
Sergan tiba di rumah dengan cepat. Ia lalu membawa Loli yang tertidur ke kamarnya.
Sergan lalu berjalan menuju ruang kerja miliknya. Ia tadi sempat melihat mobil milik Andi.
"Informasi apa yang kau dapatkan?" tanya Sergan begitu melihat Andi ada di ruangannya.
"Saya menemukan seorang wanita yang mengenal seseorang yang baru saja kehilangan putrinya," ucap Andi seraya menyerahkan dokumen pada Sergan.
"Ia mengatakan wanita itu sudah tidak masuk sejak kehilangan putrinya. Ia sudah mencoba melapor ke kepolisian, tetapi tidak ada harapan, pusat kota terlalu luas. Belakangan ini, ia juga baru di usir oleh pemilik kontrakan karena tidak melunasi bayar sewa," lanjut Andi. Ia mencoba membaca ekspresi yang Sergan tampilkan. Tidak jelas, tapi ia tau Sergan khawatir pada wanita itu.
"Dimana wanita itu sekarang?" tanya Sergan dengan pelan. Ia menatap foto wanita itu dengan lekat. Terlihat tidak asing.
"Kami masih menelusurinya. Wanita itu menjual ponselnya dan membuat kami kehilangan jejaknya," jawab Andi seraya menunduk.
"Apa ... kemungkinan terburuk?" tanya Sergan terpotong. Hatinya sakit mendengar nasib wanita itu. Ia mulai mengutuk dirinya sendiri karena bersenang-senang dengan Loli, sedangkan wanita itu menjadi menderita.
"Wanita itu merupakan anak panti. 5 tahun lalu ia ketahuan hamil tanpa suami, ia mulai dilirik hingga diusir dari panti asuhan. Usianya masih 17 tahun saat itu, dari tekanan yang selama ini wanita itu terima tidak menutup kemungkinan ia menjadi ... gila," tutur Andi dengan nada yang sangat pelan pada akhir kalimatnya.
Sergan menunduk. Ia meremas foto wanita itu dengan seragam sekolah seraya tersenyum.
Sergan mencoba menggali ingatannya saat ia mencoba memperkosa wanita lain atau apapun. Tapi tidak ada apapun yang Sergan ingat.
"Keluarlah," usir Sergan.
Andi membungkuk sebelum ia melangkah keluar dari ruang kerja Sergan.
Setelah mendengar suara pintu yang terkunci otomatis, Sergan segera mengambil tongkat bisbol memiliki.
Menghancurkan semua botol alkohol yang ia miliki. Bukan hanya itu, Sergan juga mulai menghancurkan jendela-jendela diruang kerjanya. Membutuhkan banyak usaha, tapi Sergan berhasil memecahkan beberapa jendela.
Andi yang masih ada didepan ruangan Sergan menatap dingin kedepannya.
Ia lalu menghubungi petugas kebersihan yang selalu membersihkan ruangan Sergan saat ia marah.
"Datanglah malam ini, dua jam lagi. Pastikan selesai sebelum pagi," perintah Andi lalu menutup sambungan teleponnya.
Ia mengalihkan tatapannya pada kamar milik Sergan.
"Sungguh, anak yang beruntung," gumam Andi lalu melangkah meninggalkan rumah Sergan.
Ia mengambil Treasurer Luxury Black, jenis rokok dengan bungkus berwarna hitam, putih dan emas yang terlihat elegan.
Sergan terbaring ditengah ruangan dengan nafas terengah.
Seluruh ruangannya sudah hancur berantakan. Lantai yang lengket karena alkohol tidak Sergan hiraukan.
Tubuhnya yang menimpa beling juga tidak ia hiraukan. Ia lalu mengangkat tangannya. Membuka pada kepalan tangannya yang masih menggenggam foto wanita itu.
"Maaf," gumam Sergan seraya membawa foto itu ke wajahnya.
__ADS_1
Sergan lalu menangis sesegukan. Menyesali perbuatannya pada wanita itu.
Andai. Andai saja ia ingat saat ia menodai wanita itu, ia tidak akan membiarkan wanita itu menanami hidupnya seorang diri.
Seorang siswi berprestasi tiba-tiba dikeluarkan dari sekolah karena terjerat kasus hamil.
Hati Sergan sakit mengingatnya. Wanita itu bahkan tidak bisa menyelesaikan pendidikannya karena mengandung anaknya.
Anak yang bahkan tidak ia ketahui keberadaannya.
Wanita itu hebat, ia bisa mendidik Loli menjadi anak yang sangat pintar.
Entah sekeras apa kehidupan yang selama ini wanita itu alami.
Sergan berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menemukan wanita itu dan membuatnya bahagia.
Ia akan memperlakukan wanita itu dengan sangat baik demi menebus dosanya.
****
Loli duduk menahan kantuknya. Ia baru saja terbangun karena haus. Setelah mengambil minum dari kulkas kecil yang ada di kamar Sergan ia menatap sekeliling mencari Ayahnya.
Dengan langkah kecil Loli berjalan menuju pintu, ia harus berjinjit dulu untuk mencapai handle pintu.
Tujuan pertama Loli adalah ruang kerja milik Ayahnya.
Setelah mengetuk pintu dan memanggil nama Ayahnya beberapa kali, Loli masih tidak mendapat jawaban.
Pintu itu di sistem tidak bisa mengedarkan suara keluar atau pun masuk.
Loli lalu berlari menuju kamarnya, membawa kursi plastik kecil yang sering ia mainkan.
Ia lalu menekan bel yang ada di dinding ruang kerja Ayahnya.
Saat mendengar pintu akan terbuka, Loli segera melompat turun.
Ekspresi tersenyum yang menanti Ayahnya seketika hilang melihat penampilan Ayahnya.
Loli juga langsung menutup hidungnya saat mencium aroma yang sangat menyengat.
Sergan terkejut melihat Loli ada didepan ruangannya.
"Pergi ke kamarmu, akan akan segera kembali," ucap Sergan lalu menutup pintu dengan cepat.
Sergan langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di ruangannya.
Membersihkan dirinya dengan cepat agar bisa memberikan putrinya pengertian.
Sergan meringis saat air dingin itu membasahi lukanya. Sepertinya ia harus menghubungi dokter terlebih dahulu.
__ADS_1
Bodohnya dia, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan Loli begitu lama.
Sepulas apapun Loli tidur ia akan tetap terbangun jika tidak ada seseorang disisinya.
Loli yang masih syok dengan kondisi Ayahnya langsung melangkah pergi menuju kamar.
Ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan Ayahnya. Ia juga sekilas melihat darah di tangan Ayahnya.
Sambil memainkan rubik yang ia ambil di nakas, ia menunggu Ayahnya.
Loli hampir saja tertidur lagi jika tidak mendengar suara pintu terbuka.
Ia melihat Ayahnya masuk dengan di perban.
"Ayah, ada apa?" tanya Loli terkejut.
Ia langsung turun dari ranjang dan menghampiri Ayahnya.
"Tunggulah dulu, aku akan memakai pakaianku," ucap Sergan.
Lolo terdiam, dengan langkah gontai ia berjalan menuju ranjang kembali.
Loli menunggu Ayahnya dengan bosan. Ia sudah menunggu lama Ayahnya bersiap, sekarang Ayahnya kembali memintanya menunggunya mengunakan pakaian.
Tanpa sadar Loli tertidur. Dengan posisiku duduk tersandar, ia tertidur pulas.
Sergan yang baru saja keluar dari ruang ganti, menghela nafas melihat putrinya tertidur.
Ia memperbaiki posisi tidur putrinya. Sergan lalu membaringkan tubuhnya disisi Loli. Tidak lupa, ia mendekap tubuh Loli diperlukannya.
Sergan juga mengecup kening Loli dengan sayang.
Perasaannya masih kalut, ia masih merasa bersalah pada wanita itu dan Loli.
Bagaimana mungkin selama ini ia bisa hidup dengan bergelimang harta.
Sedangkan anak dan wanitanya harus bekerja keras untuk makan.
Di malam yang sunyi, dengan mendekap tubuh putrinya Sergan menangis.
Menangisi dirinya yang terlihat sangat brengsek.
Dilain sisi, Eliza juga sudah mengetahuinya.
Saat petugas kebersihan datang ia terkejut melihat ruang kerja Sergan berantakan.
Ia pikir ada penyusup masuk dan ingin mengambil dokumen perusahaan.
Ia lalu mengambil foto yang sudah hancur karena remasan tangan.
__ADS_1
Ia juga melihat dokumen yang masuk tertata rapi di atas meja Sergan.
Hanya ada berkas itu. Eliza lalu mengambilnya, membacanya dengan ekspresi tidak terbaca.