
"Sergan, berhenti bekerja dan carilah istri," ucap wanita setengah baya itu pada pria di hadapannya.
"Aku sibuk," sahutnya singkat.
"Kau sudah berusia 29 tahun. Aku tidak bisa diam saja saat teman-temanku memanggilmu pria lajang yang tidak laku," ucapnya dengan marah. Tangannya terkepal mengingat teman-temannya mengejek pria di depannya ini.
"Apa aku terlihat seperti pria lajang yang tidak laku? Lihat di luar, ada berapa banyak wanita yang menunggu untuk melihat wajahku," sahutnya dengan acuh. Tangannya dengan lincah mengetik pada keyboard di hadapannya, dan metanya tetap fokus pada monitor di depannya.
"Kau benar, tapi tetap saja. Aku butuh cucu. Astaga, bagaimana jika keluarga kita tidak memiliki keturunan jika kamu tidak menikah. Aku tidak terima ini, aku akan mengirim wanita untuk berkencan denganmu. Jika kau merasa cocok, kita tidak perlu menunggu lama. Kita akan melangsungkan pernikahan," ucapnya dengan semangat.
"Bibi, ini pernikahan, kamu tidak bisa mempermainkan pernikahan dengan begitu mudah," sahutnya. Mata dan tangannya masih fokus pada pekerjaan mereka.
"Tapi keturunan keluarga kita juga penting. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana masa tuaku? Bagaimana jika aku bertambah tua dan tidak ada cucu yang mengurusku? Aku tidak mungkin mengandalkan mu," tanyanya dengan ekspresi yang sangat dramatis.
Tangannya menyentuh dadanya seakan dia benar-benar tersakiti.
"Aku akan memberikanmu cucu. Tapi tidak dengan istri," tuturnya dengan santai.
Wanita di depannya memerah mendengar ucapan keponakannya. Tangannya dengan cepat mengambil apa saja yang ada di tasnya dan melemparkannya ke arah keponakannya.
"Bibi, bagaimana kamu bisa sangat jahat. Ini sakit!" ucapnya sambil mengusap kepalanya. Parfum mahal yang terbungkus dengan kristal itu menghantam kepalanya dengan keras.
"Kamu pikir itu lucu? Apa kamu memiliki 2 kelamin? Apa kamu punya rahim? Bocah sialan! Entah ajaran apa yang aku berikan padamu," ucapnya frustasi.
"Bibi, aku tidak mengatakan aku akan mengandung dan melahirkan cucu untukmu," ucapnya. Sekarang tatapannya beralih ke wanita yang sudah merawatnya itu.
"Lalu apa? Kau akan mengambil wanita polos dipinggir jalan, menghamilinya, memberikannya uang? Seperti itu? Bocah bau! Aku tidak mengajarkanmu menjadi pria brengsek!" tutur nya dengan sekali tarikan nafas. Wajahnya semakin memerah karena keponakan sialan yang sayangnya ia sayangi.
"Bukan seperti itu maksudku. Ada banyak anak yang tidak memiliki orang tua aku akan mengambilnya dan memberikannya padamu sebagai cucu," sahutnya dengan santai. Tangannya terlipat di depan dada dengan wajah sombong andalannya.
"Aku ingin cucu dari keturunanmu bukan orang lain. Bocah gila! Cucu! Seorang bayi yang lahir dari istrimu. Anakmu! Benar-benar anakmu," ucapnya dengan amarah yang tidak tertahan lagi. Dengan cepat ia pergi dari ruang kerja keponakannya, menghempas pintu dengan sekuat tenaga hingga meninggalkan suara nyaring yang memekakkan telinga.
"Astaga, bagaimana bibi bisa menjadi sangat cerewet," gumam Sergan pada dirinya sendiri.
Tatapan Sergan jatuh ke tumpukan dokumen di hadapannya. "Aku bahkan belum menyelesaikan tumpukan dokumen ini."
__ADS_1
****
Sergan sedang makan siang di sebuah kafe, bersama dengan sekretaris yang selalu menemaninya.
"Pak, nyonya Meneer menghubungi saya lagi," ucap Andi, sekretaris Sergan.
"Abaikan saja," sahutnya melanjutkan makannya. Ekspresinya sangat tidak peduli pada apapun.
Andi hanya bisa menipiskan bibirnya. Nyonya Meneer bukanlah orang yang pantang menyerah, sikapnya dalam meneror orang di sekeliling keponakannya seperti wanita yang tidak di beri kabar kekasihnya.
Bahkan notifikasi yang masuk lebih parah dari grup rumpi anak-anak kantor.
"Ayah!" teriak seorang anak kecil.
Perhatian semua orang terarah ke pintu tempat anak itu masuk. Tidak, tidak semua orang karena Sergan tetap fokus pada makanannya.
"Ayah, ini Loli. Ayah tidak ingat Loli?" pekik anak itu setelah tiba di sisi Sergan.
Sergan mengernyit, tatapannya lalu pindah pada pria di hadapannya. "Kau sudah menikah? Tapi kapan kau menikah?" tanyanya pada Andi.
Andi gelagapan, tangannya memberi isyarat bahwa itu bukan dia. "Tidak, Pak. Saya masih lajang, sungguh. Saya tidak mengenal anak ini," ucapnya dengan cepat.
"Ayahlah ayah Loli. Apa ayah melupakan Loli?" jawabnya dengan cemberut. Matanya berkabut akan menangis. Tangannya meremas ujung jas yang di kenakan Sergan.
Sergan mengernyit. "Aku tidak punya putri. Aku bahkan belum menikah," ucapnya.
Suara terkejut pelanggan kafe terdengar. Banyak orang yang mengasihani anak perempuan itu karena tidak di akui ayahnya.
"Bagaimana pria itu bisa sangat jahat pada putrinya?"
"Inilah yang terjadi jika pergaulan terlalu bebas."
"Seorang pria mencampakkan anaknya sendiri, astaga apa dunia benar-benar datar?"
"Anak perempuan itu terlalu imut untuk di tolak. Aku bahkan rela bersujud pada Tuhan agar aku bisa mendapatkan anak secantik itu."
__ADS_1
Sergan menatap bingung pada anak perempuan di hadapannya. Anak itu sudah menangis dengan sesegukan.
"Berhenti menangis. Sekarang katakan dimana ibu mu?" tanyanya dengan ekspresi muram. Dia mulai muak dengan tatapan disekelilingnya.
Loli tidak menjawab, ia masih menangis dengan keras.
Sergan lalu menatap pada Andi meminta tolong. Andi hanya bisa mengedikkan bahunha tidak mengerti.
"Minum ini dan berhentilah menangis."
Mata Andi nyaris keluar melihat apa yang di berikan bos nya itu.
"Pak, itu kopi! Itu tidak baik untuk anak kecil," ucapnya sedikit keras.
"Oh, aku tidak tau. Kau, berikan dia sesuatu untuk menggantikan tangisannya," sahut Sergan dengan santai.
"Ayah, Loli mau ayah. Bawa Loli bersama ayah," ucapnya. Tangannya mengusap air matanya yang hinggap di pipinya.
"Bagaimana aku membawamu? Orang tuamu akan menuduhku menculiknya," sahut Sergan.
"Tapi ayah orang tua Loli. Apa ayah tidak lihat wajah kita mirip. Ibu bilang wajah ayah Loli mirip dengan ayah!" bentaknya pada pria di depannya. Tangannya terkepal memukul kaki pria di depannya.
"Dimana ibumu?" tanya Sergan. Tangannya terkepal menahan emosi. Astaga bisakan ia memukul anak di depannya
Kepala Loli dengan rambut terkenang dua menggeleng. "Loli lupa dimana ibu. Ayah ayo kita temukan ibu Loli," ajaknya pada Sergan.
"Astaga, aku bahkan tidak mengenalmu bagaimana ibumu. Dimana terakhir kali kamu bertemu ibumu?" tanya Sergan dengan hati-hati. Giginya bergeletakan menahan amarahnya.
"Loli tidak ingat ayah. Loli sudah bilang pada ayah," ucapnya dengan marah. Alisnya melengkung menatap tajam pada pria yang ia panggil ayah.
"Jadi, bagaimana caranya kita menemukan ibumu jika kamu tidak mengingatnya?" tanya Sergan frustasi.
"Itu bisa di urus nanti ayah. Sekarang Loli lapar, tujuan Loli menemui ayah karena Loli mau makan," ucapnya seraya duduk di pangkuan ayahnya.
Sergan melotot melihat anak kecil yang duduk di pangkuannya. "Kenapa kamu duduk di pangkuanku?" tanyanya.
__ADS_1
Loli menatap polos pada ayahnya. "Apa ayah tidak tau sopan santun? Loli tidak mungkin duduk di atas meja itu tempat makanan ayah," sarkasnya.
Andi menutup mulutnya menggunakan tangannya. Ia mencoba menahan tawanya melihat pria yang biasa memarahi bawahannya di marahi oleh anak kecil.