Ayah, Aku Putrimu!

Ayah, Aku Putrimu!
Keanehan


__ADS_3

"Nah, kita sudah mengenal 5 jenis buah dari berbagai negara. Dari semua itu, buah yang mana menjadi yang menjadi favorit kalian?" tanya Miss Ana.


"Loli suka buah Naga."


"Aku suka Durian."


"Aku juga suja buah naga."


"...."


Dan masih banyak jawab yang lain. Semua anak aktif saat pelajaran di dalam kelas. Itu sangat bagus untuk mereka kedepannya.


Tidak jarang, anak-anak lebih suka bermain dari pada belajar karena terkadang mereka merasa pelajaran yang diberikan terasa membosankan.


Anak-anak cenderung lebih menyukai bermain karena mereka dapat bereksplorasi dengan temannya. Mereka tidak perlu memusingkan kepala mereka dengan pelajaran yang guru berikan.


Bel tanda makan siang berbunyi. Anak-anak mulai bertepuk tangan dan mengambil kotak makan mereka masing-masing.


"Miss permisi, lanjutkan makan siang kalian. Jangan ada yang bertengkar, ingat!" pesan Miss Ana sebelum meninggalkan kelas.


"Ya, Miss!" sahut semua anak dengan bahagia.


"Loli, apa yang kamu bawa hari ini?" tanya Zian. Dia selalu melakukan itu setiap jam makan siang. Ia juga membagi makanannya dengan Loli jika ada kesempatan.


"Loli bawa pancake pisang. Ada, 1, 2, 3, 4, 5. Loli punya 5. Zian mau?" tawar Loli. Loli melihat tumpukkan pancake yang dibuatkan oleh pelayan. Pancake itu tampak sangat enak dengan lelehan madu dan taburan gula bubuk.


Zian mengangguk. Loli mengambil garpu, menusuk pancake itu, lalu memberikannya pada Zian.


Sebenarnya, Zian tidak terlalu menyukai pancake. Terlalu manis. Tapi demi Loli, ia rela melakukannya.


Zian juga membagi makanannya pada Loli. Ada daging sapi yang di bakar bersama daun rosemary hingga memberikan aroma yang pas di hidung.

__ADS_1


"Terima kasih, Zian. Ini sangat enak!" puji Loli membuat Zian tersipu.


Tanpa basa-basi Arga mengambil sisa potongan daging sapi pada tempat makan Loli. Ia memakannya dengan sekali gigitan.


"Arga!" pekik Loli. Ia menatap kesal Arga yang masih memakan daging itu dengan ekspresi santainya.


"Ini biasa saja. Coba ini," ucap Arga lalu memasukkan sepotong Pai susu ke mulut Loli.


Loli yang terkejut dengan tindakan Arga apalagi tangan Arga mencengkram pipinya hingga ia refleks membuka mulut.


Loli terkejut tentu saja, tapi rasa Pai susu itu mengalihkan perhatiannya.


Matanya berbinar saat menikmati rasa susu itu. Dengan wajah menggembung, Loli menatap Arga. Mulutnya sedikit tersenyum dengan jari jempol yang ia berikan.


Arga tersenyum miring melihat itu. Ia lalu mengambil sisa daging yang ada di tempat makan Loli lalu memakannya dengan sekali suapan.


"Habiskan ini," ucap Arga sambil menyerahkan tempat makannya.


Loli lalu menyerahkan tempat makan miliknya. Ia takut tidak bisa menghabiskan pancake itu karena Pai itu terlihat banyak di tempat makan milik Arga.


Loli memakan Pai itu dengan lahap hingga pipinya menjadi gembung. Sedangkan Arga memakan pancake itu dengan santainya.


Mereka melupakan Zian yang tertunduk menatap daging sapinya. Ia juga menatap sedih pancake yang Loli berikan.


Dengan malas Zian menghabiskan makan siangnya. Ia sudah kehilangan selera makannya, tapi mau bagaimana lagi, ia juga merasa lapar.


****


Eliza masuk ke kamar Sergan. Ia melihat Diana yang masih tertidur pulas di ranjang itu.


Di nakas, ada bubur yang belum di sentuh sama sekali.

__ADS_1


Eliza melangkah menghampiri Diana. Ia mengusap rambut wanita itu yang sebelumnya sangat kusut.


Mata Diana bengkak. Itu artinya ia menangis kemarin malam. Sergan pasti kerepotan.


Diana melenguh. Ia lalu mengerjabkan matanya. Matanya langsung melebar saat melihat sosok Eliza. Secara refleks ia langsung bangun.


Diana meringis sambil mencengkram kepalanya.


"Tenanglah. Saya tidak akan menyakiti kamu. Saya hanya ingin menyuapi kamu makan," ucap Eliza. Ia mengambil bubur yang ada di nakas lalu duduk di kursi yang sudah Sergan siapkan di sisi ranjang.


Diana menatap tidak suka pada bubur itu. Dia menutup mulutnya lalu menggelengkan kepalanya. Diana lalu menarik selimut, menenggelamkan dirinya pada selimut itu.


"Diana tidak mau," gumamnya ketus.


"Kamu tidak akan sembuh jika tidak makan," bujuk Eliza.


"Diana gak mau, Bu," bentaknya.


Eliza mengernyit mendengar ucapan Diana. Bu? Maksudnya Ibu? Pikir Eliza.


"Jadi kamu mau apa?" tanya Eliza. Mungkin ia tadi salah dengar, pikir Eliza.


"Diana mau main sama anak yang lain. Diana gak sakit," jawabnya. Ia keluar dari tumpukan selimut itu dengan raut wajah kesal.


Eliza mengangkat alisnya. Anak yang mana? Dan Ibu lagi?


***


Ig : humanhalyu


FB : humanhalyu

__ADS_1


__ADS_2