Anak Yang Di Abaikan

Anak Yang Di Abaikan
berduka


__ADS_3

# Riko POV #


Hari ini aku tengah mengantarkan beberapa pesanan para langganan pak Danu, karena beliau pergi menghadiri wisuda putri tunggal mereka, mbak Niken.


Mbak Niken tinggal di pondok pesantren sejak awal saya mulai dinggal di peternakan pak Danu. Dan kabarnya sekarang mbak Niken sudah hafal 30juz dan sudah akan wisuda.


2 jam setelah keberangkatan pak Danu aku mendapat kabar kalau mobil travel yang naiki pak Danu dan istrinya mengalami kecelakaan.


Syok aku mendengar kabar tersebut. Segera aku antarkan pesanan pelanggan yang kebetulan sudah dekat dari tempatku berhenti guna mengangkat telepon.


Setelah mengantar semua pesanan, aku bergegas menuju rumah sakit tempat Pak Danu dan Bu Nana di rawat.


Setibanya aku di rumah sakit, aku menuju meja administrasi dan menanyakan keberadaan Pak Danu dan istrinya.


Bagaimanapun juga, aku sudah menganggap mereka orang tuaku. Karena tanpa mereka mungkin aku hanya akan jadi gelandangan. Beruntung sekali aku dipertemukan dengan orang sebaik mereka.


Sesampainya aku di IGD, disana ramai sekali. Banyak para keluarga korban yang sudah mulai berdatangan, aku pun menerobos masuk ingin melihat kondisi orang yang paling berjasa dalam hidupku.


Ku edarkan pandanganku namun tak kutemukan keberadaan pak Danu dan juga Bu Nana, lalu aku bertanya pada salah satu perawat yang ada di dekatku.


" Sus, apa korban kecelakaan travel MS tadi dibawa kesini semua? "


" iya benar mas "


" kok saya tidak menemukan keberadaan keluarga saya? "


" kalau begitu mas ikut saya, mari "


Dengan penasaran aku mengikuti langkah dari perawat tersebut. Berjalan cukup jauh melewati beberapa lorong ruang perawatan pasien, hingga sampailah aku didepan ruangan yang bertuliskan kamar jenazah.


Kakiku rasanya lemas dan tak ingin melangkah. Namun karena besar rasa penasaran yang menghinggapi, aku masuk dengan perasaan tak menentu.


Aku berharap semoga pak Danu dan Bu Nana tidak ada disini. Namun doaku ternyata tidak dikabulkan. Karena saat pertama kali aku menyingkap penutup kepala salah satu jenazah, kulihat dengan jelas wajah pucat Bu Nana dengan luka di kepala sebelah kanannya.


Seketika aku tak bisa berkata-kata, kakiku lemas tak mampu berdiri. Hanya bisa menangis tanpa suara.


Selama tinggal dipeternakan beliau, Bu Nana begitu perhatian sama aku. Selain membiayai sekolah, setiap pagi saat aku melintas di depan rumahnya karena mau berangkat sekolah, beliau selalu memintaku mampir untuk sarapan terlebih dahulu.


Pernah suatu hari aku sengaja tidak lewat di depan rumah beliau. Aku memilih jalan memutar, karena merasa tak enak kalau harus sarapan gratis setiap harinya. Siapa sangka beliau malah kesekolahku hanya sekedar mengantarkan bekal.


Semenjak saat itu, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir sarapan dirumah beliau. Agar tak lebih merepotkan lagi.

__ADS_1


#


Setelah cukup tenang dan mulai bisa menguasai keadaan, kuayunkan langkah kakiku menyibak penutup keempat jenazah yang juga terbaring didekat Bu Nana, alhamdulilah ku ucap syukur karena tak kutemukan pak Danu.


Tangisku pecah, antara suka, haru dan juga sedih. Aku bersyukur pak Danu masih selamat. Namun dimana beliau?.


Kembali kutanyakan pada perawat yang setia menemaniku di dalam kamar jenazah ini.


" Sus, saya tidak menemukan keberadaan bapak saya, dimana beliau?"


" masih ada satu lagi pasien laki-laki yang ada diruang ICU, mari saya antarkan "


Kuikuti langkah kaki perawat tersebut, dan saat tiba di ICU ternyata laki-laki yang dimaksud memang benar pak Danu. Rasa syukurku ku panjatkan karena beliau masih ada diantara kita, meskipun keadaan beliau cukup memprihatinkan.


Aku berharap semoga pak Danu bisa lekas pulih agar aku bisa membalas budi semua kebaikan beliau selama ini.


Setelah kurasa cukup, aku kembali keruang administrasi dan meminta agar jenazah Bu Nan segera diurus dan diantarkan ke rumah duka.


Sembari menunggu, aku menelpon mbak Niken anak pak Danu dan Bu Nana yang hari ini wisuda.


Dering pertama aku menelpon langsung diangkat.


" Wa'alaikumsalam salam mbak, maaf sebelumnya, ini saya Riko "


" mas Riko? kok bisa hp bapak sama mas Riko? apa mas Riko datang sama bapak? "


" tidak mbak, pak Danu dan Bu Nana datang berdua ke wisuda nya mbak "


" lalu kenapa hp bapak bisa sama mas Riko? apa bapak nggak bawa hp? "


" mbak, maaf sebelumnya. Ada kabar yang harus mbak dengar "


" kabar apa mas? ada apa dengan orang tua saya? "


" mbak yang sabar ya, mobil travel yang tumpangi bapak dan ibu mbak Niken mengalami kecelakaan "


" innalilahi... Ya Allah, bagaimana keadaan bapak dan ibu? "


" Alhamdulillah pak Danu selamat, dan beliau sekarang dirawat dirumah sakit "


" Alhamdulillah, syukurlah. Lali ibu? bagaimana dengan ibu? "

__ADS_1


" mbak, maaf. Bu Nana tidak bisa diselamatkan "


hening sesaat, baru setelah beberapa detik terdengar suara isakan diseberang sana.


" Innalilahi wa Inna ilaihi roji'un,," suara Niken di telepon dengan derai air mata.


" maaf mbak, saya sudah meminta pihak rumah sakit untuk segera mengantar jenazah Bu Nana ke rumah, dan saya akan meminta teman saya untuk menjemput mbak di pesantren "


" nggak mas, nggak perlu dijemput. Saya akan langsung pulang sekarang juga, minta tolong uruskan jenazah ibu terlebih dahulu, dan saya akan segera pulang untuk mengantar beliau di peristirahatan terakhirnya "


" baik mbak, kalau begitu, Assalamualaikum "


Kumatikan telpon dan segera kuhubungi para pekerja dan beberapa tetangga guna membantu mempersiapkan untuk kedatangan jenazah nanti.


Setelah semua selesai ku urus, dan jenazah Bu Nana dimasukkan kedalam ambulance, aku dipanggil oleh seorang perawat yang tadi mengantarkan ku melihat Bu Nana dan Pak Danu.


Perawat tersebut mengabarkan bahwa pak Danu kritis, dan sekarang dalam penangan tim dokter.


Aku yang tadinya akan ikut mengantar Bu Nana pulang kini aku memilih kembali ke ruang ICU dan menghubungi pak Yadi, ketua RT setempat.


Saat tiba didepan pintu ICU kuintip keadaan pak Danu melalui sela-sela kecil. Yang bisa kulihat hanya ada sekitar lima orang didalamnya sedang mengerubungi pak Danu, entah apa yang mereka lakukan aku tak tau, sampai aku melihat ada salah seorang dokter yang menggelengkan kepala, dan ada tangan yang mulai membuka segala alat yang menempel pada tubuh pak Danu.


Aku tahu apa artinya, namun aku berusaha untuk tidak percaya sebelum dokter sendiri yang mengatakannya.


Kutunggu dokter keluar dari dalam dengan perasaan yang campur aduk.


Dan saat dokter sudah keluar dan mengatakan bahwa pak Danu tidak tertolong, barulah tangisku pecah. Aku kehilangan orang yang sangat berjasa, orang yang menyayangiku layaknya aku anak mereka sendiri.


Aku bingung harus bagaimana, sementara dokter mengatakan agar aku segera mengurus administrasi, aku tak tau harus dengan apa aku membayar, karena uang hasil dari pengiriman barang tadi sudah habis untuk mengurus biaya administrasi Bu Nana.


Tak ada pilihan, aku harus mengabari mbak Niken dan memintanya mampir ke rumah sakit, sekalian mengurus jenazah Pak Danu.


Alhamdulillah ternyata mbak Niken sudah dalam perjalanan dan dekat dengan rumah sakit yang saat ini tempat merawat pak Danu.


Semua urusan administrasi selesai, dan aku beserta mbak Niken pulang bersama jenazah pak Danu.


Aku tak bisa menyetir mobil sendiri, beruntung mbak Niken datang dengan beberapa orang yang entah siapa mereka aku tidak tau. Mobilku dikendarai oleh salah seorang teman mbak Niken, menurut saya, karena dia terlihat masih muda.


Hampir dua jam kendaraan kami saling beriringan menuju rumah duka, sementara jenazah Bu Nana sudah siap dan siap diberangkatkan. Namun tertunda karena kabar duka yang kembali datang.


Setelah semua selesai, aku turut mengantarkan pak Danu dan Bu Nana menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Semoga Allah memberikan tempat yang sangat indah untuk mereka yang sangat baik, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2