
Pagi yang buruk, begitu pun dengan harinya sekarang.
Azalea dilirik semua orang, digosipkan dan semakin dijauhi, tak jarang ada beberapa gunjingan buruk mengenainya. Bahkan beberapa siswa pria pun berpikir jika Azalea tipe perempuan murahan.
Hari pertamanya memimpin kelas bersama Fauzi kacau, mereka mengacuhkan keduanya, dan lebih parah mengasingkan Azalea seakan-akan gadis itu tak ada. Guru-guru pun terkadang melirik ingin tahu ke arah Azalea, merasa keputusan pertunangan adalah hal mustahil, menduga apa yang sebenarnya terjadi.
Tempat ternyamannya saat istirahat pun terganggu dengan orang-orang yang memandang mencemooh padanya. Azalea tidak semangat, termenung dan tidak nafsu makan, ia menghindari kelima tunangannya, dan memilih pulang cepat.
Setibanya di rumah, berdiri di depan kantor kakek. Azalea memutar handle pintu perlahan dengan wajah sedih, di belakangnya Aul, dan Park Damar, sekretaris pribadi kakek memberi waktu.
Yudi Kusuma duduk tegak menghadap Azalea.“Ada apa?”
“Sejak kecil aku tidak pernah melanggar peraturan, aku selalu mendengarkanmu. Tapi kenapa sekali pun kakek tidak mau mendengarkanku. Aku tidak ingin bertunangan.” Masih banyak kata yang ingin diutarakan Azalea, tapi mendadak segalanya tak berarti. Sorot mata kakek, raut muka tegasnya, dan satu kata pasti darinya menyakinkan Azalea jika tak ada pilihan selain menurut.
Dalam diam, hati Azalea terasa sesak karena kecewa.
~azalea.fiction~
Mata Azalea sembab habis menangis, dan kini ia tengah termenung. Barulah saat dirasa tenggorokannya kering Azalea hendak beranjak ke dapur mengambil minum, sejak tadi tak ada pelayan yang datang karena ia melarang mereka menganggu.
Satu kali, dua kali dan untuk ketiga kalinya pintu tidak terbuka, seseorang menguncinya dari luar.
“Apa aku sedang dikurung?” pikir Azalea, lalu mengedor pintu. “Aul, bukakan pintunya!! Kenapa kau mengunciku!” sentak Azalea, berteriak. Lagi dan lagi, berharap pintu terbuka.
Sia-sia tak ada bunyi pergerakan pintu dibuka. Dengan sedikit serak Azalea melanjutkan. “Aku hanya ingin minum.” Ucapnya.
“Minum sudah kami siapkan di nakas nona.” Jawab Aul.
__ADS_1
Azalea memakinya, menyebalkan sekali menjawab setelah ia kehabisan suara.
Hari ini terasa panjang dan menyedihkan. Azalea mendekati nakas, berdiri di jendela besarnya, dan tiba-tiba saja ia fokus memperhatikan sesuatu di bawah sana dan melupakan keinginannya untuk minum.
~azalea.fiction~
Pihak sekolah menyiapkannya dengan rapi dan elegan, tata panggung, serta aula yang disulap menjadi menarik. Beberapa guru dan siswa sudah berpakaian rapi mengenakan almamater khusus yang digunakan dalam acara resmi dan penting, mereka duduk di tempat masing-masing. Sedang barisan pertama diisi oleh keluarga Kusuma beserta keluarga kelima tunangan. Meski begitu, Niska, Yuki dan Novel berada di kursi khusus siswa.
Di atas panggung ada 6 kursi. Para siswi terpukau dan hampir saja menjerit takjub jika tidak ingat tempat, ketika kelima tunangan masuk dan menaiki panggung.
Mengenakan setelan jas hitam dengan dandanan berbeda membuat mereka semakin tampan dan keren. Novan yang memiliki senyum ramah dan bekepribadian tenang duduk pertama disusul Fauzi yang tampak kalem, Aiman dengan rambut hitamnya yang berponi, kali ini seperti tokoh animasi yang keluar dari komik romantis. Disisi lain, Regi begitu cocok mengenakan jas yang memperlihatkan sosoknya yang bagaikan pangeran, dan Gian, sorot mata serta wajah dinginnya melengkapi ketampanan mereka.
Hanya ada sisa satu kursi, dan pemiliknya tak kunjung datang.
Sementara itu, di kediaman keluarga Kusuma.
Azalea yang dijadwalkan akan berangkat bersama dengan kakek dan orangtuanya kini terlambat dan akan menyusul.
Setelah berhasil, segera Eva mendandani Azalea dengan cekatan, yang selalu di jahili Azalea dengan memalingkan wajah, bersembunyi atau beralasan apa pun agar bisa berlama-lama. Sampai Aul terpaksa mencengkramnya untuk diam.
~azalea.fiction~
Menekuk wajah tak suka, cemberut sejak masuk mobil Azalea hanya memandangi nanar pemandangan Jakarta, melewati gedung perusahaan yang akan jadi miliknya, dan menghela napas kasar berulangkali, tak jarang mendelik sebal pada Aul yang duduk di samping supir.
Mereka berhenti di lampu merah bertepatan dengan kecelakaan mobil yang melanggar lampu lalu lintas dan akibatnya terhantam mobil dari sisi kirinya, yang datang tak terduga dengan kecepatan tinggi. Suaranya jelas sangat keras dan Azalea refleks memalingkan wajah, mencondongkan tubuh lebih dekat ke pintu, ke arah lain untuk tak melihat mobil tersebut berguling dekat dengan posisi mobilnya.
Aul refleks keluar hendak melihat kondisi penumpang menitipkan Azalea pada supir, sedang yang dititipkan tak sengaja melihat sesuatu. Seorang pelajar SMP keluar terburu dari toko dengan membawa beberapa bungkus rokok, menggunakan kesempatan dari penjaga toko yang teralihkan pada kecelakaan. Ekspresinya terlihat takut, panik dan sorot mata tak fokus. Berlari cepat seakan tengah dikejar, dan entah apa yang dipikirkan Azalea saat itu, ia keluar dari mobil memilih mengejar anak tersebut.
__ADS_1
Terkejut supir bergegas menyusul Azalea namun pintunya terhantam motor yang baru datang tepat di ambang pintu kemudi, yang berhenti mendadak akibat kecelakaan tadi.
~azalea.fiction~
Sambutan demi sambutan berlalu, acara demi acara juga silih berganti. Namun Azalea tak kunjung datang, terlebih sebentar lagi akan ada pertukaran cincin. Hana merasa gelisah, dan Yudha mencoba menenangkannya, sedang kakek sangat ahli memasang wajah serius yang tak tergoyahkan apa pun.
Kelima tunangan menunggu, dan mulai berpikir masing-masing.
“Kau tahu kemana dia pergi?” Tanya Fauzi berbisik pada Novan,
“Tidak, kurasa dia tidak bisa kabur.” Jawab Novan, mengingat sikap kakek yang keras.
Dari kelimanya Aiman yang paling tak tenang. Sejak dulu ia sudah menyukai Azalea, bahkan saat pindah ke Jepang pun Aiman selalu memikirkannya, dan rencana pertunangan ini membuat ia antusias walau harus jadi yang ketiga.
Azalea adalah cinta pertamanya, karena itu seringkali Yuki meledek dan menyumpahi, jika cinta pertama selalu berakhir menyedihkan. Tapi Aiman yakin selama perasaannya tulus pada Azalea, suatu saat nanti perempuan itu akan merasakannya.
Aiman berharap Azalea segera datang dan baik-baik saja.
Yang terjadi pada Azalea sekarang adalah, kenekatan yang tak pernah ia duga.
Anak SMP dengan rambut panjang diikat asal itu menunduk memberikan rokok pada sekumpulan anak SMA. Mereka merebut, mendorong dan mengatainya lamban, tak hanya itu mereka bahkan sempat memukulinya karena senang. Salah satunya bahkan memasukkan seputung rokok ke mulut anak SMP yang berusaha menolak.
“Hey! Apa yang kalian lakukan!” teriak Azalea tak tahan. Menghentikan nyala api di pematik pada rokok anak SMP.
Detik selanjutnya adalah, anak-anak SMA itu menatap tak suka pada Azalea.
~azalea.fiction~
__ADS_1