
Mobil Sergan tiba di rumah keluarga Meneer. Saat di garasi ia juga menemukan mobil Grace, sepupunya yang berprofesi sebagai dokter.
Sergan menghela nafas, dengan satu tangan di angkatnya tubuh Loli yang masih tertidur di dekapannya.
Sergan memiliki refleks yang baik, baru masuk ke dalam rumah ia sudah di suguhi lemparan high heels milik bibinya.
"Belum setengah hari Bibi melemparku menggunakan botol parfum," ucapnya tetap melangkah masuk.
"Belum setengah hari juga aku meminta cucu," balas Bibinya sambil menatapnya dengan tajam.
"Jika Bibi lupa, akan aku ingatkan. Sejak usiaku 25 tahun Bibi sudah memaksaku memberikan Bibi cucu," ucapnya seraya menyerahkan tubuh Loli pada salah seorang pelayan wanita.
Eliza Meneer menatap tubuh Loli yang dibawa pelayan.
Pendek, gendut dan sedikit imut. Alisnya bertaut, pada postur wajah Loli jika di lihat sekilas akan terlihat persamaannya dengan wajah keponakannya.
Eliza lalu menatap tajam kepada keponakannya itu. "Dimana ibu anak itu?" tanyanya dengan suara tegas.
"Aku tidak tau," jawab Sergan santai. Ia berjalan semakin masuk kerumah hingga tiba di ruang keluarga.
"Wanita mana yang kamu hamil?" tanyanya sekali lagi. Dari belakang ia menatap tubuh keponakannya itu, ada perasaan ingin menganiaya dalam hatinya.
"Aku tidak menghamili siapapun, dan itu bukan anakku. Aku tidak mengenalnya. Jika Bibi tidak percaya silahkan bertanya pada sekretarisku," jawabnya sambil menutup mata. Tangannya memijat dahinya yang pusing akibat ulah Loli.
"Tidak mungkin. Dilihat sekilas pun aku langsung percaya bahwa itu adalah anakmu," bantah Eliza. Tangannya terlipat dengan pandangan menerawang. Ia mencoba membayangkan wajah keponakannya waktu kecil dan membandingkannya dengan wajah Loli.
"Bibi, aku bersungguh-sungguh. Jika karena reputasiku, aku pasti sudah meninggalkannya di tengah jalan," tutur Sergan. Suaranya melemah, setelah makan siang sekarang ia merasa mengantuk.
"Aduh! Bibi sakit," ringisnya. Tangannya mengelus pada bahunya yang baru saja dipukul Eliza menggunakan high heels.
"Jaga mulutmu. Jangan hanya karena reputasi kau melupakan hak asasi orang lain," omelnya.
"Dia juga mengabaikan hak asasiku. Aku bebas berpendapat tapi dia menghalangiku," bantah Sergan. Matanya menatap kesal pada bibinya. Emosinya belum reda sejak tadi, dan sekarang omelan Bibinya membuatnya semakin ingin menyingkirkan anak perempuan itu.
"Jangan samakan dia denganmu, anak itu masih kecil. Grace akan membuktikan apakah yang aku pikirkan atau kau pikirkan yang benar," ucap Eliza dengan tajam.
Belum sempat Sergan membantah ucapan Bibinya suara tangis yang memecahkan seisi rumah terdengar.
"Ayah! Dimana ayahku? Ayah tolong Loli! Ada jarum suntik disini! Ayah!" teriak Loli.
Dengan air mata berlinang ia berlari menghindari Grace yang mencoba mengambil sampel darahnya.
Saat ia melihat sosok Sergan yang terduduk menyaksikannya berlari ia langsung melangkah dengan cepat dan masuk ke dekapan Sergan.
"Ayah, ayah tolong Loli! Wanita jahat itu mencoba menyakiti Loli. Ayah, beri pelajaran pada wanita jahat itu," adunya sambil menangis. Tangannya dengan erat memeluk tubuh Sergan.
__ADS_1
"Itu salahmu. Jika kamu tidak nakal wanita jahat itu tidak akan menyuntiknya," ucapnya dengan santai. Sergan bahkan mengabaikan pelototan dari Bibi dan sepupunya.
"Loli tidak nakal! Ayah berbohong. Ayah, berbohong itu tidak baik. Ibu bilang, anak yang suka berbohong akan di rendam kedalam api yang sangat panas," ucapnya menggebu. Mata bulatnya menatap serius pada wajah Sergan.
"Aku tidak berbohong. Coba jelaskan, mengapa wanita jahat itu mencoba menyuntikmu jika kamu tidak nakal?" tanyannya. Matanya menatap balik pada mata bulat milik Loli.
Kening Loli terlipat, ia mencoba mencari jawaban lain. Ia sadar ia tidak nakal. Ia tidak membuat seseorang menangis.
Kepalanya lalu menggeleng. "Loli tidak ingat, tapi Loli yakin, Loli tidak nakal," ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Sergan mencibir, tangannya mencubit pipi Loli.
"Ayah! Jangan sentuh pipi Loli terlalu sering. Kata Ibu, jika seseorang terlalu banyak menyentuh pipi Loli, orang itu akan mengambil pipi Loli," protesnya pada Sergan.
Sergan memutar bola matanya. Diambilnya tangan Loli, ia lalu memberi isyarat agar Grace segera melakukan tugasnya.
"Ayah! Sakit! Tangan Loli sakit!" teriknya saat Grace mengambil darahnya.
Wajah Sergan memucat, ia lalu membawa Loli ke dekapannya.
Loli menangis sesenggukan didalam pelukan Sergan.
"Ayay, mengapa kamu membantu wanita jahat itu," ucapnya sesegukan.
"Kau mau es krim?" tanya Sergan.
"Berhenti menangis, aku tidak akan memberimu es krim jika kau tetap menangis," ancam Sergan.
Sontak saja, Loli langsung berhenti menangis. Di halusnya air matanya menggunakan punggung tangannya.
"Loli tidak menangis ayah. Sepertinya ayah salah melihat. Lihat, Loli tersenyum. Sekarang berikan Loli es krim," ucapnya polos. Tangannya ia julurkan meminta es krim.
Sergan mencibir melihat kelakuan anak di depannya itu. Ia lalu merogoh kantungnya dan mengambil uang yang ada di dalam dompetnya.
Uang itu ia serahkan kepada Loli. "Beli sendiri," sentaknya.
Bibir Loli mengerucut, meskipun begitu ia tetap memasukkan uang itu ke saku bajunya.
"Loli," panggil Eliza.
"Ya? Apa, Bibi?"
"Siapa nama kamu?" tanya Eliza.
"Loli."
__ADS_1
"Nama panjang kamu?"
"Loliiiiiiiiiiiii."
Sergan menahan tawanya mendengar jawaban Loli. Berbeda dengan Eliza yang wajahnya sudah memerah.
"Siapa nama Ibu kamu?" tanya Eliza lagi.
"Ibu."
"Kamu tidak tau nama Ibumu?" tanya Eliza terkejut.
Loli berdecak. "Nama Ibu Loli, Ibu, Bibi. Apa Bibi tidak punya telinga? Oh, tidak Loli salah, Bibi punya telinga, tapi sepertinya salah satu telinga Bibi tersumbat karena anting yang Bibi gunakan jumlahnya berbeda," cercanya panjang lebar.
Sergan tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa dengan keras membuat amarah Eliza semakin meningkat.
Eliza memukul wajah Sergan hingga membuat Loli melotot.
"Kenapa Bibi memukul ayah? Ayah tidak melakukan kesalahan Bibi!" pekiknya.
"Kamu, anak kecil, diam!" tekan Eliza.
"Tidak! Loli tidak bisa diam jika Bibi memukul Ayah. Itu menyakitkan, Loli pernah di pukul dan rasanya sangat sakit," sentaknya. Mata bulatnya melotot pada Eliza.
Eliza menunjuk wajah Loli. "Saya bilang diam!" teriaknya.
Sergan yang merasa kemarahan Bibinya sudah memuncak segera membawa Loli.
"Kau ingin es krim, kan? Sekarang, ayo kita beli," ajaknya seraya menggendong tubuh Loli keluar dari rumah keluarga Meneer.
"Ayah, Loli ingin es krim yang banyak. Ibu selalu melarang Loli makan es krim. Ibu bahkan memakan es krim Loli dengan banyak," cercanya pada Sergan.
Tangannya bertaut di leher Sergan, wajahnya ia hadapkan ke wajah Sergan hingga ia bisa melihat wajah ayahnya itu.
"Beli yang banyak. Jika kau sakit perut kita hanya perlu menyuntikmu sekali lagi," sahutnya santai.
Wajah Loli memucat, ia menyentuh tangannya yang baru saja disuntik oleh wanita jahat.
"Ayah, kita akan membeli banyak es krim. Kita akan menyimpannya di kulkas hingga Loli bisa memakannya sedikit demi sedikit," ucapnya sambil mengangguk. Ia berpikir ia bertambah pintar sekarang.
"Sergan! Aku belum mengambil darahmu!" panggil Grace.
Wajah Loli ketakutannya. Ia tepuk bahu ayahnya dengan cepat.
"Ayah cepat lari, wanita jahat itu mengejar kita," ucapnya sambil melihat Grace yang berlari menyusulnya.
__ADS_1
"Aku akan datang ketempat mu besok," sahutnya pada Grace.
"Ayah jangan datang! Dia akan menyuntik Ayah. Percaya pada Loli, di suntik itu sangat sakit," ucapnya menggebu-gebu.