Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Bertemu ibu


__ADS_3

Loli pergi sekolah di antar oleh Sergan. Ia sangat senang karena Ayahnya sangat jarang memberinya waktu.


Loli meminta Ayahnya memutar lagu anak-anak untuknya. Ia bernyanyi mengikuti irama lagu.


Sekali-kali ia akan menatap keluar melihat kemacetan ibukota.


"Ayah!" Loli berteriak seraya menunjuk ke luar jendela.


Karena kondisi macet, itu memudahkan Sergan menghentikan mobil secara mendadak karena ia membawa mobil dengan perlahan.


"Jangan berteriak seperti itu, itu sangat berbahaya," perintah Sergan.


Loli tidak acuh, ia tetap menunjuk ke arah depan toko.


"Itu! Itu Ibu, Ayah!" serunya seraya mencoba membuka pintu mobil.


Sergan bersyukur ia ingat untuk mengunci mobil itu, ia lalu mencari celah untuk bisa menemukan mobilnya.


Dia terkejut tentu saja, tapi keselamatan mereka jauh lebih penting.


Setelah mendapat posisi yang pas, Sergan lalu turun dan membuka pintu untuk Loli yang terus saja berteriak dari tadi.


Loli langsung berlari menuju gang kecil yang ada disisi toko. Ia yakin melihat Ibunya berjalan ke arah gang itu tadi.


"Loli tunggu!" teriak Sergan seraya mengejar Loli.


Tidak tidak acuh, ia terus berlari dengan kaki kecilnya.


Loli melihat seorang wanita terduduk di gang itu dengan kondisi berantakan.


Matanya menatap kosong ke depan. Ia juga menggigiti jari-jarinya.


"Ibu." Loli memeluk tubuh wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu tampak risih dengan pelukan Loli. Ia lalu mencoba melepaskan pelukan itu.


"Jangan sentuh aku," ucapnya lirih.


Sergan menjauhkan Loli dari wanita itu. Ia memberontak sambil memukul tubuh Ayahnya.


Sergan mengamati wanita dihadapannya.


Bajunya sangat kumuh penuh lumpur. Rambutnya kusut tidak terawat. Wajahnya sangat kusam hingga Sergan hampir tidak mengenalinya.


Sergan menjauhkan tangan wanita itu yang ia gigit. Tangannya sangat kotor hingga takut wanita ini sakit perut.


"Siapa nama kamu?" tanya Sergan.


Wanita itu tidak menjawab. Ia menelungkup kan wajahnya.


Sergan tidak mengerti kondisi wanita itu. Ia lalu mencoba membangunkan wanita itu.


Wanita itu mencoba menolak, tetapi, karena tubuhnya lemah, itu tidak bisa menandingi tenaga Sergan.


Loli membersihkan kursi belakang yang penuh sampah makanan miliknya. Ia menyiapkan bantalan untu Ibunya merasa nyaman.


Sergan datang sambil menggendong tubuh Ibu Loli. Wanita itu mencengkram jas yang dengan erat seraya menatap takut kebawah.


Sergan lalu meletakkan wanita itu dengan pelan ke kursi belakang.


Sergan lalu duduk di kursi pengemudi setelah menempatkan Loli disisinya.


"Ayah, kemana kita membawa Ibu?" tanya Loli setelah Ayahnya menghidupkan mesin mobil.


"Kita akan membersihkan Ibumu terlebih dahulu sebelum membawanya ke rumah sakit," jawab Sergan. Ia tidak menatap Loli karena sibuk mencari celah untuk mobilnya memutar arah.


"Tapi Ibu tidak suka rumah sakit, Ayah," ucap Loli membuat Sergan menghentikan kegiatannya sejenak.

__ADS_1


"Ayah akan membawa dokter ke rumah," ucap Sergan.


Loli lalu hanya mengangguk mengerti. Ia menatap Ibunya yang tampak menatap aneh sekelilingnya.


"Ibu," panggil Loli yang tidak di acuhkan oleh Ibunya. Wanita itu tetap sibuk dengan kegiatannya menatap sekitar.


"Ayah, apa yang terjadi pada Ibu?" tanya Loli sedih.


Sergan menatap putrinya. Matanya sudah memerah ingin menangis. Putrinya pasti sangat merindukan wanita itu. Ada secuil perasaan iri pada wanita itu karena perhatian yang Loli berikan padanya. Loli bahagia tidak segan memeluk wanita itu yang tampak sangat berantakan. Jika tidak ada pengharum mobil, mobil itu pasti akan sangat pengap dengan aroma tidak sedap yang wanita itu bawa.


"Ayah tidak tau, kita akan mengetahui setelah dokter memeriksanya," jawab Sergan.


Loli menghela nafas. Ia lalu membuka sabuk pengaman yang ia gunakan membuat Sergan melotot padanya.


Loli lalu pindah ke kursi belakang. Tanpa canggung, ia memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Tidak lama, terdengar suara isak tangis yang Loli keluarkan.


Wanita tampak takut pada Loli. Ia mencoba melepaskan belitan tangan Loli yang memeluk tubuhnya.


"Ibu ... maafkan Loli," ucapnya di sela tangisnya.


Wanita itu tidak melakukan apapun lagi. Ia hanya menatap Loli yang menangis di pelukannya.


Sergan menggigit lidahnya melihat kejadian itu. Ia tidak bisa menghentikan tangis Loli karena jalanan semakin tidak memungkinkannya untuk menghentikan mobil.


Entah karena naluri seorang Ibu, tangan wanita itu mengusap puncak kepala Loli dengan lembut.


Gerakannya kaku seperti itu pertama kalinya ia melakukannya.


Tangis Loli semakin keras, ia semakin menenggelamkan wajahnya ke pelukan Ibunya.


"Loli sangat merindukan, Ibu," ucapnya pelan.


****

__ADS_1


follow Ig : humanhalyu


Facebook : humanhalyu


__ADS_2