Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
chapter 29


__ADS_3

"Dari beberapa hal yang baru saja anda jelaskan, itu bukan hal yang harus di terapkan pada pasien. Pasien yang mengidap sindrom Peter pan memang membutuhkan penanganan serius. Keinginan pasien tidak selalu harus kita ikuti. Sebagai contoh, saat pasien meminta mainan yang tentu saja tidak cocok dengan umurnya kita harus dengan paksa melarangnya. Layaknya kita merawat seorang anak yang akan beranjak dewasa, kita juga harus menerapkan pada pasien. Ibu Diana tidak bisa selalu di manjakan dan diikuti segala keinginan. Secara perlahan, Ibu Diana juga harus di perkenalkan dengan konsep bersikap dewasa," jelas seorang psikolog yang Sergan sewa untuk menangani terapi Diana.


"Apakah Diana bisa sepenuhnya sembuh?" tanya Sergan sambil menatap Diana yang tampak bosan duduk di sisinya.


"Cukup sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Dengan usaha pasien dan dukungan keluarga, semuanya akan berjalan dengan baik. Kondisi psikologis pasien yang baik juga sangat berpengaruh besar pada kesembuhan pasien."


Sergan menggenggam tangan Diana. Meskipun tidak mengerti, Diana membalas dengan mengapit tangan Segan dan meletakkan kepalanya pada pundak Sergan.


"Terima kasih. Kami pergi dulu," pamit Sergan.


****


"Ayah!" sambut Loli melihat mobil Sergan memasuki pekarangan rumah.


Sergan turun lalu membukakan pintu mobil untuk Diana, tidak lupa ia juga membukakan sabuk pengaman yang Diana gunakan.


"Sudah makan siang?" tanya Sergan seraya membawa tubuh Loli ke pelukannya.


Loli mengangguk antusias. Ia menatap Diana yang tampak riang sambil memeluk bungkusan.


"Apa yang ibu bawa?" tanya Loli sambil berbisik di telinga Sergan.


"Permen," balas Sergan berbisik.


"Ada untuk Loli?" tanya Loli


"Tentu," jawab Sergan yang langsung membuat senyum Loli merekah.


"Mana?" Loli menadahkan tangannya meminta permen.


"Kiss Ayah dulu."


Loli langsung mencium wajah Sergan dengan penuh semangat.


Sergan tertawa. Ia lalu menepuk tubuh Diana.


"Permen untuk Loli," ucapnya saat Diana hanya merespon dengan menatap Sergan bingung.

__ADS_1


Diana dengan setengah hati memberikan Loli sebungkus penuh permen.


"Yupi!" teriak Loli bahagia.


"Terima kasih, Ayah. Terima kasih," ucapnya pada Sergan dan Diana. Ia tidak berani lagi memanggil Diana dengan sebutan ibu, tapi ia juga tidak tau harus memanggil apa.


"Diana. Nama ku Diana," ucap Diana sambil mengajak Loli bersalaman.


Setelah mendapat respon anggukan dari ayahnya, Loli menyambut tangan Diana.


Loli turun dari gendongan Sergan. Ia lalu berjalan sambil menggenggam tangan Sergan dan Diana setelah menyerahkan sebungkus permen miliknya ke Ayahnya.


Loli tersenyum bahagia dan memamerkan genggaman tangannya mereka pada Eliza yang dari tadi memperhatikan interaksi mereka.


Eliza tersenyum melihat kebahagiaan Loli.


**


"Apa yang terapis itu katakan?" tanya Eliza pada Sergan.


"Diana terlalu keras kepala, akan sulit melakukan itu padanya. Ia akan semakin keras saat keinginannya tidak terpenuhi," tutur Eliza.


Tinggal dan mengurus Diana membuatnya bisa memahami sosok wanita itu. Diana dan Loli bisa dikatakan cukup mirip, tapi tetap saja, Diana jauh lebih keras dari pada Loli.


"Kita harus mencobanya secara perlahan. Tidak perlu langsung melarang, kita cukup mengurangi secara perlahan saja. Jangan buat ia merasa tidak nyaman."


Sergan pergi meninggalkan Eliza yang termenung. Ia sedikit khawatir dengan kondisi bibinya itu.


"Besok seorang perawat akan datang untuk membantumu," ucap Sergan tanpa ingin mendengar balasan dari Eliza.


Eliza tidak membantah ataupun menerimanya. Ia akan mengawasi perawat seperti apa yang Segan bawa.


Meskipun perawat bisa membantunya menangani Diana dan Loli, ia juga cukup khawatir jika perawat itu malah membahayakan Diana dan Loli.


Eliza membuang semua bayangan buruk yang ada di kepalanya. Setelah membersihkan tubuhnya ia lalu tertidur.


***

__ADS_1


"Bibi!" teriak Diana.


Sergan, Loli, dan Eliza yang mendengar teriakkan itu langsung berlari menuju kamar Diana.


"Ada apa Dian?" tanya Eliza yang sampai terlebih dahulu.


"Wanita itu! Wanita itu mencoba mengambil makananku," adu nya sambil menunjuk ke arah perawat yang Sergan sewa.


"Tidak Nyonya, saya hanya membersihkan sampah dan memisahkannya dengan yang masih utuh," elak perawat itu. Ucapannya terbukti dengan terpisahnya bungkus makanan yang sudah habis dengan makanan yang masih utuh.


"Diana, wanita itu adalah perawat. Ia akan membantumu mulai sekarang. Dia tidak mencuri, ia membersihkan kamar ini agar kamu merasa lebih nyaman," ucap Eliza sambil merapikan rambut Diana yang berantakan. Lagi-lagi ia menarik rambutnya.


"Ada apa, Bibi?" tanya Sergan yang baru datang bersama Loli.


Loli langsung memeriksa tubuh Diana karena takut ada sesuatu yang buruk menimpa Diana.


"Bukan apa-apa. Hanya salah paham."


"Aku ingin bersama Bibi, tidak mau wanita itu," ucap Diana tidak suka.


"Bibi akan selalu bersama kamu. Perawat itu hanya membantu kamu saat Bibi merasa lelah," jelas Eliza menenangkan Diana.


"Diana gak mau sama perempuan itu!" ucapnya keras kepala.


"Diana, lihat Bibi. Bibi lelah, Bibi butuh istirahat. Kalau Bibi sakit siapa yang urus kamu?" Eliza terus mencoba untuk membujuk Diana.


Diana menggelengkan kepalanya. Ia bingung. Ia tidak suka wanita yang di panggil perawat itu, ia juga tidak suka Eliza sakit.


Tanpa sadar Diana kembali mencoba untuk meremas rambutnya. Namun Eliza sempat menghentikannya.


Eliza menggenggam kedua tangan Diana. "Bibi tidak ke mana-mana. Bibi tetap di samping Diana saat wanita itu mengurus Diana."


Diana mengangguk dengan pasrah. Ia menatap tidak suka pada perawat yang menundukkan kepalanya itu.


Setelah menenangkan Diana, Eliza meminta Diana membersihkan diri.


Loli dan Sergan kembali ke kamar mereka untuk bersiap sekolah dan ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2