Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Kesialan tanpa akhir


__ADS_3

"Ayah, Loli sudah kenyang. Lihat perut Loli sudah membesar seperti sapi. Bisakah Loli tidur sekarang? Loli sangat mengantuk" ucapnya dengan mata sayu. Tangannya mengusap perutnya yang membuncit. Tubuhnya bersandar pada dasarnya Sergan.


Sergan menatap marah pada anak perempuan di depannya. Giginya bergeletakan melihat anak perempuan itu yang bersandar dengan santai di tubuhnya.


"Turun. Tidurlah di mobil," ucap Sergan dengan ketus.


"Aku ingin tidur dengan ayah. Pelukan ayah sangat hangat, sama seperti pelukan itu," sahutnya dengan mata tertutup. Tangannya dengan erat menggenggam jas yang Sergan gunakan.


Sergan menatap tajam pada Andi. Andi menatap takut pada bosnya itu. Kepalanya menggeleng tidak tau harus melakukan apa.


Sergan memutar matanya seraya menghela nafas. Tangannya mengangkat anak perempuan itu yang sudah tertidur pulas di pelukannya.


Dengan wajah kesal dibawanya anak perempuan itu. Dalam hati, tidak henti ia bersumpah serapah dengan nasibnya yang sangat sial hari ini.


Bibinya mungkin akan serangan jantung jika ia berkata bahwa ini putrinya. Tentu saja itu haik yang tidak mungkin Sergan lakukan.


"Pak, Nyonya Meneer menghubungi saya, apakah harus saya angkat?" tanya Andi. Wajahnya sedikit takut melihat raut wajah kesal pada bosnya.


"Itu ponsel kamu. Apa urusannya sama saya," sarkasnya.


Andi menipiskan bibirnya, di angkatnya panggilan itu.


"Kenapa kamu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menjawab panggilan saya?" pekiknya pada Andi.


"Maaf, nyonya," jawabnya pelan. Telinganya sakit hanya karena mendengar teriakan wanita dibalik telepon itu.


"Dimana bocah sialan itu?" tanyanya. Nada suaranya sudah ia turunkan.


"Pak Sergan baru selesai makan siang, nyonya," jawabnya. Tatapannya jatuh pada bosnya yang duduk di kursi penumpang sambil bersedekap. Wajahnya tenang entah apa yang ia pikirkan.


"Pastikan dia memiliki waktu untuk mencari istri," ucapnya dengan tajam.


"I- iya nyonya," sahutnya sedikit gagap.


Sambil mendengarkan rentetan nasihat Nyon Meneer, Andi masuk ke dalam mobil.


Percakapan yang akan Andi putuskan terhalang karena tendangan yang tidak sengaja Loli lakukan.


"Ayah! Loli mau pup!" teriaknya tiba-tiba.


Loli yang tadi terbaring dengan damai tiba-tiba terbangun dan berteriak dengan keras.


Andi dan Nyonya Meneer terdiam. Sedangkan Sergan sudah mulai mengeluarkan tanduknya.


"Kamu tahan dulu, sebentar lagi kita cari sampai di kantor," ucap Sergan sambil melotot.


Tidak bisakah anak ini diam dan tidak membuat keributan pikirnya.


"Ayah tidak bisa! Loli tidak bisa menunggu. Loli mau pup anterin Loli," ucapnya sambil merengek.

__ADS_1


Kakinya ia hentakan seraya tangannya memukul tuning Sergan.


"Merepotkan," gumamnya.


Sergan lalu menggendong Loli dan kembali membawanya masuk ke dalam kafe.


Pelayan kafe yang sudah mengenal Sergan sebagai langganan kafenya mengizinkan Sergan memakai toilet.


"Ayah itu toilet yang salah. Toilet perempuan ada di sebelah kanan," ucap Loli yang langsung membuat Sergan pucat.


Alisnya melengkung menatap pada anak perempuan di gendongannya.


"Saya tidak bisa masuk ke toilet sebelah sana," ucapnya seraya menunjuk ke arah toilet perempuan.


"Ayah, Loli juga tidak bisa masuk ke toilet sebelah sana," sahutnya sambil menunjuk ke arah toilet laki-laki.


Sergan mengurut dahinya ia sekarang bingung harus bagaimana.


"Ayah cepat! Loli sudah gak tahan," rengekannya.


Sergan lalu membawa Loli keluar dari area toilet.


"Ayah! Loli mau pup! Izinkan loli pup!" teriaknya dengan air mata yang sudah berlinang.


"Diam!" ucap Sergan penuh tekanan.


Sergan lalu meminta bantuan seorang pelayan kafe untuk membatu Loli menuntaskan keinginannya.


Sergan hanya bisa berdecak, tangannya mencubit pipi tembam kemerahan milik Loli.


"Sakit ayah!" pekiknya.


Sergan tidak menjawab, ia memberi isyarat pada pelayan itu untuk membawa Loli.


Sergan menunggu sambil menatap kesekeliling. Beberapa orang yang tadi menyaksikan dramanya masih ada di dalam kafe.


Saat ia mengedarkan pandangannya orang-orang mengalihkan pandangannya darinya.


Raut wajah sergan menjadi muram mengingat kejadian tadi.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, nama Bibi keluar sebagai penelpon.


Sergan engan untuk menjawab, tapi ia ingat bagaimana kegigihan Bibinya. Bisa saja ia menyusulnya sekarang.


"Ha-" ucapan Sergan terpotong karena Bibinya


"Anak nakal, aku baru saja meminta cucu padamu dan kau sudah memberikannya padaku!" teriaknya dari panggilan telepon.


Sergan menjauhkan ponsel dari telinganya. Bahkan pelayan yang di belakanganya terkejut mendengar teriakkan Bibinya itu.

__ADS_1


"Bibi, aku-"


"Apa? Mau mengelak? Jangan harap! Sekarang bawa anak itu kerumah atau aku akan membakar kantormu!" bentaknya lalu mematikan telepon.


Sergan menutup matanya. Tangannya terkepal marah. Ekspresinya sekarang sangat hancur.


"Tuan, Nyonya Meneer mendengar percakapan anda dengan nona Loli," ucap Andi dengan cepat. Ia baru saja berlari dari mobil dan langsung menemui bos nya setelah menyadari panggilannya dengan Nyonya Meneer baru saja terputus.


Sergan menatap tajam pada Anda. "Bagaimana kamu bisa tidak hati-hati?" bentaknya. Urat di sisi kepalanya terlihat dengan jelas.


Andi menunduk, ia tidak tau harus mengatakan apa sekarang.


"Ayah!" teriak Loli. Kaki kecilnya dengan cepat berlari menuju Sergan.


Andi yang merasa amarah bosnya masih meningkat dengan cepat mengangkat Loli dan membawanya ke pelukannya.


"Nona, saya akan membawa anda ke mobil," ucap Andi dengan cepat.


"Tapi paman-" ucapan Loli terhenti karena tubuhnya sudah berpindah ke pelukan Sergan.


"Siapa yang mengizinkanmu menyentuhnya," tutur Sergan dengan sarkas. Wajah Andi memucat karena pelototan Sergan.


"Kamu, bisakan kamu tidak berteriak? Suara mu akan habis jika kamu berteriak setiap saat."


Loli menunduk cemberut mendengan ucapan ayahnya.


"Maafkan, Loli," cicitnya. Tangannya memeluk leher Sergan.


Sergan menatap Andi yang juga tertunduk. "Kerumah keluarga Menner," ucapnya lalu berjalan menuju mobil.


Andi mengangguk, ia lalu melangkah mengikuti Sergan.


Deni, supir Sergan. Dia hanya diam dan fokus menatap ke depan.


Dia bisu dan tidak bisa membaca. Setelah Andi mengatur tempat tujuan mereka dia langsung duduk disamping Sergan.


Disela kegiatannya memeriksa email yang masuk Andi sesekali melirik ke arah Sergan yang hanya menatap keluar jendela.


Sedangkan, anak perempuan di dekapannya hanya menunduk cemberut sambil memainkan dasi Sergan.


Karena sunyi dan merasa bosan Loli tertidur sambil mencengkram dasi Sergan.


Hingga saat ia bergerak dan menarik dasi itu, Sergan langsung terbatuk karena merasa terkecik.


"Sialan!" umpatnya, tetapi tidak sampai membangunkan Loli.


Andi segera bertindak cepat, di singkirkannya tab yang ia pegang dan dengan pelan melepaskan tangan Loli pada dasi Sergan.


"Bagaimana bisa anak ini tetap menyiksaku bahkan saat ia tertidur," tuturnya sambil menatap lehernya.

__ADS_1


Salah diri anda sendiri karena menggunakan dasi dengan rapi bahkan di jam makan siang, ucap Andi dalam hati.


Agar tidak ketahuan sedang membicarakan bosnya dalam hati Andi kembali fokus pada tab dan menyesuaikan jadwal Sergan.


__ADS_2