
Setelah menyelesaikan urusan mandi yang langsung dilakukan oleh Sergan. Ya! Dengan celana bahan dan lengan kemeja yang digulung Sergan menyelesaikannya.
"Sekarang pilih baju yang kamu inginkan," ucap Sergan seraya memberi kode pada Loli untuk memilih salah satu baju yang ingin ia gunakan dari jejeran baju yang ada di kamar itu.
"Ayah, baju ini sangat banyak. Loli jadi bingung," sahutnya. Matanya menatap kagum pada jejeran baju yang tergantung.
"Lalu, kau ingin aku memilih baju untukmu?" tanya Sergan seraya menunjuk dirinya.
Loli menatap Sergan ia lalu mengangguk mengiyakan.
"Tidak, aku tidak bisa. Aku akan memanggil pelayan saja," bantahnya lalu berjalan keluar dari kamar.
Loli terduduk cemberut di atas kasur. Hanya dengan terbalut handuk ia menopang dagunya menatap puluhan baju di hadapannya.
Tidak lama kemudian, 3 orang pelayan masuk ke kamar Sergan dan langsung melakukan tugasnya.
"Ayo, nona muda, saatnya anda menggunakan pakaian. Sekarang, katakan pada saya, apa warna kesukaan anda?" tanya salah satu pelayan dengan ramah.
Loli malu-malu dengan kepala tertunduk ia menjawab, "Loli suka warna pink."
"Pilihan yang bagus," ucap pelayan itu. Ia lalu meminta rekannya mencarikan baju berwarna pink yang cocok dengan Loli.
"Anda sangat cantik, nona," ungkap para pelayan menatap kagum pada sosok Loli.
Loli tersipu malu, matanya menatap berbinar pada dirinya dari pantulan cermin.
Gaun berwarna pink dengan sentuhan biru langit dan taburan berlian di area pinggang benar-benar sangat Loli suka. Apalagi para pelayang menggepang rambutnya sehingga terlihat pas pada dirinya.
"Sangat cantik," pujinya. Jujur saja, ini pertama kalinya ia melihat dirinya secantik ini.
Loli yang biasa hanya terbalut dengan kaos dan rok lusuh pemberian tetangga berbuah seperti Cinderella yang bertemu peri.
"Loli, ingin menunjukkannya pada Ayah. Kakak pelayan, tolong antar Loli pada ayah," pintannya sambil menatap pelayan memohon.
"Saya tidak bisa menolak peri kecil kita ini," ucapnya sambil menggandeng tangan Loli.
Loli tersenyum, di kepalanya mulai terbayang wajah Ayahnya yang menatap kagum pada sosoknya.
Tapi, ada perasaan sedih di hari Loli karena Ibunya tidak bisa melihat penampilannya.
"Kakak pelayan, apakan Ibu akan suka penampilan Loli?" tanyanya sendu. Matanya berkaca-kaca mengingat wajah Ibunya. Ibunya pasti mengkhawatirkannya.
"Ibu nona akan sangat menyukai penampilan anda. Ia mungkin akan menangis bahagia melihat putri kecilnya berubah menjadi tuan putri," ungkap pelayan itu. Terdengar hiperbola, tapi itulah yang mungkin ia rasakan jika putrinya menjadi secantik anak tuannya itu.
__ADS_1
Loli meneteskan air matanya. Ia lalu mengangguk. " Ya, Ibu akan sangat bangga pada Loli karena Loli bisa lebih cantik dari Lela," ucapnya.
"Siapa Lela, nona?" tanya pelayan itu.
"Lela yang sering ganggu Loli. Ibunya sering kasih Loli baju Lela yang udah gak muat. Lela gak suka, ia selalu ejek Loli jelek. Tapi, Loli tidak jelek, Loli sangat cantik. Ayah dan Ibu akan bangga dengan kecantikan Loli," ucapnya bersemangat. Matanya sesekali menajam saat mengingat Lela.
Mereka tiba di ruang santai tempat Sergan menunggu Loli.
"Ayah!" teriaknya seraya berlari menghampiri Sergan.
"Sudah selesai?" tanya Segan memastikan.
Loli memutar tubuhnya. Membuat gaunnya mengembang dengan sangat indah.
"Baju ini sangat indah. Loli suka, terima kasih Ayah. Kali ini, tidak ada lagi yang bisa mengejek Loli karena Loli punya banyak baju yang sangat cantik," ucapnya dengan ceria. Senyumnya sangat manis hingga menampakkan gigi susunya yang tersusun rapi.
Sergan mengusap kepala Loli. "Mulai saat ini, tidak ada lagi yang bisa mengganggu putriku. Katakan padaku jika seseorang mengganggmu, mengerti?"
Loli mengangguk semangat. "Ayah hebat, Loli suka punya Ayah yang hebat. Loli juga punya Ibu yang hebat. Ayah, bisakan Ayah membawa Ibu juga ke sini? Loli sangat merindukan Ibu," ungkapnya sedih. Tatapannya memohon dapat Sergan.
"Apa kamu mengetahui informasi tentang Ibumu? Namanya? Pekerjaannya? Usianya?" tanya Sergan. Ia sebenarnya enggan membawa Ibu anak ini. Tapi, tatapan memohon yang Loli berikan tidak bisa ia abaikan.
"Ibu bekerja memasak, Ayah. Masakan Ibu sangat enak. Ibu suka memasakkan Loli makanan," jawabnya.
"Loli tidak tau, tapi Ibu suka memasak. Seorang pria akan memberikan Ibu uang setiap Ibu selesai memasak," jawabnya
"Kau ingat dimana Ibumu bekerja?" tanya Sergan.
Loli menggeleng. "Ibu selalu membawa Loli saat Loli tidur, saat Loli bangun Loli sudah ada di tempat kerja Ibu. Saat pulang juga Loli selalu tidur karena Ibu akan membersihkan dapur sebelum pulang."
Sergan menghela nafas. Sepertinya pencarian Ibu Loli akan sulit karena sedikitnya informasi yang ia ketahui.
Sekarang, semuanya tergantung Ibu Loli, jika ia membuat pengumuman tentang kehilangan anak, Sergan mungkin akan dengan mudah menemukannya.
"Aku akan mencoba mencari Ibumu," ucap Sergan yakin. Ia tidak sanggup melihat tangis putrinya. Ia menyukai Loli tersenyum.
"Ya, Ayah yang terhebat," puji Loli.
"Kau ingin sekolah?" tanya Sergan.
Sambil menunggu Loli tadi, ia mencari sekolah terbaik untuk anak usia 5 tahun.
Loli berpikir, matanya mengedar kesekeliling ruangan, ia lalu menggeleng.
__ADS_1
Sergan heran. "Kenapa tidak ingin sekolah? Aku punya banyak uang."
"Ayah, apa ayah lupa? Kita harus mengubah warna rumah ini. Rasanya mata Loli menjadi sakit hanya karena melihat warna rumah ini," ucapnya.
Sergan menjadi kesal, di ketuknya kening Loli.
"Aku akan memberikanmu rumah berwarna pink, jadi, pergi kesekolah dan jadilah pintar," tutur Sergan seraya bangkit dari sofa.
Loli cemberut, tangannya mengusap keningnya yang di ketuk Sergan. "Ayah mau kemana?" tanya Loli.
"Bekerja."
"Apa pekerjaan Ayah memasak seperti Ibu?"
"Tidak."
"Lalu apa?"
"Lebih rumit dari memasak. Anak kecil sepertimu tidak akan mengerti. Pergilah kesekolah dan jadilah pintar."
"Ayah bagaimana dengan Loli?"
"Cari pelayan dan bermainlah dengannya."
Loli melongo melihat sikap ayahnya. Wajahnya menatap sengit punggung ayahnya.
"Ayah sangat menyebalkan. Ayah Loli adalah Ayah yang terburuk!" pekiknya pada Sergan.
"Aku akan menyita es krim mu," ucap Sergan. Ia tidak berbalik, tetap melanjutkan langkahnya.
Wajah Loli memucat, dengan langkah kecilnya ia kejar sosok Sergan yang sudah sedikit jauh darinya.
"Ayah, Loli hanya menirukan salah satu film yang Loli tonton. Loli tidak bermaksud mengatakan hal itu sebelum. Maaf kan Loli," ucapnya. Ia berusaha mengajak Ayahnya yang semakin bergerak jauh.
"Aku tidak tau ada film yang mengajarkan anak-anak untuk mengatakan bahwa Ayah adalah Ayah terburuk," ucap Sergan. Bibirnya tersenyum menggoda putrinya, tapi Loli tidak melihat karena belum bisa mengejar Sergan.
"Ayah, itu film yang di tonton oleh Lela. Ia menceritakannya kepada Loli," ucapnya berbohong. Demi tumpukan es krim yang ia beli, ia akan mengorbankan Lela.
"Sungguh? Haruskan aku mencari tau dan menghapus tayangan seperti itu?" tanya Sergan.
Wajah Loli semakin pucat, jika ayahnya mengetahui ia berbohong akan menjadi bahaya besar.
"Tidak perlu Ayah, Loli tidak menuntun film yang buruk seperti itu," ucapnya bersungguh-sungguh.
__ADS_1