Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Titik terang


__ADS_3

"Apa Ayah sudah mendapatkan berita tentang Ibu?" tanya Loli


Saat ini sedang hari libur, Ayah dan Loli sedang bersantai di ruang keluarga.


Sergan dengan tab nya, Koi dengan bulu gambarnya.


"Belum," jawab Sergan tanpa melihat kearah Loli.


Loli menghela nafas kecewa. "Loli sangat merindukan Ibu," gumamnya.


Sergan menyerngit, ia mengingat sesuatu. "Saat kau menemukanku dikafe saat itu, kau dari mana?" tanya Sergan. Ia lupa menanyakan hal ini pada Loli.


Loli berpikir mencoba mengingat saat itu. "Loli melihat balon terbang, lalu Loli mengikutinya. Tidak lama setelah itu balonnya pecah, Loli sangat kecewa. Saat Loli berbalik, Loli tidak mengingat jalan pulang. Loli berjalan sangat jauh hingga menemukan Ayah," ucapnya.


"Pantas saja kau sangat kelaparan saat itu," ejek Sergan.


Loli menggembungkan pipinya yang sudah sedikit berisi.


"Itu artinya tempat kerja Ibumu tidak jauh dari sana. Tapi, kenapa tidak ada laporan orang hilang?" gumam Sergan. Ia mencoba berpikir.


Sergan lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja, menghubungi Andi.


"Selamat siang, Tuan," sapa Andi terlebih dahulu.


"Kau masih tidur?" tanya Sergan saat mendengar suara Andi masih serak.


"Saya baru saja bangun, Tuan," jawab Andi sedikit menyindir.


"Hentikan pembicaraan tidak penting ini. Kafe tempat kita menemukan Loli, cari tentang wanita yang membawa anak setiap bekerja," tutur Sergan.


"Saya sudah melakukannya, Tuan," ucap Andi. Ia benar-benar sudah melakukan tugasnya yang baru diperintahkan itu.


"Kenapa tidak memberitahuku sejak awal?" tanya Sergan kesal. Ini sudah lebih dari sebulan, dan Andi menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri.


"Ada banyak pekerja wanita disana. Ada banyak kafe juga, saat ini, saya sudah menemukan beberapa kandidat tetapi tidak ada yang kehilangan anaknya," jawab Andi.


Kafe itu terletak ditengah ibu kota. Banyak kafe atau usaha lain yang harus ia selidiki.


"Serahkan semua laporan kamu kepada saya," perintah Sergan.


"Semua laporan ada di kantor, Tuan."


"Bawa ke sini. Kamu tidak sedang memerintah saya untuk ambil sendiri, kan?"


"Saya tidak berani, tuan."


Sergan lalu mematikan sambungan telepon.


Tidak lama kemudian, Andi datang dengan baju santainya membawa tumpukan dokumen ditangannya.


"Ini, Tuan."


Sergan menutup hidungnya, matanya mendelik menatap Andi.

__ADS_1


"Berapa botol parfum yang kau gunakan?"


"Maksud anda, Tuan?" tanya Andi tidak mengerti.


"Mengapa aroma tubuhmu sangat menyengat. Lihat Loli, ia bahkan hampir muntah mencium aroma tubuhmu," ucap Sergan kesal.


Tatapan Andi jatuh pada Loli yang masih fokus dengan buku gambar didepannya.


Merasa diperhatikan, ia mengangkat tatapannya melihat Andi.


"Selamat siang, Paman Andi," sapa Loli dengan senyum polosnya.


Andi tersenyum. Ia lalu berdehem.


"Saya tidak sempat mandi, Tuan. Mungkin saya terlalu berlebihan menyemprotkan parfum," elaknya.


Sergan hanya berdehem. Ia melihat dokumen yang Andi serahkan padannya.


Ada beberapa wanita yang semuanya tidak Sergan kenali. Dia saja tidak kenal, bagaimana mungkin salah satu wanita itu Ibu dari putrinya.


Tapi, untuk lebih memastikan Sergan meminta Loli melihat beberapa foto wanita itu.


"Loli, lihat ini. Apakah ada salah satu wanita yang kamu kenal?" tanya Sergan seraya menyerahkan semua lembar foto wanita.


Loli melihatnya satu persatu. Ia mengembalikan foto itu pada Sergan seraya menggeleng.


"Loli tidak mengenalnya."


"Saat Ibumu bekerja, pernahkah kamu keluar untuk bermain?" tanya Sergan.


"Apa yang kamu lakukan di dapur?"


"Belajar. Loli belajar mengenal beberapa bahan dapur beserta manfaatnya."


"Kau mengerti hal seperti itu?"


"Tidak, tapi Loli bisa membedakan apa yang baik dimakan dan tidak."


Sergan mengangguk. Pantas saja selama ini putrinya selalu memilih makanan bergizi.


Ada banyak sayur dipiring Loli daripada Sergan.


Loli juga kerap kali meminta pelayan membuatkannya susu saat sarapan.


"Apa kau tidak bosan?"


"Jika Loli bosan, Loli akan tidur."


"Dasar tukang tidur," cibir Sergan pelan.


"Tuan, saya akan melakukan pencarian lebih luas. Tempat Ibu nona mungkin lebih jauh dari kafe itu," ucap Andi. Meskipun Loli sangat imut dengan segala tingkahnya, tetap saja, diabaikan itu sangat tidak menyenangkan.


"Temukan wanita itu dengan cepat. Pastikan kehidupannya selama 5-6 tahun yang lalu," sahut Sergan. "Dan pergilah mandi. Kau benar-benar merusak aroma segar hari ini," lanjut Sergan membuat nyali Andi menciut.

__ADS_1


Andi lalu pamit undur diri. Ia ingin melanjutkan tidurnya. Hanya saat hari libur lah ia bisa menikmati tidur nyenyak.


"Ayah, apa Paman Andi akan menemukan Ibu?" tanya Loli.


Sergan akan menjawab, tetapi terhenti karena kedatangan Eliza.


"Kau belum menemukan wanita itu, Sergan?" tanya Eliza tidak percaya.


Ini sudah sebulan lebih, apa performa kerja keponakannya menurun?


"Belum, Bibi."


"Kenapa kamu menjadi sangat lambat sekarang?"


"Bibi, Ayah masih cepat. Loli bahkan masih kesusahan mengejar Ayah saat ia berjalan," sela Loli.


"Loli, bukan itu yang Bibi maksud. Bagaimana dengan gambarmu?" tanya Eliza mengalihkan pembicaraan.


"Bagus! Gambar Loli masih sangat bagus. Miss Ana bilang, Loli akan menjadi pelukis hebat saat besar nanti," ucapnya membanggakan diri.


Eliza terdiam. "Pelukis? Kamu ingin menjadi pelukis?" tanya Eliza tidak senang.


Loli mengangguk antusias. "Loli sangat ingin menjadi pelukis. Saat Ibu datang, Loli akan melukis kita semua," jawanya bahagia.


"Tidak boleh! Kamu tidak boleh menjadi pelukis. Bibi mengizinkanmu menggambar bukan berarti kamu bisa menjadi pelukis. Perdalam pelajaran sosial mu. Kamu harus menjadi pengusaha hebat seperti Ayahmu," bantah Eliza.


Loli terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa lagi.


Sergan mengepalkan tangannya. Ia lalu menghempas tab yang ada di tangannya keatas meja.


Tanpa mengatakan apapun ia bangkit membawa Loli pergi dari ruang bersantai.


Saat akan keluar langkah Sergan terhenti. "Jangan ikut campur dengan masa depan putriku," tuturnya tajam.


Sergan membawa Loli keluar rumah. Masuk kedalam mobil dan membawanya keluar dari perkarangan rumah.


"Ayah kemana kita akan pergi?" tanya Loli pelan. Ia mengetagui Ayahnya sedang marah. Terlihat dari tangannya yang terkepal.


"Kau ingat kafe saat pertama kali kita bertemu? Kau suka makanan disana bukan? Kita akan kesana," ucap Sergan seraya mengelus rambut Loli.


Loli tersenyum, rambut terkucirnya bergoyang dengan lembut.


"Loli mau es krim stroberi dengan lelehan coklat panas," ucapnya antusias.


"Tidak ada es krim," sahut Sergan membuat Loli cemberut.


"Ayah, Loli mau es krim," rengeknya.


"Tadi pagi selesai sarapan saat sedang mandi kau sudah makan es krim," ucap Sergan membuat Loli terdiam.


Loli ketahuan. Tapi, ia sudah memastikan Ayahnya masuk ke kamar mandi saat ia mencuri es krim di dalam kulkas.


"Ayah mengetahuinya?" tanya Loli pelan.

__ADS_1


Sergan tidak menjawab. Ia membuka ponselnya memperlihatkan video saat Loli mengambil es krim dan memakannya secara diam-diam.


"Ada Cctv diatas kulkas."


__ADS_2