
"Ayah, rumah siapa ini?" tanya Loli sambil menatap bangunan didepannya.
"Rumahku," jawab Sergan singkat. Ia merasa tangannya mulai kebas karena menggendong Loli, tapi tidak ada keinginan untuk menurunkannya. Susah jika Loli tersesat, pikirnya.
"Rumah Loli?" tanya Loli terkejut. Matanya melotot melihat wajah Sergan.
Wajah Sergan menjadi masam, tangannya ia gunakan untuk mencubit pipi Loli. "Ini rumahku, bukan milikmu," jawabnya.
"Tapi Ayah, Ayah adalah Ayah Loli, dan Loli adalah anak Ayah. Itu artinya apa yang milik Ayah juga milik Loli," jelasnya dengan raut wajah serius.
"Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?" tanya Sergan heran. Meskipun jarang berinteraksi dengan anak kecil, tapi ia yakin anak kecil tidak akan bersikap seperti Loli.
"Loli tidak ingat. Tapi Loli yakin dengan apa yang Loli katakan," ucapnya serius.
Sergan berdecak, tangannya bersiap akan memberi jitakan pada kening Loli tapi dihentikan karena Loli lebih dulu menutup keningnya.
"Ayah jangan pukul Loli!" pekiknya seraya menatap tajam Sergan.
"Siapa yang ingin memukulmu? Aku hanya ingin membersihkan rumput yang ada di rambutmu," ucap Sergan mencari alasan. Tangannya mengibas rambut Loli seolah memang ada kotoran disana.
Loli menatap curiga pada Ayahnya selama beberapa saat, setelah itu ia kembali melihat ke sekeliling rumah Sergan yang sudah ia anggap seperti rumahnya sendiri.
"Rumah ini sangat indah, Ayah. Tapi, lebih indah jika berwarna pink, Loli suka warna pink. Ayah, kenapa Ayah memberi warna rumah ini hitam?" tanya Loli tanpa menatap wajah Sergan.
"Bukan urusanmu," cibir Sergan.
Loli tidak peduli, ia tetap melihat pada sekeliling rumah itu. "Ayah, bagaimana jika besok kita mengubah warna rumah ini. Saat Loli dan Ibu pindah rumah, kamu mewarnai rumah bersama-sama. Itu sangat menyenangkan," ungkapnya.
"Apa kamu tidak sekolah besok?" tanya Sergan heran. Dilihat dari tubuh Loli ia jelas sudah berusia 4 tahun lebih.
"Loli tidak sekolah, Ayah. Ibu tidak punya uang. Ibu bilang, jika Ibu punya uang Ibu akan mengirim Loli kesekolah yang terbaik," jawabnya dengan tatapan menerawang.
"Ibumu semiskin itu? Apakah kamu makan dengan teratur selama ini?" tanya Sergan. Tatapannya sangat menyiratkan bahwa ia sangat terkejut.
Loli turun dari gendongan Sergan, ia lalu duduk di sofa yang ada di ruang santai. "Loli selalu makan masakan Ibu. Ibu sangat hebat masak Ayah. Lain kali, Loli akan meminta Ibu memasakkannnya untuk Ayah," jawabnya ceria.
__ADS_1
Sergan duduk di sisi Loli, ia lalu membaringkan kepala Loli kepangkuannya. "Apa yang sering kamu dan Ibumu lakukan?" tanya Sergan. Tangannya mengusap rambut Loli.
Tatapan Loli jatuh pada langit-langit rumah. Lampu-lampu yang biasa ia lihat di televisi bisa ia lihat dengan jelas di rumah Ayahnya.
"Loli tidur dengan Ibu, Loli mandi dengan Ibu, Loli makan dengan Ibu, tapi sepertinya Ibu tidak suka makan, Ibu selalu bilang ia sudah kenyang hanya dengan melihat Loli makan, Loli juga suka menemani Ibu bekerja. Teman-teman Ibu juga baik. Loli suka Paman Rama, ia ramah, Paman juga suka tersenyum pada Loli," jelasnya. Tatapannya berbinar saat ia menceritakan tentang Paman Rama yang ia maksud.
Ada perasaan tidak nyaman dalam diri Sergan saat ia mendengar Loli bercerita tentang sosok yang bernama Rama.
"Kamu tidak bermain dengan temanmu?"
"Loli tidak punya teman," jawabnya ketus.
"Kenapa?"
"Mereka tidak suka berteman dengan Loli. Mereka bilang Loli tidak punya Ayah, mereka juga bilang Ayah Loli sangat membenci Loli. Tapi Loli percaya Ayah sangat menyayangi Loli. Loli pernah bermimpi Ayah mengatakan itu," jawabnya. Matanya berkaca-kaca melihat sosok Sergan yang terdiam.
"Ya, Ayahmu menyayangimu," ungkap Sergan. Dia tidak berbohong, meskipun masih abu-abu ia mulai yakin Loli adalah putrinya, dan ia mulai menyayangi Loli, jika ia bukan Ayah Loli ia akan menentang semua orang yang mengatakan ia bukan Ayah Loli.
Loli terisak. Ia memeluk pinggang Sergan, kepalanya tenggelam di perut keras Sergan.
"Loli sangat menyayangi Ayah, Loli juga sangat menyayangi Ibu," ungkapnya di sela tangisnya.
Para pelayan yang terkejut dengan kedatangan tuan mereka semakin terkejut dengan kenyataan bahwa anak yang Sergan bawa adalah putrinya. Mereka juga terkejut karena Sergan bisa bersikap selembut itu.
"Ayah," panggil Loli.
Sergan berdehem menjawab panggilan Loli.
Loli menatap mata Sergan dengan tatapan memohon. "Loli lapar, beri Loli makan," ucapnya. Tatapannya jatuh pada perutnya yang berteriak kelaparan.
Sergan menatap pelayan yang berada tidak jauh darinya. "Siapkan makanan untuk putriku," ucapnya.
"Sekarang, kamu harus bersiap-siap. Mandi dan ganti pakaianmu," ucap Sergan pada Loli.
"Maaf, Tuan. Kita tidak punya pakaian anak kecil," ucapnya sopan. Kepalanya tertunduk takut pada sosok Sergan.
__ADS_1
"Apa aku semiskin itu? Belikan dia pakaian yang banyak," sahutnya ketus. Tatapannya menatap tajam pada pelayan yang sudah gemetar ketakutan.
"Maaf, Tuan."
Tanpa menghiraukan pelayan itu, Sergan membawa tubuh Loli menuju kamar tidurnya.
"Mandilah," ucapnya seraya menunjuk ke arah kamar mandi.
Loli mengangguk, ini bukan pertama kalinya ia mandi sendiri.
Setelah beberapa saat di kamar mandi Loli kembali keluar. Hanya dengan terbalut handuk yang terlalu besar di tubuhnya ia menatap takut pada Ayahnya.
"Ayah, Loli tidak bisa menemukan dimana gayungnya," cicitnya. Ia yakin sudah mencari ke segala tempat dan tidak ada gayung yang sepertinya gunakan di rumah Ibunya.
"Gayung? Apa itu?" tanya Sergan heran, ini pertama kalinya ia mendengar kata itu.
"Ayah! Gayung itu alat menampung air. Loli dan Ibu menggunakannya untuk mandi. Jika tidak menggunakan gayung, Loli biasnya mandi di sungai bersama Ibu," ucap Loli semangat. Ia sangat suka mandi di sungai. Meskipun dingin, tapi itu tidak meruntuhkan kesenangannya.
Sergan masih heran, ia lalu mencari ponselnya dan mencari tau tentang gayung yang Loli katakan.
Setelah menemukan beberapa foto yang menurutnya cocok ia menunjukkannya pada Loli.
"Ini?"
"Ya, Ayah. Tapi milik Loli berbentuk lingkaran berwarna pink," jawabnya semangat. Matanya menatap berbinar pada ponsel Ayahnya yang menampilkan banyak sekali gayung.
"Apa kamu dan Ibumu mandi menggunakan alat ini?" tanya Sergan. Keningnya terlipat karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa seseorang mandi menggunakan alat seperti itu.
"Ya, Ayah. Banyak orang mandi menggunakan ini. Mengapa Ayah tidak tau? Apa ayah tidak menggunakan ini saat mandi? Lalu apa yang Ayah gunakan?" tanya Loli berturut.
"Saya mandi menggunakan shower, dan saya tidak tau jika seseorang mandi menggunakan alat ini," ungkapnya jujur. Terbiasa hidup mewah membuatnya tidak mengetahui kebiasaan oramg lain. Sergan bahkan tidak mengetahui kehidupan sekretarisnya.
"Shower? Apa shower itu, Ayah?" tanya Loli heran.
"Kau tidak tahu shower?" tanya Sergan heran.
__ADS_1
Loli mengangguk yakin.