
Setelah memilih beberapa sekolah dan mengurus surat-suratnya, Loli dinyatakan sebagai siswa baru di salah satu taman kanak-kanak terkemuka.
Namanya di ubah menjadi Lolita Meneer. Setelah hasil tes DNA keluar dan Loli dinyatakan benar-benar anak Sergan, ia langsung mengurus segala surat tentang hak asuh.
Memakan cukup waktu yang lama. Tapi, dengan kekuasaan yang keluarga Meneer miliki semuanya berjalan dengan lancar.
Mengenai putri Sergan yang di temukan, masih belum tercium oleh publik. Itu karena keluarga mereka sangat menjaga kerahasiaannya.
Eliza pindah kerumah Sergan saat Loli dinyatakan merupakan putri kandung Sergan.
Ia yakin, Sergan tidak bisa mengurus Loli dengan benar, maka ia memutuskan bahwa ialah yang akan mengurusnya.
Pagi ini semuanya berjalan dengan heboh. Tepat pukul 6 pagi, Eliza berteriak memanggil semua pelayan.
Ia meminta mereka menyiapkan sarapan Loli, bekal makan siang, peralatan mandi, peralatan sekolah, bahkan mobil untuk mengantar jemput Loli.
Sergan pusing. Ia bukan seorang yang suka bangun pagi. Hari ini, karena suara Eliza, ia harus mengakhiri tidur nyenyaknya.
"Bibi, ini masih terlalu pagi," ucap Segan kesal. Ia mendatangi bibinya masih dengan menggunakan piama dongker.
"Apa yang pagi? Apa kamu tidak melihat matahari sudah naik? Bersiaplah, putrimu akan pergi kesekolah untuk pertama kalinya," sahut Eliza kesal. Matanya menatap fokus pada ponselnya yang menampilkan cara menjadi orang tua yang baik.
Eliza dengan fokus mendengarkan penjelasan itu.
"Bibi, sekolah anak-anak masuk pukul 8 pagi," ucap Sergan. Tangannya memijak kepalanya yang pusing.
"Lalu kenapa? Loli baru pertama kali masuk sekolah, ada banyak hal yang harus di siapkan," sahutnya santai.
"Anak itu bahkan masih tertidur nyenyak," cibir Sergan. Ia iri pada putrinya yang bisa tidur nyenyak disisinya. Entah kapan Eliza masuk ke kamarnya dan menyumbat telinga Loli agar ia tidake mendengar kekacauan yang dibuat Bibinya.
"Dia masih kecil. Dia butuh kualitas tidur yang cukup. Itu akan bagus untuk kulitnya." Eliza tau hal itu karena ia membacanya di salah satu buku parenting.
"Lalu aku? Aku juga butuh tidur yang berkualitas. Aku bekerja sepanjang hari, Bibi," bentak Segan. Tangannya menunjuk dirinya sendiri. Ia sekarang merasa ingin mengusir Bibinya itu keluar dari rumahnya.
"Apa itu urusanku, kau sudah besar. Urus dirimu sendiri," ucapnya tidak peduli. Ia lalu menghampiri pelayan yang menunggunya.
"Ada apa?" tanyanya pada pelayan itu.
__ADS_1
"Itu, Nyonya, air untuk Nona muda sudah siap," jawab pelayan itu sopan. Postur tubuhnya memperlihatkan bahwa ia sudah ahli dengan tugasnya.
"Bagaimana dengan cucuku?" tanya Eliza.
"Nona muda masih tidur, Nyonya." Ia bersyukur karena Nyonya Meneer sudah menyumbat telinga Nona muda, karena kegugupan mereka, bisa saja mereka melakukan kesalahan fatal.
"Bagus, sekarang mandikan dia. Sebisa mungkin jangan sampai ia terbangun. Cucuku hanya boleh bangun pada jam 7 pagi. Terserah kalian akan memandikannya seperti apa, selama ia tetap tertidur kalian aman." Tidak. Itu bukan hanya perintah tapi juga ancaman.
Lebih sederhananya, jika kalian membangunkannya, kalian mati.
Sekarang 5 orang pelayan itu memutar otak mereka. Bagaimana mana caranya memandikan seseorang tetapi orang tersebut tetap tertidur?
Jam 7 setengah, semuanya telah siap. Dengan 2 buah mobil yang sengaja Eliza persiapkan mereka berangkat beriringan.
Loli yang tidak mengetahui kehebohan seperti apa yang terjadi sebelum ia berangkat sekolah menikmati perjalannya dengan ceria.
Matanya berbinar menatap beberapa siswa yang menunggu angkutan umum ataupun berjalan bersama teman.
"Bibi, apakah sekolah menyenangkannya?" tanyanya pada Eliza. Ia menolak memanggil Eliza Oma karena Ayahnya manggilnya Bibi.
"Sangat menyenangkan. Kau akan mendapatkan banyak teman. Mereka akan menyukaimu karena kamu sangat cantik," jawabnya antusias. Matanya berbinar saat menjelaskannya pada Loli.
"Jauhi anak laki-laki."
"Kenapa, Ayah?" tanya Loli heran.
"Mereka akan menarik rambutmu hingga terlepas," jawabnya menakuti Loli.
Eliza melotot, bagaimana bisa anak bau yang ia rawat sejak kecil itu mengatakan hal sekejam itu pada anaknya sendiri.
Loli tidak ubahnya Eliza. Tangannya menyentuh rambutnya yang diikat rapi oleh bibi pelayan.
Ia dengan tegas mengangguk kepada Ayahnya. "Ya, Ayah. Aku tidak akan bermain dengan anak laki-laki. Aku akan menjauhi mereka sejauh mungkin," ucapnya tegas. Mata bulatnya menatap Sergan dengan serius.
Sergan tersenyum miring, tangannya menepuk kepala putrinya.
"Anak pintar."
__ADS_1
20 menit kemudian, mereka tiba di taman kanak-kanak. Banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di halaman.
Karena merupakan sekolah elit, hanya orang-orang dari kalangan elit lah yang bisa menyekolahkan anak mereka disana.
Orang tua bahkan harus menunjukkan identitas mereka sebelum mengunjungi anak mereka.
Semua itu tidak ubahnya untuk mengindari penculikan. Mereka berasal dari keluarga kaya. Menculik satu orang anak saja sudah cukup mengenyangkan perut mereka hingga ajal datang.
Supir yang menjemput dan mengantar siswa harus di verifikasi sebelum bisa membawa anak-anak pulang.
Untuk ukuran kelasnya, itu sudah seperti seperempat lapangan bola. Terbilang kecil, tapi untuk kelas yang hanya di isi 10 siswa itu jelas sangat besar.
Ada berbagai macam permainan yang disediakan dari setiap kelas.
Guru-guru terbaik dipilih dari beberapa kota. Ujian masuk yang sangat menyulitkan membuat para guru yang mengajar sangat profesional.
Eliza tidak bisa tidak bangga dengan kehebatan Sergan memilih sekolah. Semuanya terasa pas untuknya.
Di kelas Loli, ada 5 anak perempuan dan 5 anak laki-laki. Setiap kelas selalu di bagi perkelompok.
Tapi, setelah guru selesai membagikan kelompok. Loli menangis dengan keras.
Ia berteriak tidak ingin sekelompok dengan anak laki-laki. Sedangkan setiap anak mendapatkan pasangannya masing-masing.
"Ibu guru! Loli tidak mau! Loli tidak mau duduk dengannya!" teriaknya seraya menunjuk rekannya.
Arga, rekam Loli hanya bisa berdecak kesal pada Loli. Ia menutup telinganya karena suara Loli benar-benar sangat merusak pendengarannya.
"Mengapa kamu tidak mau? Anak lain sudah setuju dengan kelompok mereka masing-masing," sahut guru itu. Wajahnya tidak marah, ia bersikap lembut.
"Ayah bilang anak laki-laki akan menarik rambut Loli hingga terlepas. Loli tidak mau. Ibu guru tolong bantu Loli," ucapnya disela tangisnya.
Anak perempuan yang lain terkejut, dengan cepat mereka menjauh dari rekan mereka. Tangannya mereka mencengkram rambut mereka.
Mata mereka mulai memerah lalu berkaca-kaca, disusul dengan tangisan.
Sekarang, ruang kelas itu berubah menjadi sangat ribut. Satu tangisan anak perempuan sudah cukup membuat ruang kelas menjadi biang keributan. Sekarang, ditambah dengan empat jeritan lagi.
__ADS_1
Arga yang merasa dirinya tidak melakukan apapun segera melotot. "Aku tidak akan menarik rambutmu. Kau pikir rambutmu indah? Tidak rambutmu sangat buruk! Sangat buruk hingga aku sangat ingin menggundul rambutmu!" teriaknya pada Loli.