
[ Pukul 19:00 malam di wilayah kampus, suster dan sang ayah menemani kiran didalam ruangan itu,
dan akhirnya ketiganya duduk bersama terlebih dahulu, sebelum membicarakan tentang kelanjutan rawat jalan kiran.]
" Nah, kiran. ayah sudah mengantarmu sampai disini, kira-kira apa kau bisa merawat dirimu sendiri disini,
dan memperhatikan asupan makanmu, ayah tidak ingin sampai kau jatuh pingsan seperti tadi lagi, balasnya tegas.
[ Selanjutnya jimi membicarakan terkait perawatan kiran, sampai sembuh total.
yang memakan waktu hingga sejam lamanya.
dan selagi keduanya berbincang-bincang dengan seriusnya,
kiran pun tertidur pulas di sofa begitu saja, tanpa diketahui oleh keduanya.
dan setelah itu jimi pun kembali bertanya pada kiran, dan disaat itulah keduanya baru sadar kalau kiran telah tertidur pulas di sofa.
( astagaa... putriku tidur dan aku tidak sadar, sangking seriusnya bicara ) gumamnya sendiri.
yang akhirnya menggendong kiran ketempat tidur dekat sofa.
" Sus, saya percayakan putri saya pada penjagaanmu, tolong urus kiran dengan baik,
dan 1 lagi jangan pernah buat dia terlihat sakit didepan teman-temannya,
lakukan yang terbaik agar makan dan jadwal tidurnya sesuai dengan waktunya.
jangan sampai telat makan atau apapun itu, karena saya juga akan tetap datang kemari untuk mengecek kondisinya sendiri.
ujarnya yang mencium keningnya kiran lalu pergi dari situ.
" Selamat malam princess kecilnya ayah. ujarnya dan beranjak keluar.
[ Sepanjang malam, Kiran tertidur pulas didampingi oleh susternya sendiri.
dan keesokan paginya..]
Kiran terbangun dari tidurnya dan mempersiapkan diri untuk kembali belajar.
sang suster yang tengah mempersiapkan sarapan itupun langsung berkata padanya,
" Kiran, ayo sarapan dulu, setelah itu kau baru mengurusi urusan kampus, ujarnya sembari menaruh makanan di meja makan yang kecil.
[ Kiran baru ingat kalau semalam ia diantar suster dan ayahnya,
tak lama ia hanya makan dan pergi begitu saja tanpa berkata sepatah katapun pada susternya. ]
Kiran bergegas menuju ruang kantor, namun disaat ia telah memasuki ruangan kantor,
dan akan hendak mengambil buku-buku yang dimana tugasnya sebagai asisten dosen tetap ia jalankan.
namun apa yang dilihatnya itu malah mungkin akan mengubah semuanya,
" Permisi, kamu siapa.,!? ujarnya yang mendekati orang tersebut yang tengah menyusun buku-buku sang ayah.
" Oh.., perkenalkan nama saya gery, asisten baru dari bapak jimi,
beliau berkata bahwa jika asisten lamanya sudah diberhentikan
Karena ada beberapa urusan yang harus dilakukannya, seperti begitu. ujarnya sembari menyusun buku.
[ Tak lama kemudian, seorang dosen lain, yang memasuki ruangan kantor pun berkata padanya, ]
" Kiran, tolong bawa buku ini keruanganmu
dan belajarlah dengan tekun dengan semua rekan-rekanmu, yah..? sahut si bapak dosen.
[ kiran yang mendengar perkataan itu pun hanya bisa terdiam dan membawa buku itu menuju ruang kelasnya.
dan sesampainya ia dikelasnya itu, ia langsung membagikan buku-buku itu lalu semua belajar begitu saja,
kiran yang merasa tugasnya dibuang seperti itu membuatnya semakin geram dan murka pada sang ayah,
teman-teman kiran yang melihat ekspresinya yang berubah menjadi lebih tegang dan ekspresi wajah marah yang ditahannya itu,
sudah membuat seisi ruangan paham betul suasana hati kiran yang sedang marah dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. ]
" Kiran, ini minum jus buah, ujar salah seorang temannya yang asal menaruh jus itu dihadapannya, lalu meninggalkan ia sendiri disitu.
Selama beberapa jam lamanya kiran tak berbincang dengan teman-temannya itu, bahkan ia tidak kembali keruang istirahatnya,
hingga jam makan siang berlalu Kiran tetap berada di ruangannya dengan posisi yang sama.
sang suster menunggu kiran yang tak kunjung datang itupun,
bergegas menelfon jimi yang tengah mengajar di ruangan St5, namun tak diangkat jimi.
lalu suster pun memberi kabar lewat pesan,
" Pak jimi, putri anda melewatkan jam makan siang, bahkan ini sudah memasuki jam kedua untuk istirahat,
Kiran tetap tak kunjung datang untuk memakan makanannya yang sudah disiapkan sejak siang "
jimi yang sibuk itupun juga tak memperhatikan pesan itu.
hingga sejam setelah bel pulang pulang kampus, baru jimi memegang handphonenya.
lalu ia membuka pesan dan 1 panggilan tak terjawab dari susternya kiran, dan hal itu membuat jimi terkejut,
" Apaa...!!? dia melewatkan waktu makan siang dan jam istirahatnya.,!?
ini tidak bisa dibiarkan, Kiran bisa jatuh sakit lagi, ujarnya sambil menoleh ke sekeliling kampus,
siapa tahu masih ada mahasiswa yang baru keluar,
dan beruntungnya ia masih mendapati ada mahasiswa yang baru pulang,
lalu jimi pun bergegas bertanya pada salah seorang dari mereka,
" Apa kalian melihat mahasiswi tahun kedua.,?! tanyanya.
" Maaf pak, tapi kami dari St6, kami yang terakhir pulang.
sedangkan yang lainnya sudah pulang sejak awal bel pulang.
__ADS_1
tapi kalau bagian St2 tadi diinformasikan
Bahwa mereka tengah melakukan penelitian alam diluar kampus pak,
kalau tidak salah itu wilayah yang cukup jauh dari lokasi kampus,
maaf pak kami kurang tahu alamatnya, ujar orang tersebut. lalu mereka pun pergi dari situ.
karena jimi tidak mendapatkan jawaban apapun, yang pada akhirnya ia bergegas menelfon bagian jadwal St2.
dan mereka pun menginfokan bahwa St2 tengah praktek lapangan yang
kebetulan tugas mereka itu berhubungan dengan masyarakat menengah kebawah.
jimi yang menelfon nomor telepon kiran itupun bahkan tak digubrisnya.
yang pada akhirnya jimi menelfon langsung dengan ketua ruangannya itu,
namun hal tak diduga pun terjadi,
" Maaf pak, St2 yang pergi hanyalah sebagian kecil, bukan semua,
lagi pula kiran masuk tim ke 2, dan mereka mendapatkan jadwal praktek itu besok pagi,
bukan sekarang pak, ujarnya ditelfon ".
jimi yang mendengar perkataan itu pun langsung mematikan handphone lalu kembali ke kampus,
ia berlari menuju ruangan kiran didekat ruang rektor.
" Suster,!? mana kiran., tanyanya sambil ngos-ngosan.
" Maaf pak, saya juga mau bertanya hal yang sama pada bapak,
ini sudah mau pukul 5 sore, dan Kiran belum kunjung pulang, ujar suster yang tengah meletakkan makanan untuk kiran.
jimi yang mulai panik pun akhirnya mengingat kembali dengan perkataan dokternya itu,
dan akhirnya tanpa arah jimi memaksa dirinya untuk mencari kiran disemua lokasi kampus.
bahkan ia juga bertanya pada satpam kampus dan jawaban yang sama pun didapatnya.
jimi yang terus-menerus mencari kiran disemua lokasi, yang berdekatan dengan kampus itupun tak menemukan apapun.
[ hingga sudah menunjukkan pukul 7 malam ]
sampai pada akhirnya ia tak sengaja melewati taman bermain
Yang sudah usang dan tidak beroperasional lagi selama 10 tahun itu,
ia ragu apakah itu Kiran atau bukan, namun dikarenakankarena penasaran,
akhirnya jimi mendekati wanita yang tengah duduk di ayunan itu, lalu menyapanya,
namun disaat ia hendak memanggil orang itu, ia mendengar sebuah suara tangis kecil dari wanita itu.
jimi merasa tidak asing dengan tangisan itu, suaranya terdengar seperti suara kiran.
dan jimi pun bergegas berdiri di hadapannya dan benar saja,
jimi yang ingin marah pun sampai tidak jadi, karena mengingat perkataan dokternya itu.
" Kiran.., panggilnya.
kiran yang mendengar panggilan itu pun langsung mengangkat wajahnya dengan perlahan,
" Aku membencimu, sahut kiran sambil berdiri dari duduknya.
( dengan suara yang sudah serak disebabkan karena menangis dan berteriak )
" Kiran, apa maksudmu.,!? ayah tidak mengerti.
" Jika kau ayahku dan jika kau anggap aku sebagai satu-satunya anak perempuanmu,
seharusnya kau tidak mengeluarkanku dan memilih orang itu untuk menggantikan posisiku,
aku sangat membencimu,.!!? kupikir aku bisa mendapatkan sesuatu, namun anda itu sama saja. ujarnya sambil berpaling dari jimi.
( jimi yang langsung ingat kejadian tadi pagi, mengenai pergantian asisten itu akhirnya buka suara ).
" Kiran..,!? dengar penjelasan ayah., ayah melakukan semua itu bukan untuk membuangmu
melainkan untuk menjaga kesehatanmu, ujarnya sambil menahan dirinya.
kiran yang tadinya hendak pergi dari situ pun,
akhirnya menghentikan langkahnya lalu mengungkapkan fakta yang sebenarnya tanpa menoleh kearahnya sedikitpun.
" Dulu aku dibuang oleh ayah kandungku karena kak youri, menginginkan jabatanku,
sampai mereka semua pergi meninggalkanku sendirian disini,
dengan pesan bahwa mereka pergi ke luar negeri karena ada urusan keluarga.
namun faktanya mereka selama ini cemburu dengan jabatanku seorang CEO disekolah SMA sampai di kampus ini.
aku yang memberikan donasi lebih untuk kampus ini,
aku berpura-pura menjadi mahasiswi tahun kedua, agar bisa melihat situasi kampus secara langsung,
namun yang kudapat hanyalah orang-orang yang menginginkan jabatanku bahkan uangku,
dan kini uang dan jabatanku sudah direbut oleh ayahku,
lewat permainan kotornya pada rapat pemegang saham beberapa waktu yang lalu.
dan sekarang ketika semuanya hilang, aku mendapatkan kasih sayang baru darimu,
sebagai ayah tiri, dan aku sangat menikmati suasana segar sebagai asisten dosen.
namun hal itu sudah tidak berlaku lagi bagiku,
sekarang aku hanya memiliki nama Kiran, masyarakat kelas bawah yang sudah tidak memiliki jabatan, uang, bahkan nama.
bukan itu saja aku bahkan sudah tidak memiliki hak apapun disini,
__ADS_1
dan peran pura-puraku pun sudah diketahui oleh seisi kampus,
lalu hal apa lagi yang masih tersisa dariku, tidak ada. ujarnya sambil pergi meninggalkan jimi sendirian disitu.
Jimi yang baru mendengar pengakuannya itu pun hanya bisa terdiam seribu bahasa,
bagaikan terkena sambaran petir yang dahsyat. ia pun tak dapat berkata apa-apa,
[ Jadi yang kemarin yang disebutkan oleh dokter bukan karena sakit biasa, namun karena hal itu. ]
jimi pun kembali pulang ke rumahnya sedang kiran, pergi ke sebuah lapangan SMA tempat ia dulu belajar,
[ Malam itu dilapangan SMA pukul 21:00 ]
dilapangan yang luas itu kiran berdiri di situ, ditemani oleh hujan malam yang amat deras,
serta guntur dan kilat yang terus saja menyambar, tak membuat kiran bergerak dari tempatnya.
tangisnya yang pecah dan pakaiannya yang sudah basah kuyup itu, tak dihiraukannya.
[ Sedangkan di sisi lain dirumahnya jimi, dan malam itu juga,
jimi pun memberitahukan semua yang disampaikan oleh kiran padanya,
dan sang istri yang sekaligus adalah ibu kandung kiran itupun,
memberitahukan hal yang serupa padanya,
karena ia baru saja dihubungi oleh mantan suaminya yang selaku ayah kandung kiran.
bahwa harta benda milik kiran telah jatuh seutuhnya kepada sang ayah,
dan jabatan CEO disekolah SMA dan kampus, juga telah diambil alih oleh youri seutuhnya.
dan sang istri hanya bisa menangis sambil menceritakan itu semua.
dan bukan itu saja dibalik semua kisah sang ayah kandung yang memeras semua harta milik kiran,
serta sang kakak yang berpura-pura selama beberapa tahun ini untuk mendekati kiran agar merebut jabatan CEO di SMA pun terwujud,
dan semua hal itu sudah terjadi sejak awal sebelum kiran datang dari amerika, tanpa sepengetahuan sang ibu.
Jimi selaku ayah tiri itupun syok mendengar pengakuan yang sama dari istrinya. ]
" Lalu sekarang apa yang harus dilakukan dengan kiran,!? dia anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang yang lebih,
kini jadi gelandangan di luar sana, dia yang tengah sakit mentalnya karena perlakuan dari keluarganya sendiri,
aku tidak menyangka bahwa hal sekejam itu terjadi pada anak seperti kiran, ucapnya yang bingung, dan entah harus berfikir apa.
tak setelah keduanya berbincang-bincang, akhirnya jimi baru menyadari bahwa diluar tengah hujan lebat,
dan susternya mengkonfirmasi bahwa Kiran belum pulang ke kampus, hingga pukul 10 malam,
dan dengan perasaan khawatir yang kuat, Kiran dan sang istri menggunakan mobil, untuk mencari kiran disepanjang jalan.
dan setelah beberapa saat lamanya mencari,
pada akhirnya mereka menemukan Kiran sudah tergeletak tengkurap di tengah jalan,
yang mana mereka sendiri kurang tahu daerah itu,
dengan baju yang sudah kuyup itupun, keduanya mengangkat kiran dan membawanya ke rumah,
dan sesampainya mereka dirumah, sang ibu pun langsung mengganti pakaiannya dikamar kiran,
sedangkan jimi menyiapkan air hangat untuknya.
beberapa saat setelah kiran berganti pakaian,
sang ibu menggulung tubuhnya dengan selimut tebal sambil memeluknya erat,
" Ini untuk kiran, ujar sang ayah.
keduanya pun berusaha untuk menghangatkan kaki dan tangannya yang sudah sangat dingin,
" Sebaiknya malam ini kita tidur dengannya, ujar sang ibu.
Iya, aku setuju denganmu, ujar sang ayah.
[ Keesokan paginya ]
Kiran yang terbangun lebih dulu itu, dengan perlahan membuka matanya dan melihat sekelilingnya.
( Dimana ini, dan kenapa seluruh tubuhku terasa berat dan susah digerakkan ) gumam sambil memcoba menggerakkan kaki dan tangannya.
dan betapa terkejutnya ia ketika melihat ibu dan ayah tirinya berada di dalam kamar yang sama dengannya.
ibu yang memeluknya erat serta ayah yang tidur dibawah kakinya sambil memeluknya kakinya.
( Ini sangat panas dan gerah ) gumamnya dalam hati.
" Ayah, ibu, bisakah kalian berdua banguun..!!??,
ini terlalu panas dengan selimut setebal ini..!? ujarnya sambil bergerak-gerak di dalam selimut itu.
Keduanya yang mendengar perkataan kiran itupun langsung terbangun dari tidurnya,
" Kiran kau sudah bangun,?! bagaimana kondisimu sekarang,
apa ada yang sakit, kakimu atau kepalamu terasa pusing, ucap sang ayah sambil memegang kedua pipinya.
Kiran yang sedikit kaget dengan reaksi dari sang ayah itu pun, langsung berkata padanya, sembari menunduk.
" Ma.,, maafkan aku ayah, ibu yang sudah membuat kalian berdua khawatir, ujarnya.
.. Kau tidak perlu berkata seperti itu pada kami, kiran.
seharusnya kamilah yang meminta maaf padamu, ujar ayah.
benar apa kata ayahmu, nak. ucap sang ibu yang duduk disampingnya sambil mengelus kepalanya.
" Kenapa aku bisa berada disini,, bukankah...,
" sssttt,,,, cukup kiran. kau tidak perlu lagi banyak pikiran,
__ADS_1
dan saat ini yang perlu kau lakukan adalah bahagialah dengan caramu sendiri, ucap sang ayah yang menghentikan perkataan kiran.