
Diluar masih gelap, jam baru menunjukkan pukul 04.12 dan Haris sudah bersiap untuk pergi ke kota guna menyelesaikan perceraiannya dengan Intan
Sementara Riko masih terlelap dialam mimpinya dan baru terbangun saat matahari mulai merangkak naik.
Riko yang merasa berada ditempat asing langsung menangis, nek Halimah yang sedang mencuci baju bergegas menuju kamar cucunya setelah mendengar suara tangisan.
Digendongnya Riko dan diajaknya keluar untuk melihat-lihat alam sekitar agar bisa berhenti menangis.
Tak lama tangisannya mereda setelah melihat seekor kambing yang baru lahir dan tengah belajar berdiri.
Dirasa sudah tenang dan tak lagi menangis nek Halimah menggandeng cucunya untuk pulang dan memandikannya lalu memberinya makan.
...****************...
Riko begitu menurut sama kakek dan neneknya, dan anehnya bocah itu sama sekali tidak menanyakan keberadaan kedua orang tuanya. Mungkin kasih sayang dari kakek dan neneknya yang begitu besar hingga dia tak merasakan kerinduan kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Satu tahun sudah Haris meninggalkan Riko ditempat orang tuanya dan selama satu tahun itu pula tak pernah sekalipun Haris mengunjungi anaknya, bahkan tak pernah menghubungi keluarganya hanya untuk sekedar menanyakan kabar anaknya.
Tetangga sekeliling merasa kasihan dengan nasib bocah malang tersebut yang seolah-olah tak pernah diharapkan kehadirannya, bocah yang ditinggalkan begitu saja setelah kedua orangtuanya berpisah.
Waktu berlalu begitu cepat, Riko kini berusia 7tahun. Setiap hari sepulang sekolah Riko membantu kakeknya mengurus kambing-kambing milik pak Budi yang rumahnya tidak jauh dari rumah kakek Joko.
Riko tak punya banyak teman disana, karena hampir setiap hari dia selalu menghabiskan banyak waktunya untuk membantu kakeknya merawat kambing milik pak Budi.
Nek Halimah setiap hari hanya menghabiskan waktunya dirumah, kakek Joko suaminya melarangnya bekerja karena nek Halimah memiliki riwayat sakit asma. Walaupun hidup sangat sederhana namun keluarga kakek Joko sangatlah harmonis.
Siang itu nek Halimah tengah menyalakan tungku untuk memasak makan siang untuk suami, cucu dan dirinya.
Saat tengah membereskan perabotan yang baru digunakan untuk memasak, terdengar suara ketokan pintu dan salam dari seseorang.
Tergesa-gesa nek Halimah berjalan membukakan pintu sembari menjawab salam dari tamunya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
"Haris, kamu pulang nak?" dengan mata berkaca-kaca, seolah menunjukkan betapa beliau sangat merindukan anak semata wayangnya itu.
"iya bu, Haris pulang. Kangen sama ibu bapak, juga sama Riko"
"yasudah, masuk dulu nak. Bapakmu masih menggembala kambing, paling sebentar lagi pulang, ibu juga sudah masak, ayo makan! kamu pasti lapar kan??"
"iya buk Haris mau nunggu bapak pulang saja, sekalian ada yang mau Haris sampaikan"
"memangnya ada apalagi nak?"
"nanti saja ya buk, nunggu bapak pulang"
"yasudah, ibu buatkan kopi dulu"
__ADS_1
"iya bu"
nek Halimah bergegas membuat menuangkan air panas dari dalam termos untuk membuatkan kopi untuk anaknya. Lalu berbincang-bincang dengan anaknya meluapkan segala kerinduannya pada pria yang sudah dewasa itu. Menceritakan tentang bagaimana czcunya yang selama ini diasuhnya dengan raut wajah yang berubah-ubah seakan merasakan kembali kejadian-kejadian yang selama ini terjadi. Haris pun mendengarkan setiap cerita ibunya dengan sopan.