
‘Aku punya pengalaman dibenci orang karena perasaan, jadi karena itu …’
Delapan hari setelah pembagian jadwal kencan, di kediaman keluarga Takada.
Ayah mereka baru saja pulang dari dinas luarnegeri dan bersiap untuk istirahat, tapi sebelum itu ia menyempatkan diri menyapa kedua anaknya, Aiman dan Yuki yang sedang nonton bersama, sebuah film action terbaru, Maze Runner, Death Cure.
“Maaf ayah baru bisa memberikan ini sekarang, lihatlah itu jadwal kencan kalian berlima dengan Azalea.”
Aiman menerimanya, meski ia sudah tahu dari Regi, mendapatkan langsung jadwal membuat ia sumringah.
Sedang Yuki yang terperanjat kaget, segera mengerling lembaran itu mengabaikan adegan seru dari film, melotot takjub akan pemikiran kakek Yudistira. Begitu rajin mengurus hal seperti ini, bahkan jadwalnya sudah tertata rapi sampai satu tahun. Aiman mendapat kencan di minggu keempat, dan berubah-ubah di kesempatan lainnya.
Yuki membanting tubuh ke sofa dan mendengus sebal saat Aiman bicara senang dan menyuruh ayahnya istirahat, ia akan menyiapkan kencan yang baik dan menarik. Sang ayah yang sudah bisa menebak perasaan Aiman hanya menggoda dan terkekeh, memberi semangat.
“Wah selamat!” tukas Yuki menyindir, “Akhirnya bisa berkencan dengan cinta pertama. Konyol sekali, jadwal yang sangat mengesankan.” ledeknya, Aiman hanya menatapnya bingung, Yuki memang tidak suka akan pertunangan ini dan tentang perasaannya, tapi ia tidak menyangka jika Yuki terlihat se-benci ini. “Tapi satu hal yang harus kakak tahu, biasanya cinta pertama tidak pernah berjalan mulus. Mungkin saja.”
“Yuki!” sela Aiman menghentikan sumpah serapahnya sebelum benar-benar lanjut, sedang Yuki menghentakkan kaki dan masuk ke kamar. Terasa sangat aneh dan menegangkan, Yuki terlihat berbeda.
Esoknya. Keterpurukan Yuki makin bertambah saat ia menyadari bahwa perasaannya ini terlalu besar dan sulit dikendalikan, hingga sedari tadi pembawaan dirinya terlihat lesu, tanpa semangat dan mendadak menjadi pendiam. Ia sendiri sadar, sudah melakukan hal yang salah, memusuhi dan demo tidak bicara pada Aiman sejak semalam. Dan kini tanpa gairah ia mulai makan, sendirian tanpa teman atas permintaannya.
Namun tak berapa lama, kemunculan Azalea menyadarkannya. Gadis yang menjadi alasan kemarahannya itu dengan santai duduk di depannya dan bilang ingin menemaninya makan bersama. Sebelum menolak, Yuki dipertemukan dengan Fauzi dan Novan yang juga duduk di sana. Meletakkan sendok tepat saat Yuki akan bicara.
__ADS_1
“Ah kupikir kita harus bicara,” seru Fauzi membuat Yuki mau tak mau menggunakan tangan untuk menutupi telinganya, terlebih Fauzi duduk di sampingnya. “Lea, ada yang harus ku diskusikan, kita pindah kesana ya. Ini soal kelas, tugas ketua dan wakil.” senyum Fauzi dengan Azalea yang mengangguk mengerti. Seakan sudah ahli jadi mak comblang mereka bergegas pergi meninggalkan Yuki dan Novan berdua, yang tidak sempat mencegah.
“Sepertinya mereka sengaja.” tebak Yuki dingin dan datar.
“Ada yang ingin kutanyakan, kenapa kau melakukannya?” tanya Novan. Jelas terarah pada kasus dimana ia dan kedua sahabatnya yang kabur tadi memergoki Yuki yang menguntitnya.
Tingkat kekesalan Yuki belum mereda, dia menatap enggan disertai kemalasan dalam menjawab. “Karena aku fansmu, itu cukup jadi alasan bukan.” maksud Yuki hanya sekedar mengakhiri percakapan, tapi Novan, mendadak ia terdiam, perkataan Yuki yang sama sekali tidak ada unsur ramah maupun lembut membuatnya berdebar. Wajah Yuki terlihat cantik dimatanya. Entahlah, kenapa bisa.
Cekikikan tidak jelas, Azalea membuat Fauzi merasa risih, aneh dan malu karenanya. Sejak tadi Azalea terus menertawakan hal yang sama sekali tidak lucu, ekspresi Novan yang membeku dan menatap Yuki dengan mata yang berbinar. Meski baru tahu dari Novan kalau Yuki melakukannya karena ia adalah fans rahasia Novan, Azalea sudah tahu dari dulu dan merasa lucu menyadari kalau Yuki mengakui dirinya seorang fans.
“Itu tidak lucu, berhenti jadi orang gila! Tidak cukupkah aku membantumu piket dan kau menyuruhku melihat tranformasimu menjadi orang gila!” suruh Fauzi yang jika tak tertahan, ia akan menjitak kepala Azalea dengan penghapus whiteboard yang tengah ia pegang.
“Saking lapangnya dirimu itu, sampai-sampai semua orang tidak ingin piket denganmu! Menyebalkan!” dumel Fauzi menyimpan penghapus dan beralih mengambil sapu.
“Ah kau benar, maaf.” sesal Azalea seiring dengan tawanya yang berhenti. Fauzi juga melakukan hal yang sama, beralih kembali memperhatikan tunangannya itu, yang terlihat sedih. “Kau jadi harus membantuku.”
“Sudahlah, ini tugasku sebagai ketua. Dan cepat bereskan, kita buang sampah dulu baru me-lap lantainya. Lalu ke klub bunga!” perintah Fauzi tak ingin berlama-lama melihat wajah sedih Azalea.
Untuk membuang sampah mereka harus pergi ke pojokan paling belakang sekolah, dan suasananya terbilang sepi. Azalea tidak pernah berani ke sana sendiri, dan akhirnya Fauzi mengalah lagi, menemani dia sambil terus protes dan mengeluh, yang Azalea yakini hanya sekedar omong kosong. Jika Fauzi mau dia tidak perlu menemaninya piket.
__ADS_1
Keduanya sedikit sibuk membedakan sampah dan membuangnya ke tong yang benar, sampai samar-samar terdengar percakapan dua orang pria mengundang rasa penasaran. Memasang telinga tajam dan saling menatap, mata itu membulat tak percaya saat salah satunya mengatakan sesuatu.
“Kau harus bertanggungjawab sendiri, aku hanya menemanimu. Bagaimana jika ada yang tahu kita yang melakukannya, menghancurkan tempat itu! aish, kita bisa dikeluarkan!”
“Jangan berlebihan, kau hanya perlu pura-pura tidak tahu dan bersikap biasa!”
“Bagaimana bisa, kudengar mereka berusaha keras menemukan pelakunya, memberikan cctv ke pusat pemeriksaan, jika diperiksa lebih jelas mereka akan tahu!”
Mengendap-endap untuk mendengarkan lebih jelas, Azalea tanpa sengaja menjatuhkan minuman kaleng yang menggelinding kearah ke dua pria tersebut. Menghentikan mereka. Dua pasang mata itu menatap lekat Azalea dan Fauzi yang masih membungkuk mengambil kaleng, perlahan mendongakkan kepala tepat setelah mereka berlari pergi. Fauzi cukup tanggap, berlari mengejar. Azalea tidak mau kalah.
Terjadilah kejar-kejaran yang cukup sengit di bawah langit yang perlahan mulai berwarna lembayung. Kedua pria yang diduga pelaku dibalik kasus taman bunga yang hancur tersebut berlari cepat dan melompati pagar, masuk ke desa warga, dan Fauzi sempat memukau Azalea yang tampak ragu ikut melompat.
Azalea mengambil ancang-ancang untuk melompat mengingat pengalamannya waktu dulu melompati pagar demi bolos karena stress dengan tugas dan les-les dari kakek, Azalea nekat menyusul.
Mendarat tidak terlalu sempurna, Azalea meringis sakit saat kakinya menyentuh tanah dan terkilir. Masih setengah berdiri matanya menangkap sosok Yuki yang kaget akan kemunculannya.
“Apa kau gila?” tanya Yuki refleks. Azalea menggeleng malu.
“Kau lihat Uzi? Dia mengejar pelaku yang menghancurkan taman bunga!” tanpa peduli dengan image nya, Azalea segera bertanya.
“Ke sana, dan belok kiri.” tunjuk Yuki ke depan jalan. Azalea langsung melesat pergi meski kakinya sakit, dan Yuki menyadarinya. Tanpa memikirkan apa pun, Yuki menyusul dan menariknya, “Aku tahu jalan pintas, ikuti aku!”
__ADS_1
Jalan pintas yang baik. Yuki dan Azalea sudah sampai di tempat Fauzi menahan salah satu dari mereka untuk pergi. Tapi yang satunya bersiap untuk lari lagi, mencoba menutupi wajahnya agar tidak terlihat, tapi diluardugaan Yuki menerjang dan menangkapnya gesit, ia mengeluarkan jurus taekwondo yang cukup mahir dengan menahan pundak pelaku, menendang mata kaki pria itu dengan tendangan hingga terjatuh dan memberi kuncian di leher yang membuatnya tidak berkutik.