
Kepala Loli memanas. Air matanya semakin bertambah deras. Suaranya jeritannya semakin bertambah kuat.
Menariknya hingga tercabut dan menggundulinya sama-sama menghilangkan rambutnya.
Pagi ini seisi rumah menuju penampilannya. Tapi disekolah, rekannya menyebut rambutnya jelak.
Loli benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Ia merindukan Ayahnya. Jika Ayahnya ada, dia akan memukul anak laki-laki itu.
"Kamu jahat! Rambut Loli sangat indah. Ayah menuju rambut Loli. Kamu! Kamu yang sangat jelek. Loli akan bilang pada Ayah jika kamu menganiayaku, Ayahku akan langsung membunuhmu!" teriaknya. Wajahnya sudah penuh dengan air mata. Tangannya menunjuk ke arah Arga.
Guru itu semakin pusing. Beruntung ruangan kelas dilengkapi dengan alat pengendap suara.
"Diam!" pekiknya.
Seisi kelas menjadi hening. Hanya terdengar suara sesegukan dari anak perempuan yang mencoba menghentikan tangis mereka.
Loli dan Arga saling beradu tatapan tajam. Sinyal mata mereka saling memberi isyarat kebencian.
"Loli, dengarkan Ibu guru. Tidak ada yang akan menarik rambutmu. Kamu hanya cukup duduk disisi Arga. Jika kamu nakal, ia akan mengganggumu, tapi, jika kamu bersikap baik dia tidak akan mengganggumu. Mengerti?" ucapnya memberi perhatian.
"Tapi, kata Ayah ...," sahutnya sesegukan.
"Ayahmu hanya menggodamu. Ayahmu tidak ingin putrinya yang cantik ini didekati laki-laki selain dia. Ayahmu sangat mencintaimu," ucap guru itu.
"Ayah sangat mencintai Loli," rancunya.
"Ya, Ayahmu sangat mencintaimu. Ayahmu tidak ingin putri cantiknya didekati pria lain," jelas guru itu. "Kamu mengerti?" tanyanya.
"Ya, Loli mengerti. Orang dewasa berbohong saat mereka mencintai seseorang," ucap Loli semangat.
Guru itu terdiam, tidak tau harus mengatakan apa lagi. Pikiran anak-anak benar-benar sangat luar biasa.
__ADS_1
"Sekarang kamu ingin duduk dengan rekanmu?" tanya guru.
"Tidak! Ayah akan sedih, Ayah menangis karena Loli tidak mendengarkan perkataannya," bantahnya dengan tegas. Kepalanya menggeleng dengan kuat.
Anak perempuan yang lain juga ikut menyetujui ucapan Loli.
Sekarang guru membagi siswa menjadi 2 kelompok. Laki-laki dan perempuan, barulah setelah itu kelas menjadi tenang.
"Sekarang, kita mulai perempuan pertama kita dengan perkenalan diri. Dimulai dari Miss guru, nama Miss adalah Anastasia, kalian bisa panggil Miss, Miss Ana," ucap guru itu memperkenalkan diri. "Sekarang, angkat tangan kalian, kita lihat, siapa yang pertama kali akan memperkenalkan diri," lanjut Miss Ana.
Semua anak mulai mengangkat tangan mereka, berlomba siapa yang pertama kali memperkenalkan diri.
Miss Ana berpikir ia lalu menunjuk kearah anak laki-laki yang duduk di sisi kiri. "Kamu, dimulai dari kamu,"
"Yeay!" pekiknya. "Namaku Leo, Ayah sangat suka memanggilku singa. Ayah bilang aku seperti singa yang selalu melindungi Ibu," ucapnya memperkenalkan diri.
"Selanjutnya."
"Arga Gantara. 5 tahun," ucapnya singkat. Matanya menatap bosan ke arah Miss Ana.
Arga menatap tajam pada Loli. Tatapnya penuh permusuhan ke arah Loli. Loli tidak mau kalah, ia meleletkan lidahnya ke arah Arga.
"Baiklah, mungkin teman kita yang satu ini tidak suka berbicara, selanjutnya," ucap Miss Ana menghentikan perdebatan mata antara Loli dan Arga.
"Namaku Zian, Ayah dan Ibuku memanggilku Abang. Aku memiliki satu Adik perempuan," ucapnya malu-malu.
"Apa itu Abang? Dan apa itu Adik perempuan?" tanya Loli. Ia terbiasa disekelilingnya Ibunya hingga tidak banyak mengetahui tentang dunia luas.
"Abang sebutan untuk kakak laki-laki dan aku adalah kakak laki-laki. Adik perempuan merupakan saudaraku, Ibu dan Ayah mendapatkannya seperti ia mendapatkanku. Ibu bilang hanya anak baik yang bisa mendapatkan Adik perempuan sepertiku," jelasnya sambil menunduk. Ia terlalu pemalu, ia selalu tinggal bersama orang tua dan Adiknya, ini pertama kalinya ia berinteraksi dengan orang yang tidak ia kenal.
"Apakah Loli bisa memiliki Adik?"
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab. Bahkan Miss Ana hanya menghela nafas. "Oke, selanjutnya," ucapnya.
Loli cemberut, ia tidak tau kenapa orang-orang tidak menjawab pertanyaannya. Apakah orang ini terlalu bodoh hingga tidak menjawab pertanyaannya?
"Namaku Gio, aku tinggal bersama Ibu dan Ayah dan banyak pelayan. Ibu dan Ayah jarang pulang kerumah, aku selalu bermain dengan pelayan. Mereka juga sangat menyukaiku," ucapnya. Karena masih kecil, anak-anak belum terlalu mahir berhitung. Apalagi untuk anak orang kaya, orang tua mereka terlalu rajin mengganti pelayan.
"Aku! Namaku Rain. Rain berarti hujan. Ayah memberiku nama Rain karena aku lahir saat hujan. Saat itu Ayah dalam perjalanan, Ibu dirumah menunggu Ayah, tapi yang datang adalah aku," jelasnya bersemangat. Tangannya bahkan ikut mendeskripsikan apa yang ia pikirkan.
"Kenapa Ibu memberi nama Loli? Apakah Loli datang karena saat itu Ibu sedang makan gula-gula Loli?" tanyanya yang mendapatkan gelengan dari anak lain.
Tapi, Rain lalu mengangkat tangannya. "Tanyakan pada Ibumu, dia pasti mengetahui jawabannya," jawabnya.
"Tapi Loli tidak tau dimana Ibu," ucapnya sedih.
"Kemana Ibumu? Apakah dia jarang pulang seperti Ibu Gio?" tanya Rain heran.
"Tidak, Ibu Loli sangat baik. Ia selalu pulang kerumah setiap saat. Tapi, beberapa hari ini Loli kehilangannya, Loli sangat sedih," jawabnya sendu. Matanya mulai berkaca-kaca.
Beberapa anak ikut terhanyut suasana sedih yang Loli bawa.
"Apakah Ibumu di culik orang jahat? Jika ia, kamu harus meminta bantuan paman polisi. Aku pernah melakukannya, saat itu salah satu anak anjingku menghilang, lalu Ayah menelpon polisi memintanya mencarikan anjingku, tidak lama setelah itu anjingku kembali," ucap Leo panjang lebar.
Pikiran Miss Ana bercabang. Polisi mencari anak anjing? Apakah polisi jaman sekarang sudah berpindah profesi. Entah bagaimana orang kaya bisa bersikap semena-mena itu.
"Benarkah? Maka Loli akan meminta Ayah menghubungi Paman polisi untuk menemukan Ibu. Loli akan kembali bermain bersama Ibu. Ibu Loli juga hebat membuat masakan yang enak, jika Ibu Loli kembali, Loli akan memintanya memasak makanan yang sangat enak," ucapnya ceria. Wajahnya memerah karena ia sangat bersemangat.
"Baiklah, cukup. Sekarang kita akan meminta anak perempuan untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing. Dimulai dari Loli," ucap Miss Ana menghentikan kekonyolan yang dilakukan anak-anak orang kaya.
Cukup. Ini bukan pertama kalinya ia mengajar anak kecil, tapi kali ini, belum satu hari ia menyelesaikan kelas kepalanya sudah seperti ingin pecah.
"Miss Ana, apa yang harus Loli katakan?" tanyanya bingung. Mata bulatnya menatap polos pada Miss ana. Jika orang lain pertama kali melihatnya orang lain pasti beranggapan orang tuanya bangga memilikinya.
__ADS_1
Tapi sekarang, Miss Ana pikir sangat wajar jika Ibu anak itu kabur. Siapa yang tahan dengan pertanyaan yang tiada habisnya yang anak ini tanyakan.
"Ceritakan tentang diri Loli yang Loli tau. Beritahu teman-temanmu seperti apa keseharianmu. Kamu juga bisa memberitahu temanmu mengenai kesukaanmu," jelas Miss Ana.