
"Ayah!" teriak Loli begitu memasuki rumah.
"Selamat datang kembali, Nona muda," sapa kepala pelayan.
"Kakak pelayan, dimana ayah?" tanya Loli saat tidak menemukan Ayahnya.
"Tuan belum pulang, Nona. Sebaiknya Nona bersih-bersih sekarang," jawab kepala pelayan.
Loli menghela nafas kecewa. Ia lalu mengendus tubuhnya.
"Tapi Loli tidak bau," ucapnya.
Kepala pelayan tersenyum. "Ada kuman yang sangat kecil. Mata kita bahkan tidak bisa melihatnya. Itu kenapa orang lain sering mandi setelah ia selesai beraktivitas. Kuman itu juga bisa menyebabkan penyakit" jelas kepala pelayan.
"Apakah kuman sangat mengerikan?" tanya Loli.
"Benar. Kuman sangat mengerikan. Seseorang bisa saja dirawat dirumah sakit karena mereka terkena penyakit yang kuman itu bawa," jawab kepala pelayan.
"Itu pasti sangat mengerikan. Kakak pelayan, Loli akan mandi, mandi dengan bersih hingga kuman itu menghilang dari tubuh Loli. Oh, iya, tolong katakan pada Loli jika Ayah sudah datang," ucapnya lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Kepala pelayan itu menatap tubuh Loli yang semakin mengecil hingga hilang dari pandangannya.
Ia tidak perlu khawatir karena Loli sudah bisa mandi sendiri. Ia hanya akan meminta seorang pelayan menyiapkan pakaian untuk Loli.
Hingga sekarang ia meraih kebingungan baju apa yang harus ia gunakan.
****
Loli sudah selesai mandi. Ia berjalan menuruni tangga dengan gaun kuning yang sangat indah.
Rambutnya dikepang tinggi hingga membuat itu bergoyang saat kaki kecilnya melangkah.
Loli berjalan menuju dapur. Mencari pelayan yang bisa ia tanyai tentang Ayahnya.
"Kakak pelayan!" panggil Loli.
"Ada apa, Nona?"
"Dimana Ayah?"
"Tuan belum pulang, Nona."
"Lalu kapan Ayah pulang? Loli sudah menunggu Ayah dari tadi."
Pelayan itu hanya menipiskan bibirnya. Jujur saja, Nona mudanya itu terlihat sangat imut saat iya cemberut seperti itu.
"Sebaiknya ada mencari kepala koki. Saat anda sekolah tadi, ia membuat beberapa cookies yang sangat enak."
Mata Loli berbinar senang. "Benarkah?"
Pelayan itu mengangguk.
"Loli akan datang. Terima kasih kakak pelayan."
Loli berlari mencari kepala koki. Ia melihat kepala koki sedang menyiapkan makanan.
"Kakak koki!" panggilnya.
"Nona muda," jawab kepala koki sambil tersenyum.
"Kakak pelayan bilang Kakak koki membuat cookies, bolehkan Loli memintanya?" tanya Loli degan malu-malu.
__ADS_1
"Tentu saja, saya membuatnya untuk Nona," ucap kepala koki seraya memberikan toples berisi tumpukan cookies.
Mata Loli berbinar menatap cookies itu.
Berwarna coklat dengan berbagai macam bentuk. Tabukan hiasan warna-warni diatasnya membuat Loli tidak sanggup memakannya.
"Ini sangat cantik. Kakak koki yang paling hebat," pujinya sambil memeluk toples itu.
Kepala koki hanya tersenyum.
"Oh, bolehkan Loli membawanya ke sekolah. Loli akan tunjukkan pada teman-teman Loli," ucapnya meminta izin.
"Tentu saja, saya sudah menyiapkan untuk itu. Jadi anda bisa menghabiskan yang itu."
"Hebat! Terima kasih Kakak koki."
Loli lalu pergi menuju ruang santai. Ada televisi disana. Ia akan meminta Kakak pelayan memutarkan kartun.
Loli duduk di sofa sambil memangku cookies. Matanya dengan fokus menatap layar televisi.
"Kau akan semakin gendut jika banyak makan," ucap Sergan seraya merebut cookies milik Loli.
"Ayah!" teriak Loli. Ada perasaan senang saat ayahnya sudah pulang, tapi ia juga kesal.karena Ayahnya merebut contoh miliknya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Sergan sinis.
Loli cemberut, dengan ketus ia berkata, "Loli melihat televisi."
Sergan tersenyum dengan sikap putrinya. Ia lalu memberikan cookies Loli kembali.
Loli tersenyum. Dengan cepat ia mengambil cookies itu dan memeluknya dengan erat.
"Bagaimana sekolahmu, menyenangkan?" tanya Sergan. Ia kembali teringat dengan foto yang dikirim guru Loli. Sangat imut.
"Kau duduk dengan laki-laki?" tanya Sergan bingung. Ia tidak mengerti apa yang putrinya baru saja katakan.
"Tidak, Ayah. Saat Miss Ana meminta Loli duduk dengan laki-laki, Loli menangis. Lalu, Loli duduk dengan banyak anak perempuan," jawabnya.
"Lalu? Berapa teman yang kamu miliki?" tanya Sergan.
"Empat. Ada empat anak perempuan, mereka sangat baik."
"Kau menyukai mereka?"
"Ya, sangat!"
"Itu bagus."
"Tapi, Ayah. Bagaimana caranya Loli bisa mendapatkan Adik?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Sergan tentu saja terkejut. Ia tidak mungkin memberitahu Loli bagaimana cara mendapatkan Adik.
"Teman Loli memiliki Adik. Saat pulang tadi, ia mengatakan Adiknya sangat cantik. Ia juga bilang, Loli sangat mirip dengan Adiknya, imut."
"Siapa yang mengatakan itu?"
"Zian yang bilang."
"Laki-laki?"
__ADS_1
"He'em."
"Kau berbicara dengan laki-laki?"
"Tidak, hanya Zian yang berbicara. Loli hanya diam."
"Bagus, lakukan terus seperti itu."
Sergan lalu meringis kesakitan saat Eliza datang dan langsung menarik telinganya.
"Bibi!" protesnya.
"Jangan berikan putrinya ajaran yang tidak baik," ucap Eliza. Tangannya belum melepas telinga Sergan.
"Kenapa Bibi menyakiti Ayah?" tanya Loli bingung. Wajah Ayahnya sudah sangat memerah.
"Ayahmu nakal. Jadi Bibi menghukumnya," ucap Eliza tersenyum. Tangan satunya ia gunakan untuk mengelus rambut Loli.
"Bibi lepaskan!" protes Sergan lebih keras. Telinganya sudah terasa sangat kebas.
Eliza lalu melepaskannya. Ia lalu berjalan berjalan kesisi Loli.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Sangat indah, Bibi. Ada banyak permainan disana. Tapi Loli tidak bisa membawanya pulang. Padahal Loli membuat banyak bentuk dengan sangat bagus," ucapnya dengan berbagai emosi diwajahnya.
"Kau ingin permainan?"
Loli mengangguk.
"Ayo kita beli," ajak Eliza.
Koki tersenyum. Ia lalu mengangguk dengan antusias.
"Tidak perlu! Ayah sudah membelikannya. Ambilah dikamar mu," ucap Sergan.
Entah dari mana kompres itu datang, yang Eliza lihat itu sudah ada ditelinga Sergan.
"Benarkah? Aku akan melihatnya," ucap Loli semangat. Ia lalu berlari menuju kamarnya.
Mata Loli berbinar senang melihat tumpukan mainan di sofa.
Loli berlari menghampiri mainannya. Dengan cepat tangannya membuka plastik yang membungkus mainannya.
Ada banyak Lego, boneka, dan rumah yang bisa dibongkar pasang kembali.
Tangan Loli dengan lihai menyusun rumah bongkar pasang.
Setiap sisi berwarna pink dengan atap berwarna biru langit.
Setelah selesai menjadi rumah, Loli lalu mengolah Lego menjadi berbagai bentuk.
Belajar dari cara Arga sebelumnya membuat robot, Loli mencoba membuatnya membahu bentuk Hello Kitty, meskipun tidak mirip sama sekali.
"Kau menyukainya?" tanya Sergan. Ia sudah selesai mandi. Dengan kaos polos dan celana bahan, ia menghampiri Loli.
"Loli sangat menyukainya Ayah," jawab Loli antusias. Matanya berbinar menatap Sergan.
"Katakan pada Ayah jika kamu menginginkan sesuatu," ucap Sergan. Tangannya mengusap lembut rambut lembut Loli.
Kepala Loli menggeleng. "Tidak mau! Loli mau pergi dengan Ayah dan membeli banyak mainan," tolaknya.
__ADS_1
Sergan tersenyum. "Apapun untuk putri Ayah."