Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Bibi


__ADS_3

Loli menunduk menatap pasta dipiringnya, lalu menatap coklat dingin milik Ayahnya.


"Ayah tidak makan?" tanya Loli.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karena ingin menghabiskan pasta mu," jawab Sergan sambil menatap piring milik Loli.


Loli dengan cepat memasukkan pasta pada mulutnya.


Ia ingin segera menghabiskannya sebelum Ayahnya merebut miliknya.


"Kau sangat rakus. Mirip seperti sapi," ejek Sergan melihat cara makan putrinya. Pipinya menggembung lucu karena kesulitan menelan makanan.


Loli mengerucutkan bibirnya, membuat Sergan semakin gemas.


Sergan lalu mengepit bibir Loli hingga membuat matanya melotot.


Dipukulnya tangan Ayahnya hingga terlepas dari bibirnya.


Loli lalu mengambil gelas berisi air putih. Meminum beberapa teguk hingga makanannya ikut tertelan.


"Ayah sangat menyebalkan!" pekiknya membuat beberapa pelanggan lain menatap kearah mereka.


Sergan tidak peduli, bahkan saat seseorang mengangkat ponsel mereka mengabadikan momen Sergan dan Loli membuatnya tidak menoleh sedikitpun.


Perhatiannya tetap terfokus pada putri imut didepannya.


"Mau coklat ini?" tawar Sergan sambil mengangkat gelas miliknya.


Loli yang tadi melotot marah pada Ayahnya berubah seketika.


Bibirnya yang mengerucut cemberut berubah menjadi senyum manis, matanya yang tadi melotot berubah menjadi bulan sabit.


Loli mengangguk antusias. Mengarahkan tangannya menunggu Ayahnya memberikan gelas itu.


Sergan tersenyum miring, diletakkannya gelasnya sedikit jauh dari Loli.


Mata Loli mengikuti pergerakan gelas itu.


"Katakan 'aku sangat mencintai Ayahku, aku rela memberikan es krim ku padannya' dengan senyummu yang sangat manis," perintah Sergan. Tangan Sergan mempermainkan gelas itu untuk menggoda Loli


Loli tidak bisa mengalihkan tatapannya dari gelas Sergan.


"Loli sangat mencintai, Ayah. Loli akan membagi es krim Loli dengan Ayah," ucap Loli spontan.


Dia tidak peduli apapun. Coklat itu jelas lebih berguna sekarang. Rasa gurih pasta akan terasa lebih nikmat dengan campuran coklat manis.

__ADS_1


Sergan tersenyum geli menatap tingkah putrinya.


Ia lalu mematikan perekam suara yang ia aktifkan di ponselnya.


****


Dirumah Sergan, Eliza terduduk di sofa ruang santai. Ia kembali mengingat sosok Sergan kecil yang suka melukis.


Ia tidak bermaksud menghancurkan mimpi Loli untuk menjadi pelukis, tapi keinginan menjadi pelukis pernah hampir membuat Sergan kehilangan beasiswa miliknya.


Saat itu ada perlombaan menulis yang daerah setempat adakan. Sergan kecil yang terbiasa melukis mencoba untuk ikut mendaftar.


Awalnya Eliza tidak setuju, tapi, dengan bujuk rayu yang Sergan kecil lakukan membuat Eliza luluh.


Ia mendukung Sergan untuk mengikuti perlombaan melukis.


Hingga saat itu tiba, saat dimana sekolah menelpon Eliza bahwa Sergan hanya memiliki satu kesempatan untuk mempertahankan beasiswanya.


Nilainya menurun drastis. Sergan juga mulai tidak fokus pada pelajaran, dan mengabaikan guru yang sedang menerangkan pelajaran.


Itu semua karena lukisan. Obsesinya pada lukisan membuatnya lupa pada beasiswa miliknya.


Setelah Eliza datang kesekolah dan membicarakan masalah Sergan, ia langsung membatalkan perlombaan yang akan Sergan ikuti.


Ia membuang semua peralatan melukis milik Sergan.


Sejak saat itu kepribadian Sergan berubah. Ia tidak pernah lagi memikirkan tentang melukis ataupun berinteraksi dengan siapapun.


Yang Sergan lakukan hanyalah belajar, ia kembali meningkatkan nilai belajarnya bahkan mulai melampaui nilainya sebelumnya.


Sergan berubah menjadi pribadi yang selalu menyendiri. Memilih berdiam saat teman-temannya membicarakan wanita incaran mereka.


Eliza mulai merasa bersalah saat itu. Tapi ia mencoba melupakannya.


Jika ia tidak bisa membantu Sergan, ia akan mencoba menghapus penghalang yang menghalangi jalan Sergan.


Hingga saat kelulusan, Sergan nilai Sergan keluar dengan sempurna, membuatnya dilamar oleh beberapa universitas, bahkan universitas impiannya.


Sedikit demi sedikit, kepribadian Sergan mulai berubah. Ia sudah mulai untuk mencari teman untuk berinteraksi.


Sergan juga mengambil pekerjaan sebagai asisten dosen. Kehidupannya berubah saat ia mencoba terjun dalam bermain saham.


Sejak saat itu, ia mulai membentuk dunia nya sendiri.


Mengahasilkan uang dari mana saja asal tidak menggangu waktu belajarnya.


Sergan juga diterima magang disebuah perusahaan ternama, sempat ditawari untuk menjadi karyawan tetap tetapi Sergan memilih menolak karena ingin membangun perusahannya sendiri.


Sergan lalu mulai mengajak teman yang ia kenal untuk bekerja sama, salah satunya adalah Andi, asistennya sekarang.

__ADS_1


10 tahun berlalu. Perusaan Sergan mulai bisa melebarkan sayapnya hingga keberapa negara tetangga. Membuat perusahaan semakin dikenal.


Bidang real estate yang sangat menjanjikan membuatnya menjadi pengusaha muda yang sukses.


Selama ini kehidupan Sergan tidak pernah mengenal wanita. Tapi bagaimana mungkin ada Loli?


Hingga saat ini, itulah yang selalu menjadi pikiran Eliza.


Tapi ia tidak bisa mencari tau lebih lanjut. Selama ini ia hanyalah wanita kesepian yang merawat anaknya dan anak saudaranya.


Kedua orang tua Sergan sudah meninggal saat ia bayi. Kecelakaan tragis, yang merampas kebahagiaan Sergan yang saat itu masih berusia 3 tahun.


Dengan posisi sedang mengandung, dan suami yang meninggalkannya, Eliza memilih merawat Sergan. Merawat anak laki-laki yang bahkan tidak menangis melihat jasad orang tuanya.


Hanya berbekal toko kue kecil dan warisan dari Kakak dan Kakak iparnya, Eliza membesarkan Sergan.


Harapan Eliza berbuah manis saat Sergan menjadi pemuda cerdas. Sergan jugalah yang membantu biaya pendidikan Grace hingga bisa menjadi dokter seperti sekarang.


Mulai saat itu Eliza memilih berdiam dirumah yang selama ini ia tinggali, dan Sergan jugalah yang membiayai renovasi rumah itu hingga menjadi sebesar sekarang.


Toko kue yang selalu menjadi harapan makan Eliza dan keluarganya sekarang sudah menjadi toko kue besar dengan banyak cabang diberbagai kota.


Hal itulah yang sekarang menjadi kesibukan Eliza. Sejak ia masih gadis, ia bukanlah seseorang yang suka berdiam diri.


Menurutnya, ada banyak hal bermanfaat yang bisa ia lakukan jika diluar rumah.


****


"Bibi!" Suara teriakan Loli memecahkan lamunan Eliza. Ia tersenyum melihat tubuh Loli yang sudah jauh lebih berisi dari saat pertama kali ia datang.


"Jalan-jalan bersama, Ayah?" tanya Eliza sambil tersenyum, matanya menatap wajah Loli yang mencetak wajah Sergan kecil versi perempuan.


"Ya! Loli makan pasta, sangat enak. Loli juga pergi ke toko kue, Loli membelikan Bibi kue stroberi," jawabnya, lalu menyerahkan kotak kue dengan logo yang sudah Eliza hapal.


Itu kue dari toko miliknya. Tidak ia sangka keponakannya itu membeli kue dari toko miliknya sendiri.


"Loli sudah mencoba kue nya?" tanya Eliza.


"Ya, sangat enak. Loli ingin lebih, tapi Ayah bilang kita harus segera pulang," adunya pada Eliza.


Eliza tersenyum. Ia lalu memberi isyarat pada pelayan yang ada untuk menyiapkan kue yang Loli bawa.


Eliza membawa tubuh Loli kepangkuannya. Menyandarkan tubuh Loli kedekapannya.


"Sekarang, kita akan makan kue itu bersama-sama."


Didalam pelukan Eliza, Loli mengangguk. Ia semakin menenggelamkan wajahnya ke pelukan Eliza.


Sergan terdiam melihat interaksi Bibi dan putrinya. Masih ada perasaan tidak senang dihatinya karena sikap Bibinya sebelumnya. Tapi, ia juga tidak bisa menutup mata melihat kasih sayang yang Bibinya berikan pada Loli.

__ADS_1


__ADS_2