Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Sisi lain sebuah kebenaran


__ADS_3

"Aku tidak mau Bibi ikut campur urusan masa depan Loli," ucap Sergan langsung pada intinya.


"Apa maksudmu ikut campur? Dia cucuku. Aku tau apa yang terbaik untuknya,"


"Menghalangi mimpinya bukan pilihan terbaik, itu akan menyiksanya," bantah Sergan. Ia tidak pernah suka bersitentang dengan Bibinya, walaupun bagaimanapun Bibi lah yang selama ini merawat dan membesarkannya.


"Kau meragukan cara asuhku? Dengar Sergan, jika aku tidak menghentikanmu melukis apa kau bisa sesukses ini sekarang? Jangan pernah lupa kau hampir kehilangan masa depanmu karena hobi sialan itu," bentak Eliza. Wajahnya menjadi tegang karena amarah.


"Bibi ini sudah berbeda. Aku bisa memastikan masa depan putriku menjadi cerah. Aku juga tidak mungkin membebaninya dengan urusan perusahaan," ucap Sergan dengan nada rendah. Terakhir kali ia melihat Bibinya marah saat ia hampir kehilangan beasiswanya, dan sekarang, dengan kasus yang hampir sama Sergan kembali melihat amarang sang Bibi.


"Tidak bisa!" tolak Eliza. "Loli harus menjadi penerus perusahaan keluarga Meneer. Ia harus bisa mempertahankan perusahaan itu dengan hidupnya, bahkan dengan masa depannya," paksanya. Ia lalu melangkah meninggalkan Sergan yang hanya bisa terdiam.


Ruang kerja Sergan yang kedap suara membuat suara melengking tidak terdengar hingga keluar.


Jarak antara kamar Sergan dan ruang kerjanya tidak terlalu jauh, itu mengapa akan bahaya jika tidak dipasang alat peredam suara.


Sergan mengacak rambutnya. Ia tidak bisa terlalu berlebihan dalam menentang Bibinya.


"Argh!"


Sergan berjalan menuju lemari yang terisi banyak minuman beralkohol.


Ia membuka tutup botol dengan sekali percobaan, saat minuman haram itu akan masuk ke tubuhnya pergerakannya terhenti.


Sergan kembali mengingat jika ia harus tidur dengan putrinya.


Dengan rasa frustasi yang tidak tersalurkan Sergan menghempas botol alkohol seharga ratusan juga itu.


Sergan lalu masuk kedalam kamar mandi yang ada di ruang kerjanya. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk meredakan panas di kepalanya.


Sergan mulai membayangkan saat dirinya sangat bersemangat dengan lukisan.


Ada banyak imajinasi dikepala Sergan muda saat itu.


Banyak hal yang ingin ia gapai dengan lukisanya. Tapi sayangnya, alam tidak mendukungnya.


Impiannya ia kubur dengan perasaan sesak dan hancur.


Meninggalkan impian dengan sebuah masa depan benar-benar menghancurkan jiwa.


Sergan hanya bisa menatap iri pada sosok pelukis yang bisa memamerkan lukisan mereka dengan perasaan bangga.


Didukung oleh banyak pihak atas hobi dan pekerjaan mereka.


Sedangkan dirinya? Pemuda miskin yang mengejar mimpi dengan mengandalkan keringat dan air mata. Tapi apa hasilnya? Ketidakpuasan yang ia terima.


Menjadi pengusaha sukses sekalipun tidak pernah membuat Sergan bangga. Ia hanya ingin melukis bebas dengan tangannya.

__ADS_1


Berbangga diri dengan mimpi yang orang lain remehkan.


Sekarang, Sergan berjanji dengan dirinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan putrinya mengalami apa yang ia alami.


Putrinya akan mengejar impiannya dengan atau tanpa bantuan Sergan.


Sergan akan membuat putrinya menjadi sosok yang merasa bangga dengan dirinya sendiri.


Merasa bangga dengan impiannya sendiri.


Dan merasa bangga, dengan potensi yang ia miliki sendiri.


Mulai saat ini juga Sergan berjanji, apapun yang menghalangi mimpi putrinya akan ia singkirkan dengan cara kekerasan ataupun tidak.


Sergan membuka matanya. Ia lalu melepaskan seluruh pakaiannya, membuat otot pada tubuhnya terpampang dengan jelas.


Kesukaannya pada berenang membuat otot itu muncul dengan sempurna.


Sergan mengambil handuk dan melilitkannya pada area pinggangnya.


Dengan kondisi seperti itu, Sergan melangkah menuju kamarnya.


Meskipun ada kamar mandi diruang kerjanya, semua pakaiannya tetap berada didalam taman.


Kondisi rumah masih belum terlalu senggang. Masih ada beberapa pelayan yang langsung meneguk ludah mereka melihat pahatan indah pada tubuh sang tuan.


Sergan masuk kedalam kamar. Ada Loli yang lagi-lagi sibuk dengan buku gambar miliknya diatas ranjang.


Mendengar suara pintu yang terbuka Loli mengangkat pandangannya.


"Ayah sudah mandi?" tanya Loli.


"Iya. Kenapa belum tidur?"


"Loli lupa menyelesaikan gambar ini, padahal Selena ingin melihatnya besok," ucapnya seraya menunjukkan gambar yang ia buat.


Ada ilustrasi dua anak perempuan yang saling bergandengan tangan dibuku itu.


Tidak terlalu rapi, tapi, untuk Loli yang masih berusia 5 tahun itu sudah cukup bagus.


"Selesaikan besok saja. Ini waktunya tidur," perintah Sergan.


"Tinggal sedikit lagi Ayah. Loli hanya perlu memberikan sedikit polesan pada awan dan mataharinya," bujuknya pada Sergan.


"Setelah aku keluar dari ruang ganti, kau harus sudah menyelesaikannya," titah Sergan mutlak. Ia tidak ingin lagi mendengar penolakan dari putrinya.


"Siap, Ayah!" Pekikan Loli tidak Sergan hiraukan. Ia masih kehilangan mood setelah pembicaraannya dengan Eliza.

__ADS_1


Loli tidak perlu terburu-buru. Ayahnya orang yang sangat kritis. Ia bisa menghabiskan waktu selama setengah jam hanya untuk memilih pakaian yang ia gunakan.


Padahal menurut Loli tidak ada yang berbeda diantara semua pakaiannya Ayahnya.


Semua pakaian Sergan berwarna gelap. Warna putih itu seperti lilin ditengah jalan tanpa lampu.


Itulah penggambaran Loli untuk lemari pakaian Ayahnya.


Loli bahkan sudah selesai membereskan alat menggambarnya saat Ayahnya keluar dari ruang ganti.


"Ayah, ceritakan sesuatu pada Loli. Reina bilang, Ayahnya sering membacakannya dongeng saat ia akan tidur," pinta Loli.


Sergan yang terbaring telentang mengernyitkan keningnya.


"Cerita?" tanyanya bingung.


Loli mengangguk antusias. Sergan tidak bisa mengabaikan itu, wajah imut putrinya benar-benar membuatnya terhipnotis.


Tiba-tiba ide jahil timbul di otak Sergan.


"Baiklah. Mendekatlah," ucapnya.


Loli masuk ke pelukan Sergan. Ia bersiap mendengarkan cerita pertama yang akan Ayahnya ceritakan.


"Disebuah desa kumuh hidup seorang wanita muda, ia bernama Lolita." Sergan memulai cerita buatannya.


"Itu Loli?" tanya Loli tidak senang.


"Jangan memotongnya. Dengarkan sampai selesai," titah Sergan.


Loli menutup mulutnya.


"Saat wanita itu sedang mencari hewan untuk dimakan ia bertemu seekor kelinci."


"Awalnya ia berpikir akan memakan kelinci itu, tapi, baru saja wanita itu ingin menyentuh tubuh kelinci itu, kelinci itu langsung melompat dan menendang wajah wanita itu."


"Entah apa yang terjadi, wajah wanita itu menjadi hitam. Hari demi hari wajahnya mulai membusuk hingga membuatnya kesulitan mencari makan."


"Karena kelaparan dan tidak ada seorang pun disisinya wanita itu meninggal dengan kondisi mengenaskan." Sergan mengakhiri kisahnya.


Ia lalu menatap wajah putrinya yang sudah memucat. Dengan tangan gemetar Loli memegang wajahnya yang masih halus.


"Pesan dari cerita itu adalah, kita tidak boleh menindas makhluk hidup manapun atau kita akan mendapat hal yang lebih mengerikan," nasehat Sergan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan cerita yang ia bicarakan.


Loli tidak peduli apapun. Ia hanya ingin menjaga dirinya agar tidak mendekati hewan mana pun.


Ia tidak ingin mati kelaparan. Ia masih suka es krim, cookies yang dibuat Kakak koki, makanan manis yang dibuat Kakak pelayan dan masih banyak makanan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2