apakah ada masalah di peternakan? "


" bukan, peternakan normal-normal saja, tidak ada masalah mbak, hanya saja saya mau minta ijin sama mbak Niken "


" ijin? ijin buat apa Pak? "


Belum sempat Pak Umar menjawab, Bu Isti datang membawakan teh dan juga camilan " maaf mengganggu sebentar, ini silahkan teh nya di minum pak, mbak "


" terimakasih Bu" jawab mbak Niken, sedang Pak Umar menanggapinya dengan tersenyum dan mengangguk.


Setelah selesai Bu Isti kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


" Silahkan di minum dulu Pak "


" iya mbak Niken, terimakasih " kemudian Pak Umar meminum teh buatan istrinya. Setelah Pak Umar meletakkan gelasnya di atas meja, mbak Niken kembali menanyakan perihal ijin yang diutarakan Pak Umar tadi.


" maaf Pak Umar, tadi katanya mau minta ijin, mau minta ijin apa ya? "

__ADS_1


" ah iya mbak Niken, saya semalah sama anak saya Andi berencana ingin membuka usaha sate ayam keliling, katanya biar anak saya Andi bisa punya penghasilan buat ongkos kuliah. Dan rencananya kami mau memakai daging ayam dari peternakan mbak Niken "


" oh begitu ya Pak, saya kira tadi bapak mau ijin kemana, ya udah bapak bicarakan saja itu sama Riko nanti, kalau saya pribadi sih mengijinkan. Hanya saja kan tidak begitu paham dengan urusan peternakan, saya sudah melimpahkan semua sama Riko. Jadi bapak bilang saja nanti sama Riko berapa ayam yang bapak butuhkan untuk berjualan "


" Alhamdulillah, terimakasih mbak Niken "


" iya pak sama-sama, saya doakan semoga nanti usahanya bisa berhasil, Aamiin "


" Aamiin, terimakasih banyak mbak Niken. Jujur saya sebenarnya malu sama mbak Niken "


" loh, malu kenapa pak? "


" saya sekeluarga sudah sangat banyak merepotkan mbak Niken "


" Ya Allah pak, jangan bicara seperti itu. Saya senang kalau saya bisa membantu saudara-saudara yang kesusahan, dan saya ikhlas melakukan itu semua. Saya juga tidak mengharapkan imbalan apapun, bapak jangan sungkan seperti itu. Lagipula saya sekarang sudah tak memiliki orang tua lagi, dengan Pak Umar dan Riko yang membantu mengurus peternakan, dan juga Bu Isti yang membantu saya di rumah ini, saya merasa tidak kesepian lagi, saya merasa memiliki keluarga baru lagi. Dan saya berharap Pak Umar sekeluarga dan juga Riko bisa betah berada di samping saya terus "


" Insyaallah kami sekeluarga akan tetap selalu ada bersama mbak Niken sampai kapan pun baik dalam suka maupun duka. Saya terharu mbak Niken memperlakukan kami dengan begitu baik, sangat baik malah, padahal kami sekeluarga bisa dibilang orang asing buat mbak Niken, namun mbak Niken menerima kami dengan tangan yang terbuka lebar. Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan buat mbak Niken sekeluarga "


" iya mbak silahkan, kalau gitu saya mau pamit saja "


" eh kok buru-buru, duduk dulu pak ya, saya tinggal sebentar kok "


" tapi tadi saya pamit sama pak Rusdi hanya sebentar, dan ini sudah hampir 30 menit, takut dicariin nanti "


" oh gitu, ya sudah. Hati-hati dijalan ya pak "


" iya mbak, assalamualaikum "


" waalaikumsalam salam "


Setelah Pak Umar pamit, mbak Niken segera berjalan ke arah kamar mandi guna menuntaskan hajatnya. Karena belakangan ini intensitas baut ke kamar mandi mulai sering ia rasakan. Banyak yang bilang memang bawaannya kalau udah hamil tua itu sebentar-sebentar pengen buang air kecil.


Usai dari kamar mandi, mbak Niken menemui Bu Isti yang tengah menyetrika baju.

__ADS_1


" Assalamualaikum Bu "


" Waalaikumsalam mbak Niken, ada yang bisa saya bantu "


" iya, saya mau minta tolong sama Bu Isti"


" mau minta tolong apa mbak? "


" Saya mau nitip ini buat Pak Umar, buat modal usaha sate ayam " kata mbak Niken sambil menyerahkan uang lima ratus ribu rupiah.


" loh mbak, nggak usah. Kami udah ada modalnya kok mbak "


" Bu, saya ikhlas memberi. Tolong jangan di tolak ya "


" tapi mbak Niken "


" sstt, udah ini buat Bu Isti sekeluarga, mohon diterima. Dan untuk ayamnya nanti bisa ambil berapa yang di butuhkan, dan gratis"


" Ya Allah mbak Niken, terimakasih sekali mbak, nggak tau saya harus dengan cara apa membalas kebaikan mbak Niken "


" saya ikhlas dan tidak mengharapkan balasan apapun dari ibu sekeluarga kok, jadi Bu Isti tenang saja "


" semoga Allah membalas segala kebaikan mbak dengan nikmat yang berlipat-lipat buat mbak, dan dimudahkan saat lahiran nanti "


" aamiin, terimakasih doanya Bu, saya permisi kedalam, silahkan dilanjutkan lagi pekerjaannya " ucap mbak Niken seraya melangkah menuju ke kamarnya.


" iya mbak "


...****************...


Sore hari setelah Bu Isti menyelesaikan pekerjaannya, Bu Isti pamit pulang dengan berjalan kaki. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 15 menit Bu Isti sudah sampai di tempat tinggalnya, yakni rumah pekerja di peternakan almarhum Pak Danu.


Setibanya di rumah Bu Isti langsung mencari suaminya untuk memberikan amplop titipan dari mbak Niken yang katanya untuk modal usaha. Namun Bu Isti mengurungkan niatnya untuk memanggil suaminya, karena melihat Pak Umar yang masih tampak sibuk memasukkan pakan ternak yang baru saja datang, dan Bu Isti berniat menyampaikan amanah dari mbak Niken nanti malam saja.

__ADS_1


__ADS_2