
“Kau siapa?” kasar salah satu dari pembully tersebut mengintimidasi Azalea dengan ekspresi dan nada suaranya yang mengecam. Meski begitu Azalea mencoba bersikap tenang, sedikit meragukan kata kau siapa? Disaat semua orang mengenalnya, kini ada seseorang yang bertanya seperti itu, sedikitnya Azalea malah merasa senang.
“Kenapa kalian membolos dan malah menyuruhnya membeli rokok! Rokok dilarang untuk pelajar, kau bisa terkena sanksi,”
“Apa kami yang membelinya, aish, urusi saja hal lain jika tidak mau mati.”
“Yakk!” sentak Azalea, tersinggung dan tak percaya. Semudah itukah mengucapkan kata mati.
“Yakk?! Kalau begitu biar kau yang gantikan dia!” Azalea menduga siswi yang mendorong pundaknya ini adalah ketuanya. Masih tahan akan dorongan tersebut, Azalea terpojokkan ke tembok. Hendak melangkah, namun bahunya ditahan dengan kuat, Azalea meringis kesakitan karena siswi tersebut meremas dan menekan keras bahunya.
“Lepaskan tanganmu dariku!” Azalea menghempaskan tangan itu, namun hal selanjutnya adalah tamparan yang ia terima, bahkan hampir seperti pukulan membuat wajah Azalea memerah. “Selagi aku bersikap baik, hentikan sekarang!” kecam Azalea, pikirnya, Aul pasti akan menemukannya.
Tak digubris,
“Ini salahmu ikut campur, br****k.” maki ketuanya.
Mata Azalea kini terarah pada isyarat tangan ketua yang meminta sesuatu pada temannya, dan sepuntung rokok ia terima, langsung memasukkannya ke mulut Azalea yang segera melawan, mengatupkan bibir rapat. Ketua itu marah, memegang rahang Azalea kuat untuk menyuruhnya merokok, dan Azalea bersikeras bertahan.
Azalea berhasil mendorong perut ketuanya dengan keras, lalu tanpa berpikir ia menarik tangan anak SMP dan berlari cepat memasuki perumahan yang bahkan tak pernah ia kunjungi.
Tersulut emosi, para pembully segera mengejar.
~azalea.fiction~
Cukup jauh dari mereka, tiba-tiba tangannya disentakkan, pegangan mereka terlepas. Azalea berbalik menatap anak SMP tersebut yang menatapnya tajam, dalam sorot matanya Azalea memahami apa yang dipikirkan.
“Kau pikir ini akan berakhir begitu saja! Mereka menyiksaku karena kami selalu bertemu! Kau pikir aku akan bisa lolos dari mereka setelah yang kau lakukan!” bentaknya marah, Azalea terdiam. Jadi ia sudah melakukan kesalahan.
“Tetap saja!” urung mengomentari, Azalea menurunkan nada bicaranya, “Jangan bilang kau lebih memilih merokok!”
“Ya! Aku akan melakukannya!” teriak gadis tersebut dan berjalan pergi meninggalkan Azalea dengan kekacauannya. Bekas tamparan di pipi, gelungan yang acak-acakan, dan pergelangan kaki yang terluka akibat lari dengan menggunakan high heels.
__ADS_1
Tak ada pilihan selain kembali berlari saat matanya menangkap bayangan anak-anak SMA tadi, berada di depan dan samping kanannya. Segera saja Azalea ke arah kiri, menaiki jalanan yang cukup berbukit, semakin masuk ke perumahan, berbelok kemana pun asal lolos dari mereka dengan perasaan terluka.
Bersembunyi di dalam rumah yang gerbangnya terbuka, Azalea mengatur napasnya yang tersenggal-senggal, dan tak sengaja melirik pergelangan kakinya yang berdarah, Azalea berjongkok memeluk lututnya. Ada perasaan aneh dalam dirinya, marah, kecewa, takut, tak terima dan menyesal karena tidak tahu apapun, jika seseorang kadangkala tak membutuhkan bantuan.
Beberapa menit setelahnya. Azalea tersesat, ekspresinya jelas kebingungan menentukan arah menuju jalan besar, sembari berjalan dengan terpincang ia mencoba menelusuri jalan keluar. Bodohnya dia, dengan berani menolong oranglain tapi tak bisa menolong diri sendiri.
Bohong jika ia adalah gadis yang kuat, Azalea kini tampak berkaca-kaca. Ia tak punya siapa pun, tak ada nomor yang diingat, terlebih tak ada orang yang bisa ia hubungi. Dan kalau bertemu kakek, Azalea yakin ia akan kembali dikurung.
Berjalan menunduk mencoba mengendalikan perasaan, Azalea terperangah kaget akan suara sepeda yang mendadak di rem tepat di depannya. Mendongakkan kepala, seorang pria menghampirinya dengan wajah cemas.
“Lea, kau baik-baik saja?” Tanya Novan. Azalea berhambur memeluknya, ia merasa sangat lega seseorang berhasil menemukannya.
~azalea.fiction~
Hanya ada keheningan diantara Novan yang sedang mengayuh sepeda dengan Azalea yang duduk di jok boncengan. Novan melirik pegangan tangan Azalea yang longgar di pinggangnya, lalu menarik tangan itu agar lebih kuat memegangnya dan mempercepat kayuhan. Novan tak berani menanyakan apa yang terjadi dan memilih membiarkan Azalea menenangkan diri, gadis itu tampak kacau dan terlihat sedih.
Pergerakan tersebut membuat Azalea tak sungkan mengeratkan pegangan, mencoba memperhatikan pemandangan sambil sesekali merasakan hembusan angin yang menyejukkan. Begini rupanya menaiki sepeda.
Setibanya di depan gerbang sekolah kaki Azalea tak beranjak sedikit pun untuk masuk. Perasaannya berkecamuk.
“Aku tidak ingin masuk,” kelunya.
“Kau membuat kami menunggu selama 1 jam, juga membuat kami cemas. Kau tidak mau bertanggungjawab.” Senyum Novan, Azalea mendesah ragu. “Ayolah, seorang gadis berusia 17 tahun yang selalu dimanja, memiliki segalanya, dan tak tahu dunia luar, kabur bukan pilihan, kau hanya akan merepotkan dirimu sendiri. Kita hadapi ini, kau bisa memanfaatkanku kapan pun kau ingin.”
“Kau menghibur atau mencemoohku?” kesal Azalea namun anehnya merasa lega.
Berjalan tegap melangkahkan kaki, Azalea tinggal selangkah lagi memasuki area sekolah namun Novan memegangi tangannya.
“Kau akan masuk dengan dandanan seperti ini?” Tanya Novan mengingatkan. Ah Azalea paham, meski tak melihatnya, Azalea tahu pasti penampilannya sekarang sangat kacau.
“Tunggu sebentar,” Novan melepas gelungan dan membiarkan rambut Azalea terjatuh tergerai, menyisirnya dengan jemari perlahan, Azalea terdiam. Sekali pun mereka adalah teman, jelas merasakan sentuhan tersebut memberikan sensasi yang berbeda, jantungnya berdegup kencang. “Kau bisa merapikannya?” Azalea mengangguk, merapikan rambutnya cepat, lebih seperti menepuk-nepuk agar helaiannya tak mencuat kemana-mana.
__ADS_1
Jantungnya kembali berdesir aneh saat Novan berlutut melepas high heels-nya demi melihat luka di pergelangan kaki. Dengan lembut Novan menempelkan plester yang ia ambil di kotak khusus, di saku blazer-nya, ke-kedua pergelangan kaki Azalea. Sedang gadis itu malah membeku. Sejak kapan Joshua selembut ini?
“Kau …” baru saja Azalea akan bertanya, satpam dan Pak Dani datang.
Menyimpan pertanyaan dalam hati, Azalea kini diantar Pak Dani ke aula, sedang Novan memilih memarkirkan sepedanya lebih dulu.
~azalea.fiction~
Azalea beruntung tidak di hukum berat oleh kakek kecuali menyelesaikan soal matematika sebanyak 200 soal semalaman karena terlambat datang, menutupi hal yang terjadi dengan kebohongan, asal menyebut jika ada orang yang ia kenal dan bergegas menghampirinya lalu tersesat.
Jika di rumah Azalea sudah mendapatkan kembali kepercayaan diri dan kesadarannya untuk lebih mempedulikan oranglain, bersikap baik juga menghargai pegawai, maka di sekolah kebalikannya. Ia tampak gugup dan ragu untuk masuk ke gedung sekolah, langkahnya juga teramat pelan, menunduk karena merasa ditatap semua orang. Beberapa dari mereka seakan memberi tatapan mengintimidasi, mencemooh, mendadak Azalea teringat akan pembully waktu itu.
Tatapan oranglain sungguh mengerikan.
Kaki Azalea terhenti saat Novan berada di depannya, memiringkan kepala demi bersitatap dengan Azalea yang terperangah kaget, terlebih Novan menyentuh dan mengangkat dagunya.
“Kau bisa jatuh jika berjalan sambil menunduk!” omelnya.
Seketika itu Azalea mendapati beberapa mata memperhatikan mereka, para siswa menatap sinis.
“Ini hidupmu, jangan kalah dengan tatapan mereka. Dulu dan sekarang pun tak ada bedanya, lagipula kau tidak salah.” Ucapan Novan terdengar manis. Azalea memicingkan mata menelisik sosok teman prianya ini.
“Kau … kenapa bisa tahu aku ada disana dan bahkan membawa sekotak plester?” Tanya Azalea mencoba mengacuhkan yang lain.
“Kau tahu sendiri Novel sering menghilang, dan sering terluka.” Jawabnya. Azalea paham, sifat lembut Novan memang selalu ada, seperti yang selama ini ia lihat saat Novan memperlakukan Novel.
“Ehem,” Regi berdehem pelan, berada diantara mereka, serentak Azalea dan Novan menoleh padanya. “Mau sampai kapan berdiri disini, ayo masuk, 4 menit lagi pelajaran pertama akan dimulai.” Tegurnya, tersenyum cerah menyapa mereka, yang jelas mengundang histeris para siswi. Gelar pangeran sekolah yang di dapat Regi bukanlah lelucon, dia sangat terkenal bahkan sampai ke luar sekolah lainnya.
Di saat Novan melangkah lebih dulu, Regi menyamakan gerakan ringannya di samping Azalea.
“Lea,” panggil Regi tenang, Azalea menoleh. “Kau tidak sendirian, ada kami disini.” Azalea menatapnya terenyuh. Memikirkan ia memiliki 5 pria yang tak pernah ia duga sebelumnya, yang bahkan tak pernah sekali pun ia berpacaran, bukankah keadaan ini adalah hal yang baik?
__ADS_1
Mereka berlima adalah pria yang ia kenal sejak dulu. Temannya.
~azalea.fiction~