Azalea

Azalea
Mozaik 10 : Sebuah Tamparan


__ADS_3

‘Tak bisakah aku saja yang menyelesaikannya?’


Hari ketiga.


Sebenarnya Azalea bosan harus berada di tempat itu lagi, tapi mau tak mau dia harus kesana, apalagi dengan tangannya yang dicengkram erat agar tidak bisa kabur. Mereka sangat pintar berpura-pura baik padanya saat di khalayak umum, tapi setelah sampai wajah mereka berubah galak dan menunjukkan kebencian pada Azalea. Azalea sendiri sudah menata dirinya agar terlihat biasa saja. Ia tak boleh terintimidasi.


Apa lagi kali ini? Pikir Azalea mencoba mencari sesuatu yang akan dipakai Nia untuk menjahilinya, tapi mereka tidak membawa apa pun.


“Lepaskan ranselnya!” suruh Nia. Azalea tidak banyak bertingkah saat dengan paksa seseorang dari mereka menarik ransel dari punggungnya, menyerahkannya pada Nia.


Wah, mereka benar-benar seperti berandal.


Tangan Azalea mengepal menahan amarah saat Nia menumpahkan semua isi ranselnya, setelah itu menginjak semuanya dan menyobek semua buku yang ada dengan bantuan teman-temannya, setelah itu memasukkan beberapa sobekan ke ransel juga saku blazer Azalea.


“Kau hanya seonggok sampah jika bukan kakekmu!” sinis Nia di telinganya. Azalea menatapnya tajam, ini sudah keterlaluan. Meski begitu Azalea hanya menanggapi dengan menyunggingkan sebuah senyuman yang penuh misteri dan menantang pada Nia.


“Hm, kau benar, seonggok sampah yang sulit dibuang!”


Tak lama setelah itu. Aul sudah sigap, memperhatikan ekspresi Azalea yang lesu. Menghampiri dalam langkah dalam penuh wibawa.


“Apa nona baik-baik saja?” tanyanya. Azalea mengangguk sekenanya.


“Tugas wakil lagikah, jika sulit saya bisa meminta walikelas nona untuk mencabut jabatan itu.” Tawaran itu menarik, tapi Azalea merasa enggan. Ia tidak boleh menggunakan kekuasaan apa pun lagi, sekalinya mencoba ia mendapat masalah yang cukup serius.


“Tidak perlu.” Gelengnya.



Hari keempat.


Kali ini bukan Nia, tapi Niska. Dia baru saja mengetuk meja Azalea cukup keras dan membuat pemiliknya mendongakkan wajah untuk melihat Niska yang selalu serius. Tidak ingin mengundang rasa penasaran beberapa orang yang memperhatikan mereka, Azalea mengikuti langkah Niska keluar kelas dan berdiri di halaman sekolah, cukup jauh dari keramaian.


“Kau sudah gila rupanya, aku sudah mendapatkan daftar anggota STUPA baru, dan aku menemukan namamu. Jadi kau ingin masuk eskul ku?” ujar Niska tak suka, hanya saja ia menahannya dan bicara sepelan mungkin. “Keluarlah sebelum aku yang memaksamu keluar. Jangan mencoba untuk satu eskul denganku!” kecam Niska langsung.

__ADS_1


“Tidak.” tolak Azalea, yang sudah menebak pasti kejadian ini. “Sejak dulu aku ingin mengikutinya, kau juga tahu saat SMP kita pernah mencoba masuk bersama, kali ini aku tidak akan mendengarkanmu!” Gurat wajah Niska berubah merah karena marah, dia selalu sensitif dan mudah kesal jika Azalea sudah keras kepala. Ini mengusik kehidupannya.


“Kau bisa melakukan banyak hal, hidupmu tidak akan sulit. Masa depanmu baik-baik saja, tapi jika kau berani mengusik aktivitasku, jangan berharap hidupmu akan berjalan baik!” ancaman itu tidak berarti apapun pada Azalea, ini sudah ratusan kali Niska mengancamnya. Daripada seperti ini akan lebih baik jika Niska berseru memarahinya, lalu mengungkapkan alasan dibalik kebenciannya pada Azalea.


“Kau ingin melaporkannya pada kakek? Lakukan saja, aku sudah terlanjur melawan dan membencinya, juga, membencimu!” ungkap Azalea menekankan kalimat akhirnya. Niska menatap tajam Azalea tak yakin dengan ucapan itu, ini adalah pertamakalinya dia mendengar Azalea mengucap kata benci padanya.


“Aku tidak peduli, kau harus keluar dari STUPA!” seru Niska.


“Aku tidak akan keluar!” seru Azalea bersamaan.


Mata mereka saling bersitatap tegang.


“Sebenarnya apa maumu!” kesal Niska.


“Aku tidak akan mendekati Regi, selama di STUPA!” tukas Azalea penuh penekanan. Seakan ditampar Niska terdiam, itu memang salah satu alasan ia tidak ingin Azalea berada di STUPA. Tapi lebih dari itu, ia hanya tidak ingin berada dekat dengan Azalea.


Berbalik pergi, Azalea pergi dengan menahan rasa sakit dihatinya. Matanya bahkan sudah berair dan tangannya gemetar. Ia tidak tahu kenapa harus seperti ini, hubungan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, kenapa Niska begitu jahat padanya. Haruskah ia benar-benar membenci Niska dengan begitu ia punya alasan untuk bertahan.



Tidak menanggapinya dengan tenang seperti sebelumnya, Azalea hanya menatap sebal pada Nia, menunjukkan wajah seriusnya yang cukup dingin. Sedang mereka masih terus menyuruhnya menjauhi Aiman dan memaksanya berhenti bertingkah. Kemarahan mereka memuncak saat Azalea menolak hal itu.


“Aku sudah menyukainya sejak pertama masuk sekolah, tapi kau dengan mudah menjadi tunangannya! Karena kau punya kakek hebat, kau kira berhak untuk melawan kami dan memiliki semuanya! Dengarkan aku, jika dalam seminggu ini kau tidak memutuskan pertunangan dengan Aiman, maka aku akan menghajarmu!” Nia mendorong pundak Azalea dengan keras, hingga gadis tersebut terhuyung ke belakang


Didorong tak masalah bagi Azalea, ia sudah menerka suatu saat ini akan terjadi, tapi karena hatinya sedang kesal akibat pertengkarannya dengan Niska, Azalea tak terkendali.


“Sudah kubilang berapa kali aku tidak akan melakukannya! Aku tidak mungkin menurutimu, kau mau menghajarku terserah padamu. Memangnya aku ingin pertunangan ini, jika memang kau menyukainya katakan langsung padanya! Jangan bertingkah seperti pecundang dengan mengancamku.” Seru Azalea tak tahan.


Perkataan itu berhasil memancing amarah yang meluap dalam diri Nia, tanpa ragu lagi Nia menampar Azalea dengan keras.


Tepat saat itu terjadi dua siswa yang sedang melintasi jalan tersebut melihat, memotret dan mem-videonya dalam beberepa detik dengan awalan Azalea yang berseru, menolak keinginan Nia. Kedua siswa itu lalu berlari menuju sekolah. Mereka menyebarkan kejadian itu dengan cepat tanpa bisa dicegah oleh Aul yang berada di atas genting sekolah.


Sebenarnya selama ini Aul mengetahui kemana perginya Azalea, juga mengawasi apa yang terjadi saat Azalea dibully Nia. Aul tak sempat menghentikan pergerakan kedua siswa tadi, memilih turun dari genting melindungi Azalea, membuat Nia serta temannya yang lain berhamburan pergi karena ketakutan. Sekilas Nia terlihat terpuruk sembari memandangi tangannya.

__ADS_1


Azalea terjatuh ke tanah saking lemasnya, bukan karena tamparan yang ia terima melainkan kenyataan bahwa selama ini Aul selalu di dekatnya, juga mengenai video yang pastinya telah menyebar. Keadaan menjadi rumit.



Ketegangan dan keheningan yang mencekam tengah terjadi saat ini. Aul dan Azalea menghadap pada kakek. Tingkat kesabaran pria paruh baya itu tidak seberapa karena hal ini membuatnya sangat marah.


“Katakan apa yang terjadi?” tanya kakek lebih ditujukan pada Aul.


“Tidak ada, hanya kesalahpahaman, aku dan dia tidak begitu akrab.” Jawab Azalea namun tidak didengar.


“Mereka tidak menyukai pertunangannya dan menyuruh nona Azalea untuk menjauhi tuan Aiman.” Jawab Aul lugas. Azalea sempat berdumel dalam hati merutuki kejujurannya.


“Siapa dia?” tanya kakek dingin.


“Sungguh kek, dia tidak melakukan apapun. Saat itu aku memancing kemarahannya dan dia menamparku tanpa disengaja!” bujuk Azalea berharap kemarahan kakek surut, menunjukkan dirinya baik-baik saja.


Kakek seutuhnya mengabaikan ucapan itu, menatap Aul.


“Nia Julian dari kelas 2-3.” Jawab pengawal berhasil membuat Azalea mendelik marah padanya.


“Keluarkan dia dari sekolah. Buat pengumuman agar mereka tidak berani menyakiti Azalea!” titah kakek. Azalea kalah telak, ia terpaku dalam kekecewaan yang semakin dalam.


“Semudah itukah mengeluarkan seseorang?” tukas Azalea berdiri tegak, rasa sakitnya terasa berbeda dengan sebuah tamparan, “Masalah ini tidak seserius itu sampai harus mengeluarkannya. Nia hanya tidak suka orang yang disukainya menjadi tunanganku, dan itu wajar. Dia hanya cemburu, aku bisa berdamai dengannya. Kumohon izinkan aku yang menyelesaikan hal ini, aku janji dia tidak akan melakukan hal itu lagi!” pinta Azalea, dia bahkan bersedia menerima hukuman dari kakek jika perlu.


“Kekerasan tidak membenarkan perasaan apa pun. Kau bawa dia ke kamarnya!” suruh kakek.


Jika sudah begitu Azalea tahu kalau usahanya sia-sia.


“Lepaskan! Aku bisa masuk sendiri, kau bisa mengunciku dengan tenang!” suruh Azalea menghempaskan tangan Aul darinya dan masuk kamar. Ia masih bisa mendengar suara pintu dikunci dari luar.


Berteriak frustasi Azalea mengacak rambutnya hingga berantakan, setelah itu merebahkan dirinya di kasur. Menutup diri dengan selimut, kata-kata yang sama terus terulang dalam pikirannya. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya agar Nia tidak dikeluarkan dari sekolah?


__ADS_1


__ADS_2