
"Bagaimana kondisi Istri saya?" tanya Sergan spontan setelah dokter itu selesai memeriksa kondisi Ibu Loli.
Loli juga menatap dokter itu penuh harap. Ia menggenggam tangan Ibunya sejak Ibunya selesai dibersihkan.
Dokter itu menghela nafas sebelum menjawab. "Pemeriksaan sementara saya Nyonya Diana mengalami stres yang cukup berat. Ditambah pola makannya yang tidak teratur mempengaruhi gizi pada tubuhnya. Pola hidup yang tidak juga menjadi penyebab kondisinya seperti ini. Untuk sekarang, saya hanya akan merekomendasikan vitamin untuk Nyonya Diana. Tuan bisa menghubungi seorang psikiater untuk mengetahui kondisi Nyonya Diana lebih lanjut," jelas Dokter itu. Ia menatap yakin pada Sergan yang terlihat lemas mendengar berita itu.
"Apakah terjadi sesuatu pada kepalanya? Ia tidak mengingat putrinya saat pertama kali bertemu," tanya Sergan dengan pelan. Matanya menatap lekat pada Diana.
Wajah wanita itu sangat pucat dan kurus. Sergan baru menyadarinya saat mengangkat tubuh wanita itu yang sangat ringan.
"Tidak terjadi apa-apa pada kepalanya. Hilang ingatan mungkin saja terjadi. Bukan hanya karena bentukan pada kelapa, tapi hilang ingatan bisa juga terjadi karena pencetus lain, seperti cidera kepala, penuaan, kurang fokus, kurang tidur, kekurangan nutrisi tertentu, gangguan kecemasan, penyakit Alzheimer, gangguan hormon, stroke, tumor otak, dan sebagainya. Untuk kejelasannya, itu sudah bukan bidang saya lagi."
Sergan terduduk lemas di sisi ranjang. Ia memijit kepalanya yang berdenyut nyeri.
Eliza yang dari tadi memperhatikan dari pintu kamar bergerak masuk.
"Terima kasih, dok. Tolong tuliskan alamat ataupun nomor yang bisa kami hubungi untuk mengetahui kondisi Diana selanjutnya," ucap Eliza seraya menyerahkan buku catatan kecil pada dokter itu.
Tanpa membuang waktu, dokter itu mengambil buku itu dan mencatat nomor seorang psikiater kenalannya.
Setelah menyerahkan buku itu pada Eliza, dokter itu pun pamit pergi.
Eliza melihat kondisi Sergan yang berantakan. Jejak lumpur masih ada di kemeja milikinya.
Eliza lalu menepuk pundak Sergan. "Bersihkan dirimu. Wanita itu dan Loli akan merasa tidak nyaman mencium aroma tubuhmu," ucap Eliza.
Sergan menghela nafas segar sebelum bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Eliza lalu melihat Loli yang menangis sambil memeluk tubuh Ibunya.
Bibirnya sekali-kali membisikkan kata maaf pada Ibunya.
"Loli," panggil Eliza.
Loli melihat Eliza. Tapi ia tidak mengatakan apapun karena masih sesegukan menangis.
"Kemari, ikut Bibi," ajak Eliza.
Loli menggeleng. "Ibu," ucapnya membuat Eliza mengerti.
Loli sangat merindukan Ibunya. Ia juga pasti sangat berat berpisah dengan Ibunya. Entah bagaimana ia selama ini menahan perasaannya untuk tidak bertemu Ibunya.
"Ayo ikut, Bibi. Kita siapkan sesuatu untuk Ibumu. Ibumu pasti sangat lapar," ajak Eliza.
Sebenarnya, bisa saja ia meminta pelayan menyiapkan makana untuk Diana, tapi dia ingin Loli membuat ruang untuk dirinya sendiri untuk menenangkan diri.
Loli menatap Ibunya. Ia lalu mengecup wajah Ibunya. Loli menyambut uluran tangan Eliza.
"Bibi, apa Ibu baik-baik saja?" tanya Loli. Tangisnya sudah berhenti, hanya tersisa sesegukan.
"Ibumu sudah bertemu dengan putri cantiknya, tentu saja ia akan baik-baik saja," jawab Eliza menenangkan Loli.
"Lalu, kenapa Ibu tidak menyambut Loli?" tanya Loli membuat dada Eliza sesak.
Eliza berhenti melangkah diikuti Loli. Ia lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Loli. Tangannya mengusap wajah Loli yang mencetak wajah Sergan dan wanita itu. Perpaduan yang sangat indah. Loli terlihat benar-benar sangat cantik, bahkan saat ia selesai menangis.
__ADS_1
"Ibu mu mangalami kejadian yang sangat hebat pada dirinya. Terkadang, ada kondisi dimana manusia menghadapi cobaan yang mereka pikir itu sudah diluar kemampuan mereka."
"Loli tidak mengerti."
"Ibumu kehilangan putrinya. Tentu saja itu membuatnya panik sekaligus khawatir. Ia terlalu mencintai dirimu hingga melupakan dirinya sendiri. Ia mencari mu dengan berbagai caranya. Ibumu tidak berhasil, ia lalu sakit dan menjadi seperti sekarang," ucap Eliza jujur. Ia tidak ingin berbohong pada Loli. Bagaimanapun kondisinya, berbohong hanya akan semakin menyakiti Loli karena harapan palsu yang ia ceritakan.
"Apakah itu artinya Ibu seperti ini karena Loli?" tanya Loli dengan suara bergetar.
Eliza tersenyum. Ia menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk mata Loli.
"Tidak. Tidak ada yang salah disini. Semuanya sudah Tuhan rencanakan. Apa yang terjadi hari ini, apa yang terjadi esok hari, dan apa yang terjadi kemarin. Semuanya sudah menjadi rencana Tuhan. Jika Loli menyalahkan diri Loli, itu sama saja Loli menyalahkan Tuhan. Ingat sayang, Tuhan menguji umatnya karena ia menyayangi umatnya."
Loli menangis. Ia tidak terlalu mengerti apa yang Eliza katakan. Meskipun Eliza mengatakan itu bukan kesalahannya tetap saja ia merasa bersalah.
"Lalu ... kenapa Ibu berteriak saat tiba di rumah ini, Bibi?" tanya Loli.
"Ibumu berteriak?" tanya Eliza tidak mengerti.
Saat Sergan tiba di rumah tadi ia memang masih dalam perjalanan. Ia belum mendengar jika Diana berteriak saat tiba dirumah ini.
"Ibu melepaskan pelukan Loli. Ia mencoba keluar dari mobil saat kami tiba di gerbang. Loli tidak mengerti, tapi Ibu berteriak ingin pergi dari rumah ini," jelasnya pada Eliza.
Eliza mengerutkan keningnya. Ia merasa ada sesuatu yang janggal di sini.
Jika Diana takut masuk ke rumah ini, itu artinya ia pernah datang ke rumah ini.
"Apa Ibumu mengatakan sesuatu yang lain?" tanya Eliza memastikan.
__ADS_1
"Ini tidak mengatakan apa pun. Ayah mencoba menenangkan Ibu. Ayah menahan Ibu di mobil lalu meminta Loli mengatakan pada Kakak pelayan untuk menghubungi dokter. Dokter datang, lalu menyuntik Ibu, setelah itu Ibu pingsan."
Diana di bius. Eliza baru mengetahui itu. Ia pikir wanita itu tertidur.