Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
es krim


__ADS_3

"Ibu," panggil Loli.


Ia baru saja selesai menyiapkan bubur bersama Bibinya. Saat ia masuk kamar Ibunya sudah bangun.


Tapi ada yang aneh, Ibunya menangis di pelukan Ayahnya.


"Ayah, ada apa dengan Ibu?" tanya Loli khawatir. Ia berlari menuju ranjang menghampiri Ayah dan Ibunya.


Sergan menatap putrinya itu. "Ibu baik-baik saja. Ia hanya terkejut saat terbangun ada di tempat yang tidak ia kenali," jawab Sergan.


Eliza yang sejak tadi ada di belakang Loli sambil membawa bubur menghampiri mereka.


Eliza meletakkan mangkuk bubur itu pada meja nakas. Ia lalu memberi isyarat agar Sergan segera menghentikan tangis Diana.


Sergan mengerti. Ia lalu menepuk pundak Diana. "Tenanglah. Ada putri kita di sini," ucap Sergan.


Diana lalu mengangkat pandangannya. Masih memeluk tubuh Sergan ia menatap Loli.


Loli yang ditatap oleh Ibunya mencoba tersenyum selebar mungkin. Tapi, bukannya merasa senang, Diana justru menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sergan.


"Ada apa?" tanya Sergan.


Diana menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin berbicara.


Loli kecewa melihat sikap Ibunya. Matanya kembali berkaca-kaca. Bibirnya bergetar karena sedih.


"A- ayah," panggilnya bergetar.


Sergan tidak bisa melakukan apa-apa. Diana memeluk tubuhnya dengan sangat erat hingga tidak memungkinkan baginya untuk menenangkan Loli.


"Bibi tolong," mohon Sergan. Ia tidak bisa semakin menyakiti Loli dengan sikap Diana.


Eliza lalu mengangkat tubuh Loli. Membawanya keluar kamar.


Loli tidak memberontak. Ia menangis di pelukan Eliza. Wajahnya tenggelam di pindah Eliza.


Eliza menepuk pundak Loli menenangkannya. Ia juga membisikkan kata-kata menyayang pada Loli.


"Bagaimana jika makan es krim?" tanya Eliza.


Loli masih menangis sesegukan. Tetapi, kepalanya mengangguk setuju.


Eliza lalu menghapus air mata Loli dengan tisu yang ia ambil.


"Baiklah, karena Ayahmu tidak melihat mari kita habiskan es krim di dalam kulkas," ajak Eliza.


"Tapi, Ayah bisa melihatnya dari cctv," bisik Loli.


"Ia akan melihat saat es krim itu sudah habis," bela Eliza.


Loli tidak lagi mengatakan apapun. Mood nya sedikit membaik karena memikirkan es krim yang akan ia makan.

__ADS_1


Tiba di dapur, Eliza menurunkan tubuh Loli. Tubuhnya tidak berbohong, ia cukup merasa lelah karena menggendong tubuh cucunya sendiri.


Loli dengan riang mengambil kursi kecil yang biasa ia gunakan untuk memanjat kulkas.


Senyum Loli hilang saat melihat isi kulkas. Tidak ada es krim. Tumpukan es krim miliknya sudah lenyap tanpa sisa. Hanya ada beberapa makanan kaleng didalam kulkas itu yang sengaja Sergan letakkan.


"Bibi," panggil Loli.


Air matanya kembali jatuh saat melihat Eliza. Ia lalu menunjuk ke arah dalam kulkas.


"Es krim Loli hilang," adu nya pada Eliza.


Eliza kelabakan. Ia tidak tau siapa yang makan es krim dirumah ini selain Loli.


"Habis? Kok, bisa?" tanya Eliza heran.


Loli menggelengkan kepalanya. "Loli mau es krim," rengek nya sambil menghentakkan kakinya.


"Loli, tenang. Kita beli, ya. Jangan menangis," bujuk Eliza.


"Loli tidak punya uang," cicitnya sambil menyimpan tangannya karena malu.


"Bibi ada uang. Berhenti menangis. Kita pergi beli es krim, okay?"


Loli mengangguk mengiyakan. Ia lalu turun dari kursinya.


Dengan menggandeng tangan Eliza, Loli pergi ke luar rumah dengan riang.


Diantar supir Eliza, Loli mulai membayangkan banyaknya es krim yang akan ia beli.


Loli mulai mengambil es krim yang ia inginkan. Tangannya bahkan sudah memerah karena dinginnya es krim.


"Loli, itu sudah cukup," ucap Eliza menghentikannya Loli. Es krim yang Loli ambil sangat banyak. Keranjang itu bahkan sudah terisi setengahnya hanya dengan es krim.


"Apa uang Bibi tidak cukup?" tanya Loli pelan. Ia takut penjaga mendengarnya dan mengusirnya karena tidak memiliki cukup uang untuk membayar es krimnya.


"Bukan begitu," bantah Eliza. "Ayahmu akan marah jika Loli membeli terlalu banyak es krim."


"Biarkan saja. Loli sangat marah dengan Ayah. Dia tidak menjaga es krim Loli dengan benar," ucapnya dengan nada kesal. Ia kembali mengingat tumpukan es krimnya yang sudah habis.


Dalam hati, Loli berjanji akan menemukan orang yang mengambil es krimnya dan memukul orang itu.


"Tapi itu terlalu banyak. Jika kurang, kita bisa datang lagi ke sini untuk membelinya," bujuk Eliza.


"Tidak, Bibi. Loli lelah harus pergi ke supermarket. Jika kita punya banyak persediaan es krim, kita bisa menghemat waktu," tolak Loli sok bijak.


"Ya ampun. Semakin hari kamu semakin pintar berbicara. Dengar sayang, es krim itu terlalu banyak. Ayahmu membatasi mu dalam makan es krim. Kamu akan kesulitan menghabiskan es krim sebanyak itu. Jika tidak habis, lalu ia akan basi kita hanya akan membuang-buang makanan," jelas Eliza.


"Tapi Loli ingin semua es krim ini Bibi," ucap Loli pelan.


"Kita ambil satu warna satu es krim. Lalu, kita bisa mencoba yang lain nanti," bujuk Eliza.

__ADS_1


Loli mencoba berpikir. Ia lalu melihat tumpukan es krim itu. Dengan setengah hati Loli mengangguk setuju.


Ia lalu mengembalikan es krim itu ketempat asalnya.


Loli juga mengatakan akan menjemput mereka lain waktu pada es krim itu.


Eliza tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah Loli. Ia lalu memotret tingkah Loli yang sedang mengembalikan es krim pada tempatnya, lalu mengirimnya pada Sergan.


Sergan yang mendengar ada notifikasi pada ponselnya mengambilnya. Ia tersenyum melihat putrinya yang sudah tidak sedih lagi.


Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Diana yang sedang makan. Ia terlihat ogah-ogahan dengan bubur itu.


Mungkin, karena ia sedang lapar itu mengapa ia mencoba menghabiskan bubur itu.


Sergan saja terlihat tidak berselera melihat bubur putih itu yang hanya dihiasi potongan daun sop.


Bubur itu tidak habis saat Diana mengembalikannya pada Sergan. Ia pasti tidak sanggup lagi menghabiskan bubur itu.


"Sudah kenyang?" tanya Sergan. Yang dibalas anggukan oleh Diana.


Sergan lalu meletakkan bubur itu kembali ke nakas. Ia memperbaiki posisi duduknya di atas ranjang.


Sergan memegang pundak Diana. Membuat Diana menatap dengan polos.


"Jawab pertanyaan ku," perintah Sergan seraya menatap mata jerih Diana.


Diana mengangguk pelan.


"Siapa namamu?" tanya Sergan.


Diana tidak mencoba menjawabnya. Ia menatap ke sekelilingnya dengan gelisah.


Tangannya mulai menghancurkan tatanan rambutnya.


Sergan bergerak cepat. Ia menangkap tangan itu lalu menguncinya.


"Jawab aku," perintah Sergan. Suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya.


"A- aku, aku tidak tau," jawab Diana pelan. Suaranya terbata-bata saat ia mengatakannya. Nadanya juga terdengar sangat rendah.


Untung saja ruangan itu sepi hingga Sergan bisa mendengarnya dengan jelas.


"Siapa namamu," ulang Sergan.


Diana tidak menjawab. Ia berteriak ingin lepas dari Sergan.


Sergan tidak membiarkannya semudah itu. Di tindihnya tubuh Diana hingga ia kesulitan memberontak.


Sergan juga mencoba menjaga tubuhnya agar tidak terlalu menghimpit Diana.


"Diam lah," bisik Sergan.

__ADS_1


Bagaikan mantra. Secara berangsur tubuh Diana mulai melemas. Ia juga berhenti berteriak.


Tidak lama, ia kembali menangis.


__ADS_2