Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Tindakan Eliza


__ADS_3

"Ayah!" pekik Loli sambil menggoyangkan tubuhnya, Ayahnya sangat keterlaluan, bagaimana bisa ia menjadikan tubuh Loli sebagai guling nya.


"Tidurlah lagi," gumam Sergan.


"Ayah! Loli sudah bergerak!" serunya seraya memperkuat gerakannya.


"Oh, oke," ucap Sergan lalu melepaskan dekapannya.


Loli mengambil nafas dengan keras. Dipeluk Ayahnya sangat tidak enak. Rasanya tubuhnya seperti diikat hingga ia tidak bisa bergerak sedikitpun.


Loli lalu melihat jam dinding. Pukul 7 pagi. Ia harus segera bersiap untuk pergi ke sekolah.


Sesuai janji Ayahnya, ia akan tetap sekolah.


Loli melangkah menuruni ranjang. Ia berjalan menuju kamar mandi. Ia sudah terbiasa dengan cara mandi orang kaya.


Sebenarnya, dikamar mandi itu ada 2 shower yang sengaja Ayahnya buat. Itu karena Loli kadang harus berteriak memanggil pelayan karena Sergan meletakkan hand shower terlalu tinggi.


Loli keluar dengan handuk. Tubuhnya menggigil kedinginan.


"Kenapa kau terlalu cepat bersiap?" tanya Sergan. Ia masih duduk di ranjang dengan wajah masih mengantuk.


"Loli takut Ayah berubah pikiran," ucapnya lalu mengambil seragam miliknya.


Seragam sekolah Loli dan baju biasa yang ia gunakan dilekatkan ditempat yang berbeda.


Seragamnya berada di lemari kecil yang ada disisi meja belajar. Itu memudahkan Loli mengambil seragamnya sendiri. Dalamnya juga sudah tersedia di sana.


Sergan berdecak. Ia lalu menghampiri putrinya. Dengan gemas ia tekan pipi putrinya hingga terlihat sangat lucu.


"Ya ampun, kau imut sekali," ejek Sergan.


"Ayah lepaskan Loli," serunya dengan nada tidak jelas. Tangannya yang memegang seragamnya terlepas untuk memukul tangan Ayahnya.


Sergan terkekeh. Loli berhasil mengurangi kesedihannya. Sergan lalu mengecup kening Loli.


Loli menatap tajam Ayahnya yang sudah menjauh darinya. Ia mengambil seragam lalu lari menuju ranjang.


Dengan cepat Loli menggunakan seragamnya. Loli juga sudah menekan tombol isyarat agar pelayan datang menata rambutnya.


Suara ketukan pintu terdengar. Loli turun dari ranjang dan membuka handle pintu.


Pintu ikut terkunci otomatis setelah tertutup. Dan hanya bisa dibuka oleh sidik jari yang sudah di scan sebelumnya.

__ADS_1


"Kakak pelayan," sapa Loli.


"Halo, Nona kecil. Mau rambut seperti apa hari ini?" tanya pelayan itu sambil tersenyum.


"Loli mau kepang dua," ucapnya seraya memberikan tanda peace.


"Siap laksanakan," kata pelayan itu sambil membimbing tubuh Loli.


****


Eliza pergi dari rumah pagi-pagi sekali. Ia bahkan belum sarapan.


Eliza pergi menggunakan mobil yang Sergan siapkan untuknya.


Eliza lalu memberikan alasan sebuah kafe yang baru saja ia ketahui tadi malam.


Setibanya disana, kafe baru saja buka. Eliza lalu memesan desert untuk mengisi perutnya.


Setelah pelayan menghidangkan desert miliknya, Eliza bertanya, "Dimana pelayan yang bernama Mira?"


"Itu saya, Nyonya."


"Duduk dulu, saya perlu bicara dengan kamu," tutur Eliza.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Mira.


"Ceritakan tentang Risa," jawab Eliza to the point.


Mira sedikit menggerutu mendengar nama itu disebut.


Ia lalu memperbaiki posisi duduknya.


"Apa hubungan anda dengan Risa?" tanya Mira penasaran.


"Saya yang butuh informasi, bukan kamu," ucap Eliza membuat Mira terdiam.


Ia lalu berdehem. "Saya butuh beberapa nominal untuk informasi yang saya berikan," ucapnya sambil melihat kukunya.


Tanpa pikir panjang, Eliza langsung mengeluarkan cek. "10 juta."


Mira berbinar melihatnya, ia ingin mengambilnya tapi lebih dulu ditahan Eliza.


"Ceritakan tentang Risa."

__ADS_1


Mira memutar bola matanya.


"Risa, dia sangat tidak berguna. Jika bukan karena Pak Rama, pemilik restoran ini, dia mungkin menjadi gelandangan. Nyonya tau? Dia bahkan hamil diusia muda, harus berhenti kuliah dan diusir dari panti asuhan. Kehidupannya sangat menyedihkan. Jika itu aku, aku mungkin akan menggugurkan anak itu agar kehidupanku tidak begitu buruk." Eliza mengepalkan tangannya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut pelayan didepannya itu.


Bagaimana bisa seorang wanita berpikir seperti itu. Menggugurkan anaknya? Yang benar saja.


"Oh, iya. Ada beberapa gosip yang mengatakan wanita itu menjual tubuhnya hingga ia sendiri tidak mengetahui siapa Ayah dari putrinya. Aku sempat bersyukur anak itu hilang, tapi sayang sekali, wanita itu menjadi gila karena kehilangan anak yang menghancurkan hidupnya."


Eliza menahan dirinya untuk tidak melempar piring di depannya ke wajah wanita ini.


"Di kafe ini ia bekerja sebagai asisten koki. Nyonya tau? Dia bahkan tidak bisa memasak, tetapi menjadi asisten koki. Entah berapa kali ia memberikan tubuhnya ada Pak Rama. Sikap sok polosnya benar-benar sangat menjijikan."


Tidak tahan lagi, Eliza meletakkan satu cek lagi lalu melempar desert itu ke wajah Mira.


"Kau lebih menjijikan. Aku bersyukur wanita itu sudah pergi dari sini. Entah ada berapa banyak orang menjijikan sepertimu yang ada ditempat ini. Wanita yang kau bicarakan itu akan menjadi menantuku. Aku akan membalas jika aku melihat mu sekali lagi." Eliza lalu pergi meninggalkan kafe itu. Tidak ada perasaan lapar lagi yang ia rasakan.


****


Sergan dan Loli turun bersamaan. Mereka sama-sama mengernyit karena tidak menemukan Eliza di meja makan.


"Dimana Bibiku?" tanya Sergan.


"Nyonya pergi pagi-pagi sekali, Tuan. Saya tidak tau kemana," jawab pelayan.


"Ayah, kemana kira-kira Bibi pergi?" tanya Loli.


"Entahlah."


"Apa Bibi tidak akan mengantar Loli sekolah?" tanyanya sedih.


"Aku akan mengantarmu," ucap Sergan.


"Tapi Loli ingin bersama Bibi," tutur Loli pelan. Kepalanya tertunduk sedih.


"Kau tidak ingin seolah?" ancam Sergan.


Loli langsung mengangkat kepalanya. "Tidak!" serunya.


"Cepat habiskan sarapan mu," perintah Sergan.


"Baiklah," kata Loli lemah.


Mereka makan dengan diam dengan pikiran berkecamuk. Sergan masih memikirkan bagaimana kondisi wanita itu.

__ADS_1


Ini sudah sebulan sejak kejadian itu. Entah hal buruk apa saja yang wanita itu alami.


__ADS_2