Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Taman bermain


__ADS_3

"Ayah, bagaimana dengan sekolah Loli?" tanya Loli.


Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari restoran. Loli sangat senang karena semua makanan yang ia pesan sangat enak. Bahkan, hati angsa menjadi makanan kesukaannya kedua setelah tiramisu.


"Kenapa dengan sekolahmu?" tanya Sergan balik.


"Bagaiman jika tidak ada yang ingin berteman dengan Loli?" tanya Loli menjelaskan. Perasannya kembali tidak enak saat memikirkan temannya.


Biana dan Carole berteman dengan semua siswa di kelas, apakah mereka tidak ingin berteman dengannya karena ia bertengkar dengan Biana dan Carole.


"Kau sangat cantik, siapa yang tidak ingin berteman denganmu?" ucap Sergan.


"Tapi, Biana dan Carole mengatakan Loli berbohong."


"Apa kau berbohong? Apa gambar itu aku yang membuatnya?" tanya Sergan berturut. Ia menjadi tidak puas dengan hukuman yang ia berikan kepada kedua anak tadi.


Kepala Loli menggeleng dengan cepat. "Tidak!" tolaknya. "Gambar itu dibuat oleh Loli."


"Maka, jangan pikirkan siapapun. Kau tidak berbohong. Jika mereka tidak ingin berteman denganmu karena mereka berpikir kau berbohong, jangan berteman dengan mereka," tegas Sergan.


"Lalu, Loli akan berteman dengan siapa?" tanya Loli.


"Siapapun yang ingin berteman denganmu. Aku tidak melarang mu berteman dengan siapapun selama ia memberi pengaruh yang baik padamu. Jangan menjadi arogan dengan hanya berteman dengan seseorang yang berada di atas," nasehat Sergan.


"Loli tidak mengerti," ucapnya seraya menggelengkan kepala.


"Intinya, bertemanlah dengan seseorang yang baik padamu, jangan memilih dalam pertemanan. Jika kau menemukan seseorang yang hanya memberikan pengaruh buruk padamu, cukup menjauh darinya. Jangan sampai aku mendengar kau menghina seseorang hanya karena status mereka berbeda denganmu."


Loli lalu mengangguk. "Loli mengerti, Ayah."


"Itu bagus," ucap Sergan seraya menepuk kepala Loli. "Kita sudah sampai, turunlah."


Sergan keluar dari mobil, ia membuka pintu mobil disisi Loli.


"Ayah ini dimana?" tanya Loli seraya menatap sekelilingnya.


Ada banyak permainan dan anak-anak yang sedang bermain. Kebanyakan masih berusia dibawah Loli.


"Taman bermain," jawab Sergan.


"Apa artinya Loli bisa memainkan apa saja disini?" tanya Loli antusias.


"Tentu. Pilihlah permainan yang kau suka. Cari teman juga agar kau semakin mudah."


Loli mengangguk antusias. Ia melepaskan belitan tangannya dengan Sergan lalu berlari ke segala penjuru permainan.


Sergan hanya melihatnya dari jauh. Ia ingin putrinya menjadi anak yang aktif.


Membawa anak ke taman bermain bukan berarti orang tua harus selalu mendampinginya.

__ADS_1


Saat seperti ini lah seorang anak harus diizinkan berinteraksi dengan seseorang yang belum ia kenal.


Itu akan membuka pikirannya untuk bisa berteman dengan siapa saja.


Sergan banyak menemukan kasus dimana anak rekan kerjanya sulit berinteraksi. Mereka terlalu sering dikekang oleh orang tua sejak dini.


Harus selalu bersih, bermain atas pengawasan orang tua, dan aturan lainnya yang sangat Sergan tidak setujui.


Sergan bukan pacar psikologi, tapi ia tau, pentingnya peran orang tua untuk perkembangan anak.


Sergan tidak ingin Loli kecanduan pada ponsel yang banyak memberikan pengaruh buruk pada kesempatannya.


Tidak jarang, banyak anak yang masih dibawah umur tetapi sudah menggunakan kaca mata.


Tidak sedikit juga kasus masalah anak usia dini yang kecanduan ponsel.


Sergan tidak akan melarang Loli menggunakan ponsel, apalagi di zaman dan kondisi dirinya. Loli akan menjadi santapan musuh-musuh yang ingin menjatuhkan Sergan.


"Ayah!" teriak Loli seraya berlari menghampiri Sergan.


Wajahnya penuh keringat karena bermain banyak permainan.


"Kau senang?" tanya Sergan saat Loli sudah didepannya. Sergan menekuk kakinya hingga tubuhnya sejajar dengan Loli. Sergan juga membersihkan keringat yang menetes diwajahnya menggunakan sapu tangan miliknya.


Loli mengangguk antusias. "Ada banyak adik kecil disana. Mereka bermain dengan Loli dengan bahagia," cerita Loli pada Ayahnya. Ia sangat bersemangat saat menceritakan kejadian itu.


"Lalu kenapa kau kembali?" tanya Sergan.


Sergan lalu memberikan air putih yang sempat ia beli pada penjual disekitar taman bermain.


"Loli mau es Ayah, sangat panas," rengek nya sambil menolak minuman yang Sergan serahkan.


"Es tidak baik untukmu. Selain untuk gigimu, tulang mu juga akan cepat rusak. Kau mau bungkuk seperti nenek-nenek pada usia muda?" ancam Sergan.


Loli menggeleng dengan cepat. Ia merebut air putih yang Ayahnya berikan. Setelah meminum beberapa teguk Loli menyerahkannya kembali pada Ayahnya.


"Loli akan kembali bermain. Simpan air ini untuk Loli," pesan Loli pada Ayahnya.


Sergan hanya mengangguk, ia lalu menutup botol air itu hingga rapat.


Sergan mencari tempat duduk yang paling dekat dengan taman bermain. Ia masih melihat ke arah Loli.


Beberapa ibu-ibu menyingkir saat Loli datang. Mereka melepaskan anak mereka untuk bermain dengan bebas.


Meskipun berbeda usia, Loli bisa dengan mudah berinteraksi dengan beberapa anak kecil.


Ia juga mengajari mereka memainkan mainan yang ada, padahal ia baru pertama kali memainkannya.


Sergan berdecak kagum pada kemampuan putrinya yang bisa menyerap semuanya dengan baik.

__ADS_1


Ia juga kagum pada wanita yang selama ini merawat Loli. Saat Sergan mengajari Loli beberapa pelajaran, Loli sudah bisa memahaminya dengan sekali percobaan.


Loli bahkan sudah menghapal abjad dengan baik karena ajaran wanita itu.


Loli sangat ingin bertemu wanita itu. Selain meminta penjelasan bagaimana Loli bisa ada, ia juga ingin hidup bersama wanita itu.


Dalam obrolan mereka, Loli tidak jarang menyinggung tentang sosok wanita yang ia panggil Ibu itu.


Semakin banyak hal yang Sergan ketahui, semakin kuat perasaannya pada wanita itu.


Hingga saat ini, Sergan belum mengonfirmasikan tentang anaknya pada media.


Belum berbicara saja sudah banyak spekulasi yang tidak jelas asal usulnya.


Sergan ingin menyelesaikan masalah ini dengan sekali tindakan.


Ia ingin, Loli tidak menerima umpatan atau ancaman apapun karena Sergan merencanakannya secara terburu-buru.


Sergan menatap Loli yang melambaikan tangannya pada anak-anak yang sudah akan pulang bersama ibu mereka.


Sergan lalu menatap sekelilingnya, ia baru sadar jika hari sudah mulai gelap.


Sergan berjalan menghampiri Loli.


"Loli!" teriak Sergan memanggil Loli.


"Ayah!" balas Loli, sambil melambaikan tangannya.


"Ayo pulang," ajak Sergan.


Loli sedikit cemberut, ia lalu melambaikan tangannya pada beberapa anak yang masih ada di taman bermain.


Mereka terlihat enggan, namun bagaimana lagi. Sergan tersenyum, ia pikir caranya berhasil. Lihatlah, sekali pertemuan saja mereka sudah se enggan itu untuk berpisah.


"Kau suka bermain di sini?" tanya Sergan seraya membawa Loli ke dalam gendongannya.


"Ya, sangat suka. Bagaimana jika kita datang lagi, Ayah," bujuk Loli.


"Tentu, akan aku sesuaikan dengan jadwalku," ucap Sergan membuat Loli bahagia.


Loli memberikan kecupan pada pipi Sergan. Sergan hanya memakai dengan mengacak rambut Loli.


Tiba-tiba, ponsel disaku Sergan berbunyi. Ada panggilan masuk dari Andi.


"Selamat sore, Tuan," sapa Andi.


"Ada apa?" tanya Sergan ke intinya.


"Saya sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu," ucap Andi membuat langkah Sergan terhenti.

__ADS_1


Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat.


"Aku akan segera tiba di rumah," ucap Sergan lalu mematikan sambungan telepon.


__ADS_2