Azalea

Azalea
Mozaik 8 : Guyuran Air


__ADS_3

‘Berasal dari kata mencoba’


Pelajaran matematika.


Saat ini kelas 2-1 sibuk mengerjakan soal yang diberikan guru di akhir pembahasannya. Mereka mengerjakannya sendiri dan tidak berani menyontek mengingat bahwa gurunya itu akan tahu sekecil apa pun gerakan yang dilakukan. Pak Anwar adalah tipikal orang yang teliti, selalu menegaskan pada siswanya untuk berusaha sendiri terlebih dulu, dan jika memang sulit ia akan memberikan kesempatan mereka untuk bertanya, bahkan terkadang memberi waktu pada mereka yang bisa mengajarkan, dan menyuruh beberapa siswa untuk mengerjakannya di papan tulis.


Seperti halnya yang dilakukan Niska dan Azalea sekarang. Keduanya sedang mengerjakan soal di whiteboard, yang dimana terdapat garis memanjang di tengahnya sebagai pembatas, terbagi dua sesuai dengan dua soal yang harus diselesaikan. Soal yang diberikan bukanlah soal sederhana, karena terdapat rentetan angka panjang mengenai rumus yang digunakan.


Mereka begitu fokus dengan boardmaker masing-masing, berusaha memecahkan soal sebisa mungkin.


Disela tulisannya, Niska berujar pelan namun terdengar mengintimidasi.


“Kau, tidak cukup berani untuk kabur sejauh mungkin.”


Gerakan tangan Azalea terhenti, mengerling sekilas pada Niska yang masih menulis, seolah-olah yang diucapkannya hanya basa-basi biasa yang bisa dilontarkan begitu saja.


Tak seharusnya Niska berbicara seperti itu mengingat betapa sulitnya bagi Azalea melangkahkan kakinya kembali ke sekolah.


Mencoba mengacuhkannya Azalea lanjut menulis, setelah mendapati Pak Anwar yang sedang mengajari seseorang dan tidak menaruh curiga pada mereka.


“Aku tidak tahu kalau kau cukup pecundang untuk lari, tapi aku tidak ingin kau melibatkan Fauzi. Karena itu duduk manis lah seperti biasanya, dan jauhi dia!” Kecam Niska, kali ini ia bisa merasakan tatapan tajam milik Azalea terarah padanya.


Pecundang? Wah, Niska belajar bahasa kasar dengan baik. Pikirnya mengenggam erat spidol, mencoba menahan diri.


“Harusnya kau katakan itu langsung padanya!” gertak Azalea dalam gerak bibir pelan yang penuh penekanan. Keadaannya sudah lebih dari buruk dengan dirinya sebagai bahan pembicaraan semua siswa. Ia tak ingin Niska memperparah suasana hatinya.

__ADS_1


~azalea.fiction~


Dengan berat hati Azalea terpaksa memasuki kantin yang selama ini ia hindari, sejak pagi ia menolak sarapan dan tribun jelas sudah dipenuhi orang-orang yang mencoba mengejeknya meski sekedar perasaan belaka. Azalea tak pernah tahu apa mereka memang kebetulan lewat disana atau penasaran ingin melihat kondisinya. Dalam situasi seperti ini ia menjadi sensitif dan dipenuhi pikiran buruk.


Hanya menerima salad buah yang ditata cantik di thinwall, Azalea duduk di salah satu bangku kantin, membukanya dan mulai makan tanpa gairah. Kehadirannya jelas mengundang banyak ketertarikan dari semua siswa yang ada disana, Azalea seperti objek seru saat ini, seakan-akan dia adalah alien yang harus ditonton dan dipandang sinis.


Yang lebih menyedihkan adalah, Azalea benar-benar lapar.


Azalea dikejutkan dengan kehadiran Aiman yang baru saja duduk di depannya, menyimpan foodtray tepat di samping thinwall. Azalea melongok makanan yang tersaji di atasnya, sungguh mengugah selera.


Aiman menarik thinwall, mendorong foodtray sebagai penggantinya.


“Aku akan duduk disini,” ujar Aiman menjawab tatapan ingin tahu Azalea akan sikapnya. Dia berniat menemani Azalea makan. “Kau tidak bisa menyuruhku pergi atau menolak niat baikku ini.” Imbuhnya setelah duduk sempurna di depan Azalea, menegakkan tubuhnya dan tersenyum kecil. Azalea merasa berterimakasih, ia mulai makan dengan lahap. “Makanlah, bagaimana pun kau harus punya tenaga untuk melawan mereka, buktikan saja kalau kau tidak menginginkan hal ini dan mengakui diri sebagai korban.”


“Aku tidak melucu. Kau hanya perlu kuat dan tidak merasa terintimidasi lagi oleh mereka, kalau perlu tunjukkan keberanianmu pada mereka, lagipula saat seperti ini kau hanya harus bertahan. Kau tidak melakukan kesalahan.” Tutur Aiman tersenyum menyemangati, wajah kecilnya terlihat semakin tampan dengan mata yang berbinar riang. Ia ingin menghibur Azalea dan memastikan gadis tersebut baik-baik saja.


Apa yang dikatakan Aiman memang benar, dia juga korban dari keputusan kakek yang gila. Dia tidak pantas untuk dihina, atau merasa menciut dibicarakan oleh yang lain. Mereka tidak tahu separah apa perasaan Azalea saat ini, dan soal bertahan Azalea tahu mengubah keputusan kakek sangat sulit, jadi itu juga benar.


Wajah cantiknya yang sedari tadi muram berubah lebih cerah, mendadak ia mendapat semangat. Menikmati makanannya,


“Ini enak sekali, kau tidak mau coba? Makanlah!” tawar Azalea mulai seperti biasanya. Aiman tersenyum lebar, mungkin ini terdengar klise, tapi melihat Azalea makan dengan senang adalah kebahagiaan tersendiri baginya.


“Makanlah yang banyak!” tolak Aiman sembari tertawa kecil, saking gemasnya akan sikap Azalea yang mengangguk-angguk tak bisa menjawab karena mulutnya yang penuh makanan. “Pelan-pelan saja kau bisa tersedak!”


Aiman adalah pria yang penuh perhatian, selalu bersikap baik pada siapa pun sehingga banyak perempuan yang menyimpan perasaan suka padanya, meski begitu, hatinya sudah tertuju pada Azalea.

__ADS_1


Tanpa disadari, beberapa siswi memperhatikan mereka dengan kesal, tidak suka akan kedekatan keduanya, terselip kemarahan saat melihat Azalea dan Aiman saling tersenyum berbagi obrolan.


~azalea.fiction~


“Perasaan seperti inikah yang dirasakannya?” gumam Azalea berdiam diri di salah satu bilik toilet, teringat akan anak SMP yang sempat ia bantu, dan malah berakhir dengan rasa bersalah. Azalea takut memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi pada anak SMP itu, bagaimana jika karenanya ia semakin ditindas. Mengenai hal itu, bukankah sekarang ia juga ditindas?


Azalea mengurungkan niatnya untuk keluar saat mendengar beberapa siswi membicarakannya dengan antusias. Rupanya toilet benar-benar tempat yang nyaman untuk membicarakan oranglain, Azalea akui mereka tidak kreatif. Masih ada tempat bagus dengan pembicaraan yang baik.


“Bukankah ini sudah berlebihan, hanya karena dia cucu pemilik sekolah dia bisa mendapat lima pria, apa jangan-jangan dia yang meminta ditunangkan dengan mereka.”


“Sejak dulu aku sudah tidak suka padanya, lihat saja gayanya sok putri, juga sifatnya itu, pendiam dan bertampang baik. Menipu banget!”


“Dia berani menggoda lima pria, dan mendapatkan semua yang ia mau!”


Pikiran negatif mengenai dirinya semakin merajalela dan dibahas saat itu, tentu saja Azalea merasa terluka dan tersinggung. Tapi keluar sekarang bukan jawabannya, dia tidak ingin menunjukkan kekalahannya pada mereka, biarlah. Sayangnya hal itu tidak bisa dibiarkan, salah seorang dari mereka menaiki kloset di toilet sebelah tempat Azalea berada dan membuyurkan air tepat mengenainya. Mereka tertawa cekikikan, berusaha menahannya, lalu bergegas keluar dari toilet.


Azalea mendesah tak percaya, menyeka air yang membasahi wajahnya dan membuka keras pintu toilet. Matanya tampak marah terlihat dari pantulan cermin wastafel yang ada di depannya. Mendadak ucapan Aiman saat di kantin memberinya kekuatan, dia tidak boleh membiarkan ini dan akan bicara langsung pada mereka.


Kesungguhan Azalea terbukti, dia mendapatkan rekaman cctv sekolah depan toilet dan menemukan 5 siswi yang berlari tergesa-gesa keluar dari toilet sambil cekikikan. Dan bisa Azalea pastikan merekalah penyebab seragamnya basah dan mengharuskan Azalea memanggil pengawalnya untuk membeli baju baru. Mengepalkan tangan untuk menyakinkan diri, Azalea berencana memanggil mereka dan bicara.


Bersitatap dengan kelima siswi itu, Azalea berakting dengan baik. Ekspresi dan ucapannya sangat tegas, mengisyaratkan kalau dia bukan orang yang bisa dan tak akan kalah hanya karena dibully. Azalea bahkan menekankan mereka untuk tidak melakukan hal seperti tadi atau yang lainnya, karena Azalea tidak akan membiarkan mereka.


“Aku akan menolak keras semua pendapat kalian mengenaiku, karena aku tidak seperti itu! Tapi karena tidak ada yang percaya, aku tidak akan merepotkan diri membuktikannya, hanya saja aku tidak akan menerima perlakuan buruk lagi dari kalian.” Tegas Azalea dan berlalu meninggalkan mereka. Tampak dari jauh dia tersenyum senang, rasanya lega bicara langsung pada kelimanya, yang membeku dan tidak berani menanggapi apapun. Status Azalea masih cukup untuk disegani.


~azalea.fiction~

__ADS_1


__ADS_2