
"Loli! Kamu menggambarkannya dengan sangat indah," puji Selina melihat hasil gambar Loli.
"Loli membuatnya dengan waktu yang sangat lama. Ayah juga memarahi Loli kerena terlalu sibuk dengan gambar ini," adu nya pada Selina.
"Apa Ayahmu cemburu pada gambar mu?" tanya Selina.
"Cemburu? Mengapa Ayah cemburu dengan gambar Loli?" tanya Loli kembali.
"Daddy ku sering merasa cemburu jika Mommy terlalu sering memintaku belajar. Ia mengatakan ia cemburu karena tidak bisa menghabiskan banyak waktu denganku," jelas Selina
"Jadi Ayah cemburu pada Loli? Tapi Loli sudah menghabiskan banyak waktu dengan Ayah sepanjang hari," gumam Loli.
"Benarkan? Apa Ayahmu sangat menyayangimu hingga ia ingin selalu bersama denganmu?" tanya Selina penasaran.
Kepala Loli menggeleng.
"Itu sungguh kau yang membuatnya?" Biana dan Carole berjalan kearah Loli dan Selina. Tatapannya mengejek kearah gambar yang Loli buat.
"Ya, Loli membuatnya sendiri," sahut Loli lalu menyimpan buku gambar miliknya.
Loli diberi tahu Zian untuk tidak terlalu dengan dengan Biana dan Carole. Mereka itu sangat licik, ucap Zian saat itu.
"Kenapa kau menyimpan gambar mu? Apa kau takut ketahuan jika itu dibuat oleh Ayahmu?" tanya Biana mengejek. Ia menertawakan Loli seraya menatap kearah Carole yang menatap tajam Loli.
"Ayah tidak membatu Loli. Ayah bahkan sibuk dengan pekerjaannya saat Loli menyelesaikan gambar ini," bantah Loli. Suara imutnya terdengar marah saat mengatakan itu.
Loli kembali teringat dengan Angle yang suka mengejek dirinya. Biana dan Carole terlihat mirip dengan Angle.
"Tidak mungkin. Kau tidak mungkin membuat gambar sebagus itu. Jangan berbohong, itu tidak baik Loli," tudung Carole dengan nada sombong khas dirinya.
"Loli tidak berbohong! Loli sungguh membuat gambar ini sendiri," pekik Loli tidak terima.
Suara pekikan Loli membuat perhatian siswa lain terarah ke mereka.
Zian yang melihat Loli kembali bersitentang dengan Biana dan Carole melangkah cepat kearah Loli.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan pada Loli?" Bukan Zian tapi Gio. Ia yang selama ini selalu mengamati tingkah Biana dan Carole yang suka mencari gara-gara dengan Loli membuka suara.
"Apa yang aku lakukan? Aku hanya meminta anak ini untuk tidak berbohong. Sayang sekali, ia masih terlalu kecil untuk berani berbohong," bela Carole seraya menatap merendahkan kearah Loli.
Loli dengan wajah memerahnya menatap kearah Carole dan Biana. Tangannya yang memeluk tasnya terkepal dengan erat.
"Loli tidak berbohong!" teriak Loli. Air matanya jatuh tepat setelah ia berteriak.
Carole dan Biana terkejut. Mereka tidak menyangka Loli akan menangis hanya karena ejekan mereka.
Orang tua mereka tidak melarang mereka untuk mengganggu Loli. Tapi tidak secara berlebihan.
Keluarga Meneer berpengaruh akan bisnis mereka. Meskipun rumor mengatakan Sergan memiliki anak haram, tetap saja mereka harus berhati-hati dalam mengambil langkah.
"Apa yang terjadi?" Miss Ana masuk diikuti kepala sekolah.
"Loli apa yang terjadi?" Miss Ana terkejut saat salah satu muridnya menangis. Apalagi ini merupakan murid yang sangat berpengaruh dikelas.
Loli tidak mengatakan apapun. Ia menangis sesegukan seraya memeluk tas miliknya. Miss Ana memeluk tubuh Loli yang bergetar.
Sepertinya kedua muridnya itu menyimpan dendam atas kejadian tempo hari.
"Biana, Carole, ikut Miss. Miss tidak bisa mentoleransi perbuatan kalian," ucap Miss Ana tegas. Ia lalu mengangkat tubuh Loli kedalam gendongannya.
Biana gemetar ketakutan. Ia tidak tau jika ajakan Carole untuk sedikit mengerjai Loli akan berakhir seperti ini.
Berbeda dengan Carole yang semakin menyimpan amarah dalam dirinya. Ia mengepalkan tangannya seraya menatap tajam punggung Miss Ana.
"Apa yang kalian tunggu, segera ikuti Miss Ana. Saya akan mengambil alih kelas," perintah kepala sekolah. Saat itu ia sedang di ruangan Misa Ana, jadi ia juga melihat kedua siswa ini yang mendekati siswa yang menangis tadi.
Dengan langkah kecil mereka, mereka melangkah mengikuti Miss Ana.
Tubuh Biana menegang, ia takut jika Mami dan Papinya datang ke sekolah karena masalah yang ia lakukan.
Sesampainya di ruangan Miss Ana, mereka duduk di sebuah sofa panjang yang selalu ada di setiap ruang guru. Ini disiapkan jika ada siswa yang bermasalah langsung tangani oleh wali kelas masing-masing, karena wali kelas lah yang paling mengerti karakter siswanya.
__ADS_1
"Cerole, Biana, kalian menyadari kesalahan kalian?" tanya Miss Ana membuka pembicaraan.
Sebelum Biana membuka suara Carole mendahuluinya. "Kesalahan apa yang kami lakukan, Miss? Loli lah yang melakukan kesalahan karena ia berbohong," sela Carole.
"Loli sudah mengatakan itu gambar yang ia buat sendiri, dan kamu tidak ada hak untuk menuduhnya seperti itu. Kamu tau? Perbuatan mu bisa saja membuatmu diturunkan kelelahan B," lontar Miss Ana.
"Saya tidak melakukan kesalahan kenapa saya harus diturunkan ke kelas B. Loli berbohong, tidak mungkin ia bisa menggambar itu," bantah Carole semakin keras. Ia menunjuk kearah Loli yang hanya bisa tertunduk sambil sesegukan.
"Carole cukup! Apa yang kamu lakukan sudah masuk kategori perundungan. Sekolah tidak mentolerir perundungan sekecil apapun. Kami mendidik anak dengan IQ di atas anak lainnya. Kami sudah mengetahui semua kemampuan setiap siswa di sekolah ini. Seperti kami yang berbakat dalam menyanyi, begitu juga Loli yang berbakat dalam bidang menggambar," cecar Miss Ana.
Saat pendaftaran sekolah, setiap orang tua diwajibkan memberitahu kemampuan anak mereka agar menjadi tambahan nilai mereka untuk belajar di sekolah ini, dan Sergan melakukannya. Selain memberikan rekaman saat Loli menggambar, ia juga memberikan sekolah fotokopi hasil gambar Loli.
Carole terkejut Miss Ana mengetahui kemampuannya. Sekarang ia takut jika Loli benar-benar tidak berbohong. Tamatlah riwayatnya.
"Miss sudah cukup mentolerir sikap kamu yang selalu kurang ajar. Sekarang, Miss akan menghubungi orang tua kamu untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut," ucap Miss Ana pada Carole dan Biana.
Miss Ana lalu menyentuh bahu Loli, membuat Loli menatapnya dengan mata merah membengkak.
"Loli ingin bertemu Ayah?" tanya Miss Ana hati-hati.
Sergan sudah seharusnya hadir disini. Dia yang akan memutuskan tindakan apa yang akan diambil untuk mengadili kedua anak itu.
"Ta- tapi Ayah sedang bekerja," ucap Loli terbata.
"Ayah akan datang untuk Loli," bujuk Miss Ana seraya tersenyum.
Sergan sudah memintanya secara pribadi untuk selalu menghubungi mengenai setiap masalah yang berhubungan dengan Loli.
Sergan juga memintanya memperlakukan Loli seperti siswa lainnya.
Loli mengangguk pelan. "Lo- Loli mau Ayah," pintanya lalu kembali menangis.
Miss Ana menepuk pundak Loli menenangkannya. Ia lalu mengirim pesan kepada penjaga sekolah untuk menghubungi ketiga orang tua siswa ini.
Penjaga sekolah memang selalu melakukannya. Karena ia yang memegang akses keluar masuk sekolah ia jugalah yang secara langsung menghubungi orang tua siswa jika terjadi masalah seperti ini.
__ADS_1