Azalea

Azalea
Mozaik 13 : Berburuk Sangka


__ADS_3

‘Bagaimana jika ternyata aku benar-benar tidak mengenalmu’


“Kau, sempat berpikir untuk melompat?” tanya Azalea, Niska yang terkejut sentak berbalik ke arahnya.


Dalam sekali gerakan Azalea pun berbalik menghadap Niska. Ada satu hal yang paling penting dan alasan kuat dibalik fakta kenapa Niska berdiri di tepi atap dan menundukkan kepala, seakan sedang melihat sesuatu di bawah sana, Azalea yakin pasti dia sedang memikirkan sesuatu yang serius.


Tapi, Niska tak kunjung memberi tanggapan.


“Malam itu, kenapa kau datang ke rumah dan menemui kakek? Tepat saat aku dikurung di kamar karena pembullyan? Aku melihatmu di jendela, kau masuk ke ruangan kakek bukan?” tanya Azalea, kali ini nadanya begitu serius dan sorot matanya menuntut kejujuran, meski nyatanya itu akan sulit, setidaknya mereka pernah berteman, Azalea tahu saat-saat dimana Niska merasa terganggu akan sesuatu.


Saling berhadapan dalam hitungan detik yang sempat diisi angin, akhirnya Niska berujar tanpa menurunkan nada ketusnya. “Aku menemui kakekmu, dan membujuknya untuk memilih Fauzi sebagai tunangan aslimu.”tandas Niska.


“Kenapa? Bukankah kau menyuruhku menjauhinya!”tukas Azalea tak percaya.


“Setelah kupikirkan, akan lebih baik dia yang terpilih. Kekayaanmu terlalu banyak untuk diacuhkan.” Senyum picik Niska tersungging rapi, yang membuat Azalea tidak bisa menebak, apa ia sedang berbohong atau jujur.


Secara mendadak, pintu besi terjeblak lebar dengan suara keras, akibat hantaman yang terjadi, seseorang terlempar cukup jauh dari arah pintu yang kini menunjukkan sosok Gian dengan tendangannya yang baru diturunkan.


Melongo syok, Azalea dan Niska yang masih terkejut itu menoleh pada seorang pria dengan seragam yang berbeda dengan mereka merintih kesakitan di bagian perutnya, serempak mereka memalingkan pandangan ke arah Gian, yang mengangkat tangan kanannya sembari tersenyum aneh.


“Halo,” sapanya.



Malam adalah selimut untuk gelap, siang adalah pakaian untuk terang, sedang langit adalah atap bagi manusia yang berteduh dan ingin menitipkan perjalanan hidupnya di atas tanah coklat bernuansa dingin.


Meski begitu, rasa dingin yang dirasakan saat ini bukanlah oleh Azalea, melainkan Niska. Biasanya Niska lah yang memulai kedinginan akan kata-katanya yang kasar dan menyakiti hati, tapi kali ini tatapan Azalea yang memulai hal itu, sedari tadi bola matanya terus saja mengikuti gerak-gerik Niska. Yang alhasil membuat Niska risih.


Niska membuang napas sembarangan dan melempar pandangan sebal langsung membalas tatapan mata Azalea, yang duduk di sampingnya itu.


“Apa kau jujur?” tanya Azalea menuntut. Niska paham yang ia maksud, pastilah perkataan mengenai Fauzi di atap kemarin. Meski begitu, bukankah sudah berlebihan mengawasinya sepanjang waktu.


“Kau!” geram Niska sebelum sempat bicara, bel pelajaran lain menyelamatkannya dari rasa kesal. Terganti dengan senyuman terpaksa yang jelas lebih mirip seringaian, sayangnya Azalea tidak merasa terintimidasi akan senyuman itu.


“Satu pun kata yang kau ucapkan, adalah keraguan bagiku. Kau penuh dengan kebohongan.” Ucap Azalea acuh akan pergantian jam pelajaran.


“Kau tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini kau lebih sering memunculkan emosimu. Sikapmu ini menunjukkan ketidakmampuanmu.” Balas Niska, walau tangannya sibuk mengambil buku baru.

__ADS_1


“Aku memutuskan menjadi orang ceroboh, sembrono dan tak tahu malu. Untuk bisa memasuki jalan pikiranmu, dan mencari jawaban akan kebencian yang selalu kau ucapkan padaku.” sahut Azalea tak mau kalah.


“Lakukan saja, apa pun yang kau mau.” gertak Niska.


“Tentu saja.” tandas Azalea bersikukuh akan keyakinannya.



Hingga waktu makan siang tiba.


Tanpa ragu Azalea menghenyakkan diri dan foodtray-nya di depan Niska. Memutuskan untuk makan bersama dalam satu meja dan bertanya kepastiannya, sejak kapan Niska berambisi ingin warisan, harta dan jabatan. Jika memang itu kejujuran, Azalea pasti akan benar-benar terpuruk, hatinya jelas akan merasa kesakitan karena dikhianati. Kendatipun begitu, pada akhirnya Azalea akan merasa lega jika memang itu penyebabnya dibanding tak ada alasan.


Merasa enggan meladeni, Niska mendesah, lalu berdiri dari duduknya, meninggalkan makanannya tanpa ragu, memunggungi Azalea yang baru saja akan menyuapkan makannya dan terpaksa terhenti saat Niska melangkah pergi. Mendadak tidak nafsu, Azalea menurunkan sendok perlahan-lahan. Belum sempat protes, suara Fauzi mengagetkannya.


“Aku duduk disini ya!” seru Fauzi semangat. Azalea menepuk dadanya lemas, ia merasa jantungnya kali ini sering sekali terkejut.


“Minggir sedikit!” suruh Novan menyenggol lengan Azalea yang mau tak mau menurutinya, dengan malas menarik makanannya.


“Kau mengekori Fauzi, ckck.” geleng Azalea prihatin.


“Dia yang selalu menarikku.” jawab Novan singkat.


Sedikit kikuk Azalea menyahuti ringan, “Tidak, kalau kau mau makan saja, itu belum disentuh sama sekali.”


“Benarkah? Awas saja jika kau memintanya lagi! Aku akan habiskan!” seru Fauzi antusias, jika sudah mengenai makanan dia sangat senang.


“Bukannya makanmu sedikit,” tukas Novan bingung sendiri.


“Kadang aku suka makan banyak, tergantung suasana hati,” jawab Fauzi nyengir.


Sementara itu, Azalea masih belum memulai makannya, dia mengerling Fauzi yang makan dengan lahap dan mengamatinya lamat-lamat, mulai berpikir sesuatu yang membuatnya tidak bisa tidur sejak kemarin. Mungkinkah itu benar? Bagaimana jika Fauzi juga sekongkol dengan Niska untuk mendapatkan warisannya? kata-kata semangat dan kebersamaan mereka selama ini, mungkinkah hanya sandiwara?


“Kau tidak makan?” tegur Novan, Azalea segera mengangguk.


“Aku akan makan,” dengan terburu Azalea menyuapkan nasi, mencoba menghilangkan pikiran buruknya. Sekilas Fauzi memperhatikannya, tersenyum teramat kecil seakan menerka apa yang sedang dikhawatirkan gadis itu.


__ADS_1


Azalea menyerah, sebaik apapun IQ yang dimilikinya, ia tidak bisa menebak apa yang terjadi dan yang sesungguhnya terjadi hanya dari ucapan maupun ekspresi seseorang, terlebih Niska terlalu mahir dalam hal membencinya, sehingga Azalea mau tak mau percaya akan tujuan Niska. Jika gadis itu sudah bertekad maka 90% yang diinginkannya akan tercapai.


Tak ingin berburuk sangka, Azalea memutuskan untuk pulang dan urung ke perpustakaan demi mengerjakan tugas sekolah.


Seiring dengan langkah kakinya yang berjalan santai, ia tak sengaja melihat Regi sedang bermain di taman. Karena penasaran, Azalea menghampirinya, mendapati teman sepermainan Regi yang tampak lucu dan memiliki bulu halus, seekor kucing berbulu coklat terang dengan mata berwarna senada yang sama cantiknya.


“Wuah lucunya, apa ini punyamu?” sorak Azalea penuh rasa takjub. Regi menggeleng, membiarkan tunangannya itu berjongkok di sampingnya.


“Ini punya Kak Shita, dia menitipkannya padaku karena ku dengar temannya alergi bulu kucing.” terangnya, Azalea sedikit tertohok, jika begitu hubungan Regi dan Ashita bisa dibilang masih dekat? “Jangan membayangkan apapun, kami memutuskan untuk menjadi teman dan rekan di STUPA, bagaimanapun aku adalah ketuanya dan dia pembimbing.” tutur Regi menjelaskan.


“Sejelas itukah?” tanya Azalea kentara akan keingintahuannya mengenai keahlian Novan dan Regi dalam menebak jalan pikirannya.


“Tertulis jelas di wajahmu,” canda Regi.


“Aku tidak ahli berbohong,” keluh Azalea.


“Kenapa harus sedih, itu bagus. Berbohong bukan hal baik. Itu adalah pesonamu.” hibur Regi.


“Boleh aku bermain dengannya?” tanya Azalea riang, dia memutuskan untuk membatasi diri dalam hubungan segitiga diantara Regi dan dua gadis itu, berharap jika mereka segera menemukan jalan keluar yang terbaik. “Siapa namanya?”


“Hm, kudengar namanya Reg,” pelan Regi merasa malu. Waktu Ashita memberikannya pun Regi merasa nama itu terlalu berlebihan dan bisa dipastikan Ashita lebih malu lagi.


“Wuah, hebat. Reg, cocok juga.” Nyengir Azalea, meski sebenarnya ia ingin tertawa, ternyata Kak Shita punya selera humor yang aneh.


Mereka melewatkan waktu hampir satu jam karena keasyikan mengobrol dan bermain dengan kucing, hingga Aul datang mendekati mereka, Azalea yang mengenal suara derap kakinya sudah lebih dulu tanggap, menoleh pada Aul, lalu menepuk bahu Regi pelan.


“Sepertinya aku harus segera pulang,” bisik Azalea pada Regi, “Reg, kakak pergi dulu, lain kali kakak akan main lagi denganmu.” pamit Azalea mengelus kepala kucing yang dibalas dengan tiduran di rumput, bersikap manja. “Bye!” ceria Azalea melambaikan tangan baik pada Regi maupun Reg.


Setibanya di dalam mobil, Azalea harus mengangguk malas saat Aul mengingatkannya akan batas waktu yang diberikan setelah mengalami pembullyan yang terjadi. Aul lebih terang-terangan mengawasi.


“Aul, apa kau tidak ingin libur sehari pun?”tawar Azalea.


“Melindungi nona adalah prioritas utama.”tegas Aul.


“Aku harus menghilang dulu agar kau bisa libur rupanya,”tukas Azalea.


“Nona, tolong jangan bicara seperti itu.” pinta Aul hormat.

__ADS_1


Menjadi sembrono akan membuat orang-orang di sekitarnya terluka, beranikah Azalea mengambil langkah tersebut. Meraih kebebasannya sendiri dengan mengorbankan pekerjaan oranglain.



__ADS_2