Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Menangis


__ADS_3

"Sergan," panggil Eliza saat panggilannya sudah terhubung.


"Ada apa Bibi?" tanya Sergan. Ia cemas karena mendengar panggilan Eliza yang terkesan tergesa-gesa.


"Wanita itu, tidak, Diana. Dia bersikap aneh," adu Eliza. Ia keluar dari kamar setelah berhasil membujuk Diana makan. Wanita itu juga meminta Lego Loli yang berbentuk jerapah.


"Aneh bagaiman Bibi?" tanya Sergan heran. Ia menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Diana, dia bersikap seperti anak kecil. Dia juga memanggilku Ibu," adu Eliza.


"Apa?" seru Sergan terkejut. "Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat. Bibi tolong bawa Loli jauh dulu dari Ibunya."


"Bibi akan berusaha."


Sambungan telepon lalu terputus. Sergan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan cepat. Ia juga meminta Andi menyortir kembali meeting.


Eliza juga cemas. Ia mulai mencari tau di internet tentang kejiwaan. Tidak banyak yang ia temukan karena minimnya pengetahuannya.


Ia lalu mulai mencari tempat bermain yang menyenangkan. Setidaknya itu bisa mengalihkan perhatian Loli dari Ibunya.


***


"Sindrom peter pan?" tanya Sergan tidak mengerti.


"Sindrom Peter Pan adalah sikap orang dewasa yang secara psikologis, sosial, dan seksual tidak menunjukkan kematangan. Nyonya Diana sepertinya mengalami ini karena Tidak siap untuk memikul tanggung jawab yang besar saat dewasa. Merasa cemas, takut, tidak mampu, dan tidak percaya diri, sehingga pengidap sindrom Peter Pan berupaya melindungi diri dengan bersikap layaknya anak kecil. Tekanan mental berat inilah yang mungkin memicu rasa “ingin kabur dari tanggung jawab” dan membuat seseorang ingin kembali ke masa kanak-kanak yang tidak memiliki beban hidup," jelas Psikolog yang Sergan bawa.


"Apakah sindrom ini dapat disembuhkan?" tanya Sergan memastikan.


"Karena nyonya Diana mengalami gejala ini setelah ia dewasa itu bisa dilakukan dengan terapi psikologi. Terapi ini bertujuan untuk membantu meminimalkan sindrom, kemudian psikolog dapat membantu seseorang lebih mengenal kondisi diri mereka, memahami dan menerima apa yang telah terjadi di masa lalu, dan menyiapkan tindakan atau perilaku yang lebih efektif untuk masa depannya."


"Apakah terapi ini memakan banyak waktu?"


"Itu tergantung pasien, Tuan. Dukungan keluarga dan sekitar juga akan sangat membantu pasien untuk cepat sembuh."


"Tolong kamu atur jadwal terapi itu," pinta Sergan.


"Baik, Tuan. Untuk sementara saya akan menyiapkan beberapa perawat untuk nyonya Diana. Karena, penderita sindrom Peter pan terkadang kesulitan mengendalikan diri mereka. Mereka akan terus bertindak aktif layaknya anak kecil."


"Lakukan apapun selama tidak membahayakannya."


"Saya akan berusaha sebisa saya, Tuan. Saya akan mengirimkan jadwalnya pada sekretaris anda. Saya permisi."


Sergan memijit pelipisnya. Sekali lagi, masalah kembali datang padanya. Baru saja ia bahagia karena berhasil menemukan Diana, tapi sekarang ia harus menerima kenyataan mengenai kondisi wanita itu.


"Ayah!" teriak Loli. Ia baru saja pulang dari tempat bermain bersama Bibinya.


"Loli, mandi dan ganti baju terlebih dahulu. Kamu sangat bau karena keringat." Ucapan Eliza membuat langkah kaki Loli terhenti. Ia lalu meringis dan tersenyum malu pada Ayahnya.

__ADS_1


"Ayah, tunggu Loli, okay? Loli akan datang dengan penampilan yang sangat cantik," ucapnya penuh pujian pada dirinya sendiri.


"Mandi di kamar Bibi, ya. Ayah baru saja membelikan gaun baru untuk putri Ayah yang cantik," ucap Sergan membuat senyum Loli terbit. Ia langsung berlari menuju kamar Eliza.


Ia membuka paper bag yang terletak di ranjang milik Eliza.


Ada gaun berwarna lilac dengan aksen putih sebagai pita. Gaun polos itu tampak sangat imut untuk Loli.


Loli mengambil kartu yang ada dalam paper bag. Ia berusaha keras untuk membaca kalimat yang tertulis di kartu itu.


"A- ay- ayah, ini apa? Loli, ini Loli," ucapnya terpotong-potong.


Ia belum bisa membaca. Hanya ada beberapa kata yang sudah ia hapal di luar kepala.


Loli menyimpan kartu itu dekat gaunnya. Ia akan bertanya pada Ayahnya nanti setelah ia selesai mandi.


Loli lalu masuk ke kamar mandi. Ia merendam tubuhnya pada bathtub yang sudah disiapkan pelayan.


Air hangat dengan aroma vanila dan buih yang memenuhi bathtub itu.


Loli bermain dengan buih-buih itu dengan ceria. Ia sangat suka mandi berendam karena akan ada banyak buih.


Tapi Ayahnya membatasinya. Ia hanya akan mandi menggunakan bathub saat ia bermain di luar rumah.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Loli.


"Nona, Tuan mengatakan agar Nona segera menyelesaikan mandi. Jam makan malam akan segera tiba," ucap pelayan itu dengan sopan.


Loli lalu mulai menggosok giginya. Pasta yang Ayahnya belikan lebih enak dari pada sebelumnya, itu membuatnya bersemangat menggosok gigi.


Loli lalu keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilit handuk.


Tetesan air menetes dari rambut panjangnya. Ia menggigil sambil memamerkan senyumnya pada pelayan yang menunggunya.


"Anda kedinginan, Nona?" tanya pelayan itu menggoda.


"Ya, sangat dingin. Tapi Loli suka. Kakak pelayan, tolong dandani Loli menjadi sangat cantik. Ayah baru saja membelikan Loli gaun baru." Loli memamerkan gaun yang Sergan berikan padanya.


"Baiklah, Nona kami yang cantik. Anda akan menjadi putri Tuan yang paling cantik."


Loli terkekeh. Ia lalu membiarkan para pelayan mendandani dirinya. Ia tidak mengeluarkan protes apapun, bahkan saat pelayan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Terima kasih, Kakak pelayan," ucap Loli sebelum ia meninggalkan kamar.


Loli berjalan menuju meja makan sambil membawa kartu yang Ayahnya berikan.


"Ayah!" panggil Loli

__ADS_1


"Kenapa kamu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bersiap, hm?" protes Sergan.


Loli tertawa. Ia lalu mengambil tempat duduk di sisi Ayahnya.


"Loli ingin tampil sangat cantik dengan gaun yang Ayah berikan."


"Kau suka?"


"Sangat. Loli sangat suka."


"Itu bagus."


"Tapi, Ayah, apa tulisan ini? Loli tidak bisa membacanya."


"Itu menjadi pekerjaanmu," ucap Sergan misterius.


Loli cemberut. Ia lalu menyimpan kartu itu di tas kecil yang ia bawa. Ia sengaja membawanya karena tas itu tampak cocok dengan gaun yang ia gunakan.


Loli lalu melihat ke sekeliling meja makan. Hanya ada mereka berdua.


"Ayah, dimana Ibu dan Bibi?" tanya Loli.


"Mereka di kamar Ayah. Ibu masih sakit, jadi dia tidak bisa turun untuk makan. Jadi, Bibi menyiapkan makanan untuknya," jawab Sergan.


"Apa kondisi Ibu baik-baik saja?" tanya Loli sedih. Matanya kembali berkaca-kaca mengingat kondisi Diana.


"Kondisi Ibu tidak bisa Ayah katakan baik-baik saja. Ia masih sakit, hingga harus di rawat. Ayah tidak akan menghalangi Loli bertemu Ibu tapi, Loli harus membatasinya karena kondisi Ibu yang tidak memungkinkan. Loli mengerti?"


Loli membalas dengan anggukan lemah.


Sergan lalu mengambil sapu tangan miliknya. Ia membersihkan air mata Loli yang sudah jatuh dengan sangat deras.


Loli turun dari kursinya. Ia mendatangi Sergan dan duduk di pangkuan Sergan. Ia memeluk tubuh Sergan dengan sangat erat.


Tidak ada yang bisa Sergan lakukan selain mengusap tubuh putrinya.


Loli mungkin sudah cukup tertawa, ia perlu menangis untuk mengeluarkan rasa sakitnya.


Seseorang tidak seharusnya menahan air matanya saat ia merasa sedih.


Setia orang berhak menangis. Entah untuk sesuatu yang sangat kecil ataupun besar.


Puncak dari segalanya adalah tangisan. Saat seseorang berada di puncak kebahagiaannya ia akan menangis, begitu juga saat ia bersedia, ia juga akan menangis.


****


Ig : humanhalyu

__ADS_1


FB : humanhalyu


Wp : humanhalyu


__ADS_2