Anak Yang Di Abaikan

Anak Yang Di Abaikan
eps.8


__ADS_3

Riko yang kini sudah melepas status pelajarnya hanya bisa duduk termenung memandangi kambing-kambing yang begitu menikmati kegiatan merumputnya. Tak ayal kadang iya tersenyum getir bila mengingat siapa dia sebenarnya.


Nek Halimah sudah menceritakan semua kisah Riko sedari dia kecil hingga sekarang. Riko yang mengira kedua orangtuanya pergi merantau supaya bisa memperbaiki nasib, nayatanya selama ini salah. Dengan susah payah dia menahan tangisnya mengingat dirinya bukanlah siapa-siapa bagi kedua orangtuanya, dia hanyalah anak yang terlahir tanpa diinginkan, itulah yang kini ada dibenaknya. Mengingat tak pernah bertemu kedua orang tuanya. Dia hanya baru bertemu ayahnya satu kali, itupun hanya sekedar menatap, tak lebih. Sementara sang ibu, entahlah Riko juga tak tau, bahkan rupanya sekalipun dia tak tau. Sungguh kejam sekali dunia pada dirinya.


Sambil menggembala kambing Riko seringkali menumpahkan segala kesedihannya. Ia ingin bisa bersekolah, ingin merasakan kasih sayang orang tua, namun Riko hanya bisa berharap dan tak mungkin bisa mewujudkan.


Riko selalu berusaha tegar dan bersikap biasa saja ketika bertemu teman-temannya memakai seragam putih biru dengan menenteng tas dan bersenda gurau disepanjang jalan. Hatinya serasa perih dan terluka. 'mengapa takdir begitu jahat padaku?' itulah pertanyaan yang selalu muncul dalam benaknya.


Riko bocah malang harus mengubur segala cita dan angan. Hanya ada sang nenek dihadapannya yang semakin menua dan sakitnya juga seringkali kambuh. Tak ada yang bisa deperbuatnya selain berdoa agar sang nenek bisa selalu menemaninya. Karena tak ada lagi yang ia punya selain sang nenek.


***


Pagi hari Riko sudah pergi ke kandang kambing untuk membersihkan kandang, dan setelahnya akan membawa kambing-kambing ke lembah untuk digembala.

__ADS_1


Matahari mulai merangkak naik karena sudah pukul 08.00, Riko juga sudah berangkat ke kandang, dan nek Halimah seperti biasa, dia hanya mengerjakan tugas-tugas rumah semampunya, mengingat tubuhnya yang lemas dan sakitnya yang kambuh kalau-kalau terlalu capek.


tok


tok


tok


Terdengar suara ketukan pintu, dengan melangkah perlahan menuju pintu, lalu dibukanya pintu rumahnya. Nampak sosok pria mengenakan pakaian serba orange dengan membawa bingkisan berwarna coklat.


"iya benar, anda siapa dan ada perlu apa?"


"saya petugas POS, hanya mengantarkan kiriman dari bapak Haris untuk Pak Joko"

__ADS_1


Nek Halimah menerima kotak yang dibawa pria itu dan mengucapkan terimakasih.


"terimakasih pak"


"iya nek, sama-sama"


Begitu bahagianya nek Halimah mendapat kiriman dati buah hatinya, dia buru-buru menutup pintu dan berjalan menuju kursi, dibukanya bingkisan itu, disana ada surat, dan juga uang serta tiga buah sajadah. Bingung dengan apa isi suratnya, nek Halimah berniat menemui Riko untuk membacakan isi surat itu.


Baru berdiri dari duduk dan hendak melangkahkan kakinya nek Halimah tersandung dan kepalanya membentur sisi meja, darah segar mengalir dari kepalanya tanpa ada yang tau.


Sementara Riko dilembah masih disibukkan dengan kambing-kambing kecil yang tengah berlarian setelah perutnya terisi kenyang. Pukul 10.00 Riko menggiring kambing-kambing untuk pulang kembali ke kandang.


Setelah semua beres, Riko berjalan menuju rumah. Betapa kagetnya dia saat membuka pintu, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah neneknya yang tergeletak diatas tanah dengan darah disekitar kepalanya yang tampak sudah mulai mengering. Riko berteriak histeris hingga para tetangga berdatangan.

__ADS_1


Semua terkaget dan menangis seketika saat mengetahui nek Halimah sudah tak bernyawa. Jangan tanyakan lagi, betapa hancur dan rapuhnya Riko kala itu, dia merasa lalai dalam menjaga neneknya. Ketakutan yang selama ini ada dibenaknya telah terpampang nyata dihadapannya. Tinggallah Riko seorang diri, tanpa kakek, nenek, apalagi orang tua. Riko yang baru berusia 13 tahun itu menangis meraung-raung. Semua mata yang melihatnyapun ikut meneteskan airmata, seolah merasakan betapa terpukulnya si kecil Riko. Silih berganti orang menenangkan Riko, dan setelah cukup tenang, segera semua mengurus pemakaman nek Halimah.


__ADS_2