
Haris menatap kosong kearah kamar, merasa sedih dan bersalah, namun dia juga tak ingin rumah tangganya hancur kalau sampai Rima tau bahwa dia memiliki seorang anak.
Merasa tak ada yang bisa diperbuat lagi disini, Haris memilih untuk kembali ke kota. Tak lupa dia menuliskan sebuah surat dan meninggalkan sejumlah uang untuk anak dan kedua orang tuanya.
Dengan langkah gontai Haris berjalan menuju pangkalan ojek, langkahnya seakan berat. Namun tak ada yang bisa membuatnya bertahan lebih lama disana, karena dia merasa telah menorehkan luka yang teramat dalam. Sebenarnya dia merasa iba akan Riko anaknya, hanya saja keegoisannya lebih dominan.
...----------------...
Pukul 14.00 kakek Joko keluar dari kamar berniat hendak menggembala kambing-kambing pak Budi. Langkahnya terhenti ketika melihat sejumlah uang dan secarik kertas.
"buk,,buk,,,sini buk"
"ada apa to pak? kok teriak-teriak, nanti cucumu kebangun, kan kasian" kata nek Halimah yang baru saja keluar dari kamar.
"ini kok ada uang sama kertas dimeja, ini uang siapa to buk?"
"lha mana ibu tau pak, lah kan tadi ibu dikamar sama bapak nemenin si Riko tidur" jawab nek Halimah "apa jangan-jangan ini uang Haris, tadi dia bilang sama ibu mau nitip uang untuk sekolahnya Riko disini, tapi sekarang kemana anak itu?" tambah nek Halimah.
"maksudnya apa buk?"
"Haris bilang sama ibuk, katanya istrinya nggak tau kalau Haris sudah punya anak di kampung, dan Haris mau Riko tetap disini, Haris takut istrinya marah kalau sampai tau dia punya anak di kampung" jelas nek Halimah.
__ADS_1
"anak itu,,seenaknya saja sendiri. Awas saja kalau sampai dia pulang lagi, tak pecut(cambuk) dia nanti" geram kakek joko.
" Itu suratnya apaan pak?" tanya nek Halimah.
"Bapak ya ndak tau buk, lah bapak juga ndak bisa baca" jawab kakek Joko.
"Minta tolong sama Siti anaknya Pak Budi saja pak, biar tau apa isinya"
"iya buk, nanti bapak tanyakan. Bapak pamit berangkat dulu ya, nanti kalau Riko mau nyusul bapak angon(menggembala) di lapangan"
"iya pak"
...----------------...
" Assalamualaikum,,,"
" Waalaikumsalam" jawab Pak Budi " ada apa pak?" tanyanya kemudian.
" Begini Pak, saya mau mintaa tolong sama nak Siti untuk membacakan surat ini" ucapnya sembari menyodorkan secarik kertas kepada Pak Budi.
" o ya mari masuk pak, kebetulan Siti lagi makan siang, sebentar lagi juga selesai kok, ditunggu dulu pak ya, tak panggilkan anaknya"
__ADS_1
" iya pak, silahkan"
tak lama muncullah Siti dari dalam dengan membawa surat yg diberikan kakek Joko pada pak Budi.
" kakek Joko"
" eh iya nak Siti, sudah selesai to nduk makannya?" tanya pak Joko berbasa basi
" sudah kek, ini Siti mau bacakan suratnya"
" o ya nduk, kakek minta tolong ya, soalnya nggak bs baca"
" iya kek, nggakpapa kok"
'*Pak Buk, Haris titip Riko ya, Haris minta maaf karena belum bisa membawa Riko untuk tinggal sama Haris. Istri Haris belum tau kalau Haris sudah punya anak. Haris tidak mau rumah Tangga Haris hancur lagi, Haris berharap ibu dan bapak bisa memahami. Ini ada sedikit uang agar Riko bisa mendaftar sekolah, sudah saatnya Riko untuk sekolah. Terimakasih pak, bi sudah merawat Riko dengan sangat baik'
Haris*.
kakek Joko hanya diam mendengarkan surat yang dibacakan oleh Siti. Tatapannya kosong seperti orang linglung, namun tak berangsur lama, setelah Siti memanggil namanya dan mengembalikan surat yang dibacanya tadi pada kakek Joko.
Kakek Joko lantas segera pergi kebelakang untuk menggembala kambing.
__ADS_1