
‘Bersikap berlebihan karena mengkhawatirkan seseorang adalah hal wajar bukan?’
Lebih dari kata lega, Azalea berjalan riang sepanjang koridor sekolah hingga seseorang mengejutkannya. Kaget setengah mati, Azalea berseru dan segera memegangi jantungnya. Dalam usahanya menormalkan detak jantung ia menoleh pada Ashita, pelakunya.
“Kau terlihat gembira.” Kekeh Ashita.
“Kak Shita!” seru Azalea senang. “Wah ini mengejutkan, kenapa kakak ada disini? Kabar Kak Shita baik-baik saja?”
“Hm seperti yang kau lihat. Aku kesini sebagai asisten perawat di UKS dan salah satu pengajar di STUPA.” Jelasnya membuat Azalea semakin senang.
“Wah benarkah, itu berarti aku akan bertemu denganmu.” Lega Azalea, ia punya teman dan tidak perlu takut pada Niska.
“Aku tahu, aku sudah baca daftar anggota baru, kau harus bersiap-siap. Kau akan dilantik bersama dengan siswa kelas satu.” Terangnya diangguki semangat oleh Azalea. “Sepertinya kau sudah siap.”
“Tentu saja.” Tandasnya yakin.
Setelah itu mereka bercakap-cakap sepanjang menuju kelas. Ashita sengaja mengantar Azalea ke kelas 2-1 sebelum ke UKS. Dia akan memulai kerja paruh waktunya di sana.
Disaat semua siswa sudah memiliki banyak teman di hari MOPD, Azalea masihlah sendirian. Statusnya sebagai cucu pemilik sekolah jelas sudah diketahui banyak orang, tak banyak yang menghampirinya, lagipula ini pilihannya. Azalea menjaga jarak dengan semua siswa. Alasannya, karena ia takut jika mereka mendekatinya hanya demi terlihat bagus, atau lebih parah demi uang.
Di jam istirahat. Azalea memilih makan roti sendirian di bangku taman, berhubung adanya larangan mengenai makan di kelas. Tiba-tiba saja Ashita datang dan merebut roti yang hampir ia gigit, Azalea tak berani protes, bahkan untuk menegur pun tak ia lakukan. Kendati statusnya adalah calon pemilik sekolah, Ashita tetaplah senior yang harus dihormati.
“Kenapa kau makan sendirian?” tanya Ashita setelah menghabiskan roti milik Azalea, yang sedari tadi hanya memandanginya syok.
Azalea ragu Ashita tidak tahu mengenai dirinya, ia pun memilih tak menjawab. Beberapa detik dalam kegamangan yang dirasakan Azalea, Ashita berinisiatif menjawab pertanyaannya sendiri.
“Kau tidak ingin mereka mendekatimu karena status dan kekayaanmu kan, konyol sekali. Lalu bagaimana caramu mempunyai teman, dan mengizinkan dirimu sendiri untuk mendekati hatimu.”
“Kakak tidak tahu apa pun,” gumam Azalea membuang muka ke sembarang arah, pernyataan tersebut menyinggung perasaannya.
“Aku mau jadi teman makanmu, asal kau menyediakan satu roti dan minuman untukku.” Tawar Ashita. Azalea mendesis tak percaya.
“Kau berusaha membullyku?”
__ADS_1
“Mana berani aku melakukannya, apa tampangku seperti pembully? Jika kau tidak mau tak masalah, kau hanya perlu menolaknya.” Sembari bicara Ashita mengambil minuman milik Azalea dan menyeruputnya santai.
Entah kenapa, Azalea malah tersenyum kecil.
Sejak saat itulah mereka cukup dekat, tepat setelah hubungan Azalea dan Niska merenggang. Namun tak berlanjut lama, karena Ashita lulus sekolah disaat Azalea naik ke kelas 2.
Berada di dalam mobil, Novan dan Azalea tengah duduk bersama. Sementara Aul menunggu di luar membiarkan keduanya bicara dengan bebas.
“Kau terlihat baik-baik saja, syukurlah.” Senyum Novan. Azalea cemberut.
“Itu sajakah? Wah sebagai tunangan kau dingin sekali!” ledek Azalea.
“Aku khawatir, tapi ku dengar kau menyelesaikan masalahnya dengan baik. Ini pertamakalinya kau berlutut, sayang aku tidak melihat langsung.” Canda Novan, Azalea ikut tersenyum, itu juga pertamakalinya kakek mencabut keputusan.
“Lalu ide apa yang ingin kau katakan padaku waktu itu?” tanya Novan jelas menanyakan kejadian yang bertepatan dengan pengumuman peresmian pertunangan.
“Ide untuk membuat kekonyolan dan pemberontakan kecil. Tentu untuk membatalkan pertunangan.” Ungkap Azalea melemah, karena itu sia-sia meski belum dimulai sekali pun.
“Kurasa tidak bisa, keputusan ini terlalu besar, kakek tidak akan menariknya kembali. Aku hanya bisa memanfaatkan keadaan.” Azalea teringat perkataan Novan waktu itu, mencoba mengambil kesimpulan positif dari keadaan yang ia terima.“Aku bisa berkencan dengan kalian, bukankah itu menyenangkan.” Jujur Azalea, masa mudanya belum pudar seutuhnya.
Dia belum pernah pacaran dan sekarang punya 5 tunangan, anggap saja ini pengalaman untuk pernikahan nanti. Lagipula saat menikah tidak mungkinkan ia punya 5 suami? Memikirkannya saja membuat ia bergidik ngeri.
“Kau pasti sedang berpikir macam-macam!” tebak Novan.
“Kok tahu?” kaget Azalea. Novan menepuk kepalanya pelan.
“Karena aku temanmu.” Itu adalah kebenaran, Novan adalah teman yang paling dekat dan mengerti dirinya. Azalea mengangguk setuju, bersamaan dengan ponsel Novan yang berdering singkat. “Pesan dari Uzi, aku harus datang ke rumah sakit jam lima.” Jelas Novan membuat Azalea sedih karena ia tidak bisa menjenguk Robby, menyadari ekspresi itu Novan menjitak Azalea. “Lain kali aku akan mengajakmu!” pungkas Novan bukan sekedar hiburan atau omongan belaka. Azalea kembali mengangguk, jika Novan berjanji maka pria itu akan menepatinya.
“Ah ini membuatku ingat Novel.” Desah Novan, “Dia belum mau menjenguk Robby, dan akhir-akhir ini sangat mengesalkan. Hampir setiap saat dia membantahku!” kesah Novan tak habis pikir, Azalea ikut prihatin. Hubungan keduanya memang sulit.
“Dia akan berubah, secepatnya.” Hibur Azalea meski terdengar pahit, karena ia tidak bisa menjanjikan hal itu, tapi Novan menanggapinya dengan baik dan berterimakasih.
“Kudengar kau masuk STUPA. Barusan aku melihat Kak Ashita, dia juga anggota STUPA kan, mantannya Regi bukan. Setahuku dia sudah lulus, kenapa ada di sekolah?” tanya Novan.
“Dia bilang akan menjadi asisten perawat UKS dan …” mendadak Azalea teringat Niska. Ah benar, Kak Shita adalah mantan Regi dan ini adalah masa darurat. Azalea sudah tahu semuanya, dia hanya bersikap biasa dan mencoba menjaga jarak dari Niska yang selalu ingin menjauhinya.
__ADS_1
“Novan, aku harus pergi!” pamit Azalea terburu dan bergegas keluar, berlari kembali ke dalam gedung sekolah. Novan memperhatikan dan menebak apa yang akan dilakukan Azalea.
“Dia terlalu berlebihan.” Gumamnya, menerka jalan pikiran Azalea.
Bukan setengah berlari lagi, tapi kaki-kaki itu berlari cukup cepat sehingga oranglain bisa saja menebaknya sebagai seorang atlet lari, tapi sayangnya itu tidaklah benar, dia hanya Azalea, putri sekolah yang sangat dikekang oleh kakeknya, dituntut untuk feminim dan tentu profesi sebagai atlet pastilah tidak mungkin. Kakek akan langsung menghapus namanya dari silsilah keluarga atau lebih parah mengurungnya berbulan-bulan.
Pikiran konyol itu langsung lenyap saat Azalea tidak mendapati orang yang dicarinya di kelas, loker utama, perpustakaan dan lekuk-lekuk sekolah lainnya. Terlihat pucat dan gemetar, Azalea mencoba memastikan satu tempat dan mulai menaiki tangga menuju atap sekolah. Ini adalah yang pertama baginya pergi ke atap, bukan karena ia mengidap acrophobia, dimana ia takut pada ketinggian, melainkan karena takut pada langit. Sesuatu yang aneh tapi nyata, siapa coba yang akan takut pada langit yang selalu ada di atas kepala manusia, jika ada maka orang itu akan terus terkurung dalam ketakutannya.
Tapi Azalea memang lah sedikit phobia pada langit, jika ia naik ke atap, ia bisa merasakan jarak langit mendadak begitu dekat tapi sadar ia tak bisa menyentuhnya. Alasan itu cukup memilukan baginya, ia hanya iri pada langit yang cantik, yang tidak terjamah dan berdiri sempurna dibanding dirinya yang hanya mencoba menghindari langit.
Ragu. Tangan itu masih bertahan di handle pintu atap, menyakinkan dirinya jika saat ini ia tidak sedang melawan langit, tapi menemukan seseorang yang membuatnya cemas. Pintu besi yang cukup tebal itu akhirnya terbuka menampilkan sosok Azalea yang terlihat syok, matanya melotot dan kakinya mendadak lemas.
Tepat di manik matanya ia melihat Niska sedang berdiri di tepi atap menundukkan kepala. Tanpa ragu lagi meski tubuhnya menegang gelisah Azalea berlari menghampiri dan menarik tangan Niska. Membuat tubuh Niska kaget dan jatuh mengenai lantai atap yang alami dengan pavling block-nya, mendapati Azalea yang ikut terjatuh di sampingnya. Azalea langsung berjongkok dan memperhatikan Niska antara khawatir dan marah.
“Apa kau sudah gila! Yang benar saja, otakmu itu terbuat dari apa sih, hanya karena mantannya datang kau mau bunuh diri!” sentak Azalea ikut berdiri saat Niska dengan sekali hentakan bangkit dari jatuhnya dan menjauhkan diri dari Azalea beberapa centi.
“Kau yang gila! Tubuhku bisa terluka!” solot Niska merapikan pakaiannya yang kotor akibat gesekan yang terjadi pada lantai semen. Dan bisa dipastikan ada yang lecet pada tangannya.
“Apa itu penting! Kau malah bisa membuat kepalamu terluka!” maki Azalea tak tahan, disaat seperti ini haruskah Niska bersikap begitu dingin dan menyalahkannya. Azalea sudah menyelamatkan nyawanya.
“Kau pikir apa yang akan aku lakukan!”
“Dengar!” serius Azalea berusaha keras membuat suaranya tampak berwibawa, menyakinkan dan memberi semangat. “Sebesar apapun rasa sukamu pada Regi, jangan sampai menutup mata hatimu dan biarkan segalanya mengalir seperti apa yang harus terjadi, kau tidak bisa mengubah masa lalu. Kau hanya perlu menyakinkan perasaanmu dan membuat Regi melihat ke arahmu di masa ini, karena itu kau masih punya sesuatu yang harus dilakukan di masa depan. Jadi jangan berpikir kau sudah kalah dan mengakhirinya!” merasa lega, Azalea bisa mengutarakan pemikirannya tanpa takut akan pandangan tajam milik Niska. Yang ada gadis di depannya itu sedang menyilangkan kedua tangannya.
“Kau sudah selesai dengan pidatonya?” ledek Niska, Azalea terdiam. Kenapa tidak ada sentakan lagi, atau ucapan solot kalau ia sok tahu dan suka ikut campur, atau lebih parahnya sok bijak. Merasa lemas Azalea mengangguk pelan. “Aku lebih suka gantung diri daripada jatuh dari lantai enam dan memecahkan kepalaku!” lanjutnya sinis dan berlalu melewati Azalea, berhenti tepat di belakang Azalea, tersenyum sangat kecil mengingat kekonyolan yang dilakukan Azalea dengan menduga ia akan bunuh diri.
Lebih dari syok akan ucapan itu, Azalea sadar ia sudah salah paham.
“Aaah!” amuknya dalam gumaman, mengacak rambut depannya frustasi, ini memalukan, pikirnya. Harusnya ia tahu kalau Niska adalah gadis yang kuat dan tidak mungkin bunuh diri hanya karena mantan dari pria yang disukainya datang.
Tapi, tunggu sebentar, Azalea yakin tatapan sendu milik Niska saat menunduk ke bawah seakan menyiratkan putus asa.
“Kau, sempat berpikir untuk melompat?” tanya Azalea, Niska yang terkejut sentak berbalik ke arahnya.
__ADS_1