
"Stop panggil aku Ibu!" Diana berteriak sambil meremas rambutnya.
Loli yang mendengar teriakan ibunya hanya bisa tertunduk sambil menangis.
Awalnya ia datang karena ingin mengajak ibunya bermain bersama. Setelah ia lihat beberapa hari, ibunya suka bermain.
"Maafkan Loli," ucap Loli sendu. Ia mencoba menahan tangisnya, namun tetap saja, air matanya tetap menetes dengan deras.
Eliza langsung berlari setelah mendengar teriakan Diana. Ia takut terjadi sesuatu pada Loli. Loli meminta izin bertemu ibunya, ia tidak bisa menemani karena harus ke toilet.
"Ada apa ini?" tanya Eliza terkejut melihat kondisi di kamar itu.
Diana yang melihat kedatangan Eliza langsung berlari menuju wanita itu dan menyembunyikan tubuhnya kebelakang Eliza.
"Anak itu terus saja memanggilku ibu. Aku bukan Ibunya, aku belum memiliki anak," adu Diana pada Eliza sambil menunjuk ke arah Loli.
Eliza yang melihat Loli menangis langsung berlari menuju tubuh Loli. Di peluknya tubuh Loli dengan sayang.
Loli tidak sanggup menahan tangisnya lagi, ia menangis tersedu-sedu di pelukan Eliza. Tangannya meremas baju Eliza dengan kuat.
Eliza membawa Loli yang masih menangis sesenggukan keluar dari kamar Diana. Mengabaikan Diana yang menatap Loli dengan tatapan marahnya.
Eliza membawa Loli ke ruang santai. Memberikan Loli air putih untuk menenangkannya.
Eliza juga membersihkan wajah Loli yang penuh air mata dengan tisu.
Sergan langsung berlari saat melihat putrinya menangis.
"Apa ini, Bibi?" tanya Sergan pada Eliza.
"Kita bicarakan itu nanti. Sekarang, tenangkan putri mu," ucap Eliza lalu meninggalkan Sergan bersama Loli.
Sergan membawa tubuh Loli ke pelukannya. Mengusap punggung putrinya agar bisa tenang.
Setalah cukup lama, Sergan merasakan deru nafas yang teratur dari putrinya. Ia menatap putrinya yang sudah tertidur lelap.
Mata Loli membengkak karena terlalu lama menangis, hidungnya juga tampak memerah hingga mengenai pipinya.
Sergan lalu membawa tubuh Loli ke kamarnya dengan hati-hati. Dikecupnya kepala Loli sebelum meninggalkannya.
**
Setelah meninggalkan Loli bersama Sergan, Eliza masuk ke dalam kamar Diana.
Eliza menatap Diana yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Diana," panggil Eliza seraya mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh Diana.
Diana mengelak sambil merapatkan selimut yang ia gunakan.
"Pergi!" usir Diana. Suaranya bergetar hingga isak tangisnya terdengar.
Eliza menghela nafas. Ia harus memisahkan Loli dengan Diana jika tidak ada Sergan. Ia tidak akan sanggup menghadapi 2 wanita dengan persamaan sikap.
"Aku akan keluar untuk membeli makanan, mau ikut?" ajak Eliza mencoba membujuk Diana.
Diana membuka sedikit selimut yang ia gunakan, memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan air mata.
"Sulit bernafas?" tanya Eliza yang melihat Diana mencoba bernafas dari mulutnya.
Diana mengangguk dengan pasrah. Ia kesulitan bernafas karena hidungnya terasa penuh.
"Ayo bangun dan bersihkan hidungmu. Cuci wajahmu lalu kita pergi berbelanja," bujuk Eliza yang langsung diikuti oleh Diana.
Selagi Diana membersihkan wajahnya di toilet, Eliza membuka lemari untuk mencari pakaian yang cocok dengan Diana. Untung saja Sergan sudah melengkapi pakaian untuk Diana. Namun sayang, Diana masih kesulitan menggunakan pakaian dalam untuk dadanya hingga selalu dibantu oleh Eliza.
"Bibi," panggil Diana pelan. Suaranya terdengar serak karena menangis.
"Kemari," panggil Diana. "Ganti baju mu dengan ini," ucapnya seraya menyerahkan baju yang ia pilih ke Diana.
Diana mengambil baju yang diberikan oleh Eliza lalu memakainya di hadapan Eliza. Eliza hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Diana.
Diana mengambil bedak yang ada di atas meja rias lalu memberikannya pada Eliza agar Eliza memakaikannya untuknya.
Eliza lalu membawa Diana ke meja rias, ia mulai menggunakan beberapa produk perawatan wajah untuk Diana.
Setelah selesai, wajah Diana tampak lebih fresh dari pada sebelumnya.
Eliza membawa Diana keluar dari rumah menggunakan pintu belakang agar menghindari pertemuan Diana dan Loli.
Eliza masih takut jika emosi Diana masih belum terkendali dan malah menyakitkan Loli.
Eliza membawa Diana ke pusat perbelanjaan.
Diana mengapit tangan Eliza karena takut akan keramaian. Kepalanya tertunduk karena takut melihat pandangan orang lain padanya.
Eliza mengusap tangan Diana untuk menenangkannya.
Eliza membawa Diana ke toko mainan terlebih dahulu.
Diana tampak senang melihat banyak mainan yang di pajang di dalam toko itu. Ia meminta izin pada Eliza untuk memilih mainan yang ia inginkan.
__ADS_1
Eliza mengawasi Diana setelah meminta seorang pelayan untuk mengurus semua pesanan Diana.
Setelah cukup lama memilih mainan Diana tampak lelah namun juga senang setelah memilih cukup banyak mainan.
"Kita harus bermain bersama!" ucapnya pada Eliza.
"Bermainlah bersama Loli," bujuk Eliza. Wajah Diana langsung muram saat mendengar nama Loli.
"Aku tidak suka dia," ucap Diana ketus. Ia melipat tangannya di depan dada tanda ia sedang kesal.
"Loli baik. Jika kamu berteman dengannya kamu akan menemukan kebaikannya," ucap Eliza sambil membawa tubuh Diana keluar dari toko mainan.
Diana tidak mengucapkan sepatah katapun, namun ia menurunkan tangannya dan menggandeng tangan Eliza erat.
Eliza lalu membawa Diana ke kafe yang menyediakan berbagai macam desert yang langsung membuat mood Diana membaik.
Diana memesan Fruit Cake, Macaroons Haute Couture, dan Platinum Cake.
Eliza sempat takut Diana tidak mampu menghabiskannya, namun ia salah.
Eliza lalu membawa Diana berkeliling mulai dari bermain game, berbelanja pakaian maupun perhiasan hingga makan malam bersama.
Setelah merasa lelah, Eliza dan Diana pulang ke rumah.
Di ruang tamu sudah ada Sergan yang sedang membantu Loli mengerjakan tugasnya.
Melihat kedatangan Ibunya Loli langsung mengerjakan tugasnya dengan serius. Ia sudah lelah dengan tugasnya hingga selalu mengganggu Sergan.
Diana tidak peduli dengan keberadaan Loli dan Sergan. Tubuhnya sudah sangat lelah karena terlalu lama bermain.
Setelah cukup lama, Loli selesai mengerjakan tugasnya. Ia lalu pamit pada Sergan untuk tidur.
Segan lalu menemui Eliza yang belum tidur di kamarnya.
"Bibi apa yang terjadi siang tadi? Mengapa Loli menangis? Ia bahkan tidak berani menceritakannya padaku," tanya Sergan tidak sabar.
"Tadi setelah pulang sekolah Loli sangat ingin menemui Diana karena ingin menunjukkan hasil tugasnya pada Diana. Aku melarangnya dan memintanya untuk mengajak Diana bermain saja. Saat akan menemani Loli ke kamar Diana, aku pergi sebentar ke toilet. Aku pikir Loli akan menungguku kembali, namun ternyata ia langsung pergi ke kamar Diana. Entah apa yang Loli katakan tapi Diana langsung marah dan menyakiti dirinya sendiri. Ia meminta Loli untuk tidak memanggilnya Ibu. Hanya itu yang aku tau," jelas Eliza sambil memijat kepalanya.
Sergan terdiam tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Sergan, apa setidaknya kita bawa—"
"Tidak, Bibi!" tekan Sergan memotong ucapan Eliza.
"Aku akan selalu membawanya terapi. Ia akan sembuh meskipun ada di rumah ini."
__ADS_1
Sergan pergi meninggalkan Eliza yang sudah pasrah dengan keinginan Sergan.