
Bu Isti masuk ke dalam rumah, dan berpapasan dengan Riko yang sudah siap hendak berangkat bekerja, sedangkan Andi dia tengah membantu Pak Umar memasukkan pakan ternak karena para pekerja lain sudah pada pulang.
" assalamualaikum Riko, kamu mau berangkat sekarang nak? "
" waalaikumsalam, ah iya buk, Riko pamit ya? Assalamualaikum "
" waalaikumsalam, hati-hati di jalan. jangan ngebut, ibu bapak menunggu di rumah "
Riko yang saat ini tengah memakai helm, menjawab petuah dari Bu Isti dengan tersenyum sambil menganggukkan kepala menatap sosok wanita paruh baya yang mengkhawatirkan keselamatannya.
Ada rasa yang membuncah yang sulit diungkapkan tiap kali ada yang memperhatikannya atau pun mengkhawatirkan dirinya. Mungkin karena sudah lama tidak pernah mendapatkan perhatian lebih semenjak neneknya meninggal, dan baru mendapatkan lagi dari sosok Bu Isti ibu dari Andi teman kuliahnya.
Bersama almarhum Pak Danu dan almarhumah Bu Nana, Riko juga cukup dekat, hanya saja ada rasa sungkan tersendiri yang tersimpan pada diri Riko untuk mendapatkan perhatian dari mereka. Segala kebaikan yang di berikan kepada Riko sudah cukup baginya, Riko merasa terlalu serakah bila harus ingin mendapatkan perhatian berlebih dari mereka. Padahal Pak Danu dan Bu Nana dulu amat menyayangi Riko. Namun Riko selalu berusaha menampik perasaan di hatinya yang terasa sejuk tiap kali mendapat perhatian-perhatian dari Bu Nana maupun Pak Danu.
Riko selalu menanamkan dihatinya untuk sadar diri, jangan terlalu serakah dan ngelunjak. jangan sampai terbuai dengan kebaikan beliau dan malah berbuat nyeleweng hingga tak tau terimakasih. Mungkin karena itulah sebabnya, Riko merasakan kesejukan tersendiri saat bersama dengan Bu Isti. Sosok nenek seakan hadir kembali melalui sosok Bu Isti.
Riko telah sampai di tempatnya bekerja, sebagai pramusaji yang siap melayani para pelanggan dengan sepenuh hati. Terlihat ada pelanggan yang baru saja datang di meja pojok dekat jendela, Riko pun bergegas menghampiri untuk menanyakan pesanan pelanggan tersebut. Diluar dugaan ternyata pelanggannya adalah ibu tirinya bersama seorang remaja laki-laki dan anak perempuan yang Riko yakini adalah kedua adiknya. Namun entahlah, Riko tak begitu tau seperti apa rupa ketiga adiknya saat ini, hanya saja Riko masih sangat ingat bahwa pelanggan yang kini ada dihadapannya adalah sosok ibu tirinya yang dulunya tak pernah mau menerima dirinya dengan baik.
__ADS_1
Hal pertama yang Riko rasakan adalah terkejut, tak ingin melayani namun kakinya sudah terlanjur melangkah dan sudah berada di hadapan ibu tirinya.
Tak ada sesuatu yang terjadi, sepertinya ibu tirinya itu telah lupa pada dirinya. Terbukti ia tidak mengenali Riko yang jelas-jelas berdiri tegak dihadapannya. Riko cukup bersyukur akan hal tersebut.
Setelah mencatat apa yang di pesan, Riko segera undur diri. Namun hal mengejutkan terjadi saat Riko baru saja mengayunkan kakinya hendak melangkah, ibu tirinya kembali berkata " oh ya, kamu Riko kan? "
pertanyaan yang sulit untuk Riko jawab, ingin mengangguk tapi rasanya sulit. Padahal Riko sudah mengira kalau ibu tirinya sudah lupa padanya dan tidak mengingatnya lagi, namun salah. Apa yang dipikirkannya salah besar, Bu Rima benar-benar masih mengingatnya.
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Riko, Bu Rima kembali bersuara " kaget ya kalau saya masih ingat sama kamu? jelas saya ingat sama kamu, karena saya akan selalu mengingat wajah kamu, karena apa? karena kamu adalah duri yang harus disingkirkan dan tak boleh dekat-dekat dengan keluarga saya. Jangan pernah kamu coba-coba untuk menemui bapakmu lagi. Ingat itu ". Tanpa menjawab ucapan menohok dari Bu Rima, Riko bergegas kembali kebelakang dan meminta pada temannya untuk menggantikannya mengantarkan pesanan ibu tirinya. Riko tak ingin lagi mendengar ucapan yang bagai belati.
Selama bekerja Riko menjadi kurang fokus karena suasana hati yang berkecamuk. Hingga banyak sekali melakukan kesalahan dan mendapat teguran dari managernya.
Riko mengendarai kuda besinya dengan perasaan yang berkecamuk, antara sedih, marah, benci yang bercampur menjadi satu. Meskipun terkadang oleng dan mendapatkan umpatan dari beberapa kendaraan yang dia salip, alhamdulilah Riko bisa pulang dan tiba di rumah dalam keadaan selamat.
Tanpa mengucap salam, Riko langsung masuk kedalam rumahnya dan melangkahkan kaki langsung ke kamarnya tanpa memperdulikan tatapan keheranan dari Pak Umar, Bu Isti dan juga Andi.
" loh Buk, itu Riko kenapa? " tanya Pak Umar kepada istrinya.
__ADS_1
" lah iya, kenapa itu. Ibu juga nggak tau pak, lha kan ibu dari tadi juga disini sama bapak sama Andi " jawab Bu Isti
" Andi, kamu tau nggak itu Riko kenapa? " tanya Pak Umar kepada Andi
" Andi juga nggak tau pak, mungkin lagi ada masalah di tempatnya kerja "
" ah iya, itu tadi kan nak Riko pergi kerja ya, eh kok sekarang udah pulang? bukannya harusnya masih nanti ya? " dan Pak Umar beserta Andi mengangguk bersama membenarkan apa yang diutarakan Bu Isti. Karena setahu mereka kalau Riko bekerja pulangnya masih sekitar dua jam lagi.
Karena merasa ada yang tidak beres, Bu Isti berdiri hendak menyusul Riko ke kamarnya. Sementara Pak Umar dan Andi hanya diam menatap Bu Isti yang sudah mulai melangkah ke arah kamar Riko. Namun saat sudah sampai di depan pintu kamar Riko, Bu Isti berbalik dan meminta Andi untuk masuk kedalam. Karena menurut Bu Isti akan lebih baik bila Andi yang masuk kedalam, karena Andi merupakan teman baik Riko. Dan Andi pun menyetujui pendapat ibunya. Tanpa ba-bi-bu Andi bergegas bangun dari tempatnya duduk dan berjalan ke kamar Riko.
tok
tok
tok
" Riko, Rik, kamu di dalam kan? " tak ada sahutan dari dalam, Andi kembali bersuara " aku masuk ya Rik " dan masih sunyi tak ada sahutan sama sekali, dan akhirnya Andi memutuskan untuk masuk kedalam kamar Riko yang kebetulan tidak dikunci.
__ADS_1
Hal pertama yang Andi lihat saat sudah berada didalam kamar Riko adalah sosok rapuh seorang Riko yang tidur telentang dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar, dan matanya mengeluarkan air mata, namun tak ada Isak tangis yang keluar dari mulutnya, bahkan sepatu pun masih melekat di kakinya.