Anak Yang Di Abaikan

Anak Yang Di Abaikan
Riko dan Erika


__ADS_3

"Andi..Ndi..Bangun oii" Riko berusaha membangunkan Andi sambil menggoyang-goyangkan pundaknya.


"Apa sih Buk? bentar ya, kasih waktu Andi sepuluh menit lagi, Andi masih ngantuk berat ini" kata Andi masih dengan matanya yang merem. Bahkan mengira Riko adalah ibunya.


"Sialan nih bocah, apa iya aku dikira emaknya, enak aja. Awas kamu ya Ndi" geram Riko pada Andi yang masih betah bergelung di dunia mimpinya.


Karena mungkin kalau membangunkan Andi akan percuma dan butuh waktu lama, Riko memilih berjalan ketempat perawat berjaga sambil menyeret tiang yang digunakan untuk menggantungkan kantong infus.


Setibanya didepan ruangan perawat, Andi mendapat teguran dari perawat yang tengah berjaga didepan.


"Loh mas, mau kemana?"


"Mau menemui suster"


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Ada"


"Mengapa tidak memencet saja tombol darurat yang sudah disediakan?"


"hehe, saya tidak kepikiran Sus"


"baiklah, kalau begitu mari saya antar kembali ke ruangannya"


"tidak perlu Sus"


"loh kenapa?"


"saya hanya mau minta tolong buat bukain ini infus yang nempel"


"loh memangnya kenapa mas? apakah ada masalah dengan infusnya?"


"sangat bermasalah"


"boleh saya memeriksanya sebentar"


"ngapain diperiksa, langsung dibuka saja sekarang"


"maaf kalau boleh tau kenapa infusnya minta untuk dibuka?"


"ya karena saya nggak betah kalau harus pakai infus ini kemana-kemana"


"mas tidak harus kemana-mana kok, kalau mas butuh sesuatu bisa langsung memencet tombol darurat yang sudah kami sediakan, dan kami akan datang membantu, jadi mari saya antarkan kembali ke ruangan"


"suster dengar ya, saya ini bukan pasien, kenapa saya harus diinfus segala?"


"mas ini memang pasien kami kok, kalau bukan pasien tidak mungkin petugas kami memasangkan infus dipergelangan tangan mas"

__ADS_1


"temen saya aja itu yang iseng, orang lagi tidur disangkanya pingsan, eh dibawa kerumah sakit, yang benar saja. Kalau nggak percaya suster bisa periksa saya sekarang juga, saya ini sehat walafiat bagaimana mungkin bisa tiba-tiba jadi pasien"


"baiklah, saya akan panggilkan dokter untuk memeriksa mas, tapi sekarang kembali ke ruangan terlebih dahulu ya, mari saya antar"


"tapi bener kan nanti setelah diperiksa dokter dan saya benar-benar sehat ini infusan bakalan dibuka?"


"iya, infusnya akan dibuka kalau dokter sudah menyatakan mas bena-benar sudah sehat"


"suruh kemari cepat kalau gitu dokternya"


"maaf, tapi saat ini dokternya masih menangani pasien, nanti setelah saya mengantarkan mas kembali ke ruangan mas, saya akan langsung meminta dokter untuk segera memeriksa mas"


"lakukan sekarang saja"


"baiklah, tapi silahkan mas kembali keruangan mas untuk menunggu dokternya"


"ok. Saya tunggu secepatnya, awas jangan lupa"


"iya mas, ini saya telpon kok dokternya"


"saya tidak percaya kalau suster akan menelponnya. Jadi saya tungguin disini baru setelah itu saya akan kembali ke ruangan saya"


"baiklah, kalau boleh tau di nomor berapa mas dirawat?"


"mana saya tau, saya kan tidak melihat nomor ruang rawat saya"


"kalau nama masnya siapa?"


"baik, saya lihat dulu data anda untuk menghubungi dokter yang menangani mas ya? sabar sebentar ya mas"


"iya, saya sudah sabar menunggu dari tadi, tapi tak kunjung juga suster melakukan panggilan"


Suster Erika yang sudah mulai geram dengan Riko yang keras kepala akhirnya memilih untuk menghubungi dokter Toni yang tadi memeriksa Riko sebelum ia pulang.


"iya, ini sudah terhubung kok mas, mas tolong diam sebentar ya, biar saya bicara sama dokter terlebih dahulu"


###


"halo dok, selamat malam. maaf mengganggu waktu Anda dok, ini ada pasien atas nama Riko yang barusan dokter tangani, beliau meminta untuk melepaskan infusnya apakah sudah diperbolehkan?"


####


"baik dok, kalau begitu terimakasih, dan selamat malam" ucap suster Erika mengakhiri perbincangannya ditelepon bersama dokter Toni.


"Mas Riko, sekarang mas Riko bisa kembali ke ruangan mas Riko terlebih dahulu, nanti saya akan ke ruangan mas Riko"


"kenapa nggak dibuka disini saja?"

__ADS_1


"saya harus mempersiapkan alatnya terlebih dahulu mas"


"saya tunggu disini kalau gitu"


Sudah sangat bersabar sekali suster Erika dalam menghadapi Riko yang sangat kekeh dengan keinginannnya.


Akhirnya suster Erika pun tak lagi bisa berbicara dengan ramah.


"kalau anda masih disini saya tidak akan membuka jarum infus yang menancap dipergelangan tangan mas Riko, tapi kalau mas mau kembali ke ruangan saya akan membantu mas Riko"


"kok ngancem sih sus?"


"saya bukan mengancam, tapi hanya melakukan sesuai prosedur"


"baiklah, saya kembali sekarang juga. tapi suster harus segera menemui saya".


"iya"


Akhirnya setelah sekian lama Riko mau juga kembali ke ruangannya. Tak berselang berapa lama suster Erika datang menemui Riko, bukan untuk membuka infusnya tapi memberikannya obat penenang sesuai anjuran dokter Toni tadi di telepon.


"Selamat malam mas Riko, maaf sebelumnya ya mas Riko, sebelum saya buka infusnya ini saya suntik terlebih dahulu ya, sesuai perintah dari dokter Toni"


"iyaa"


Setelah mendapat persetujuan dari Riko, suster Erika segera menyuntikkan obat penenang kepada Riko, dan setelahnya berpura-pura mengecek infus dengan berdalih akan membuka, padahal hanya sekedar mengulur waktu sampai obatnya bereaksi.


Tak lama, hanya berselang satu menit Riko sudah mulai merasakan kantuk, dan matanya pun langsung terpejam. Suster Erika kemudian membantu membaringkan Riko yang semula duduk di brangkar, tak lupa juga menyelimuti tubuh Riko sampai sebatas dada. Setelahnya keluar ruangan, dan tak lupa menutup pintunya. Suster Erika melihat seorang pemuda tengah tertidur pulas dikursi tunggu yang ada di depan ruangan Riko, yang suster Erika yakini ia lah yang menjaga Riko, namun malah tidur tanpa tau orang yang dijaga sudah membuat suster Erika pusing tujuh keliling.


###


Adzan subuh berkumandang, Andi mulai menggeliat bangun dari tidurnya yang teramat pulas. Hal pertama yang Andi lakukan adalah mengecek keadaan Riko, dilihatnya Riko masih tertidur dengan nyenyak, ia bergegas ke kamar mandi dan tak lupa berwudhu juga kemudian menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Tepat pukul enam pagi, Bu Isti datang menggantikan Andi, karena Andi harus pergi kuliah. Bu Isti datang dengan membawa rantang makanan berisi sarapan untuk dirinya dan juga Andi. Namun karena buru-buru dan takut terlambat, Andi memilih untuk sarapan di rumah saja, itupun kalau nanti ia sempat, kalau tak sempat ya sarapan di kantin kampus.


Bu Isti melihat Riko masih nyenyak dengan tidurnya, beliau memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Saat tengah menyuap makanan, datang suster yang bertugas mengecek kondisi pasien terkini, dan suster tersebut tak lain adalah suster Erika yang semalam sudah dibuat pusing oleh Riko.


"Permisi, selamat pagi Bu.." sapa suster Erika pada Bu Isti


"Ah iya, selamat pagi sus" jawab Bu Isti sambil menyudahi makannya. Dan suster Erika yang melihat itu pun meminta Bu Isti untuk tidak terganggu dengan kehadirannya.


"tak apa Bu, silahkan dilanjutkan sarapannya, saya hanya akan mengecek kondisi pasien sebentar kok"


"nanti saja lah sus, saya juga mau tau bagaimana perkembangan Riko, apakah sudah lebih baik, dan kapan akan sadar sus?"


"Pasien keadaannya sudah baik dan stabil, untuk sadar mungkin sebentar lagi Bu" terang suster Erika kepada Bu Isti.


"Alhamdulillah kalau begitu"

__ADS_1


"Baik, saya pamit undur diri Bu, mari..." kata suster Erika sambil berlalu meninggalkan brangkar Riko


"Terimakasih sus" dan suster Erika mengangguk sambil menoleh kearah Bu Isti dengan senyuman manisnya.


__ADS_2