Azalea

Azalea
Mozaik 11 : Minta Maaflah


__ADS_3

‘Ini caraku, terserah orang menilainya baik atau buruk’


Setelah beberapa lama dalam keheningan yang dibuatnya sendiri, Azalea mendengar ponselnya berbunyi. Dengan enggan ia mengambil ponsel dan mengangkat telepon. Suara Aiman terdengar khawatir di sebrang sana.


“Kau baik-baik saja?” cemasnya.


“Tidak, aku tidak baik-baik saja.” sunggut Azalea.


“Bukalah tirainya, aku ada disini!” suruh Aiman.


Sempat ragu, Azalea membuka tirai dan mendapati Aiman berada di balkon kamarnya. Menghela napas tak percaya Azalea hanya terpaku menatap Aiman yang tampak pucat.


“Aku tidak bisa membuka jendelanya.” Jujur Azalea menunjuk jeruji yang dipasang di jendelanya sejak satu tahun lalu, saat kejadian ia kabur dari kamar untuk pergi jalan-jalan di malam hari.


“Aku tahu, aku hanya ingin melihat keadaanmu.” ungkap Aiman.


“Bagaimana bisa kau kesini, tidak ada pengawal yang melihat? Jika mereka tahu kau akan kena masalah!” sunggut Azalea datar meski sebenarnya ia merasa khawatir.


“Aku lebih mengkhawatirkanmu, pasti tamparan itu terasa sakit.” Meski saling bersitatap melalui jendela mereka masih menempelkan telepon di telinga masing-masing. Tersirat ketulusan dalam sorot mata Aiman yang selalu berseri tersebut, redup bersamaan dengan raut wajahnya yang menunjukkan penyesalan.


“Hm, ini olahraga wajah yang cukup menyakitkan.” canda Azalea singkat, tersenyum kecil seakan mampu menoleransi rasa sakit yang ada.


“Dia sudah keterlaluan, harusnya kau lawan saja!” kesal Aiman terlontar begitu saja, mendengar itu Azalea malah tersinggung, entahlah. “Bagaimana bisa dia melakukan itu, apa kemarin pun dia membully mu?” gusar Aiman merasa bersalah tidak bisa melindungi Azalea. “Dia harus dihukum.”


“Bagaimana jika dia memang dihukum?” tanya Azalea dengan nada berhati-hati, “Menurutmu hukuman apa yang harus diberikan padanya?” Azalea terlihat penasaran akan jawaban Aiman, toh Nia seperti itu karena menyukai Aiman.


“Hukuman yang berat, agar dia jera dan tidak melakukannya lagi. Berani sekali dia membully mu, sekeras apapun dia membenci pertunangan tetap saja kau tidak bersalah. Seorang perempuan tidak harus melakukan kekerasan, dia menyebalkan sekali. Jika aku bertemu dengannya aku akan memarahinya, tenang saja!” bukan jawaban ini yang diharapkan Azalea, rasanya ia malah terluka dan kecewa pada Aiman. Nia mungkin tidak punya pilihan dan hanya bisa melampiaskannya pada Azalea, tapi bukan berarti Azalea membenarkan sikapnya. Tetap saja, seseorang tidak boleh melihat sikap Nia dari satu pandangan.


“Jika hukumannya dikeluarkan dari sekolah?” ujar Azalea kembali kehilangan mood untuk mendengarkan lebih lanjut.


“Tentu saja itu bagus,” Aiman terhenti, mendadak memahami ucapan tersebut, “Ye? Dikeluarkan dari sekolah?” tanyanya kaget. Ia tidak sampai berpikir kesana dan itu terlalu berlebihan.


“Sudahlah pulang sana! Aku ingin istirahat, jangan terlalu memikirkanku! Aku sudah mendingan.” usir Azalea dalam nada rendah, tersenyum dipaksakan. Dia tidak mau menunggu tanggapan Aiman, menutup ponsel dan tirai begitu saja tepat saat Aiman mengetuk jendela kaca.


Setelah memastikan Aiman pergi, Azalea tidak bisa istirahat dengan mudah. Dia teringat akan Niska, Yuki dan Nia. Ketiganya menyuruh dia menjauhi tunangannya, sesuatu yang tidak mungkin dia turuti begitu saja, apalagi poin utamanya adalah kakek.

__ADS_1


Sebenarnya apa itu, arti menyukai seseorang. Kenapa mereka begitu ingin Azalea pergi dari orang yang mereka sukai, segitu takutkah mereka pada Azalea, takut jika mereka beralih menyukainya dan kalah dari Azalea. Jujur saja, ia tidak pernah menyukai seseorang, bukan karena tidak ingin tapi waktu dan posisinya membuat dia tidak sadar akan perasaannya sendiri.


Tak ingin berlama-lama mengasihani diri sendiri yang tak tahu arti menyukai, Azalea kembali beranjak mendekati jendela, membuka tirai memastikan Aiman memang sudah pergi. Namun tak sengaja, pandangan matanya jatuh pada sesosok gadis yang sangat ia kenal, tengah bicara dengan pengawal pribadi kakek, lalu mereka berjalan bersama, Azalea tebak, bahwa gadis itu ingin bicara dengan kakek. Tapi masalahnya, apa yang ingin dia bicarakan dengan kakek, di malam hari, dan sendirian?



Gadis berambut pendek tersebut selalu merasa hidupnya tidak beruntung, karena terlahir dari keluarga biasa yang terkadang selalu kekurangan uang. Ia mengungkapkan keluhannya tersebut melalui belajar keras sehingga akhirnya berhasil masuk ke sekolah yang diinginkan, SMA Kusuma dengan bantuan beasiswa.


Walaupun ia tak perlu mengkhawatirkan biaya sekolah, tetap saja uang demi kesehariannya masih tak cukup. Uang sakunya hanya bisa ia gunakan untuk biaya transportasi dan ditabung secukupnya demi membeli buku.


Nia Aulia tak menyangka bahwa memasuki SMA ini akan membuat ia terkucilkan, lebit tepatnya mengucilkan diri sendiri karena merasa rendah.


Setelah satu semester dilalui.


Nia bersorak gembira kala menemukan namanya tertera di mading sekolah sebagai siswa peringkat dua dalam ujian tengah semester. Saking antusiasnya ia berjingkrak diluar kendali hingga membuat tasnya yang sudah bolong di bagian tengah robek, buku dan peralatan lainnya berhamburan jatuh.


Semua mata memandanginya, yang diartikan Nia dalam cemoohan, buru-buru Nia menundukkan kepala, memungguti bukunya sendirian tanpa ada yang membantu. Salahnya Nia malah memasukkannya ke dalam tas yang sudah bolong dan malah kembali jatuh.


Ia panik dan malu, tak berani mendongakkan kepala sampai seseorang ikut berjongkok dan mengambil barangnya.


Karena Aiman pula Nia mempunyai teman, di hari ulangtahunnya Aiman memberikan kado berupa ransel beserta wadah pensil yang cantik. Seakan mereka sudah kenal akrab, hal itu memancing teman sekelas untuk menawarkan pertemanan padanya, dan memberi keberanian bagi Nia untuk berbaur.



Ruang kepala sekolah.


Nia dan ibunya sudah duduk berhadapan dengan Pak Iwan, yang merupakan kepala sekolah dan tentu bawahan kakek. Dia tidak bisa menolak akan keputusan kakek untuk mengeluarkan Nia, dan saat ini itulah yang dia katakan pada keduanya. Ibu Nia jelas terguncang sedih, dia memohon pada Pak Iwan untuk memberi kesempatan pada Nia dan membiarkannya sekolah sampai kelulusan nanti, sulit untuk pindah sekolah setelah namanya didaftarkan sebagai siswa di sana dalam ujian nanti, sayangnya Pak Iwan tidak punya keberanian untuk mengubah keputusan itu. Sedang Nia hanya menahan diri untuk tidak marah, rasanya tidak adil, Azalea benar-benar hebat dalam mempengaruhi kakeknya.


Nia menampik rasa sesal dalam dirinya karena sudah menampar Azalea, lebih memilih menyalahkan gadis tersebut. Salah Azalea yang tak mau menurutinya, mengumpat padanya dan membujuk kakek untuk mengeluarkannya. Bagaimanapun orang kaya memang selalu semena-mena.


Pintu terbuka, Azalea datang dan berdiri diantara mereka. Pak Iwan jelas kaget dan berusaha memberinya sambutan ramah yang berakhir kikuk. Nia melotot pada Azalea, hanya karena tamparan dia dikeluarkan tanpa adanya peringatan.


Namun hal yang tak terduga terjadi, Azalea tak membalas tatapan tak suka itu dengan sinis, ia malah berlutut di depan Pak Iwan. Ketiganya jelas terkejut, tak bisa bereaksi akan tindakan mendadak Azalea.


“Bisakah dengan berlutut aku menyelesaikan ini secara baik-baik? Kumohon untuk tidak mengeluarkannya! Aku tidak ingin memperpanjang hal ini, bagaimana pun aku juga bersalah.” pinta Azalea menatap lekat Pak Iwan. Tak ada negosiasi lain yang ia pikirkan selain hal ini, berharap kakek akan luluh.

__ADS_1


Aiman yang baru masuk tertohok akan apa yang terjadi. Melihat Azalea yang berlutut membuatnya sedih, apalagi setelah ia tahu secara detail mengenai kejadian ini. Kalau dialah penyebab Nia membully Azalea.


“Nona tolong jangan seperti ini. Keputusan kakek nona lah yang menyuruh kami mengeluarkannya!” pinta Pak Iwan.


“Aku akan terus berlutut sampai keputusan itu dirubah!” kukuh Azalea.


Serbasalah dan resah, Pak Iwan terus membujuknya, dan Azalea masih berlutut tak peduli apapun. Aiman tersenyum kecil, dia mendekati Azalea dan ikut berlutut. Azalea segera menoleh padanya, Nia yang melihat hal tersebut hanya menunduk sedih. Mengingatkan dirinya akan bantuan Aiman dulu.


“Ini juga salahku, aku mohon jangan keluarkan dia dari sekolah. Kami teman satu kelas, dan rasanya tidak adil jika dia dikeluarkan sebelum ujian dimulai!” Aiman memohon dengan tulus. Azalea terenyuh dan merasa punya teman.


Posisi ini semakin membuat Pak Iwan tidak berkutik, pada akhirnya dia menelepon kakek. Selama obrolan terjadi, Azalea memperhatikan. Hingga segera bersikap tegap dalam upaya berlututnya itu saat Pak Iwan sudah selesai dan menghampiri mereka.


“Saya sudah menelepon pihak yang bersangkutan, hukuman untuk Nia dicabut dan diganti skorsing selama satu bulan.” tutur Pak Iwan melegakan, skorsing satu bulan memang kejam, tapi dibanding dengan dikeluarkan itu masih lebih baik.



Tribun futsal outdoor. Azalea dan Nia sedang berdiri berhadapan dalam keheningan yang ada, karena sebagian siswa masih di dalam kelas, dan ibu Nia menunggu di luar gedung sekolah demi memberi ruang pada mereka untuk meluruskan permasalahan yang terjadi.


“Aku minta maaf akan hukumanmu, juga melibatkan ibumu untuk datang ke sekolah.” tulus Azalea. Ia merasa bersalah, mencoba memahami perasaan Nia, lagipula meminta maaf lebih dulu adalah hal keren yang selalu diajarkan ibunya. Jika hatimu resah karena sudah melakukan kesalahan, maka beranilah untuk minta maaf.


“Sepertinya kau ahli bersandiwara, sekarang kau sedang bermain peran sebagai tokoh protagonis yang sangat baik, begitu?” ujar Nia mempertahankan karisma dinginnya, tapi Azalea merasakan sesuatu yang beda, kalau Nia sedang menyembunyikan rasa malu.


“Jika kau tidak ingin mengucapkan kata maaf, tidak apa, aku bisa menunggu perkataan itu satu bulan lagi.” Azalea menimpali dengan santai. “Mengenai Aiman, aku berharap kau mengatakannya langsung tentang perasaanmu padanya.” imbuhnya sedikit ragu harus mengatakan ini atau tidak, tapi pada akhirnya dia berusaha menyampaikannya dengan baik. “Aku pergi.” pamitnya dan berlalu pergi. Sementara Nia hanya memperhatikan, permintaan maafnya tercekat tak bisa terucap.


Langkah seseorang di belakang Nia mengalihkan pandangannya. Berbalik mendapati Aiman yang sedang berdiri tegak menatapnya.


Mendadak ragu, gugup dan malu, Nia hanya diam.


“Ini mungkin terdengar kasar, tapi, maaf aku akan menolakmu. Aku sudah tahu tentang perasaanmu dan berpura-pura tidak mengetahuinya, tapi sekarang aku menyadarinya. Aku tidak bisa membalas perasaanmu itu, akan sangat jahat jika aku menyuruhmu menghapusnya, karena itu lupakanlah aku perlahan-lahan. Kita masih bisa menjadi teman.” penuturan Aiman membuat Nia semakin tersadar kalau selama ini dia memang berperilaku tidak baik, apalagi pada Azalea.


“Sepertinya kau menyukai seseorang, mungkinkah itu Azalea?” tanya Nia tanpa harus mengetahui jawabannya. Pandangan mata, dan keputusan Aiman untuk berlutut menemani Azalea jelas menjawab hal itu.


Aiman sendiri hanya tersenyum menanggapinya.


Suatu saat nanti mampukah ia mengutarakan perasaannya pada Azalea, sehingga ia bisa dengan mudah mengungkapkan rasa khawatir, takut dan kerinduannya pada tunangannya tersebut.

__ADS_1



__ADS_2