Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Chapter 27


__ADS_3

"Ayah!" panggil Loli saat melihat Ayahnya baru saja pulang dari kantor.


"Ada apa? Baik-baik saja di sekolah?" tanya Sergan seraya mengangkat tubuh putrinya.


"Baik-baik saja. Loli suka sekolah, tapi Loli juga rindu ayah," adu nya manja sambil mengalungkan tangannya pada leher Sergan.


"Ayah juga sangat merindukanmu, dan Ibu mu," ucap Sergan mengecup rambut putrinya.


"Ayo kunjungi ibu. Loli juga sangat merindukan ibu," ucap Loli semangat. Ia bahkan langsung tegak dan menunjuk ke depan dengan penuh semangat.


Sergan tersenyum melihat semangat putrinya. Sempat ada ke khawatiran dalam dirinya Loli tidak bisa menerima kondisi Diana, namun ia melupakan satu hal, bahwa Loli adalah putrinya. Mereka tidak akan menyerahkan sebelum mendapatkan apa yang mereka mau.


Jika Loli menginginkan ibu nya, ia harus menerima bagaimana pun kondisi ibunya.


Sergan dan Loli memasuki kamar Diana. Tampak Diana yang sedang makan cemilan milik Loli sambil melihat film kartun yang ditayangkan di televisi.


Saat Diana melihat Loli dan Sergan masuk, ia dengan cepat memungut cemilan yang memenuhi ranjangnya dan menutupnya dengan selimut. Tatapannya seakan takut makanan miliknya diambil.


Loli tertunduk sedih melihat respon ibunya atas kedatangannya. Sergan yang melihat itu langsung mengusap kepala Loli untuk menenangkannya.


"Tidak apa. Ibu hanya takut Loli memakan makanannya," ucap Sergan membujuk Loli.


"Loli sedih. Bagaimana jika ibu sakit perut karena makan terlalu banyak cemilan. Nenek selalu melarang Loli makan banyak cemilan." Ucapan Loli membuat Sergan bangga pada sosok anaknya.


"Tidak apa. Ibu juga tidak akan sanggup menghabiskan semua makanan itu."


Diana mengurangi kewaspadaannya saat melihat dua orang yang memasuki kamarnya tidak mencoba mengambil makanannya.

__ADS_1


Ia lalu memungut beberapa cemilan dan membawanya ke kulkas yang ada di kamar itu.


.


"Lihat, ibu tidak mungkin memakan semua itu." Sergan berkata sambil menunjuk Diana yang sedang memasukkan cemilan ke dalam kulkas.


Loli mengangguk antusias melihat itu. Ia lalu turun dari gendongan Sergan dan berlari menuju Diana.


Awalnya Diana terkejut dengan kehadiran Loli, tapi saat melihat Loli membantunya memasukkan cemilan ke dalam kulkas ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setelah selesai, Diana menatap Loli dengan mata polosnya. Ia mengambil tangan Loli dan membawanya menuju ranjangnya.


"Lihat itu, itu lucu," ucap Diana sambil menunjuk ke arah televisi.


Sergan tidak bisa menahan air matanya saat melihat Loli tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Loli tersenyum sambil mengalungkan lengan kecilnya pada pinggang Sergan dan Diana. Mereka lalu menonton kartun bersama.


Sergan tidak bisa menahan kebahagiaannya saat itu, saat melihat Diana dan Loli tertawa bersama. Meskipun ia tahu, tawa Loli karena ia senang bersama ibunya.


****


"Bagaimana dengan Diana? Apa tindakan kamu selanjutnya?" tanya Eliza pada Sergan.


"Diana baik-baik saja. Ia akan meminum obat sesuai resep dokter," jawab Sergan. Ia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya di ruang tamu.


"Sergan, apa tidak sebaiknya kita serahkan Diana pada orang yang lebih ahli?" tanya Eliza perlahan.

__ADS_1


"Apa maksudnya Bibi?" Sergan langsung menghentikan pekerjaannya saat mendengar pertanyaan Eliza.


"Maksud ku, kita tempatkan Diana bersama tenaga yang lebih ahli agar ia bisa cepat sembuh. Kita tidak tau, apakah yang kita lakukan di rumah ini padanya benar atau tidak." Penjelasan Diana tidak bisa merubah raut wajah dingin Sergan.


Tanpa perkataan apa pun lagi ia langsung membereskan pekerjaannya dan meninggalkan Eliza seorang diri.


Eliza sadar. Itu merupakan bentuk penolakan Sergan. Sergan pergi bukan karena tidak peduli, tapi ia menghindari melakukan atau mengatakan hal yang membuat semuanya menjadi tambah buruk.


"Aku harus membujuknya. Aku tidak sanggup melihat cucuku menangis melihat perilaku ibunya," gumam Eliza pada dirinya sendiri.


Sergan masuk ke ruang kerjanya. Ia meletakkan berkas dan laptop miliknya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Langkah Sergan membawanya masuk pada kamar Diana.


Suasana hatinya seperti langsung membaik saat melihat dua wanita yang ia sayangi tertidur sambil berpelukan.


Sambil menonton kartun tadi, mereka memang melakukan makan malam di kamar Diana karena wanita itu tidak ingin bergerak dari posisinya.


Sergan mengecup kepala Loli dan Diana lalu mengusap kepala mereka.


Tatapan Sergan jatuh pada wajah Diana yang masih tampak kusam. Ia usap wajah itu dengan perlahan karena takut membangunkannya.


"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan tetap di rumah ini. Sembuh atau tidak, kamu akan tetap di rumah ini," ucap Sergan penuh keyakinan.


****


**Untuk pemanasan sedikit dulu aja, ya. Boleh baja chapter sebelumnya jika tidak mengerti dengan chapter ini.

__ADS_1


Jumpa besok lagi** ^_^


__ADS_2