
"Loli apa kau bisa membantuku menjawab pertanyaan ini?" tanya Biana. Ia mengetahui caranya, hanya saja, ia ingin mengetahui kapasitas otak temannya itu
Loli melihat soal yang ada dibuku milik Biana. Ia mengerutkan keningnya mencoba berpikir.
"Loli tau!" pekiknya senang.
Itu merupakan soal tambahan yang Ayahnya ajarkan. Ayahnya juga membelikan alat agar memudahkannya menghitung.
"Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Biana sombong. Wajahnya sedikit muram karena Loli mengetahuinya.
"Sebentar," ucapnya seraya membuka tasnya. "Ini, menggunakan ini," lanjutnya memperlihatkan alat hitungan yang Ayahnya belikan.
Beberapa teman lain mendekati Loli dan Biana. Lebih tepatnya loli, mereka tertarik dengan alat yang Loli miliki.
"Loli apa itu?" tanya Selina penasaran. Tangannya menyentuk alat milik Loli.
"Ini alat untuk menghitung pertanyaan dibuku Biana. Ayah pernah mengajarinya pada Loli," ucapnya bangga.
"Benarkah? Hebat! Ayahku bahkan tidak memiliki waktu untuk sarapan denganku," ucap Gio sambil menatap sendu alat milik Loli.
"Tidak apa. Loli akan meminta Ayah mengajari Gio agar Gio bisa bersama Ayah. Tenang saja, Ayah Loli sangat baik," sahutnya ceria. Ia akan meminta pada Ayahnya untuk mengajari temannya.
"Itu bagus," ucap Gio cerita.
Saat yang lain ingin meminta belajar bersama, Biana memukul meja.
"Diamlah! Aku meminta Loli mengajariku menjawab soal ini. Kalian sangat mengganggu," ucapnya kesal. Wajahnya memerah karena semua perhatian berpindah pada bocah pendek disisinya itu.
Yang lain menatap tajam ke arah Biana sedangkan Loli menepuk dahinya.
"Maaf, Biana, Loli lupa," ucapnya
Ia lalu meletakkan alat itu ditengah antara dirinya dan Biana.
"Lihat ini, ada 10 kelereng dari setiap garis. Semuanya ada 10 garis. Pertanyaannya 20+30\=, jadi, cara mengerjakannya Loli menggeser 2 garis lalu ditambah 1 garis. Kata Ayah 0+0 hasilnya tetap 0. Maka, kita hanya perlu membuahkan angka didepannya saja. 2+1\=3 lalu 0 yang tadi kita letakkan dibelakang 3, itu artinya hasilnya 30," jelasnya sambil menjelaskan alat di depannya itu.
Anak yang lain terkejut dengan jawaban Loli. Itu bahkan cara yang lebih mudah mereka pelajari dari pada belajar bersama guru les mereka.
"Loli, kamu sangat hebat!"
"Benar, aku akan meminta Ayahku agar aku bisa belajar bersamamu.
"Kamu sangat hebat."
"Ini bahkan lebih baik dari yang guru les ku ajarkan."
__ADS_1
Ucapan kagum dari beberapa siswa semakin membuat Biana marah.
Apalagi jawab yang Loli berikan sangat bagus. Ia mengerjakan soal dengan lebih mudah dari yang lain.
"Hanya itu?" tanya Carole.
"Apa maksudmu?" tanya Selina bingung.
Carole lalu mengeluarkan sebuah alat dari tasnya.
"Pink!" Pekikan Loli mendapat lirikan tajam dari Carole.
"Ini bukan pink, tapi rosegold," bentaknya tajam.
"Tali itu terlihat seperti pink," bantah Loli.
"Apa kamu sebodoh itu. Ini rosegold, tanya saja pada Ayahmu yang selalu kau banggakan itu," tutur Carole tajam.
"Apa kau harus semarah itu hanya karena urusan warna? Dia masih kecil, kau saja yang terlalu dewasa," ucap Arga menyela.
Loli terdiam, ia ingin membalas Carole tapi Arga mendahuluinya.
Carole tidak peduli dengan ucapan Arga. Ia meletakkan alat itu diatas meja.
"Itu lebih hebat!"
"Bagaimana kau menemukannya?"
"Itu bahkan tanpa angka 0."
"Keren."
Pujian demi pujian yang Carole dapatkan membuatnya menjadi bangga. Tidak lupa, ia melempar tatapan meremehkan pada Loli.
"Bagus Carole, kamu punya kalkulator yang bagus. Tapi, Miss tidak mengizinkan kamu menggunakannya," sela Miss Ana.
Sejak tadi ia memperhatikan muridnya yang seharusnya sedang bermain tetapi malah belajar.
"Itu tidak adil! Milikku lebih baik dari pada milik Loli. Aku bahkan menghitungnya lebih baik dari pada Loli," bentak Carole tidak senang.
"Itu benar. Miss diam saja saat Loli mengeluarkan alat anehnya, tapi Miss membantah saat Carole mengeluarkan alatnya," sahut Biana.
Ia tadi sempat tersenyum mengejek saat Loli dikalahkan oleh Carole, tapi ia menjadi tidak senang saat Miss Ana ikut campur.
Miss Ana tersenyum. Ia lalu menuliskan 25+55\= disebuah kertas.
__ADS_1
"Loli kerjakan ini menggunakan alat milikmu," pinta Miss Ana.
"Apa maksud Miss Ana? Aku lebih muda mengerjakannya dari pada Loli," bentak Carole semakin marah.
"Lihat cara Loli mengerjakannya," ucap Miss Ana pada Carole. "Loli, kerjakan sambil memberitahu temanmu bagaimana caranya."
Loli mengangguk. "Kata Ayah, kita harus menurunkan angka nya terlebih dahulu. Disejajarkan antara kedua angka. Lalu, tambahkan dari belakang. 5+5\= 10, 0 diletakkan dibawah dan 1 naik keatas. Lalu, tambahkan ketiga angka yang ada, 1+2+5\=7, turunkan angka 7 maka, kita menemukan hasilnya," ucap Loli.
"Terima kasih, Loli. Ayahmu sangat hebat," puji Miss Ana. Carole dan Biana semakin marah. Sebelum mereka kembali membuka suara Miss Ana mengangkat tangannya.
"Miss, akan jelaskan mengapa Miss melarang kalian menggunakan alat seperti milik Carole dan memberi izin alat milik Loli."
"Pertama, dimasa depan kalian akan menemukan banyak soal tambahan, kurangan, bagi, dan kali. Semakin tinggi kalsium sekolah maka semakin sulit pelajaran yang kalian terima."
"Miss ingin saat itu terjadi kapan bisa mengerjakan tugas kalian dengan mudah."
Miss Ana menghentikan ucapannya. Ia lalu meminta izin meminjam alat Loli dan Carole.
"Lihat kedua alat ini. Alatilik Carole mungkin lebih indah dan mudah, berbeda dengan milik Loli.
"Tapi, jika kali ingin lebih mengerti pelajaran untuk kelas yang lebih tinggi, alat seperti milik Lolilah yang lebih berguna."
"Begini, semakin sering kalian menghitung menggunakan alat ini, semakin mudah kalian menghapal tambahan ataupun kurangan dengan mudah. Seperti soal yang Loli kerjakan tadi, ia menambahkan satu persatu angka. Soal itu adalah soal yang dikerjakan anak berusia 6 atau 7 tahun."
"Jika kalian menggunakan alat milik Carole kalian mungkin akan selalu berhasil, tapi tidak dengan otak kalian. Kalian tidak akan mengerti dari mana hasilnya itu datang. Bagaiman caranya hingga menghasilkan angka seperti itu? Itu akan menyulitkan kalian di ujian, karena ujian melarang kalian menggunakan alat apapun."
"Sekarang kita kembali ke alat milik Loli, menambahkan satu persatu angka, itu bahkan bisa menggunakan semua jari tangan kalian."
"Sekarang Miss tanya, alat siapa yang lebih bermanfaat untuk kalian kedepannya?"
"Milik Loli!"
"Mengerti Carole? Biana?"
Wajah Carole dan Biana sudah memerah kesal. Dengan menghentakkan kakinya Carole berjalan menuju Miss Ana seraya merebut kalkulator miliknya.
"Terima kasih, Carole," ucap Miss Ana tidak terpengaruh sikap Carole.
"Ini milik Loli, terima kasih," ucap Miss Ana menyerahkan alat milik Loli.
"Sama-sama, Miss, Ayah juga mengatakan hal yang sama seperti Miss, ini lebih berguna untuk Loli," ucapnya ceria.
"Ayah Loli yang terbaik. Sering-seringlah berbagi dengan temanmu, okey?"
Loli mengangguk dengan antusias.
__ADS_1