
Note: Author udh revisi bab 1, karena bab 1 menurut author itu sedikit, jadi jika kalian minat, kalian bisa membaca kembali bab 1.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Huh, besok aku akan melanjutkan lantai selanjutnya dari dungeon ini atau aku sebut saja dimensi selanjutnya dari dungeon ini' Ucap Gilmer lalu mata nya terpenjam dan akhirnya tertidur di atas dahan pohon.
Siang hari nya, Gilmer yang terbangun dari tidur nya, segera berdiri dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku.
Lalu Gilmer melihat sekitar, saat itu juga pandangan Gilmer menemui tubuh yang tertidur di dekat api unggun yang sudah padam.
Gilmer tidak peduli dengan Bryant yang tertidur di dekat api unggun, lalu Gilmer mengalihkan perhatian nya ke arah daging yang ditumpuk secara menggunung, daging itu belum dimakan oleh siapapun, jadi Gilmer ingin menyimpan nya untuk persediaan makanan nya nanti.
"Ahh, aku lupa memasuki daging itu ke dalam sihir elemen ruang ku" Gumam Gilmer sambil berjalan ke arah daging itu.
Lalu tangan kanan Gilmer terulur dan daging-daging itu menghilang saat tangan kanan Gilmer terulur.
"Hmm, aku sebaiknya makan terlebih dahulu" Ucap Gilmer mengeluarkan daging yang ukurannya mencapai 3 bus sekolah.
Lalu Gilmer membakar daging itu dengan menggunakan api putihnya.
Setelah Gilmer merasa jika daging itu sudah matang, Gilmer menambahkan bumbu makanan untuk menyedapkan cita rasa dari daging yang dimasak nya.
Saat itu juga, indra penciuman Bryant menangkap aroma makanan yang menusuk hidung nya.
Bryant terbangun oleh aroma makanan itu, dan menatap ke arah asal dari aroma makanan tersebut, saat matanya menatap ke Gilmer, Bryant berjalan ke arahnya.
"Err anu, tuan Gilmer, bisakah anda memberikan aku makanan yang anda masak?" Ucap Bryant dengan tangan nya menggaruk kepala belakang nya.
Lalu pandangan Gilmer teralih ke asal suara itu, dan menatap Bryant dengan menyipitkan matanya.
GLUP*
Sedangkan Bryant yang ditatap oleh Gilmer menelan ludahnya, karena Bryant ingin merasakan makanan yang dimasak oleh Gilmer sendiri.
"Hmm, karena kau sudah membunuh Sauropoda, maka kau berhak untuk merasakan makanan dari ku" Ucap Gilmer sombong sambil menyodorkan makanan nya ke arah Bryant, yang ukurannya hanya sekepal tangan orang dewasa saja.
Sedangkan Bryant yang disodorkan makanan yang hanya seukuran sekepal tangan orang dewasa tercengang, dan mengambil makanan itu dengan cepat, takut jika Gilmer berubah pikiran dan makanan itu akan dimakan oleh Gilmer sendiri.
"Apakah ini bisa membuat ku kenyang?" Ucap Bryant kepada Gilmer.
"Itu tergantung dengan isi perut mu" Ucap Gilmer yang sedang memakan daging itu dengan elegan.
Lalu Bryant melihat ke arah daging yang ada di piring nya, lalu Bryant memasukkan daging itu ke mulutnya.
"Apa ini? kenapa ini sangat enak sekali?" Batin Bryant yang memakan habis daging itu dengan sekali lahap.
"Anu, Tuan Gilmer, bolehkah aku minta sedikit lagi?" Ucap Bryant dengan sopan agar diberikan makanan.
"Tidak, setelah ini kau harus mandi, bau badan mu itu sangat busuk" Ucap Gilmer yang sudah menghabiskan makanannya.
__ADS_1
Saat Gilmer menyelesaikan ucapannya itu, Bryant mencium badannya dan saat itu juga hidungnya mati rasa, rasanya Bryant ingin muntah.
"Uekk, bau ini sangat menjijikkan" Ucap Bryant.
"Huh, akhirnya kau sadar juga" Ucap Gilmer yang tidak mencium bau badan Bryant karena menutupi Indra penciuman nya dengan mana nya.
"Kenapa kau tidak bilang?" Ucap Bryant kesal.
"Humph, seperti nya kau tadi menjilat" Ucap Gilmer yang menyindir dengan senyumnya.
"Huh, ya sudah lah aku akan mencari danau dulu" Ucap Bryant pergi.
Gilmer yang sendirian ditempat itu, bergumam.
"Aku ingin mencoba mata kanan ku" Ucap Gilmer.
Lalu Gilmer melapisi mata kanannya dengan menggunakan mana nya, dan saat itu juga Gilmer melihat didepannya ada tulisan tulisan yang ada di dunia ini.
❲Status dari Gilmer Lan: Seorang reinkarnasi yang dihidupkan oleh Dewa Ruang, keturunan dari dewa (?), ras iblis (?), seorang yang berhasil selamat di ruang hampa, Mempunyai 10 elemen yaitu, api, air, tanah, petir, angin, kegelapan, cahaya, es, logam, dan ruang❳
"Hmm, kemampuan mata ku ini seperti nya berguna untuk musuh yang menyembunyikan kekuatan nya" Ucap Gilmer sambil memegang mata kanan nya dengan tangan kanannya.
Lalu Gilmer berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain, Bryant yang sudah selesai mandi di danau, segera meninggalkan tempat itu, dan saat Bryant kembali ke tempat Gilmer, di sana tidak ada siapa-siapa.
"Dimana Gilmer?" Ucap Bryant sambil melihat sekeliling nya.
Bryant yang sudah memanggil Gilmer berulang kali, tetapi tidak ada jawaban dari nya akhirnya berhenti.
"Bryant kau sangat berisik, sampai kuping ku berdengung" Ucap Gilmer yang muncul di dalam semak semak.
"Kau dari mana saja?" Ucap Bryant.
"Aku sedang melihat tempat sekitar" Ucap Gilmer.
"Memangnya apa yang kau cari di tempat ini?" Tanya Bryant.
"Ck, kau ini banyak tanya, tapi baiklah, apakah kau pernah melihat ada tempat yang mencurigakan ditempat ini?" Tanya Gilmer.
"Tempat mencurigakan yah? Hmm, sepertinya aku pernah melihat, ikuti aku" Ucap Bryant berlari ke reruntuhan pemukiman yang dihancurkan oleh dirinya sendiri.
Sedangkan Gilmer menaikkan alis nya, dan mengikuti langkah dari Bryant.
Saat mereka berdua sampai di depan reruntuhan tempat masuk pemukiman, mereka berdua terus berjalan dan sampai di tempat singgasana nya Raja Titan Walmer.
"Aku curiga mengapa ayah ku tidak menolong Titan lain, tetapi dia hanya duduk diam di singgasana nya" Ucap Bryant bingung.
"Hmm, sepertinya ini masuk akal" Ucap Gilmer, lalu mata kanannya bersinar keemasan.
__ADS_1
"Kenapa mata kanan mu bersinar?" Tanya Bryant yang melihat mata kanan Gilmer bercahaya.
"Aku sedang melihat sesuatu" Jawab Gilmer.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Bryant lagi.
"Huh, bisakah kau berhenti bertanya?" Gilmer mulai jengkel dengan pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh Bryant kepadanya.
Apa yang dilihat oleh Gilmer adalah sebuah tulisan di tempat singgasana Raja Titan Walmer.
❲Tempat masuk dimensi selanjutnya dari dungeon ini❳
"Jadi bagaimana cara agar aku bisa masuk ke dimensi selanjutnya dari dungeon ini?" Batin Gilmer bertanya-tanya.
Gilmer berjalan kearah singgasana itu dan mengitari nya.
"Arghh, aku benci dengan teka teki" Ucap Gilmer kesal.
"Apa yang sebenarnya kau cari?" Tanya Bryant sambil berjalan ke arah Gilmer.
Saat tangan Bryant menyentuh singgasana itu, tiba tiba singgasana itu bergeser dan menampakkan jalan menurun.
"Hmm, tidak salah aku memilih kau Bryant" Ucap Gilmer sambil berjalan menuruni anak tangga yang mengarah ke bawah.
"Hei, apa maksud dari katamu itu Gilmer?" Ucap Bryant mengikuti Gilmer.
"Tidak ada" Ucap Gilmer tak acuh, sambil mengeluarkan sihir elemen cahayanya untuk menerangkan tempat anak tangga yang menurun ke bawah.
Bryant yang ingin bertanya mengapa Gilmer bisa mengeluarkan sihir cahaya padahal ras dia adalah iblis, tidak jadi bertanya.
Saat mereka sampai pada anak tangga terakhir, ada lorong yang sangat besar yang menuju ke suatu tempat.
"Hmm, kita akan masuk ke lorong itu" Ucap Gilmer masuk ke lorong itu lebih dalam.
"Hei, tunggu aku" Ucap Bryant mengejar Gilmer.
Mereka berdua terus berjalan ke dalam lorong itu, hingga jalan itu buntu, dengan ada simbol yang terpahat di dinding itu.
Lalu Gilmer menempelkan tangannya ke simbol itu, dan mencoba memecahkan simbol itu dengan pengetahuan nya.
"Hmm, sepertinya aku bisa membuka ini" Ucap Gilmer, lalu menggambar sebuah simbol aneh.
Setelah Gilmer menggambar selama 30 menit lebih, simbol yang terpahat di dinding itu bersinar, dan dinding itu turun ke bawah.
Gilmer dan Bryant memasuki tempat itu, dan saat itu mereka berada di ruangan berwarna coklat yang selaras dengan tanah disekitar mereka berdua.
Mereka berdua melihat jika didalam ruangan itu ada sebuah pintu dan di samping pintu, ada sepasang patung yang sangat besar berdiri berjajar, tinggi kedua patung itu tidak bisa dibandingkan oleh tinggi dari Raja Titan Walmer, karena tinggi dari kedua patung itu mungkin bisa mencapai 500 meter lebih, dan seperti nya kedua patung itu menjaga pintu agar tidak dimasuki oleh siapapun.
"Emm, Gilmer sepertinya aku merasakan firasat buruk" Setelah Bryant berkata seperti itu, mata kedua patung itu berwarna merah, seolah patung itu hidup, tetapi nyatanya memang kedua patung itu hidup.
__ADS_1
Bersambung...