
Permisi Tuan Menner, selaku orang tua/wali saudara Lolita Meneer.
Saya, Anton penjaga sekolah. Melalui pesan ini saya meminta untuk Bapak untuk segera datang ke sekolah. Mengenai permasalahan yang terjadi pada saudara Lolita Meneer akan langsung diinfokan oleh wali kelas. Jika anda tidak memiliki kesempatan untuk hadir, tolong minta perwakilan dengan membawa tanda tangan persetujuan anda.
Pesan yang masuk Sergan baca dengan kening mengernyit.
Ia tahu putrinya nakal dan suka membuat kesal para pelayan. Tapi ia tidak menyangka kenakalan Loli kali ini bisa membuatnya dipanggil ke sekolah.
"Cancel 2 jam jadwal saya," perintah Sergan pada Andi.
"Rapat kali ini tidak bisa di cancel, Tuan," tampik Andi.
"Maka kamu yang gantian saya."
Sergan lalu mengambil dompet dan kunci mobil. Ia melangkah meninggalkan ruangannya.
Perjalan menuju sekolah Loli memakan waktu setengah jam, Sergan tidak ingin menunggu lama untuk itu, ia menyetir sendiri mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Karena masih jam kerja, jalan ibu kota masih tergolong sepi dari biasanya.
Sergan hampir saja menabrak seorang wanita jika ia tidak sempat menginjak rem nya.
Wanita itu tampak linglung, berjalan dengan tatapan kosong dengan pakaian kumuh.
"Pengemis sialan!" umpat Sergan lalu kembali memacu mobilnya.
Sergan sampai ke sekolah Loli lebih cepat. Pagar otomatis terbuka saat Sergan selesai memindai kartu akses miliknya.
"Selamat siang Tuan Menner, maaf mengganggu waktu anda pada jam kerja. Saya akan memarkirkan mobil anda, anda hanya perlu berjalan kearah pemuda itu, ia akan menjadi pemandu anda," ucap penjaga sekolah seraya menunduk pemuda dengan pakaian rapi dengan sikap kaku didepan gerbang masuk ke koridor.
Sergan tidak membuang waktu, dengan langkah pasti ia berjalan kearah pemuda itu. Pemuda itu tidak membuang waktu, saat Sergan semakin dekat dengannya ia langsung berbalik arah menuntun Sergan.
Setelah menaiki berjalan cukup jauh, Sergan sampai diruang Miss Ana. Terlihat dari nama tag yang terpampang di pintu.
Sekolah didesain memanjang. Meskipun dididik untuk selalu berlaku sopan, beberapa anak nakal tetap suka bermain kejar-kejaran. Demi menghindari kecelakaan, pihak sekolah membangun sekolah tanpa tingkat.
Tanpa mengetuk ia langsung masuk. Ada tiga anak kecil dan satu orang dewasa.
Sergan menatap Loli yang masih sesegukan di pelukan Miss Ana. Ia lalu menatap dua anak perempuan yang menunduk takut karena kedatangannya.
"Tuan Menner, selamat siang, maaf mengganggu waktu anda. Silahkan duduk," sapa Miss Ana.
__ADS_1
Loli yang mendengar Ayahnya sudah datang segera melepaskan pelukannya dari Miss Ana.
Ia menatap Ayahnya dengan ekspresi menyedihkan. Loli lalu turun dari sofa, berlari ke pelukan Ayahnya.
Loli memeluk kaki Sergan. Menenggelamkan wajahnya ke paha Sergan.
"Apa yang terjadi?" tanya Sergan seraya mengangkat tubuh Loli.
"Silahkan duduk, Tuan Menner."
Sergan lalu berjalan kearah sofa kosong. Meletakkan Loli di pangkuannya dengan wajah bersandar pada dada bidang miliknya.
"Sebelumnya, saya sebagai wali kelas Loli meminta maaf karena tidak bisa mencegah hal ini terjadi. Kedua anak ini merundung Loli dengan mengatakan ia berbohong mengenai gambar yang Loli buat. Kami sudah memanggil orang tua siswa ini. Saya akan menunjukkan video perundungan yang terjadi. Setelah orang tua siswa datang, keputusan ada ditangan anda," jelas Miss Ana.
Miss Ana lalu menyerahkan laptop miliknya yang menampilkan suasana kelas saat kejadian terjadi.
Ia tidak bisa menahan kepalanya tangannya saat melihat Loli berteriak sambil menangis.
Ia menepuk punggung putrinya yang sepertinya sudah tertidur.
Setelah video itu selesai, Sergan menatap kearah dua orang siswa yang melakukan perundungan pada Loli.
"Apa tujuan kalian?" tanya Sergan.
Tubuh mereka bergetar ketakutan. Biana bahkan sudah meneteskan air matanya seraya meremas rok sekolah miliknya.
Suara ketukan pintu disusul masuknya 2 orang wanita muda dengan pakaian modis.
"Ibu!"
"Mami!"
Suara teriakan itu disusul dengan langkah kaki Biana dan Carole. Mereka segera memeluk orang tua mereka.
"Karena semua orang tua sudah berkumpul, maka lebih baik kita diskusikan masalah ini sekarang," ucap Miss Ana mengalihkan perhatian.
Tatapan Sergan tidak lepas dari kedua anak itu, entah dendam seperti apa yang tersimpan dalam hatinya.
"Ada apa ini?" tanya Mami Biana.
"Sebelumnya, silahkan lihat video ini dulu, saya akan menjelaskan kelanjutannya," tutur Miss Ana lalu memperlihatkan rekaman kejadian.
__ADS_1
Wajah kedua wanita muda itu berubah. Mereka langsung menatap tajam kearah putri mereka.
Mereka tidak perlu lagi menebak, hal besar apa yang akan terjadi pada mereka sebelum mereka masuk ke rumah.
Suara tamparan terdengar. Disusul suara pekikan dan tangisan.
Ibu Carole baru saja menampar wajah putrinya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa anak yang selama ini ia banggakan akan menghancurkan keluarga mereka.
Ia menatap tajam kearah Carole yang menangis sambil menyentuk wajahnya.
"Apa aku mengajarimu bersikap seburuk itu?" teriak Ibu Carole.
Miss Ana langsung memisahkan kedua siswa itu dari orang tua mereka. Selama di sekolah jangan sampai ada kekerasan fisik.
"Cukup, Nyonya. Ini sekolah, bukan rumah kalian. Saya akan menjelaskan hal lainnya."
"Carole dan Biana akan dihukum. Bukan oleh sekolah, tapi oleh orang tua korban. Tuan Menner akan memutuskan hukuman untuk anak kalian, itu sudah ketentuan sekolah. Perundungan sekecil apapun tidak bisa kami maafkan."
Ibu Carole dan Mami Biana menatap kearah Sergan dengan pandangan takut. Mereka juga melirik kearah anak perempuan yang tertidur dengan tenang di pelukan Sergan. Ada semacam kapas yang menutup telinga anak perempuan itu.
Sergan lalu membalas tatapan wanita itu dengan tatapan tajam miliknya. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Miss Ana.
"Pindahkan mereka ke kelas C, tanpa ada kesempatan untuk berhenti sekolah. Keselamatan perusahaan mereka tergantung kepatuhan mereka," ucap Sergan lalu bangkit membawa tubuh Loli.
Ibu Carole terkejut. Kelas C? Kelas para pecundang?
Meskipun tetap bisa menikmati kemewahan, tetap saja, bukan hal baik. Membiarkan Carole sekolah dikelas C hanya membuat keluarga mereka menjadi bahan olokan.
Dengan mata memerah Ibu Carole menatap putrinya dengan tajam.
Mami Biana tidak banyak bicara. Dengan langkah tergesa-gesa ia menyeret tubuh putrinya dengan kasar.
Miss Ana tidak bisa melakukan apapun lagi. Carole dan Biana sudah resmi pindah ke kelas C. Ia tidak bisa ikut campur dengan siswa dari kelas lain.
Miss Ana kembali ke kelasnya. Ia melihat kepala sekolah yang memberikan masukan pada siswa lain untuk berperilaku lebih baik.
"Permisi," panggil Miss Ana menarik perhatian.
Miss Ana lalu mengangguk sopan kearah kepala sekolah yang melihat kejadiannya.
"Baiknya, sepertinya tadi itu sudah cukup. Saya harap tidak ada pertemuan seperti ini lagi kedepannya. Selamat tinggal," pamit kepala sekolah.
__ADS_1
Miss Ana berdehem menarik perhatian.
"Untuk kedepannya jumlah siswa dikelas ini hanya terdiri dari 8 siswa saja. Miss harap kedepannya tidak ada lagi perundungan yang akan terjadi."